Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 106. Debat.


__ADS_3

Matahari malu-malu muncul dan memberikan cahaya nya pada bumi yang tadinya sangat gelap. Para santri baru saja selesai dari mengaji kitab yang selalu di laksanakan setiap setelah sholat subuh berjama'ah. Terlihat Azmi yang terus mengejar kedua sahabatnya, Aban dan Rifki sama sekali tidak memberikan Azmi berbicara mereka terus melangkah dengan cepat tanpa mau menoleh sedikitpun untuk memandang Azmi.


Azmi semakin mempercepat langkahnya dan di waktu yang tepat ia menggenggam tangan kanan kedua sahabatnya.


" Lepas Mi!" ucap Rifki dengan nada kesal.


Sementara Aban akhirnya mau untuk membalikkan tubuhnya dan memandang ke arah Azmi.


" Aku kira kalian kenal aku, ternyata engak, ya? Aku sudah salah menilai kalian yang selama ini selalu bareng-bareng sama aku," ucap Azmi terus menggenggam erat tangan Rifki dan sesekali menatap tajam mata Aban.


" Azmi, aku...Aku gak tau Mi... Setelah apa yang aku lihat kemarin, kepercayaan aku sama kamu itu udah hilang, " ucap Aban terus terang.


Rifki terlihat sangat emosi ia melepas genggaman dengan keras yang membuat Azmi kaget dan menoleh ke arah Azmi.


" Benar Ban, kejadian kemarin itu telah buktiin semuanya, kamu memang sangat-sangat benar Mi, kalau kita ternyata gak kenal kamu, kita ternyata gak kenal sama sifat munafik kamu!" Rifki dengan nada sedikit tinggi yang membuat Azmi terdiam dan menggelengkan kepalanya.


" Enggak Ki, bukan aku yang nyuri Ki, Ban, kalian harus percaya sama aku. Aku yakin kalau ini rencana Zakir, kalian tau, kan? Kalau Zakir selalu benci dan gak pernah suka sama aku, " Azmi.


" Cukup Mi! Jangan pernah kamu ngefitnah orang lain! Aku tau Zakir jahat dan aku lebih baik punya musuh jahat kaya Zakir daripada punya sahabat licik kaya kamu! " Rifki dengan tatapan tajam yang sangat dalam ia mengatakan itu semua tanpa sama sekali memikirkan perasaan Azmi.


Azmi hanya menggelengkan kepalanya, Azmi mengurungkan niat untuk bicara lagi karena ia pikir percuma saja ia bicara saat mendengar semua perkataan pedas Rifki kepada dirinya.


Tanpa kata apapun lagi, Rifki pergi begitu saja meninggalkan Azmi dengan langkah cepat.


" Ban, kamu juga gak percaya sama aku? " tanya Azmi kepada Aban yang masih terdiam di sampingnya.


" Sebelum ada bukti kalau kamu gak bersalah, aku gak akan percaya sama kamu, Mi. " Aban ia juga pergi begitu saja setelah mengatakan itu.


Azmi hanya bisa memandang kedua temannya yang terus melangkah meninggalkan dirinya.


" Mereka semua gak ada yang percaya sama aku, aku akan buktiin sama mereka kalau aku bukan pencuri!" ucap Azmi ia menguatkan dirinya untuk kejadian ini sebelum ia berjalan menuju kamarnya.


Azmi berpapasan dengan Zakir, Sihin dan Helmi yang terus menatap dirinya kali ini Azmi terus berjalan dengan cuek tanpa menghiraukan Zakir dan kedua temannya.


" Mantap rencana kamu kali ini Kir, persahabatan mereka ...Krek... Putus," Helmi memperagakan dengan membentuk hati ditagannya dan memisahkan tangannya sembari terus tertawa sangat senang begitu juga dengan Zakir.


" Ini gak benar Kir, yang kita lakuin ini sama sekali gak benar, kita harus bicara sama Ustadz yang sebenarnya! Aku... Aku kasihan sama Azmi, Kir! " Sihin.


Mendengar itu Helmi dan Zakir berhenti tertawa dan pandangan mereka menuju ke arah Sihin. Zakir tersenyum mendekati Sihin dan menepuk keras pundak Sihin membuatnya terdorong keras.


" Sihin, Sihin, sekarang kamu kasihan sama si Azmi itu? Kamu mau ngasih tau semuanya ke Ustadz, iya?" tanya Zakir dengan tatapan licik.


" Kir, apa yang kamu lakukan sekarang ini gak benar, percuma kamu jadi santri kalau kamu memfitnah santri lainnya. Azmi itu baik Kir, kamu harus bisa berubah! Kalau kaya gini terus ilmu yang kamu dapat di sini gak akan barokah! " Sihin memberanikan dirinya untuk berbicara.


" Aku sama sekali gak peduli semua itu Hin, yang aku peduli adalah aku ingin buat Azmi hush...Pergi dari pesantren ini! " Zakir.


" Hin, kamu gak boleh ngomong hal ini sama Ustadz, emang kamu mau kalau nanti orang tua kita di panggil?" Helmi.


" Tenang Hel, aku yakin Sihin gak akan berani ngomong yang sebenarnya sama Ustadz, awas aja kalau sampai dia ngomong itu! " Zakir kembali mendekati Sihin dan pergi mengajak Helmi meninggalakan Sihin sendiri .

__ADS_1


Saat itu Sihin bingung ia terduduk dan menepatkan kedua tangannya pada wajahnya sembari terus memikirkan kesalahan Zakir.


...************...


Ustadz Mustafa dan Kyai datang bersama ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi Akmal sekarang. Sesampainya di sana tiba-tiba mereka melihat Akmal yang sudah terlihat sehat dan baik-baik saja tanpa menggunakan alat infus dan oksigen, ada ibu Akmal yang terus mengelus-ngelus kepala Akmal dan juga terlihat Dokter dan Suster yang baru saja selesai memeriksa Akmal.


" Assalamualaikum, " Kyai dan ustadz,


" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.


" Dokter, Akmal sudah bisa pulang? Bagaimana dengan kondisinya, Dok? Apa Akmal sudah pulih total? " tanya Kyai terus-menerus kepada Dokter.


Dokter tidak langsung menjawab pertanyaan Kyai, setelah melihat Akmal yang tersenyum kepadanya akhirnya ia berani untuk menjawab semuanya sembari menganggukkan kepalanya sebelum menjawab.


" Iya Kyai, Akmal sudah pulih dan boleh pulang, tapi Akmal, kamu harus rutin meminum obat kamu, oke, " Dokter.


" Pasti Dok, saya pasti akan teratur minum obatnya, " Akmal dengan semangat walau suaranya masih sedikit serak.


" Alhamdulillah, iya Dok, saya akan menjaga Akmal sebaik mungkin, " Kyai yang sangat bahagia setelah mengetahui Akmal pulih dan boleh pulang.


" Baiklah, saya permisi dulu, mari semuanya, ayo Sus," Dokter mulai pergi mengajak Suster yang juga ikut memeriksa Akmal.


" Kyai, saya titip anak saya ya, saya tidak ingin dia kenapa-napa, " Ibu Akmal.


" Pasti bu, kami akan selalu menjaga Akmal, " Kyai sembari tersenyum.


" Ibu langsung pulang? Ibu gak mau ke pesantren dulu sama aku? " tanya Akmal yang terlihat sedih.


" Iya nak, ibu harus pulang, lagipula sudah ada Kyai, Ustadz Mustafa dan teman-teman kamu yang lain yang sayang sama kamu dan mereka pasti akan selalu jagain kamu, " Ibu Akmal.


" Iya Akmal, ibu tidak perlu khawatir dengan keadaan Akmal, kami pasti akan selalu menjaganya. " Ustadz Mustafa.


Mereka semua tertawa kecil melihat sifat manja Akmal kepada ibunya.


" Kamu kok tumben manja kaya gini sih, nak? " tanya ibu Akmal kepada Akmal yang terus memeluk erat ibunya.


" Kapan lagi Akmal bisa kaya gini, bu? " ucap Akmal dalam pelukan ibunya yang membuat semua kaget dan terdiam.


Ibu Akmal melepas pelukan anaknya secara perlahan dan memegang kedua pundak Akmal ia menatap Akmal begitu dalam.


" Kamu bicara apa, nak? Dengar ibu ya, kamu nanti akan selalu bersama ibu dan akan punya banyak waktu bersama ibu setelah kamu menyelesaikan pondok kamu, " Ibu Akmal.


Akmal hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Saya mau urus pembayarannya, Ustadz Mustafa tolong antar mereka ke mobil, " Kyai.


" Baik Kyai, ayo ibu, Akmal, " ajak Ustadz Mustafa kepada ibu Akmal dan Akmal.


...************...

__ADS_1


Kyai baru saja keluar dari rumah sakit dan terlihat ibu Akmal berdiri di luar mobil sembari berbicara terus kepada Akmal.


" Bu, ini saya ada sedikit uang tolong terima ya, " Kyai memberi amplop kepada ibu Akmal.


Ibu Akmal membalikkan tubuhnya menghadap Kyai.


" Tidak perlu Kyai, saya juga bawa uang untuk naik bus, " tolak ibu Akmal.


" Tolong terima bu, saya ikhlas dan saya sangat senang jika ibu mau menerima sedikit uang dari saya, " Kyai.


Ibu Akmal masih terdiam dan menundukkan kepalanya sembari memikirkan sesuatu.


" Saya mohon terima bu, " Kyai.


Ibu Akmal akhirnya mau menerima dan menganggukkan kepalanya.


" Terimakasih Kyai, saya tidak bisa mengatakan apapun untuk kebaikan Kyai, saya titip Akmal pada Kyai, tolong jaga dia Kyai, " Ibu Akmal.


" Iya bu, ibu tenang saja, " Kyai.


" Akmal, ibu pulang dulu ya, nanti kita ketemu waktu puasa, sebentar lagi kok nak, " ibu Akmal kembali menoleh ke arah Akmal sembari menepuk pundak Akmal dan mencium kepala Akmal.


" Tapi itu hanya akan terjadi kalau aku masih di beri umur panjang bu, " ucap Akmal dalam hati tanpa memandang ibunya ia hanya menunduk sedih.


" Akmal, nak, kamu jangan sedih, ibu juga ikut sedih melihat itu, " Ibu Akmal.


Seketika Akmal menoleh ke arah ibunya sembari tersenyum kecil.


Tiba-tiba terdengar klakson mobil yang tidak lain adalah sopir Kyai sendiri ia siap untuk mengantar ibu Akmal ke tempat tinggalnya di Blitar.


" Itu sopir saya bu, ibu tidak perlu khawatir dan tidak usah bayar, " Kyai menunjuk mobil yang menunggu ibu Akmal.


" Terimakasih Kyai, saya pamit pulang dulu, Akmal, ibu pulang ya," Ibu Akmal.


Seketika Akmal menarik tangan ibunya dan mencium tangan ibunya dengan dalam dan penuh perasaan ia cukup lama mencium tangan ibunya hal itu membuat Kyai, Ustadz Mustafa dan ibu Akmal sedih.


" Sudah nak, doa ibu akan selalu untukmu, ibu pergi dulu ya, mari Kyai, Ustadz, assalamualaikum, " ibu Akmal yang perlahan melangkah pergi meninggalkan Akmal yang mencoba menahan tangisnya.


" Mari Kyai, " Sopir Kyai yang melintas di hadapan Kyai siap mengantar ibu Akmal.


" Hati-hati!" teriak Kyai.


Akmal hanya terdiam melihat ibunya yang pergi meninggalkan dirinya.


" Sudah Akmal, sekarang kita ke pesantren, ayo ustadz, " ucap Kyai yang sudah duduk di depan dan coba menenangkan Akmal.


Akmal mengangguk dan tersenyum kecil.


Mobil mulai dinyalakan dan siap berangkat menuju pesantren.

__ADS_1


Hati Akmal sangat sedih ia terus memandang keluar sembari mengingat wajah ibunya.


Bersambung....


__ADS_2