Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 144. Jangan Nyerah!


__ADS_3

Semua anggota Syubban terduduk dengan kondisi yang sudah lelah. Mereka semua berkumpul di masjid pesantren, di saat para santri yang lain sudah beristirahat. Kondisi pesantren sangat sepi dan gelap hanya beberapa kamar yang terlihat masih terang benderang dengan lampu yang masih menyala.


Anggota Syubban tidak tau harus berbuat apa, wajah dan tubuh yang sudah terluka serasa tidak kuat lagi untuk duduk mendengarkan pembicaraan Kyai.


Kyai terlihat pusing ia sempat memijat-mijat dahinya dan menatap semua anggota Syubban secara bergantian.


" Itu lukanya di obati dulu, " ucap Ustadz Mustafa membawa kotak obat ingin memberikannya kepada para anggota.


" Baik Ustadz, " ucap Ahkam mewakili semua temannya.


Mulailah dari mereka mengambil kapas dan obat merah, mereka harus mengobati luka mereka sendiri. Tapi, yang paling terluka parah diantara anggota Syubban adalah Azmi dan Ahkam. Dengan meringis kesakitan Azmi mengobati luka di bawah bibirnya dan di tangannya sementara Ahkam dengan hati-hati mengobati lukanya.


Para anggota sudah mengobati luka mereka. Jam dinding tepat menunjukkan pukul 12.05 malam. Rasa kantuk tidak terasa karena ketegangan dan mereka terus memikirkan hal buruk yang baru saja menimpa mereka.


" Ayo, bicara, sebenarnya ini ada apa? " ucap Kyai lirih.


Anggota Syubban masih menunduk dan saling toleh.


" Tidak apa-apa, kalian ceritakan saja semuanya kepada saya dan Kyai. Supaya masalah ini bisa cepat selesai. " Ustadz Mustafa suaranya mencoba menenangkan keadaan yang tegang.


Azmi dan Ahkam saling pandang sehingga Azmi menunjuk Ahkam untuk bicara.


Ahkam menghela nafasnya keras ia mengangguk dan memberanikan diri untuk berkata jujur kepada Kyai.


Ahkam mengangkat tangannya dan Kyai mempersilahkan Ahkam untuk bicara. Tanpa melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi kejadian pahit yang telah menimpa anggota Syubban, Ahkam menceritakan segalanya.


Wajah Ustadz Mustafa sudah terlihat kecewa ia sangat sedih dan malu dengan apa yang sudah di lakukan oleh adiknya sendiri.


" Astagfirullah, ini semua hanya kesalahpahaman, Allah akan selalu membela hambanya yang benar. Kebenaran pasti akan terungkap, saya dan Ustadz Mustafa akan memikirkan solusi untuk masalah ini, " Kyai.


" Ya Rab, astagfirullahal'adzim. Saya sangat malu dengan apa yang telah dilakukan Mufti. Saya sangat kecewa dengannya, saya atas nama Kakaknya minta maaf yang sangat-sangat kepada kalian semua, " Ustadz Mustafa matanya berkaca-kaca tapi ia harus tetap tegar dan tegas di hadapan semua santrinya.


" Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu, ini bukan salah kamu Mustafa, " Kyai.

__ADS_1


" Tidak Kyai, saya tidak bisa mendidik Adik saya sendiri. Saya gagal menjadi Kakak yang baik, " Ustadz Mustafa.


" Kita semua gak masalah kok Ustadz, benci itu adalah sifat manusia yang sudah biasa dan saya yakin mas Mufti dan anggota Bandnya melakukan hal ini hanya kerena benci. Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk suka kepada kita, tapi kita bisa membuat mereka menghilangkan rasa benci itu, " Azmi ia bicara dengan suara yang lirih mencoba menahan sakitnya.


" Masya Allah, kamu benar sekali Azmi. Apa yang dikatakan Azmi ini harus selalu kita ingat. Ustadz Mustafa, dan semua anak-anakku kalian harus bersabar jangan pernah kalian putus asa, kita akan tetap bersholawat dan kita harus menunjukkan bahwa kita sama sekali tidak bersalah! " Kyai.


" Baik Kyai, " jawab semua anggota.


" Maaf Kyai, tapi alat musik kita semuanya udah hancur dan saya juga yakin setelah ini kita tidak akan dapat undangan untuk tampil, " Ali.


" Untuk masalah rebana, jidur dan alat musik lain nanti saya yang urus, " Kyai.


" Dan saya berjanji kepada kalian untuk membuat Mufti mencabut perkataannya dan mengatakan yang sebenarnya. Saya akan menyelamatkan tim hadroh kita!" seru Ustadz Mustafa.


Tim Syubban hanya bisa mengangguk dengan kondisi mereka yang sudah sangat lelah.


" Kalau gitu, sekarang kalian istirahat, ingat jangan terlalu memikirkan masalah ini. Saya dan Ustadz Mustafa pasti bisa menyelesaikan masalah ini, " Kyai.


" Baik Kyai, " jawab seluruh anggota Syubban.


Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan sekaligus membingungkan, Kyai dan Ustadz Mustafa akan menyelesaikan masalah ini mulai besok pagi, mengingat malam yang sudah larut.


Azmi, Ahkam, Aban, Muhklis, Ali, Firman dan Udin melangkah bersama menuju kamar mereka yang satu arah. Langkah mereka begitu pelan dan lemas, wajah yang masih ada bekas luka membuat kondisi mereka saat ini sangat memprihatinkan.


" Mumet, mumet, mumet! Endasku mumet tenan sak iki! ( pusing, pusing, pusing! Kepalaku pusing beneran sekarang)." ucap Udin menghentikan langkahnya sembari memegangi kepalanya ia juga bersender di tembok.


Yang lain juga ikut berhenti, Firman mendekati Udin mereka saling rangkul dan menunjukkan betapa pusingnya mereka saat ini sementara Ali melepas pecinya dan mengacak-ngacak rambutnya sampai ia duduk di bangku panjang yang ada di sana.


" Serius, aku gak nyangka banget, anak-anak Band itu sampai ngelakuin hal ini sama kita, salah kita apa coba? " keluh Ali.


Azmi menghela nafasnya setelah memandang tajam satu-persatu temannya dan yang terakhir ia dan Aban sempat saling pandang sekilas sampai Azmi kembali menatap Ali.


" Ini semua salah aku, "

__ADS_1


Semuanya seketika terdiam dan menoleh ke arah Azmi yang mengucapkan hal itu dengan nada lirih.


" Aku udah mukulin mas Mufti, coba aja aku gak ngelakuin hal buruk itu, semua ini gak akan terjadi, maafin aku semuanya, " Azmi ia merasa sangat bersalah dengan menundukkan kepalanya.


Ahkam mendekati Azmi dan memegang pundak Azmi seketika Azmi menoleh ke arah Ahkam yang sedang tersenyum kecil ke arahnya.


" Mi, ini semua bukan salah kamu. Emang anak-anak Band itu yang dari jaman nenek moyang, mereka selalu gak suka sama kita, mereka selalu ingin mematahkan semangat kita, mereka ingin kita hancur dan bubar, " ucap Ahkam tangannya terus memegangi pundak Azmi.


" Iyo Mi, ini semua bukan salah kamu, kamu gak usah merasa bersalah kaya gitu," sambung Udin.


" Kamu tenang aja Mi, Ustadz Mustafa akan segera menyelesaikan masalah ini, " tambah Ali.


" Yang penting kita semua gak salah, jadi kita gak perlu takut, Allah selalu memihak kepada hambanya yang benar, " Muhklis.


" Masalah pasti selalu ada, menyerah dan lari dari masalah adalah orang pengecut yang gak akan pernah menemukan jalan lurus, " Aban.


" Ini gak hanya sekali dalam perjalanan sholawat kita, kita sudah sering dapat masalah dari anak-anak Band itu yang kita perlu saat ini adalah kita harus tunjukkan bahwa kita akan menang, " Firman.


Mendengar perkataan semua teman-teman yang selalu ada untuk dirinya, Azmi sudah tidak lagi sedih senyuman manis mulai terlukis di wajah tampannya. Ahkam juga senang melihat senyum Azmi ia merangkul Azmi dengan penuh kasih sayang.


" Semangat! " seru Ahkam.


" Semangat! " jawab semuanya.


" Eh, tapi kok, ini aku tumben dengar kata-kata bijak dari kalian, kalian gak habis kesambet, kan? " canda Ahkam.


" Yo, enggak lah mas, aku emang bijak dari dulu kok, " Udin dengan wajahnya yang lucu membuat semuanya tertawa.


" Eh, bentar-bentar. Perasaan Udin gak ngomong kata-kata bijak, deh. " Ali dengan wajah dan tatapan serius menoleh ke arah semua teman-temannya.


" Oh, iyo, yo. Aku gak ngomong apa-apa, " ujar Udin nyengir sembari menggaruk pelan belakang lehernya.


Tingkah polos Udin, membuat semuanya kembali tertawa.

__ADS_1


Akhirnya mereka kembali melangkah bersama menuju kamar mereka yang saling bersebelahan.


Bersambung....


__ADS_2