
Surat itu terus di bacakan oleh Muhklis, wajah-wajah semua anggota Syubban sangat fokus dan serius mendengarkan dengan kadang tertawa atas kata-kata yang terlalu puitis yang ada di dalam surat itu.
" Terima kasih, Azmi Askandar kau adalah motivasi hidupku. Semoga kelak kita bisa berjumpa. Salam dari pengagum rahasiamu Mawar." Muhklis wajahnya seketika bingung saat membaca kalimat terakhir.
" Sek-sek, Mawar iku sopo tho? Bunga? " Udin yang juga bingung bertanya-tanya.
" Ya bukanlah mas, masa fansnya Azmi bunga. Itu berarti nama pengagum ra..." Aban juga seketika berhenti bicara ikut bingung memalingkan wajahnya dan menggaruk kepalanya hingga pecinya jomplang.
" Pie tho? Katanya pengagum rahasia berarti harusnya namanya dirahasiain dong, iya, gak? " Firman.
" Sudah-sudah, dah selesai, kan. Dah, gak usah mas-mas semua ini musingin soal itu." Azmi ia bangun kembali berkumpul dengan teman-temannya dan mengambil suratnya.
" Di pakai jaketnya, Mi. Harus menghargai pemberian fans kamu, " Ali.
" Iya, mas. Pasti aku hargai tapi masa dipakai sekarang, ya nantilah." Azmi.
" Awas-awas, bentar lagi Azmi mau terbang itu." Ahkam sambil tertawa menggoda Azmi yang tengah merapikan hadiahnya juga sampah bekas membuka kado tadi.
" Emang benar tuh, banyak banget pujian-pujian buat Azmi. Sampai Adik sepupuku aja suruh salamin buat kamu padahal aku juga ikut viral, kan?" Ali.
" Wa'alaikumussalam warahmatullah, salam balik, mas Ali." Azmi dengan senyuman manis dalam wajahnya.
" Iya, iya. Nanti aku salamin." Ali.
" Wes tho, Li. Masa kamu iri sama Azmi?" Udin.
" Ya, janganlah mas Ali. Aku ini cuma beruntung, ilmuku juga belum seberapa dibanding mas Ali. Dan mas Ali jauh lebih baik dari aku. Aku gak mau kalau mas-mas ku iri sama aku, " Azmi.
" Iya, Mi. Aku gak iri kok sama kamu, aku cuma terus berdoa semoga kamu selalu rendah diri dan tidak sombong atas semua yang telah kamu dapatkan."Ali sambil menaruh telapak tangan kananya pada pundak kanan Azmi dan memberikan senyumannya.
" Aamiin, Ya Allah, Aamiin." Azmi mengusap wajahnya dan membalas senyuman Ali.
" Tapi rek, aku jadi keingat sama Akmal, kalau dia ada disini jadi 4A, pasti makin seru karena Akmal juga ganteng, " keluh Firman sambil menunduk.
__ADS_1
" Sama, Man. Aku masih belum percaya kalau Akmal sudah dipanggil duluan dari kita," Udin ikut bersedih membuat semuanya hening termasuk Azmi dan Ali.
Ali terlihat mengambil sesuatu dari tasnya dan mengeluarkan foto Akmal.
" Akmal, kita udah sukses, Mal. Kamu pasti senang kan, disana?" Ali ia terus bicara sambil menatap foto Akmal yang masih tersimpan rapi dalam bingkai bahkan tidak hanya satu banyak foto-foto Ali yang sedang bersama Akmal, karena Akmal adalah sahabat terbaik Ali.
Azmi yang mengerti akan perasaan Ali ia juga ikut teringat kembali kepada sosok Akmal dari pertama ia bertemu sampai pernah dipukuli, tapi Akmal juga pernah menjadi orang pertama yang mengetahui bahwa Azmi sakit. Air mata Azmi mulai jatuh sejak daritadi matanya sudah berkaca-kaca ia mendekati Ali dan tangannya menggapai pundak Ali untuk merangkul Ali.
" Kita semua harus semangat dan gak boleh sedih kaya gini, nanti mas Akmal juga sedih disana. Mas Akmal doain kita ya, supaya selalu semangat dan terus bisa mengembangkan sholawat ini. Azmi kangen sama mas Akmal, sampaikan salam kami pada Rasulullah SAW, ya, mas. " Azmi memandang dalam foto Akmal yang tersenyum manis dalam foto itu matanya juga menatap tajam dan bersinar.
" Sallallahu 'alaihi wa sallim, aamiin, " ucap semuanya.
Mereka semua seketika teringat kembali bagaimana kebersamaan mereka dengan Akmal yang terkenal baik dan sabar. Air mata mulai berlinangan pada mata semua anggota Syubban.
Ahkam menghirup udara keras dan menghapus air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya ia mendekati Ali dan ikut merangkul Ali, Azmi segera menurunkan tangannya dan juga menghapus air matanya dengan memalingkan wajahnya berusaha untuk tetap tegar dan tabah.
" Kamu harus tabah, Li. Kita semua sayang sama Akmal, kita semua cinta sama almarhum, tapi Allah lebih sayang sama Akmal. Kita harus tabah untuk Akmal, Akmal pasti bahagia disana kalau dia lihat kita selalu semangat, " Ahkam sambil meletakkan tangannya pada pundak Ali yang terus meletakkan tangan kananya pada hidung dan mulutnya menahan tangisnya.
" Biar kita semua makin tenang, dan bisa tabah atas kepergian mas Akmal. Kita semua sama-sama berdoa dan kasih Al-fatihah buat mas Akmal, " Azmi.
Setelah menghapus semua air mata dan kesedihanya, Ali mengangguk sambil menoleh ke arah Ahkam.
Perlahan Ali meletakkan foto Akmal pada meja yang tidak jauh dari tempat ia duduk. Semua anggota Syubban mulai berdoa untuk ketenangan Akmal dengan penuh haru dan khusyuk. Foto Akmal yang terletak di atas meja itu seakan terlihat tersenyum manis kepada semua anggota Syubban yang berdoa untuk dirinya.
...****...
Aisyah duduk sendirian beristirahat setelah ia baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Saat ia berdiri dan perlahan melangkahkan kaki tidak sengaja ia menyenggol foto Akmal hingga pecah bingkainya.
" Astagfirullah, " Aisyah ia yang sendiri segera mengambil foto Akmal dan membereskan pecahan beling, karena tidak hati-hati akhirnya ia terkena pecahan beling itu hingga jari telunjuknya mengeluarkan banyak darah.
" Aw, aduhh," rengek Aisyah kesekitan memperhatikan jari telunjuknya yang terus keluar darah, Aisyah juga memperhatikan foto Akmal yang ia letakkan di meja.
" Astagfirullah, ada apa, nak? Kamu kenapa?" tanya Ibu Aisyah yang melihat pecahan beling dan tangan Aisyah yang sedang terluka.
__ADS_1
" Ini tangan kamu berdarah, sini Ibu bersihkan darahnya." Ibu Aisyah.
" Tapi, Bu. Aisyah belum selesai beresin ini, gak papa kok, cuma luka kecil, " Aisyah.
" Kamu selalu aja kaya gitu, udah, nanti Ibu yang bersihin itu. Sekarang kamu harus nurut sama Ibu, ayo, biar Ibu obatin lukanya," Ibu Aisyah.
" Iya, " jawab Aisyah pelan akhirnya ia harus mau mengikuti perintah Ibunya.
Dengan perlahan Ibu Aisyah menempelkan hansaplas pada jari putrinya yang terluka.
" Terima kasih, Ibu." ucap Aisyah setelah darah sudah tidak keluar lagi dari telunjuknya.
" Iya, " Ibu Aisyah sambil mengusap kepala putrinya itu.
" Ibu boleh tanya, gak sama Aisyah?" Ibu Aisyah.
" Nanya apa, Bu? " Aisyah.
" Kamu kenapa gak mau diajak Fitri buat ngisi acara itu? " Ibu.
Aisyah seketika terdiam dan memalingkan wajahnya mencoba berpikir apa jawaban yang akan ia berikan kepada Ibunya.
" Sayang, kalau alasannya gara-gara almarhum Kakak kamu yang pernah ngisi acara disana terus kamu sedih, itu sama sekali gak benar, Nak. Kamu harus tau kalau Kakak kamu itu akan tenang kalau kamu bisa ikhlas sama kepergiannya." Ibu.
Aisyah masih terdiam hanya memandang Ibunya dengan pandangan dalam.
" Satu lagi, kalau kamu masih kepikiran kejadian itu. Kamu berdoa aja sama Allah, minta kelancaran. Sholawat itu sebagai tanda kalau kita rindu dengan Baginda Rasulullah dan Ibu yakin kalau anak Ibu bisa melawan dan melupakan kepahitan yang sudah berlalu. Bisa, kan? Ibu akan senang banget kalau Aisyah bisa sholawat dengan semangat, " Ibu Aisyah dengan suara lembutnya ha mencoba menasihati putrinya sambil sesekali mengelus pundak Aisyah.
Setelah diam beberapa saat untuk berpikir kembali dan memandang wajah Ibunya yang tengah tersenyum akhirnya Aisyah mengangguk.
" Insya Allah, Ibu. Doain Aisyah, ya." Aisyah.
Ibu Aisyah langsung memeluk erat putrinya dan mengelus-ngelus kepala Aisyah.
__ADS_1
" Iya, Nak. Itu pasti, " Ibu Aisyah ia mencium kepala putrinya itu dan kembali memeluk erat tubuh mungil putrinya.
Bersambung....