Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 145 Kapan Bisa Berubah?


__ADS_3

Ustadz Mustafa terus menyetir di sepanjang jalan yang sepi dengan kondisi tubuhnya yang sudah lelah tidak hanya lelah tubuh ia juga sangat lelah pikiran. Sembari menyetir, Ustadz Mustafa terus memegangi dahinya, menghela nafasnya dan beristighfar untuk apa yang di perbuat oleh Adiknya sendiri.


Tempat tinggal Ustadz Mustafa cukup jauh dari sana, tanpa sengaja ia melihat wajah-wajah yang tidak asing baginya. Ya, itu adalah anak-anak Band yang sedang nongkrong di markas biasa mereka di sana terlihat mereka sedang tertawa bahagia meramaikan sepinya malam yang sudah larut.


Tanpa berpikir panjang, Ustadz Mustafa menghentikan mobilnya dan dengan segera ia keluar dari mobil berjalan dengan keadaan yang sangat marah ingin menghampiri Mufti.


" Mana Mufti? " tanya Ustadz Mustafa kepada seorang anak Band yang sedang berbincang dengan temannya.


Melihat kemarahan Ustadz Mustafa membuat anak Band itu sedikit gemetar ketakutan dan memberitahu keberadaan Mufti.


" Ada di dalam bang, " jawab anak Band itu.


Tanpa basa-basi Ustadz Mustafa segera masuk ke dalam markas anak-anak Band itu untuk menemui Mufti. Dan benar saja Mufti sedang menikmati kemenangannya dengan video yang telah tersebar itu, Mufti merasa sangat senang tanpa mengetahui Kakaknya sudah ada di belakangnya.


" Mantap, gue yakin anak-anak kampung itu sekarang lagi nangis," anak Band 1.


Ada 2 orang teman Mufti yang sedang bersamanya dengan kegembiraan yang terlukis di wajah-wajah tidak merasa bersalah mereka.


" Benar-benar, mereka pasti malu, gue juga dapat kabar kalau mereka udah dipukulin sama emak-emak, " anak Band 2.


" Serius, lo? " tanya Mufti kaget menatap fokus anggota Band 2.


" Ya serius lah, " jawab anggota Band 2.


Mufti terlihat bahagia ia menyematkan senyum liciknya sembari terus melihat hasil postingannya.


" Bagus, sekarang mereka udah tau siapa gue? " Mufti.


" Gara-gara ini juga, nama Band kita terkenal dan sebentar lagi kita bakal dapat job bro, " anak Band 1.


Semakin senangnya mereka sampai terus tertawa merayakan kemenangan yang mereka pikir bahwa anggota Syubban sudah kapok dan hilang semangat.


Sudah tidak tahan lagi melihat tingkah buruk Adiknya, Ustadz Mustafa langsung menghampiri Mufti dan berdiri tepat di hadapan Mufti membuat Mufti yang sedang tertawa dengan kepala sedikit menunduk kaget ketika melihat Kakaknya yang sudah ada di hadapannya.

__ADS_1


" Bangun, Muf! " perintah Ustadz Mustafa kemarahan tampak sangat jelas di wajahnya.


Kedua teman Mufti tidak bisa melakukan apapun mereka diam seribu bahasa.


" Kalian senang dengan apa yang kalian lakukan? " tanya Ustadz Mustafa kepada Mufti dan kedua temannya.


Kedua anak Band itu seolah ketakutan dan enggan untuk menjawab tapi pandangan mereka sangat sinis kepada Ustadz Mustafa.


Mufti malas mendengarkan Kakaknya, ia bangun dari tempat duduknya dan segera melangkah keluar dari ruangan itu. Sebelum melangkah pergi Ustadz Mustafa menggelengkan kepalanya dan menatap tajam kedua teman Mufti yang juga tengah menatapnya.


" Muf, Mufti!" teriak Ustadz Mustafa kepada Mufti yang semakin cepat langkahnya.


" Kakak minta kamu berhenti, Muf! " teriak tegas Ustadz Mustafa yang menghentikan langkah Mufti.


Wajahnya masih tidak menyenangkan, ia serasa terpaksa menghentikan langkahnya. Ustadz Mustafa terus melangkah menghampiri Mufti dan berdiri tepat di hadapannya.


" Mau kamu itu apa? Kenapa kamu ngekauin hal itu sama anak-anak didik Kakak? " sentak Ustadz Mustafa dengan nada keras.


" Jawab! Kakak malu banget punya Adik kaya kamu, ngefitnah orang kaya gitu sama sekali gak benar! Itu cuma di lakuin sama orang yang gak punya hati!" sentak kembali Ustadz Mustafa.


Mufti kembali diam membisu dengan wajah malas ia belum mau menjawab Kakaknya.


" Mufti, kenapa kamu? Ayo, jawab semua pertanyaan Kakak, ayo! " sentak Ustadz Mustafa dengan terus menggoyang-goyangkan tubuh Adiknya.


" Oke, oke!" sentak balik Mufti dengan perasaan sangat kesal melepas genggaman erat Kakaknya.


" Gue emang gak suka sama mereka! Gue gak suka mereka di kenal sama banyak orang dan menurut gue mereka semua cuma ngehalu buat jadi terkenal! " ucap Mufti sesekali ia berani menunjuk ke arah wajah Kakaknya.


Ustadz Mustafa sungguh tidak menyangka Adiknya akan seperti ini, ia sangat sedih setelah mengusap keras wajahnya ia kembali memandang Mufti dalam.


" Kenapa kamu gak pernah ngehargai mereka? Mereka hebat, mereka gak gampang nyerah, dan penampilan mereka selalu bagus, gak pernah mengecewakan! " Ustadz Mustafa.


" Puji aja terus, lo selalu bela-belain mereka, dan, apa lo pernah sedikit aja ngedukung Adik lo sendiri?" ucap Mufti dengan kemarahan yang tampak jelas pada wajahnya yang sangat fokus menatap tajam Ustadz Mustafa.

__ADS_1


" Kakak cuma mau kamu sekarang hapus video itu, dan bilang kalau semua ini cuma fitnahan dari kamu buat mereka! " Ustadz Mustafa.


Mufti malah tersenyum licik dan melangkah membelakangi Ustadz Mustafa.


" Gampang banget bilang kaya gitu, asal Kakak tau, anak kecil itu emang beneran mukul gue. Berani banget dia, mukul orang yang lebih tua dari dia. " Mufti.


" Dia ngelakuin itu karena kamu memang salah, Muf! Kamu juga udah nyelakain dia, " jawab Ustadz Mustafa.


" Ya, ya, lagi-lagi belain mereka. " Mufti kembali membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Kakaknya.


" Kakak memang bela mereka, karena mereka yang benar! Dan kamu ada di jalan yang salah, Muf!" Ustadz Mustafa.


" Selama ini gue emang gak pernah benar di mata lo! Rebana kampung gak jelas asal-usulnya, bisa aja di luar mereka kalem tapi kita gak pernah tau kaya gimana mereka di dalam. Gue yakin mereka-mereka itu cuma orang lemah, gak pantas buat terkenal dengan musik sampah mereka! ucap Mufti begitu saja yang membuat Ustadz Mustafa semakin marah sekaligus kelas.


Satu tamparan keras ia hantamkan pada wajah Mufti hingga wajahnya terdorong keras ke kiri bertolak dari wajah kanan yang di tampar keras Kakaknya.


Suara tamparan itu terdengar keras sampai kepada teman-teman Mufti yang berada di luar markas membuat mereka kaget dan berdiri pandangan meteka mengarah kepada Mufti dan Ustadz Mustafa.


Mufti semakin tidak percaya Kakaknya sendiri telah menamparnya dengan keras hingga wajahnya merah, Mufti masih tertunduk akibat tamparan itu Kakaknya telah mempermalukan dirinya di hadapan semua teman-temannya.


" Kamu gak pantas ngomong hal buruk kepada mereka! Kamu gak pernah tau kebaikan, kepolosan dan kesabaran anak-anak hadroh yang selalu kamu remehkan! " ucap Ustadz Mustafa.


Dengan tangan yang masih memegangi wajah kanannya ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam Kakaknya.


Sebelum berkata-kata Mufti tertawa kecil bersamaan dengan hela nafas keras dan memalingkan wajahnya. Mufti kembali menatap tajam Kakaknya.


" Cuma gara-gara mereka, lo berani nampar gue! Sekarang gue tau, kalau lo emang gak pernah punya rasa sayang sedikitpun sama gue! Sayangin aja terus, tuh! Anak-anak hadroh yang licik yang udah nyuci otak lo!" Mufti ia sempat mendekatkan dirinya kepada Ustadz Mustafa dan memamdang teman-teman Band yang tengah berdiri sedari tadi menyaksikan perdebatannya dan Ustadz Mustafa.


Tanpa berkata-kata lagi, Mufti berlari menuju motornya ia langsung mengegas motornya dengan sangat kencang meninggalkan Ustadz Mustafa yang sudah meneriaki dirinya.


" Mufti! Kenapa kamu selalu gak ngerti? Kapan kamu bisa berubah? " ucap Ustadz Mustafa meletakkan tangannya pada dahinya sudah tidak tau lagi harus apa dengan Adiknya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2