Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 55. Semangat Untuk Sholawat.


__ADS_3

Sihin tersenyum dan memandang Azmi, melihat itu membuat Zakir dan Helmi kesal.


" Iya Azmi ,sebenarnya aku emang gak mau terus-terusan ngelukain kamu, aku mau kok jadi teman....


" Enggak, itu gak boleh terjadi. " ucap Zakir yang sudah berdiri di samping Sihin.


Helmi melepaskan tangan Azmi dari genggaman Sihin.


" Zakir, emang kenapa?." Azmi.


" Kenapa?, dengar ya Azmi, Sihin itu sahabatku dari SD dan sekarang kamu mau ngerebut sahabatku.Aku jadi makin yakin kalau kamu itu licik Mi," ucap Zakir dengan sangat marah.


" Eh Kir, bukannya kamu yang licik, Azmi gak pernah tuh, ngebales perbuatan jahat kamu. " ucap Aban membela Azmi dan berdiri disamping Azmi, Rifki juga ikut berdiri.


" Gak, pokoknya Sihin gak boleh temenan sama kalian, " Zakir.


" Kir, kamu juga bisa kok jadi sahabatku, udahlah mending sekarang kita gak usah saling benci atau jadi musuh, kita baikan. " Azmi memberikan jabatan tangannya sembari tersenyum.


" Gak usah mimpi kamu Mi, orang kayak kamu itu gak pantas buat jadi sahabat ,Aban,Rifki kalian itu udah ketipu sama penampilan Azmi yang sok suci ini, ayo Hin, Hel, kita pergi. " Zakir tertawa licik dan menarik tangan Sihin mengajaknya pergi.


" Udah Mi, kamu sabar ya," Rifki.


" Iya Mi, kita makan dulu yuk, " Aban.


" Kalian makan aja, aku gak nafsu." Azmi, ia pergi begitu saja meninggalkan Aban dan Rifki.


" Azmi," Aban hendak mengikuti Azmi tetapi Rifki memegang tangan Aban menghentikan langkah Aban.


" Jangan Ban, kita kasih Azmi sendiri. " Rifki.


" Tapi Ki,Azmi itu lagi sedih. " Aban.


" Iya, aku tau, tapi Azmi bisa kok ngadapin semua ini, kita kan tau Azmi gimana. " Rifki.


Aban terdiam dan mau mengikuti ucapan Rifki untuk tidak menganggu Azmi.


Sementara Azmi sendiri berada di dalam kelas merasa sangat sedih.


" Salah aku apa sih?,kenapa Zakir bisa benci banget sama aku?. " ucap Azmi di dalam ruang kelas yang tidak ada orang sama sekali hingga Rifki dan Aban sudah datang.


" Azmi, kamu gak papa kan. " Aban.


" Iya Ban, aku gak papa. " Azmi tersenyum.


" Udah Mi, Zakir itu cuman iri sama kamu, kamu gak usah dengerin orang kayak dia. " Rifki.

__ADS_1


" Iya Ki, " Azmi, Rifki memberikan senyumnya kepada Azmi yang memandangnya.Sehingga bel masuk kelas berbunyi, para siswa bergegas menuju kelas mereka dan melanjutkan pelajaran kedua mereka.


Para siswa belajar dengan tekun, tetapi Zakir terus saja menatap Azmi sinis walau Azmi tidak ada masalah dengannya dan serius menulis. Zakir tidak akan pernah berhenti untuk mencelakakan Azmi yang selama ini selalu sabar akan perbuatannya, entah apa yang membuat Zakir sangat membenci Azmi.


Ba'da duhur, ustadz Mustafa datang dan masuk kedalam pesantren, seperti biasa ia selalu berpenampilan sederhana dengan motor beat berwarna biru.


Ustadz Mustafa melihat Akmal yang berjalan sembari batuk.


" Akmal, " teriak ustadz kepada Akmal ,Akmal menghentikan langkahnya dan segera menghampiri ustadz.


Akmal segera menyalam tangan ustadz,ustadz Mustafa tersenyum memandang Akmal.


"Akmal, kamu kenapa?, kamu sakit ya, hm,ayo bilang sama ustadz, " ustadz Mustafa mengkhawatirkan Akmal yang wajahnya sangat pucat dan batuk berkali-kali.


"kalau aku bilang sama ustadz, pasti ustadz bakal khawatir dan nyuruh aku buat gak ikut latihan.... Gak, aku gak usah nyeritain apa yang sebenarnya. " Akmal di dalam hati sembari menunduk.


" Akmal, ustadz nanya sama kamu, kamu gak papa?. " ustadz Mustafa memegang pundak Akmal.


" Emmm, gak papa kok ustadz,lihat ,Akmal masih bisa buat latihan. " Akmal.


" Ya sudah kalau begitu, kamu panggil yang lain, saya tunggu di tempat latihan. " ustadz Mustafa.


" Baik ustadz ,kalau gitu saya panggil teman-teman dulu, assalamualaikum." Akmal.


Akmal pergi melangkah untuk memanggil para anggota Syubban,sedangkan ustadz Mustafa pergi ke tempat latihan untuk menunggu para anggota Syubban.


Tidak lama kemudian Akmal datang bersama para anggota Syubban lainnya, mereka segera menghampiri ustadz Mustafa dan satu-persatu dari mereka menyalam tangan ustadz.


" Kok pada lemas semua, belum makan?. " tanya ustadz Mustafa kepada anggota Syubban yang memang terlihat lemas.


" Enggak kok ustadz,kita semua udah makan. " Ali.


" Iya ustadz, kita semangat kok, iya kan semua. " Firman.


" Iya ustadz, kita semangat. " jawab semua anggota Syubban dengan kompak.


Mendengar itu ustadz Mustafa senang dan tersenyum.


" Baiklah, ayo kita mulai latihannya. " ustadz Mustafa.


" Baik ustadz. " semua anggota Syubban.


Mulailah mereka duduk berbaris ,seperti biasa para hadroh mulai mengambil alat musik sesuai kebisaan mereka.Ada yang mengambil rebana ada juga yang mengambil seperti tong besar yang bernama jidur yang menghasilkan suara nyaring dan keras.


" Azmi, vocal 1 ya, kamu baca yang pertama dulu, Ahkam dan Akmal yang kedua kalian baca secara bersamaan terus Aban, baca yang terakhir ,nanti diulang lagi dan bacanya secara bersama, mengerti. " ustadz Mustafa.

__ADS_1


" Mengerti ustadz. " jawab Azmi ,Ahkam, Akmal dan Aban.


" Tim hadroh sudah hafal nadanya,yang ini ya," ustadz Mustafa menunjukan ke arah papan yang sudah berisikan tulisan nada rebana.


" Dan untuk jidur , yang ini. " ustadz Mustafa menunjukkan nada untuk jidur.


Mereka semua mulai paham dan menganggukkan kepala mereka.


" Oke, sudah siap. " ustadz Mustafa.


" Insya Allah, siap ustadz. " para anggota Syubban.


" Bismillah, ayo mulai, Azmi." ustadz Mustafa.


Mulailah Azmi membaca sholawat yang berjudul "padang bulan" lirik pertama. Dengan menggunakan mikrofon yang sudah disediakan, walau Azmi belum terbiasa dan sedikit canggung tapi ustadz menyuruh Azmi untuk tenang dan santai.


" Berhenti . Azmi, tarik nafas dulu, tidak usah tegang, paham. " ustadz Mustafa.


" Paham ustadz. " Azmi.


" Baik, mulai Azmi. " ustadz Mustafa.


" Bismillah. " ucap Azmi dan mulai membaca sholawatnya dengan tenang dan tidak terburu.


Hingga waktunya Ahkam dan Akmal yang membaca sholawat lirik 2 secara bersamaan, karena mereka sudah senior mereka bisa kompak dan membaca sholawat dengan suara mereka yang indah. Saat Akmal dan Ahkam membaca sholawat mereka ,barulah tim hadroh menebuh rebana mereka dengan sangat kompak.


Azmi dan Aban mulai mempelajari bagaimana Akmal dan Ahkam melantunkan sholawat dengan tenang dan tidak terburu-buru. Hingga mulailah Aban membaca lirik terakhir dengan tenang Aban bisa melantunkan sholawatnya dengan tidak terburu-buru dan suara yang sangat indah.


Ustadz Mustafa tersenyum memandang Aban yang mampu melantunkan sholawatnya dengan sangat baik.


" Nah sekarang, ayo kalian baca bersama, ingat Azmi yang tenang ya, harus kompak dan jangan ada yang terlalu lambat atau terlalu cepat supaya bisa beriringan. " ustadz Mustafa.


" Baik ustadz. " Azmi.


" Ayo Mulai. " ustadz Mustafa.


Walau Azmi sering kali salah, karena terlalu cepat tetapi ustadz Mustafa dengan sabar mengajar Azmi dan yang lainnya hingga kompak dan menghasilkan sholawat yang sangat indah. Ketika sudah yang ketiga kalinya mereka bisa bersholawat secara kompak, tim hadroh yang sudah mahir juga sangat semangat menebuh rebana mereka.


Di sisi lain, Mufti hanya bersama satu teman yang paling dekat dengannya mengintip para anggota Syubban yang sedang latihan.


" Itu abang lo kan Muf, dia kenapa sih?, lebih bela para pesholawat yang mimpinya tinggi banget itu. " ucap teman Mufti memandang para anggota Syubban yang sangat semangat.


" Tenang aja, gue gak akan buat tim sholawatan itu berhasil dan dibanggain semua orang, lo lihat aja nanti. " ucap Mufti menggenggam tangannya dan memandang anggota Syubban dengan pandangan tajam dan penuh kebencian.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2