Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 126. Bayang-Bayang Akmal.


__ADS_3

Mufti bersama temannya-temannya duduk bersama menikmati kebiasaan mereka yaitu nongkrong di sebuah warung kopi.


Ketika Mufti melihat pesan dari Kakaknya, Ustadz Mustafa. Tiba-tiba mata Mufti terfokus tidak berkedip sekalipun. Teman Mufti yang melihat Mufti bengong segera menegurnya.


" Muf, lo kenapa bro?" tanya salah satu teman Mufti.


" Akmal, santri yang di tempat Kakak gue ngajar, dia udah... Dia udah gak ada, " ucap Mufti dengan tatapan fokus dan mata yang berkaca-kaca kepada semua teman-temannya.


" Innalillahi wa inna 'ilaihi roji'un. " ucap salah seorang anggota Band membuat semuanya ikut mengucapkan kalimat itu.


" Kok dia bisa meninggal ya? " anggota Band 1.


" Hush! Umur gak ada yang tau, semuanya ada di jalan Allah, " sentak anggota Band 2.


" Kasihan banget ya, kok gue jadi takut ya, kalau nanti gue meninggal, " tambah anggota Band 3 menunjukkan ekspresi khawatirnya.


" Ah! Udah-udah, udah! Kalian ngomong apaan, sih? Si Akmal ini emang udah sakit parah, makanya sekarang dia meninggal, " ucap Mufti yang sedari tadi pusing mendengarkan ocehan teman-temannya.


" Sakit apa, Muf? " tanya anggota Band 1.


" Ya, mana gue tau?" ucap Mufti.


Anggota Band hanya bisa diam dan saling pandang sementara Mufti dengan wajah tidak tenang ia meminum minumannya perlahan.


" Kasihan Akmal, gue sempat bentak dia lagi waktu sama Hafsah, ternyata waktu itu dia lagi sakit, " Mufti dalam hati setelah selesai meminum kopi lalu matanya mengarah kepada semua teman-temannya.


...*******...


Kini Akmal telah tiada, Ali duduk sendiri melamun dengan pandangan kosong sembari mengingat-ngingat janji yang pernah ia buat untuk sahabat terbaiknya. Dengan seragam sekolahnya, Ali duduk di kantin sembari terus melamun.


Dalam lamunan Ali ada sesuatu hal yang terjadi...


Akmal duduk di depan Ali dan melambaikan tangannya tepat di hadapan wajah Ali.


" Heh! Melamun aja, awas kesambet lo, " ucap Akmal dengan senyum cerahnya, Akmal terlihat tidak seperti santri lain yang mengenakan seragam tetapi dia menggunakan baju serba putih bersih dengan wajah berseri-seri.


Ali yang tadinya melamun, kaget ketika mengangkat kepalanya melihat Akmal di hadapannya yang terus memberikan senyum manisnya.


" Akmal, kamu masih hidup Mal, kamu pasti cuma pura-pura kan kemarin, atau aku cuma mimpi, Mal! Ini beneran kamu, kan? " ucap Ali sangat senang ia menatap Akmal dengan tatapan dalam hingga tidak terasa air matanya jatuh sementara Akmal tidak menjawab semua pertanyaan Ali ia hanya terus tersenyum dan tersenyum.


" Eh, kok nangis? Cowok harus tegar Li, aku titip semua anak-anak hadroh ya, oh ya, satu lagi pesan aku Li, mulai dari sekarang kamu harus bisa kontrol emosi kamu, oke!" Akmal bangun dan berdiri di hadapan Ali yang terus bengong dengan air mata yang mengalir.

__ADS_1


Akmal tersenyum dan menepuk pelan pundak Ali sembari mengusap-ngusap sebentar pundak kiri Ali.


" Aku pamit ya, assalamualaikum, belajar yang rajin Li, " Akmal hendak pergi terus melangkah lurus.


" Eh Mal, mau kemana Mal? " Ali yang melihat Akmal terus berjalan tidak mendengarkan dirinya segera mengejar Akmal yang ia anggap masih hidup.


" Mal, berhenti Mal! Akmal! " ucap Ali terus mengejar langkah Akmal.


Di sisi lain Firman dan Udin melihat Ali yang berteriak-teriak, mereka dengan segera menghampiri dan menghentikan langkah Ali.


" Li, Li, kamu ngapain, sih? " tanya Firman memegangi tangan Ali yang terus ingin mengejar Akmal.


" Man, tadi aku ngelihat Akmal, dia masih hidup Man, " ucap Ali sangat yakin.


Firman terdiam melepas genggaman tangannya pelan dan menoleh kepada Udin yang juga menoleh ke arahnya.


" Wes toh Li, Akmal itu udah meninggal, dia udah tenang di sana, " jelas Udin.


" Tapi Din, tadi Akmal benar-benar duduk di hadapan aku Din, " Ali masih sangat yakin bahwa Akmal masih hidup.


" Li, Akmal udah meninggal! Dia gak mungkin hidup lagi, sadar, Li!" ucap Firman meletakkan kedua tangannya pada pundak Akmal, Firman juga menggoyang-goyangkan Ali agar ia sadar.


Ali terdiam dan menunduk ia masih bingung dengan apa yang telah terjadi padanya. Ali melepas pelan genggaman kedua tangan temannya dan memegang wajahnya dengan kedua tangannya.


" Udah Li, kita makan dulu yuk, " ucap Firman.


" Benar koe Man, ini pasti efek lapar, jadi kamu gak bisa berpikir jernih, ayo kita makan dulu, " ajak Udin.


Ali mulai menatap kedua wajah polos temannya ia menghela nafasnya dan mencoba tegar dan tabah. Ali mengagguk pelan mau mengikuti kedua temannya untuk makan bersama di kantin.


Sama halnya dengan Ali, Firman dan Udin yang masih sedih begitu juga dengan Azmi, Aban dan Rifki yang sama-sama melamun sama sekali enggan untuk bicara mereka bahkan sampai tidak memakan makanan mereka yang sudah ada di meja makan.


Azmi melihat kedua temannya yang melamun sembari mengaduk-ngaduk makanan dan minuman mereka.


Azmi menghela nafas keras dan melihat makanan yang belum ia sentuh.


" Aku gak nafsu makan rek, " keluh Azmi.


" Sama Mi, aku jadi gak enak banget yang mau makan, " sambung Rifki dengan wajah kusam menoleh ke arah Azmi.


" Mas Akmal kenapa ninggalin kita secepat ini? Aku masih gak percaya, " tambah Aban memandang kedua sahabatnya secara bergantian.

__ADS_1


Ketiga sahabat itu hanya bisa larut dalam kesedihan mereka dan menatapi makanan mereka. Zakir yang sedari tadi duduk tepat di belakang mereka menguping pembicaraan ketiga sahabat itu dengan wajah malas ia menjawab semua keluhan dari ketiga sahabat itu.


" Kalian gak usah sok sedih gitu deh, mas Akmal meninggal gara-gara sholawatan kalian yang pas-pasan itu, " ucap Zakir tanpa berpikir sebelum mengatakan hal ini dengan santainya ia berbicara sembari menikmati minumnya setelah mengucapkan hal itu.


Azmi yang kesal bangun dan memukul keras mejanya yang membuat Aban, Rifki dan semua santri yang ada di kantin kaget tidak halnya dengan Zakir yang memilih terus memakan makanannya.


" Mi, udah, gak usah di ladenin, " Aban.


" Omongan kamu bisa di jaga gak, Kir? Kita semua gak pernah mau mas Akmal meninggal waktu itu, ini semua udah jalan Allah untuk mas Akmal, kita semua sedih Kir, tapi kamu malah ngomong seenaknya," ucap Azmi dalam kemarahannya tapi Zakir tetap santai dengan wajah malasnya memandang Azmi.


" Gak usah sok sedih deh, suara mas Akmal itu lebih bagus dari pada kamu Mi, sekarang mas Akmal meninggal dan kamu pasti senang banget, ya kan? " Zakir bangun menatap Azmi tajam.


Mendengar hal itu Azmi semakin emosi dengan mengepal kedua tangannya ia hendak menghampiri Zakir dengan wajah yang sudah sangat kesal kepada Zakir yang hanya bisa bicara seenaknya.


Untunglah Aban dan Rifki dengan cepat menghentikan langkah Azmi.


" Mi, Mi, udah Mi, kita ini lagi berduka, " Rifki menghalangi langkah Azmi.


" Benar Mi, gak ada gunanya juga kamu ladenin orang kaya dia, " sambung Aban memegangi tangan Azmi yang mengepal.


Setelah mendengar penjelasan kedua temannya Azmi menjadi sadar ia menatap Zakir yang pergi begitu saja dengan tatapan sinis pada Azmi.


" Kita makan aja Mi, biar emosi kamu mereda, " Aban.


" Iya Mi, udah, mas Akmal gak bakal senang kalau kamu marah-marah kaya gini, " tambah Rifki.


Tanpa menjawab Azmi langsung duduk di kursinya, Aban dan Rifki juga mengikuti Azmi dan duduk di kursi mereka.


Azmi meletakkan tangan kanannya pada dahinya sembari beristghfar.


" Tenang Mi, " Rifki.


Azmi menoleh ke arah kedua temannya dan tersenyum kecil.


" Makasih, kalian udah ngehentiin aku buat mukul Zakir, aku gak terima Ban, Ki, kalau Zakir ngomong seenaknya kaya gitu! Kita juga gak pernah tau, kan? Kalau mas Akmal waktu itu lagi kritis dan kesakitan, " Azmi menatap dalam kedua wajah sahabatnya.


" Iya Mi, kamu gak usah dengerin orang kaya Zakir, " Aban.


" Aban benar Mi, udah, sekarang kita makan aja, " Rifki.


Azmi mengangguk, perlahan ia menyendok dan memakan makanannya begitu juga dengan Rifki dan Aban.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2