
" Biar saya dan Firman yang bawa Zakir kesini Kyai, " Ali.
" Baiklah, suruh dia kesini dan temannya yang bersangkutan atas masalah ini juga bawa kesini, ingat Ali, tahan emosimu!" Kyai.
" Iya Kyai, saya permisi, assalamualaikum, ayo Man, " Ali mengajak Firman bersama dengannya, Firman menganggukkan kepalanya.
" Permisi Kyai, assalamualaikum, " Firman.
" Wa'alaikumsalam, " ucap semuanya.
Semua anggota Syubban mendekati Azmi dan Sihin.
" Azmi, aku minta maaf sama kamu, aku udah salah sangka dan aku udah ngefitnah kamu, harusnya aku tau kalau kamu gak akan ngelakuin hal itu, " Aban.
Azmi tersenyum mendekati Aban dan menepuk pelan beberapa kali pundak Aban.
" Gak papa kok Ban, aku udah maafin kamu, " Azmi menurunkan tangannya dari pundak Aban.
" Iya Azmi, abang juga minta maaf ya, harusnya aku gak cuekin kamu sampai berhari-hari, " Muhklis.
" Iya bang, " Azmi memandang dalam Muhklis.
" Iyo Mi, aku juga minta maaf yo, " Udin.
Azmi menoleh ke arah Udin sembari mengangguk pelan.
" Nggeh mas Udin, " Azmi dengan senyum manisnya.
Satu-persatu dari anggota Syubban meminta maaf kepada Azmi, Ustadz dan Kyai sangat senang melihat hal itu.
" Azmi, aku juga minta maaf sama kamu, gara-gara aku, kamu harus nanggung malu Mi, " Sihin.
Serentak semua menatap Sihin yang sudah merasa sangat bersalah.
" Ini semua gara-gara kamu Hin, kenapa kamu ngelakuin itu sama Azmi? " Udin.
" Udin, Sihin sudah sangat berani mengungkap kebenarannya, kalau hari ini Sihin tidak bicara, mungkin kalian masih memandang Azmi sebagai pencuri, " Kyai.
" Benar anak-anak, kalian tidak boleh membenci Sihin berkat dia kalian bisa mengetahui kebenarannya, walaupun dia juga ikut serta dalam memfitnah Azmi, " Ustadz Mustafa.
Para anggota Syubban mulai mengerti dan menganggukkan kepalanya.
" Thanks Hin, kamu udah bicara jujur, " Azmi menepatkan tangan kanannya pada pundak Sihin, Sihin menoleh ke arah Azmi sembari tersenyum membalas senyuman Azmi.
" Harusnya aku yang minta maaf sama kamu Mi, " Sihin yang berusaha tegar untuk tidak menangis ia mulai memeluk Azmi dengan kasih sayang layaknya saudara.
Hal itu membuat semua tim Syubban kagum dengan Azmi yang tabah dan kuat dan juga Sihin yang berani.
" Wes lah, jek bit-abit geluk'en ( Udahlah jangan lama-lama pelukan). " Ahkam dengan bahasa madura nya.
Sihin melepas pelukannya dan kembali tersenyum kepada Azmi yang menepuk pundaknya sedikit keras beberapa kali hingga akhirnya menoleh ke arah semua anggota Syubban.
...********...
Ali melihat Zakir dan Helmi yang sedang asyik berbicara di depan kamar mereka. Ali dan Firman dengan cepat melangkah menghampiri Zakir.
__ADS_1
" Ingat Li, kontrol emosi! " perintah Firman lagi.
" Iya Man, " jawab Ali terus melangkah.
" Assalamualaikum," Ali dan Firman.
" Wa'alaikumsalam, " jawab Zakir dan Helmi.
Seketika mereka berdiri di hadapan Ali dan Firman.
" Mas Ali, mas Firman, ada apa? " tanya Zakir.
" Ayo ikut kita, " jawab Ali singkat.
" Mau ngapain, mas Ali? Bukannya kalian masih diskusi soal Azmi si pencuri itu? " Helmi masih berpura-pura membuat Azmi seperti pencuri.
Ali menoleh ke arah Firman dan tersenyum kecil.
" Azmi pencuri? Oh iya, kita masih bahas tentang itu kok, " Ali.
" Ikut aja Kir, Hel, ini perintah Kyai, dan harus segera di laksanakan! " Firman.
Zakir sempat memandang Helmi yang juga bingung, Zakir merasa hal buruk akan terjadi padanya.
" Kalian nunggu apa? Ayo, gak baik buat Kyai nunggu lama, " Ali.
" Iya mas, ayo, " Zakir mengangguk.
Mereka mulai melangkah bersama menuju Masjid di mana semua sudah menunggu mereka.
" Wa'aikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya.
" Zakir, Helmi, ayo berdiri di samping Sihin kita akan membicarakan sesuatu, " Kyai.
Perasaan takut dan canggung mulai tampak di wajah Zakir dan Helmi.
" Baik Kyai, " ucap Zakir dengan nada pelan sembari menunduk, ia dan Helmi mulai melangkah dan berdiri tepat di sebelah Sihin yang juga sedang mengawasi mereka.
" Saya minta kamu jawab dengan jujur, Zakir! Sihin sudah mengatakan yang sebenarnya, kenapa kamu melakukan itu? " Kyai dengan tatapan dalam kepada Zakir dan Helmi.
Mendengar hal itu Zakir dan Helmi menjadi sangat kaget seketika mereka menatap Sihin dengan tatapan tajam.
" Yang sebenarnya? " Zakir terus menatap Sihin yang juga memandang dirinya dan kembali menunduk.
Semua anggota Syubban sudah malas melihat Zakir yang berpura-pura tidak tau dan Azmi hanya bisa menyaksikan.
" Tapi Kyai, apa yang kita lakukan? Kita tidak melakukan apapun, " protes Helmi begitu saja membuat Ustadz Mustafa menggelengkan kepalanya.
" Kalian tidak melakukan apapun? Tapi Sihin sudah sangat berani mengatakan yang sebenarnya kalau kamu bersama kedua temanmu itu telah bekerja sama menaruh barang-barang santri ke dalam lemari Azmi, apa maksud kamu Zakir? Kenapa kamu sampai tega melakukan hal itu kepada Azmi? Dia sampai harus dihukum atas kesalahan yang tidak ia buat dan dia juga sampai di benci bahkan dengan sahabatnya, " Kyai terus terang kepada Zakir.
Zakir dan Helmi menjadi sangat kaget mendengar hal itu mereka terdiam dan menunduk tidak bisa mengatakan apapun lagi.
" Zakir, apa alasan kamu melakukan hal ini? Ingat! Kamu itu ada di pesantren ini untuk menuntut ilmu bukan untuk memfitnah orang! " Ustadz Mustafa mendekati Zakir.
Zakir dan Helmi menjadi takut dan tidak bisa melakukan apapun sekali-kali ia juga memandang Sihin dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Kyai yang sudah lelah, menggelengkan kepalanya dan menyentuh dahinya sementara anggota Syubban menjadi sangat kesal dengan Zakir.
" Kir, ngomong! Meneng ae (diam aja)." Udin.
" Hush, " Akmal tertawa kecil melihat Udin yang sudah sangat geram.
" Apa sekarang kamu tidak bisa bicara Zakir? Helmi, ayo bicara! Apa kalian tau apa yang sudah kalian lakukan? Kalian sudah membohongi kita semua! Kalian sudah merusak harga diri Azmi yang tidak tau apapun! " Kyai mendekati Zakir.
" Saya minta maaf Kyai, saya tau kalau ini dosa, tapi ini kemauan Zakir, dia ingin Azmi tidak betah dan meninggalkan pondok ini," Helmi mulai jujur.
" Astagfirullah! " ucap anggota Syubban dengan kompak membuat Azmi tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya sembari menunduk setelahnya.
Zakir menoleh ke arah Helmi yang menunduk hal itu membuat Zakir semakin kesal dengan kedua temannya.
" Benar begitu Zakir? " Kyai.
" Iya Kyai, saya memang sangat benci sama Azmi, " Zakir menatap Azmi tajam, Azmi juga seketika menoleh ke arah Zakir.
Kyai semakin tidak percaya apa yang dilakukan oleh santrinya ia merasa sangat kecewa dan gagal mendidik santrinya.
" Ayo minta maaf sama Azmi, kamu juga Helmi! Ayo! " perintah Kyai.
Zakir dengan rasa kesal dan wajah yang tidak mengenakkan mendekati Azmi ia juga memberi jabatan tangannya dengan rasa terpaksa.
" Ngomong Kir, masa cuma ngasih tangan, emang kalau gitu Azmi tau kalau kamu mau minta maaf?" Ustadz Mustafa.
Zakir menghela nafasnya keras dan menatap Azmi tajam.
" Aku minta maaf Mi, " Zakir.
" Gak tulus tuh, " Udin kembali meledek membuat semua tim Syubban tertawa kecil termasuk Ustadz Mustafa.
" Zakir, minta maaf yang benar! " perintah Kyai.
" Azmi, aku benar-benar minta maaf atas semua kesalahanku yang udah aku lakuin sama kamu," Zakir dengan rasa sangat terpaksa dan tidak ikhlas.
Azmi menerima jabatan tangan Zakir walau ia tau raut wajah Zakir yang tidak tulus.
" Jangan diulangin lagi! Aku maafin, " Azmi, Azmi dan Zakir saling bertatap dan Azmi memberi senyumnya pada Zakir yang datar ia mulai melepas jabatan tangannya.
" Helmi, kamu juga minta maaf!" Kyai.
Helmi mulai mendekati Azmi dan memberi jabatan tangannya.
" Azmi, maafin aku, aku sadar aku salah, " Helmi.
" Iya aku maafin," Azmi tersenyum menerima jabatan tangan Helmi.
" Setelah ashar, kalian bertiga ke ruangan saya!" ucap Kyai.
" Baik Kyai, " jawab Helmi, Zakir dan Sihin.
" Ayo semuanya wudhu dulu, Ahkam, kamu adzan ya, " Ustadz Mustafa.
" Siap Ustadz, " Ahkam.
__ADS_1
Bersambung....