Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 180. Rasa Menyesal Ustadz


__ADS_3

Langkah kaki Ustadz Mustafa sungguh begitu cepat, ekspresi khawatirnya terlihat jelas pada wajah yang terlihat mulai mengeluarkan keringat. Dengan segera ia menanyakan tentang Mufti kepada Suster yang bertugas setelah itu ia langsung lanjut melangkah sampai pada kamar Mufti.


Saking khawatirnya, Ustadz Mustafa sampai lupa untuk mengucap salam ia langsung bergegas berdiri di samping kasur Adiknya.


" Mufti, bangun, Muf! Kamu kenapa bisa seperti, ini? " ucap Ustadz Mustafa mendekatkan wajahnya pada tubuh Mufti dengan tubuh yang sedikit bungkuk dan tangan kanannya yang mengelus-ngelus kepala Mufti.


" Kamu tenang saja, anak ini baik-baik saja. Kata Dokter lukanya tidak sampai serius, ia hanya butuh donor darah, " ucap Bapak yang sedari tadi berdiri di satu sisi lain dari kasur Mufti ia juga menyaksikan kesedihan yang dirasakan Ustadz Mustafa yang sangat tidak ingin Adiknya kenapa-napa.


Walau tegang dan sedikit takut, Doni mencoba melangkah maju sampai ia berdiri tepat disebelah Ustadz Mustafa dengan mata yang berkaca-kaca dengan spontan Doni mencium tangan Ustadz Mustafa sepertinya ia sudah tidak bisa untuk menahan tangisnya.


" Maafin saya, Kak. Ini semua salah saya, saya juga gak ingin Mufti kecelakaan seperti ini. Saya minta maaf, Kak." Doni Ia mulai merasa sangat bersalah dengan terus mencium tangan Ustadz Mustafa sambil menangis.


" Sudah-sudah, kamu gak usah nangis seperti ini karena itu tidak bisa membuat Mufti sembuh." Ustadz Mustafa dengan perlahan dan penuh perasaan ia membangunkan Doni dengan kedua tangannya.


Doni hanya bisa mengangguk menghapus air matanya ia sadar kalau yang terjadi telah terjadi tapi ia memang tidak ingin kalau ini semua terjadi kepada sahabat terbaiknya.


" Saya harus segera mendonorkan darah kepada Mufti, darah kami sama-sama B." Ustadz Mustafa.


" Iya, Nak. Sabaiknya hal itu cepat dilakukan," Bapak.


" Bapak yang sudah menolong Adik saya, ya?" Ustadz Mustafa mendekati Bapak itu yang sedari tadi masih setia menunggu Mufti.


" Iya, Nak. Saya sendiri juga tadi melihat dimana saat anak itu tertabrak dan jatuh," Bapak.


" Saya sangat berterima kasih, Pak. Saya gak tau apa jadinya kalau tidak ada Bapak, terima kasih, Pak." Ustadz Mustafa langsung mencium kedua tangan Bapak itu ia sangat berterima kasih kepada Bapak yang telah menolong Mufti.


" Sama-sama, ini sudah tugas kita untung menolong sesama, " Bapak sambil menepuk pundak Ustadz Mustafa.


Ustadz Mustafa tersenyum kepada Bapak itu sambil menganggukkan kepalanya pelan. Ustadz Mustafa segera melapor kepada Dokter bahwa ia siap mendonorkam darah untuk Adiknya yang sangat ia sayangi.


Blood set ( alat transfusi darah) sudah dipasangkan pada tangan Ustadz Mustafa sampai kepada Mufti yang masih terpejam matanya. Darah Ustadz Mustafa terus berjalan untuk Mufti. Rasa sedikit sakit dan mulai lemas mulai dirasakan oleh Ustadz Mustafa tapi ini semua hanya untuk Mufti.


Dengan tatapan Dalam Ustadz Mustafa terus menatap Adiknya dan setelah beberapa saat ia memalingkan wajahnya mulai memejamkan matanya.


Doni terus menepatkan kedua tangan pada wajahnya sambil terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada Mufti.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Hafsah yang sudah resmi bekerja disana tidak sengaja melihat Doni saat ia mengangkat wajahnya. Seketika wajah Hafsah kaget dan mencoba mengingat siapa yang dilihatnya.


" Kaya kenal deh, tapi siapa, ya?" Hafsah terus berpikir sampai Dokter yang baru saja selesai dari kamar Mufti datang melihatnya yang sangat fokus memandang Doni yang berjalan masuk ke kamar Mufti.


" Kamu kenapa bengong kaya gitu, belum mau pulang? " tanya Dokter.


" Hah? Hee, iya, Dok. Ini udah jam setengah 11 waktunya saya pulang. Tapi, yang ada dikamar itu, siapa ya, Dok? Saya boleh tau," tanya Hafsah.


" Ooo, yang dikamar itu, saya baru saja menyelesaikan tranfusi darah pada pasien. Anak muda itu korban tabrak lari, lukanya cukup berat hingga ia mengalami cedera berat, dan kekurangan banyak darah, " jawab Dokter setelah melihat kamar yang ditunjuk Hafsah.


" Astagfirullah, semoga dia baik-baik saja ya, Dok. Bulan puasa kaya gini kok ada yang tega, sih ngelakuin hal seburuk itu? Gak punya hati banget." Hafsah dengan ekspresi kaget sekaligus bingung dan kesal dengan tangan yang menggenggam dan kembali memandang Dokter.


" Ya, itu sudah terjadi. Tapi luka pasien sudah terobati. Dia hanya butuh banyak istirahat, " Dokter.


" Kalau saya boleh tau nama pasiennya siapa, Dok? " Hafsah untuk menghilangkan rasa penasarannya ia terus bertanya kepada Dokter.


" Kelihatannya kamu penasaran sekali,ya?" Dokter.


" Heheh, iya, Dok. Saya pengen tau aja," Hafsah.


" Namanya, Mufti. Iya, Mufti, tapi ada apa sampai kamu tanya seperti itu? Apa kamu kenal? " Dokter.


" Iya, kenapa? Apa kamu kenal atau ada teman kamu yang namanya Mufti? " tanya Dokter kepada Hafsah dengan sangat serius.


Hafsah tidak langsung menjawab ia masih terdiam terlihat seperti berpikir.


" Eh, iya, Dok. Saya permisi mau lihat dulu," Hafsah.


" Baik, silakan, " Dokter.


" Permisi, Dok. Assalamualaikum, " Hafsah.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Dokter.


Hafsah langsung menuju kamar Mufti, langkahnya terhenti ketika melihat kondisi parah Mufti yang kaki dan tangannya penuh perban, dengan mata yang masih terpejam, dan hidung yang masih menggunakan oksigen. Mata Hafsah juga tertuju pada Doni, Bapak yang masih menunggu sadarnya Mufti dan Ustadz Mustafa yang terbaring ia masih lemas.

__ADS_1


" Assalamualaikum, " ucap Hafsah terus mendekat.


" Wa'alaikumsalam, " ucap semuanya begitu juga Ustadz Mustafa perlahan ia bangun melihat kedatangan Hafsah. Doni yang mengetahui hal itu segera membantu bangunnya Ustadz Mustafa.


" Hati-hati, Kak." Doni sambil memegangi tangan dan satu lagi tangannya memegangi punggung Ustadz Mustafa membantunya untuk bangun dengan perlahan.


" Mufti, kenapa bisa kaya gini? Dia dari tadi belum sadar?" tanya Hafsah langkahnya semakin mendekat sampai ia berdiri tepat disamping Mufti yang tak kunjung sadar.


" Mufti habis ketabrak sama mobil, cukup parah, lukanya juga banyak tadi. Tapi kata Dokter, Mufti cuma butuh istirahat yang banyak sekarang, " jawab Doni.


Hafsah menatap Doni yang bicara dan mengangguk ia kembali menatap dalam Mufti.


" Kasihan, semoga Mufti cepat sembuh, " Hafsah matanya sempat mengarah kepada Bapak dan mengarahkan lagi pandangannya kepada Ustadz juga Doni.


" Aamiin, " jawab semuanya.


" Kamu udah kerja disini? " tanya Ustadz.


" Alhamdulillah, iya Ustadz, " jawab Hafsah dengan senyuman kecilnya.


Ustadz Mustafa mengangguk dan ia hendak berdiri bangun menghampiri Adiknya.


" Pelan-pelan, Kak. Kakak udah gak lemas? " Doni ia terlihat sangat khawatir.


" Udah, saya gak papa. Yang kecelakaan itu Mufti, bukan saya." Ustadz Mustafa.


Doni mengangguk dan membiarkan Ustadz Mustafa untuk lanjut berdiri dan menghampiri Adiknya.


Hafsah yang tau kalau Ustadz Mustafa hendak menuju Adiknya segera minggir, Doni juga melangkah berdiri di samping Bapak.


Tangan Ustadz Mustafa perlahan menuju pada kepala Mufti ia mulai memberikan elusan lembut penuh kasih sayang.


" Anak ini memang sangat keras kepala, tapi dia seperti ini karena kurang kasih sayang dari orangtuanya. Saya juga terlalu keras kepadanya. Maafin Kakak Mufti, Kakak memang bukan Kakak yang baik," Ustadz Mustafa ia tidak bisa menahan tangisnya merasa sangat bersalah.


Air matanya mulai berjatuhan, Ustadz Mustafa menangis sambil mencium tangan Mufti ia sangat menyesal atas apa yang perbuat. Hafsah, Doni dan Bapak juga ikut terharu melihat betapa sedihnya Ustadz Mustafa.

__ADS_1


Perlahan Mufti membuka matanya dan melihat Kakaknya yang sedang menangis.


Bersambung....


__ADS_2