
Saat pelajaran ustadz Fathur dimulai Azmi,Aban dan Rifki masih mengurus Akmal dan menunggu ustadz Abdullah.
" Astagfirullah, Akmal kenapa?. " tanya ustadz Abdullah yang baru datang dan kaget melihat keadaan Akmal yang lemas.
" Saya tidak tahu ustadz, saat saya lihat Akmal sudah pingsan di depan pintu kamar. " Ali.
" Ya sudah, ayo bantu bawa ke mobil. " ustadz Abdullah.
" Ayo Mi, bantu aku lagi. " Ali.
" Iya mas, " Azmi.
Perlahan Azmi membantu Akmal berdiri meletakkan tangan Akmal di leher Azmi membawa Akmal yang dalam keadaan lemas masuk ke dalam mobil pesantren di bantu oleh Ali sedangkan, Rifki dan Aban terus mengikuti langkah Azmi dan Ali.
" Baiklah saya akan membawa Akmal kerumah sakit, " ustadz Abdullah.
" Saya ikut ustadz, saya tidak bisa meninggalkan Akmal. " Ali.
" Tapi Ali, kamu harus sekolah, tidak papa nanti saya akan menjaga Akmal, kalian bilang saja kepada ustadz Ridwan nanti, " ustadz Abdullah.
" Baik ustadz. " Ali menunduk.
Ustadz Abdullah mulai menyalakan mobilnya dan segera membawa Akmal kerumah sakit.
" Azmi, ayo kita sudah telat ngaji kitab ustadz Fathur. " Rifki.
" Kalian cepat pergi, ini masih belum terlalu siang. " Ali.
" Iya mas, ayo cepat kita ke kelas ustadz Fathur. " Azmi.
Mereka segera melangkah menuju kelas ustadz Fathur yang sudah dimulai. Ustadz Fathur sudah tau kejadian yang membuat Azmi, Aban dan Rifki telat jadi dia tidak menghukum Azmi,Rifki dan Aban,.Selama pelajaran Azmi terus saja melamun sampai tidak fokus dalam pelajaran.
Ketika istirahat sekolah Azmi duduk sendiri dan tidak seperti biasanya Azmi terus saja murung bahkan ia sampai tidak memikirkan perlombaannya melihat itu Dimas dan Zakir merasa sangat senang.
" Lihat Azmi, dia pasti mikirin mas Akmal, dan dia sama sekali gak latihan. " Zakir.
" Kamu benar Kir, aku yakin dia sama sekali belum menghafal ayat qur'an karena kertas dakwahnya ada di kita. " Dimas.
" Kalian jahat banget sih, besok Azmi sudah lomba. " Sihin.
" Hin, kamu gak usah khawatirin dia, emang di pernah khawatirin kamu?. " Helmi.
" Iya tuh, si Azmi itu gak kayak apa yang kamu pikirin Hin, udah lihat aja nanti ." Zakir.
Dimas pergi mengambil sebuah bola yang tidak jauh darinya ia langsung melempar bola itu tepat mengenai dahi Azmi hingga peci Azmi terlepas.
" Aduh, siapa sih ngagetin aja?," Azmi.
__ADS_1
" Mi, sini bolanya. " Dimas datang mendekati Azmi.
Azmi merasa semakin kesal, ia melempar bola itu kepada Dimas dengan lemparan yang sangat keras membuat Dimas terjatuh.
" Aduh, " rengek Dimas kesakitan.
Melihat itu Azmi segera memasang pecinya dan menghampiri Dimas begitu juga dengan Zakir yang segera menghampiri Dimas dan membantunya berdiri.
" Maaf mas, aku gak sengaja. " Azmi .
Dimas yang sangat membenci Azmi segera berdiri dan mendorong Azmi dengan keras untung saja ada Aban yang segera menolong Azmi dari belakang sehingga Azmi tidak terjatuh.
" Gak papa Mi," Aban.
" Gak papa Ban, makasih ya, " Azmi.
" Kamu sengaja kan Mi, buat aku jatuh kayak tadi, ngajak berantem nih anak. " Dimas.
" Gak mas, aku gak sengaja beneran, lagian tadi mas juga ngelempar bola itu keras banget ke aku sampai peci ku jatuh." Azmi membela dirinya.
" Alah, mas Dimas, Azmi pasti mau balas dendam sama mas. " Zakir.
" Eh Kir,kamu jangan manasin mas Dimas, aku gak ada maksud kayak gitu ." Azmi.
" Iya Kir, mana mungkin Azmi kayak gitu sama mas Dimas. " Rifki.
" Iya Mi, kita pergi aja. " Rifki.
Azmi mengajak kedua temannya untuk tidak mendengarkan Zakir dan Dimas mereka melangkah pergi .
" Azmi pengecut,lihat aja nanti. " teriak Dimas.
" Sabar Mi, " Aban mencoba menenangkan Azmi dengan mengelus pundak Azmi.
Azmi menoleh ke arah Aban sembari tersenyum. Mereka terus melangkah menuju kelas yang masih sepi karena para siswa masih istirahat.
" Azmi, kamu gak latihan tadi?. " Aban.
" Latihan?, astagfirullah, iya Ban ,aku lupa. " Azmi kaget sembari menepuk jidatnya.
" Azmi, kamu itu harus latihan, besok udah lombanya, kamu mau pas dipanggung nanti kamu gak bisa bawain dakwahnya. " Rifki.
" Kamu tenang aja Ki,aku latihan sekarang kalian dengerin. " Azmi ia mencari kertas yang biasa ia pakai untuk dakwah di sela-sela buku pelajarannya.
" Nyari apa Mi?, " Aban.
" Ban ,kertas dakwah ku mana?. " tanya Azmi kepada Aban yang duduk disampingnya.
__ADS_1
" Mana aku tau Mi, kamu taruhnya dimana?. " Aban.
" Aku ingat banget, aku taruhnya di buku ini, mana sih?," Azmi yang terus membuka-buka bukunya mencari kertas dakwahnya itu.
" Coba cari yang benar Mi, " Rifki.
" Mungkin kamu taruh di tempat lain Mi, " Aban.
" Gak mungkin Ban, aku ingat banget, aku taruhnya di sini. " Azmi.
" Ingat -ingat lagi Mi, " Rifki.
" Gawat, mana aku belum hafal lagi ayat-ayatnya, rencana aku hafalin malam ini, bentar lagi gak latihan sama ustadz, " Azmi yang sudah lelah mencari sembari memegangi dahinya dan membenarkan rambutnya dan kembali memasang pecinya.
Aban dan Rifki saling pandang, Aban kembali mendekati Azmi dan berusaha menenangkan Azmi.
" Kamu mikirin apa sih Mi?, kok bisa kertas itu hilang. " Rifki.
Azmi hanya terdiam masih memegang dahinya.
" Udah Mi, kamu tenang aja ,nanti kita bilang sama ustadz. " Aban.
" Gak mungkin Ban, yang ada nanti aku di marahin sama ustadz Ridwan dan ustadz Abdullah, lombanya besok dan aku belum ngafalin ayat-ayatnya apalagi artinya." Azmi ia semakin khawatir tidak bisa memikirkan apapun dan menggigit ujung kukunya, wajahnya terlihat sangat khawatir.
Bel masuk terdengar....
Semua santri segera masuk ke kelas .Rifki juga mulai kembali ke bangkunya. Semua siswa sunyi menunggu kedatangan ustadz Ridwan. Zakir mulai memandang Azmi yang wajahnya cemas.
" Azmi pasti mikirin teks dakwahnya itu, hahaha rasain aja Mi, di lomba besok kamu cuman bisa senyam-senyum ngelihatin juri,dan gak akan bisa dakwah. " ucap Zakir yang terus saja memandang Azmi sembari tersenyum licik.
Ustadz Ridwan datang dan mengucap salam ,para siswa menjawab salam dari ustadz Ridwan.
" Azmi, kamu kenapa tadi tidak latihan sama yang lain?,kata Farist kamu tidak latihan dengannya, saya tadi masih di rumah sakit jadi saya tidak bisa melatih. " ustadz Ridwan.
" Iya ustadz, Sa... Sa... Saya latihan sendiri." ucap Azmi terbata-bata sembari menunjuk dan tidak berani menatap ustadz Ridwan.
" Ya sudah kalau begitu, yang penting kamu latihan, nanti saya juga tidak bisa mengawasi anak-anak latihan, saya minta Azmi dan Aban tetap latihan, kalian bisa latihan sama kakak -kakak senior yang sudah berpengalaman. " ustadz Ridwan.
" Baik ustadz, saya sama Azmi nanti latihan, " Aban sedangkan Azmi masih dengan wajah cemas dan matanya mengarah ke bawah dan tidak menatap ke arah ustadz Ridwan.
" Azmi, kamu kenapa?. " ustadz Ridwan.
" Hah?, iya ustadz, saya nanti akan latihan." jawab Azmi.
" Baiklah kita mulai pelajarannya. " ustadz Ridwan memulai pelajarannya.
Azmi masih melamun ia memikirkan bagaimana nasibnya besok saat perlombaan.
__ADS_1
Bersambung........