
Selesai acara, anak-anak Syubban duduk bersamaan sambil bercanda gurau, rasa lelah mereka terasa hilang saat Udin mulai melawak membuat semuanya tertawa terpingkal-pingkal termasuk juga Azmi yang saking tidak bisa menahan tawanya ia sampai memukul-mukuli rebana dan menutupi mulutnya ketika tertawa terus-menerus akibat ulah Udin.
" Aduh, Masya Allah, Azmi. Ketawanya itu manis banget sampai gula aja insecure," ucap jama'ah wanita 1 yang mengintip anggota Syubban dari balik tembok yang ada di balik panggung.
" Aaaa, gemesh banget, Ya Allah. Aku rela deh, jadi rebananya," jama'ah wanita 2.
Hamdi yang mendengar semua itu dari belakang sungguh merasa kecewa dengan ekspresi kesal dan geram ia segera melangkahkan kaki menghampiri para jama'ah yang bukannya pulang tapi malah mengintip anggota Syubban.
" Astagfirullahal'adzim, bukannya pulang kalian malah ngintipin anak-anak Syubban ini, saya minta kalian segera pulang." perintah Hamdi dengan tegas kepada para gadis itu.
" Kakak siapa, sih? Emang kakak kenal sama mereka? "
" Hmmm, palingan cuma iri aja sama mereka karena jadi idol para anak muda."
" Benar, benar."
" Uuuuuu."
Mereka semua malah sama sekali tidak menghiraukan perintah Hamdi dan malah terus memandangi para anggota Syubban.
" La'ilahaillah, kalian ini malah gak percaya sama saya, saya termasuk orang yang berjasa atas kesuksesan mereka, sekarang saya mohon pergi darisini. Asal kalian tau anak-anak Syubban termasuk Azmi itu sama sekali tidak suka dengan perilaku kalian yang berlebihan seperti ini." Hamdi ia kembali meminta gadis-gadis itu pulang.
Walau Hamdi sudah minta dengan cara baik-baik dan halus tetapi mereka malah ngeyel dan kekeh untuk tetap disana tidak percaya kalau Hamdi adalah pengurus dan orang yang sangat berjasa atas kesuksesan anggota Syubban.
Mendengar ada keributan membuat semua anggota Syubban berhenti tertawa dan mengarahkan pandangan mereka pada tempat terjadinya keributan.
" Ada apaan, tuh? Ribut banget, " tanya Firman.
" Biasalah, itu pasti para fans-fans yang berlebihan. Lihat, mereka lagi debat sama mas Hamdi, " jawab Ali.
" Astagfirullah, gak bisa dibiarin, kita samperin yuk, mas. Kasihan mas Hamdi sendirian." Azmi.
" Iya, iya. Lebih baik kita sama-sama kesana," sambung Aban.
" Ayolah rek, kalau gitu." ajak Ahkam.
Dengan kompak semua anggota Syubban bangun berdiri bersama dan melangkahkan kaki menghampiri Hamdi yang masih berdebat dengan fans-fans Azmi, Aban, Ahkam maupun anggota Syubban yang lain.
" Mas Hamdi, " panggil Azmi membuat Hamdi seketika menoleh ke arahnya.
__ADS_1
" Azmi, Ya Allah, kalau dekat gini jelas banget gantengnya, "
" Manis banget senyumannya Aban, minta foto boleh, ya."
" Nah benar tuh, minta foto-foto dong, "
Para gadis itu semakin ribut dari sebelumnya malah menambah kerja keras Hamdi untuk menghalangi para jama'ah yang semakin menjadi histerisnya dan tangan mereka yang hendak menyentuh para anggota Syubban.
" Tolong tenang, " Ahkam dengan suaranya yang mulai serak berteriak menghentikkan keributan tapi mereka semua tidak ada yang mendengarkan.
Azmi semakin kecewa dengan sikap para gadis yang merupakan fansnya sendiri. Azmi mencoba berpikir hingga ia melihat mikrofon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri dengan segera Azmi mengambil mikrofon itu menghidupkannya dan mencobanya terlebih dahulu.
Setelah terbukti mikrofon itu masih berfungsi Azmi segera melangkah kembali menghampiri tempat dimana terjadinya keributan.
" Ehem, harap semuanya berhenti, tenang!" perintah tegas Azmi kepada para fans.
Mendengar perintah dari Azmi membuat semuanya terdiam dan kini mengarahkan semua pandangan mereka hanya kepada Azmi.
" Mohon maaf untuk semuanya, saya sangat mohon sekali kepada mbak, mbak semuanya untuk pulang. Bersikap seperti ini, berlebihan, itu membuat kami sebagai santri tidak nyaman, kami mohon maaf sekali lagi kepada semuanya, dan tolong pulang, hargai kami dan mohon kerja sama untuk kenyamanan kami. " ucap Azmi dengan padat, jelas, tegas dan singkat.
Ucapan Azmi yang seperti itu membuat para gadis itu akhirnya mulai berpikir saling pandang setelah beberapa detik akhirnya mereka mau mendengarkan dan pulang satu persatu-satu tapi masih saja menyempatkan diri untuk memandang Azmi dan berpamitan kepadanya.
" Assalamualaikum, " para gadis itu akhirnya pasrah mereka semua mau mendengarkan untuk pulang.
" Wa'alaikumussalam, " jawab semuanya.
" Daa, Azmi!" dan masih saja ada gadis yang menoleh untuk hanya melambaikan tangan kepada Azmi membuat Azmi geleng-geleng kepala.
" Alhamdulillah, akhirnya. Mereka mau pulang juga, " Hamdi sambil mengusap wajahnya ia sungguh terlihat lelah dengan sikap gadis-gadis yang merupakan fans dari anggota Syubban.
" Tau, tuh. Baru Azmi yang nyuruh mereka semua langsung diam dan mau dengarin," Ali.
" Emang, mereka udah pada gila dan ini gara-gara Azmi," Firman.
" Hushhh!" Udin yang ada di sebelahnya langsung memukul keras pundak Firman membuat Firman kaget dan memegang pundaknya sambil menatap Udin.
" Kok kamu malah mukul aku, sih? " tanya Firman dengan tangan kanan yang masih memegangi pundaknya yang baru saja dipukul Udin.
" Sudah, sudah. Jangan ribut, harusnya Alhamdulillah, karena Azmi sudah menghentikan keributan ini, " Ahkam.
__ADS_1
" Mas Ahkam benar, mereka semua langsung dengerin Azmi karena Azmi pakai mikrofon suaranya jadi lebih keras dari teriakan kita, " bela Aban membuat Azmi mengangguk sekilas menoleh ke arahnya dan kembali menudukkan kepalanya.
Ucapan Aban yang ada benarnya membuat anggota Syubban yang lain terdiam mengiyakan.
" Ya sudah, kalau gitu ayo, kita ke Kyai, " Hamdi.
Dengan kompak anggota Syubban mengangguk dan melangkah bersama-sama untuk menghampiri Kyai, Ustadz Mustafa dan Syafiq.
...**...
Fitri mendapat kabar dari salah seorang warga kalau tim Syubban akan mengisi acara di Masjid yang mana itu adalah tempat biasa Aisyah dan Fitri yang bertugas mengisi acara.
Poster Azmi bersama tim hadrohnya juga sudah terpasang dengan tegaknya di mana-mana membuat Fitri semakin khawatir untuk memastikan hal itu Fitri terus melangkah dan bertanya pada seorang bapak yang sedang bekerja disana.
" Assalamualaikum, pak." Fitri.
" Wa'alaikumussalam, eh nak, Fitri. Ada apa, nak? " jawab bapak itu.
" Maaf kalau saya ganggu, pak. Ini, Fitri mau nanya ini kenapa ada poster anggota Syubbanul Muslimin, yah? " tanya Fitri.
" Oohh, ini. Masa kamu belum tau, Azmi, Aban terus siapa lagi vocal satunya itu, ya?" tanya bapak dengan wajah yang terlihat seperti berpikir.
" Emmm, mas Ahkam? " Fitri.
" Nah, iya, iya. Mereka semua mau tampil nanti malam tapi kamu tenang aja, kamu sama Aisyah juga tampil bersamaan dengan mereka," bapak.
" Hah? Yang benar, pak? " tanya Fitri yang begitu kaget.
" Lho, ya, iya. Masa kamu belum dikasih tau, kalau gitu biar bapak kasih tau, kamu sama teman kamu itu isi acara sehabis sholat taraweh dan sebelum anggota Syubban tampil." jelas bapak.
Fitri yang masih seakan tidak percaya hanya bisa mengangguk kepada bapak.
" Oh, iya. Kalau gitu terima kasih, pak. Saya pamit dulu, assalamualaikum, " Fitri.
" Sama-sama, nak. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " bapak.
Fitri berbalik badan untuk melangkah pergi, matanya masih mengarah pada poster anggota Syubban yang begitu besar dan terlihat di berbagai tempat.
" Duh, gimana, nih? Kalau Aisyah tau Azmi juga ngisi acara bareng aku sama dia terus dia ingat lagi kejadian itu, terus aku harus gimana? Gak mungkin aku kasih tau Aisyah, yang ada dia gak mau datang nanti buat ngisi acara." Fitri terus bertanya-tanya ia bingung harus apa ekspresi dan gerak tubuhnya terlihat sangat gelisah sambil melangkah pelan.
__ADS_1
Bersambung....