Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 110. Setengah Hari Bersama Mufti.


__ADS_3

Tidak terasa, Azmi dan Hamdi terus berlatih hingga adzan duhur berkumandang. Mata Mufti yang sedari tadi tidak kuat menahan kantuk akhirnya tertidur di sofa yang lembut sementara Hafsah masih membuka matanya ia juga tidak menyadari bahwa Mufti tertidur.


" Dek, si Mufti bangunin tuh, " ucap Hamdi yang melihat Mufti tertidur pulas.


" Enggak ah, mending kakak aja, malas banget aku, " Hafsah beranjak pergi dari tempat duduknya.


" Eh, Dek, mau kemana? " tanya Hamdi.


" Mau wudhu, " jawab Hafsah sembari terus melangkah.


" Ya udah mas, biar saya aja yang bangunin, " Azmi.


" Oh, iya Mi, sana bangunin, terus ajak dia sholat, saya mau wudhu dulu ya, " Hamdi.


" Iya mas, " jawab Azmi.


Hamdi mulai melangkah meninggalkan Azmi dan Mufti yang masih tertidur.


Azmi menghampiri Mufti dan membangunkannya.


" Mas bangun mas, " ucap Azmi sembari menggoyangkan tubuh Mufti.


Tidak lama kemudian Mufti membuka matanya dan duduk untuk menenangkan dirinya.


" Lho, cewek disini mana, Mi? " tanya Mufti yang kaget ketika tidak melihat Hafsah yang tadi berada di sampingnya.


" Hah?"


Mendengar itu Azmi tertawa ia tidak menyangka bahwa Mufti suka kepada Hafsah. Azmi tidak henti tertawa sembari menutup mulutnya sementara Mufti menatap Azmi dengan pandangan kebingungan.


" Kenapa lo ketawa? Gak ada yang lucu! " Mufti.


" Sek mas, mas suka sama kak Hafsah, " ucap Azmi setelah berhenti tertawa dan memandang Mufti serius.


Mendengar itu Mufti tidak dapat bicara dan memalingkan wajahnya, ia tidak menjawab pertanyaan dari Azmi dan seketika bangun berdiri di hadapan Azmi.


" Ya enggaklah, mana mungkin gue suka sama cewek galak kaya dia, " Mufti tidak berani menatap Azmi.


" Masa sih, udah, jujur aja sama aku mas, aku akan merahasiakan ini, " Azmi sembari tertawa kecil.


" Ah udahlah, lo itu masih kecil, jadi gak bakal ngerti kaya begituan. " Mufti mengalihkan pandangannya sekilas.


" Yo wes lah mas, terserah mas, sekarang kita sholat dulu baru pamit pulang, " Azmi.


" Sholat? " Mufti dengan nada kaget.


" Iya mas, kenapa? " Azmi.


" Hah? Enggak kok, ya udah, ayo kita sholat, " Mufti.


" Ambil wudhu dulu mas, " Azmi.


" Iya, gue juga tau, ayo! " Mufti mengajak Azmi untuk mengambil air wudhu.


Hafsah yang baru saja selesai sholat melihat Azmi dan Mufti turun dari tangga ia segera menghampiri mereka.


" Azmi, kamu mau wudhu, ya? " Hafsah.


" Iya kak, saya sama mas Mufti mau sholat duhur dulu baru pulang, " Azmi.


" Itu tempat wudhu nya diluar, kamu terus aja kesana nanti langsung kelihatan tempat wudhu sekaligus musholla nya, " tunjuk Hafsah ke arah luar.


Azmi mengangguk mengerti melihat tunjukkan Hafsah yang mengarah ke luar.

__ADS_1


" Aku mau magang lagi nih Mi, ternyata temenku udah nelpon berkali-kali, aku duluan ya Mi, " Hafsah.


" Iya kak, semangat Kak!" Azmi tersenyum kepada Hafsah.


" Cukup Mi, senyum kamu itu manis banget, nanti aku diabetes, " Hafsah membuat Azmi tertawa kecil mendengar nya sementara Mufti mulai menunjukkan ekspresi malasnya.


" Satu lagi Mi, kamu harus semangat ya, dalam melantunkan sholawat, buat semua orang juga ikut melantunkan sholawat!Good luck buat kamu, Mi! Dan jangan dengerin orang di samping kamu itu, " Hafsah membuat Mufti yang tersinggung menoleh ke arahnya.


" Oke itu aja, aku pergi dulu, assalamualaikum, " Hafsah terlihat terburu-buru ia juga menghindari kemarahan Mufti.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Azmi dan Mufti setelah Azmi.


" Sabar mas, " Azmi.


Mufti tidak mendengarkan dan terus berjalan ke arah yang salah.


" Mau kemana mas? Tempat wudhu nya ke arah sini, " ucap Azmi menghentikan langkah Mufti.


Tanpa jawaban apapun Mufti membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah.


" Ayo, " ucap Mufti sembari terus berjalan.


Azmi tersenyum kecil melihat tingkah Mufti yang kesal ia mulai berjalan mengejar langkah Mufti.


Setelah wudhu Azmi dan Mufti sholat bersama di mushalla kecil yang bersebelahan dengan rumah besar Hamdi.


Di tengah doanya Azmi mengingat teman-temannya yang masih tidak mempercayai dirinya, Azmi masih mengingat kejadian di saat ia di fitnah dan di hukum atas kesalahan yang tidak ia perbuat.


" Ni, anak doa apaan, sih? Lama banget." ucap Mufti heran melihat Azmi yang belum menyelesaikan doanya.


" Ya Allah, hamba tau kalau kebenaran pasti akan terungkap, hamba ingin sahabat hamba kembali percaya kepada hamba lagi ..Aamiin. " Azmi menyelesaikan doanya sembari mengusap wajahnya.


" Udah selesai lo, doanya? " tanya Mufti kepada Azmi.


Azmi menoleh ke arah Mufti sembari mengangguk pelan.


Azmi langsung memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya. Mufti menjadi bingung dan rasa pedulinya muncul melihat Azmi yang masih belum mau menoleh ke arahnya.


Dengan wajah yang terlihat terpaksa, Mufti bangun dan mendekati Azmi.


" Lo kenapa? Cerita aja sama gue, gue itu paling gak bisa lihat orang nangis, apalagi sama anak kecil kaya lo ini, " Mufti duduk di samping Azmi sembari terus menatap Azmi.


" Gak papa kok mas, ini ngantuk aja jadi keluar air mata, " ucap Azmi menatap Mufti dengan matanya yang sudah tidak mengeluarkan air mata.


" Bisa aja lo Mi, " Mufti.


" Ya udah mas, kita pamit pulang yuk, aku udah capek banget nih, " Azmi.


" Oke, ayo, " Mufti.


......****************......


" Besok saya akan ke pesantren kamu bersama teman-teman saya, kamu sudah hafal, kan? Lirik dan lagunya? " Hamdi.


" Insya Allah mas, " jawab Azmi.


" Kamu cepat sekali menghafal lo Mi, nanti saya akan minta izin kepada Kyai, untuk membuat chanel youtube Syubbanul Muslimin. Mungkin kamu dan teman-teman kamu bisa membuat musik sholawat kekinian, bagimana? " Hamdi.


" Iya mas, nanti saya akan coba, kita pasti akan selalu usaha dan berdoa, " Azmi.


" Udah bisa pulang, gak? Gue capek banget nih, " keluh Mufti yang sudah berada di depan mobilnya.


" Saya pamit pulang dulu mas, " Azmi.

__ADS_1


" Terimakasih Azmi, kamu telah mau kerja sama dengan saya, " Hamid.


" Sama-sama mas, saya juga terimakasih sama mas, karena mas saya belajar banyak hari ini, " Azmi.


Hamdi tersenyum kecil dan menepuk pelan pundak Azmi.


" Kamu harus sukses Mi, buat mata dunia mengenal sholawat, oke! " Hamdi.


" Aamiin, Insya Allah, ini lembarannya saya bawa mas, " Azmi.


" Oh iya, bawa aja, itu memang buat kamu." Hamdi.


Hamdi memberikan jabatan tangannya untuk berjabat tangan dengan Azmi. Tanpa pikir panjang Azmi mau berjabat tangan dengan Hamdi sembari tersenyum manis.


" Woi! Udah, belum? " teriak Mufti kembali ia sudah lelah menunggu Azmi.


" Saya pulang dulu mas, assalamualaikum," Azmi.


" Wa'alaikumsalam, " Hamdi.


Azmi berjalan menuju Mufti yang sedari tadi tidak sabar menunggu.


" Lama banget, masuk! " Mufti.


" Sabar, " ucap Azmi sebelum membuka pintu mobilnya.


Mufti hanya diam mendengar ucapan Azmi dan membuka pintu mobilnya ia mulai menyalakan mesin mobilnya.


" Hati-hati! " teriak Hamdi yang masih mengawasi mereka.


Pak satpam membukakan gerbang dan menyapa ramah mereka yang hendak pergi , hanya Azmi yang tersenyum dan juga membalas sapaan Satpam dengan ramah lain halnya dengan Mufti yang terlihat sangat cuek sembari menjalankan mobilnya.


" Beda banget sifatnya, " ucap pak Satpam menggelengkan kepalanya dan menutup kembali pintu gerbang.


" Alhamdulillah, pulang juga ke pesantren, " ucap Azmi sembari meregangkan tangannya.


" Senang banget sih lo, kembali ke pondok. Kalau gue jadi lo, mending kabur aja sekarang juga, mumpung ada kesempatan." Mufti.


" Ngapain juga aku harus kabur, itu gak akan menguntungkan mas, " jawab Azmi singkat sembari menyenderkan kepalanya di tempat duduknya hingga pecinya miring tidak karuan.


" Emang enaknya di pondok itu apa? Gue dulu juga pernah mondok dan gue sama sekali gak betah akhirnya gue kabur deh, asal lo tau ya, gue itu dulu beda pondok sama kakak gue yang religius itu, dan gue jadi ngerti kalau ortu gue lebih sayang sama dia, " ucap Mufti penuh kebencian sembari terus fokus menyetir.


" Itu cuma perasaan mas aja, lagian mas pasti kabur karena mas gak bisa nahan nafsu yang setan bisikin ke mas, coba aja mas itu jalanin dengan sabar dan istiqomah, pasti bisa! Mondok itu keren lo mas, " Azmi memberikan nasihatnya sembari sesekali memandang Mufti.


" Itu lo, bukan gue! Dan gue senang dengan kehidupan gue sekarang ini, " Mufti.


" Yo wes mas, itu cuma pendapat aku aja, " Azmi.


Ponpes ❣️


Sampailah mereka di ponpes, Mufti menghentikan mobilnya jauh dari gerbang pesantren.


" Lo turun di sini aja, gue malas kesana, " Mufti.


" Kunci pintunya buka dulu mas, " Azmi yang hendak keluar.


" Udah, turun gih, " Mufti setelah membuka kunci pintu.


Azmi membuka pintunya dan turun dari mobil.


" Makasih ya mas, assalamualaikum, " Azmi.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Mufti.

__ADS_1


Azmi berjalan menuju ponpes, sementara Mufti masih mengawasi langkah Azmi sembari tersenyum kecil.


Bersambung....


__ADS_2