Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 238 HAPPY END


__ADS_3

Ketiga vocalis berusaha menunjukkan penampilan mereka dan semua jama'ah terdiam untuk menikmati karya dari anggota Syubbanul Muslimin yang tentunya mengarahkan pesan untuk mereka yang mengagumi Syubband.


Suara lantang Azmi, suara adem Aban, suara khas Ahkam, dan iringan tabuhan rebana terdengar sangat indah mewarnai malam ini. Mereka semua berhasil membuat para jama'ah kagum dibuatnya.


...||||||...


Annabi Sollu Alai sollawatullah alai


Wayanalul barokah kulluman solla alaih


Syubban Lovers Nusantara


Akhi ukhti sahabat ku semua


Semoga tak kan menyerah cintai rosulullooh


Lelahmu menjadi lillah


Jadilah penggemar majlis


mencintai Nabi begitu manis


•••••••••


" Aisyah, ayo cepetan. Kita harus kedepan supaya jelas ngelihat penampilan mereka, " ucap Fitri sedikit mengeraskan suaranya karena ia bicara sambil berjalan dikeremunan jama'ah agar bisa sampai ke barisan depan.


" Fitri, ditempat yang tadi emang kenapa, sih? Lagian mereka sholawat disini aja juga, gak bakal kemana-mana." keluh Aisyah yang sudah lelah terus berjalan dan menerobos jama'ah dengan tangannya yang terus digenggam erat Fitri.


" Kamu ikut aja, deh. Lihat aja nanti kamu pasti akan berterimakasih sama aku, " jawab Fitri.


" Iya, iya. Terserah kamu aja deh," Aisyah.


Akhirnya Fitri dan Aisyah bisa sampai ke barisan depan dan mereka bisa melihat anggota Syubband dengan jelas daripada sebelumnya.


Tanpa sadar Aisyah tersenyum saat ia melihat Azmi yang tengah bersholawat dengan suaranya yang begitu indah.


" Syah, jangan sampai gitu kali, ngelihatin Azminya." tegur Fitri.


" Astagfirullah," Aisyah ia langsung menundukkan kepalanya dan menoleh ke arah Fitri.


Tapi senyuman tetap terlukis diwajahnya yang cantik, Fitri juga senang melihat Aisyah yang terus tersenyum.


Sholawat terus digemakan, semua mata tertuju kepada Syubband begitu juga dengan Mufti, sahabat-sahabatnya dan kedua orangtuanya. Mereka terlihat kagum dengan para santri yang masih muda untuk membuat masyarakat cinta kepada sholawat.


Hafsah, ia juga kagum melihat anggota Syubband. Matanya yang indah tak henti memandang anggota Syubband dengan perasaan kagum.


Hamdi dan Mufti asyik merekam karena itulah hobi dan pekerjaan mereka, Ustadz Mustafa dan Ustadzah Lily yang duduk bersebelahan juga memuji kemampuan tim Syubband dalam menampilkan karya baru mereka ini.


Dan, Kyai yang duduk dibangku khusus merasa bangga untuk santrinya yang hebat, mereka yang sabar, kuat dan mampu melewati segala ujian walau sekarangpun masih ada saja yang tidak suka dengan mereka tapi mereka tetap rendah hati dan selalu menunjukkan adab mereka sebagai santri dimanapun mereka berada.


Zakir, Dimas dan Rifki tak lupa juga ada disana menyaksikan penampilan sahabat mereka. Dengan sangat kebetulan Rifki dan Zakir ada dibarisan yang sama dan tidak terlalu jauh.


Melihat keberadaan Zakir membuat Rifki menghampiri Zakir. Ia berbicara dan meminta dengan sopan kepada seorang jama'ah untuk berganti tempat dan memberikannya untuk berdiri didekat Zakir.


" Assalamualaikum, " Rifki.


" Wa'alaikumussalam, " Zakir dan Dimas mereka seketika kaget ketika melihat keberadaan Rifki yang tiba-tiba saja sudah berdiri bersebelahan dengan mereka.


" Rifki, kamu disini juga? " Zakir.


" Ya, iyalah. Rumah aku kan dekat banget sama pesantren. Jalan kaki 10 menit aja udah sampai. Oh ya, itu harusnya pertanyaan yang aku kasih ke kamu. Tumben kamu mau lihat penampilan Syubband bukannya kamu gak suka sama Azmi, bukannya kamu benci sama dia?" Rifki karena penasarannya dan rasa heran kepada Zakir ia sampai bicara panjang lebar.


" Itu dulu, Ki'. Zakir sekarang sudah dapat hidayah dan dia taubat, Zakir juga ingin minta maaf sama Azmi juga sama teman-temannya." Dimas melihat Zakir yang terdiam juga terlihat gugup membuatnya langsung menjawab pertanyaan Rifki yang tertuju pada Zakir.


" Alhamdulillah, serius, Mas Dimas? Kir, kalau gitu ayo, minta maaf sama aku dulu." Rifki.


" Ngapain aku harus minta maaf sama kamu? " Zakir rasa gengsinya itu masih saja ada dalam dirinya.


" Aku kan temannya Azmi juga, Kir. Katanya kamu mau taubat, kalau taubat itu jangan setengah-setengah. Jangan cuma sama Azmi aja minta maafnya, " Rifki.


Zakir memandang Rifki lalu memandang ke arah Dimas yang malah tersenyum kepadanya. Zakir menghela nafasnya, ia ingat kalau dirinya memang benar-benar ingin taubat menjadi orang yang lebih baik dan tidak ingin mencari masalah kepada siapapun lagi.


" Iya, iya. Aku minta maaf sama kamu, Ki'." Zakir ia memberikan tangannya kepada Rifki.


Rifki tersenyum lebar, ia senang melihat Zakir yang baru pertama kali mengucap kata maaf kepada dirinya dan bersikap, kalem seperti ini.


Tangan Rifki terangkat untuk menjabat tangan Zakir yang mulai menunjukkan senyumannya dan bukan wajah malasnya lagi yang tampak pada dirinya.


****


Malam semakin larut, acara juga sudah selesai. Para santri yang ada disana, tim Syubband dan sejumlah warga bergotong royong membersihkan dan membereskan tempat acara.


Walau ini sudah diatas jam 12, tapi rasa kantuk tidak terasa pada mereka semua yang menampakkan wajah berseri dan bahagia.

__ADS_1


Setelah acara selesai, semuanya menyalam tangan Kyai senegara ucapan terima kasih mereka.


Anggota Syubband berkumpul dengan orangtua mereka masing-masing terlihat begitu gembira dengan tawa yang mewarnai malam yang begitu bermakna dan paling terang saat ini.


Hafsah sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anggota Syubband, ia terlihat meminta izin kepada Kyai dan meminta tolong Ustadz Mustafa untuk membuat anggota Syubband kumpul.


Setelah Kyai memberi izin, Ustadz Mustafa meminta semua anggota Syubband berkumpul.


Mufti bersama kedua orangtuanya dan juga sahabat-sahabatnya juga datang untuk bertemu dengan anggota Syubband.


" Anak-anak, ayo kumpul sebentar," perintah Ustadz Mustafa.


" Baik Ustadz, " jawab kompak anggota Syubband.


Hafsah tidak sengaja melihat Aisyah dan Fitri yang baru saja membantu membereskan makanan dan membersihkan bungkus sisa makanan yang berserakan.


Hafsah melangkah menghampiri Aisyah dan saat itu juga Mufti dan Azmi memandang ke arah Hafsah yang menghampiri Aisyah dan Fitri.


Azmi langsung memalingkan dan menundukkan pandangannya, tapi tidak dengan Mufti yang tetap memandang Hafsah yang terlihat bicara kepada Aisyah dan Fitri hingga membawa mereka melangkah bersama dirinya.


Aisyah dan Fitri tetap menunduk ketika mereka ikut melihat anggota Syubband yang berbaris.


" Ini Aisyah sama Fitri juga ada disini," Ustadz Mustafa.


" Iya Ustadz, " jawab Aisyah yang tetap menunduk sedangkan, entah kenapa Azmi tersenyum sendiri karena ia merasa kalau Aisyah datang kesini untuk bisa meminta maaf dengannya.


" Heh, Mi! Kenapa senyum-senyum kaya gitu? " tanya Aban yang membuat Azmi kaget seketika menoleh ke arah Aban.


" Ami, awas kesambet kamu, Mi'." Ahkam dengan logat Maduranya.


" Enggak, aku gak papa. Cuma senang aja sama malam ini, " Azmi.


Jawabannya itu membuat Aisyah yang mendengar salting hingga pipinya memerah karena tersipu malu tapi ia dan juga Azmi tetap menjaga pandangan dan tidak ingin melirik satu sama lain.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " Hafsah.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya dengan kompak dan masih semangat.


" Saya mau ngucapin selamat buat anggota Syubband yang udah berhasil membawakan karya kalian. Oh ya, ada beberapa hadiah untuk kalian tadi dari para jama'ah." Hafsah.


" Alhamdulillah Ya Rabb!" Udin ia sangat bersemangat saat mendengar kata hadiah yang membuat semuanya tertawa akan tingkahnya itu.


" Hadiahnya ada di Kak Hamdi sama Kak Syafiq. Mungkin udah dirapiin." Hafsah.


" Ya sudah, karena sudah malam, saya hanya ingin mengucapkan selamat untuk kalian semua dan jangan pernah berhenti berkarya untuk selanjutnya. Tetaplah menjadi seorang santri yang rendah hati dan tidak sombong. Ingat, semua ini atas kuasa Allah." Ustadz Mustafa.


" Untuk merayakan ini, saya sudah izin dengan Kyai. Untuk menyalakan kembang api dan obor lalu kita sama-sama mengucapkan hamdalah dan sholawat nabi. " Ustadzah Lily.


" Alhamdulillah! "


" Allahumma Shalli 'Alaihi Muhammad Ya Rabbi Shalli ' Alaihi Wassalim."


Semua anggota Syubband diberikan kembang api yang sangat indah. Senyuman terlukis diwajah mereka yang malam ini sangat bahagia.


Mufti dan sahabat-sahabatnya juga meminta izin untuk menyalakan petasan kepada Kyai.


Kyai membolehkan, dengan senyuman dan anggukan karena ini bukan perayaan apapun dan hanya itu memeriahkan malam yang begitu bermakna ini.


Zakir datang dengan Dimas dan Rifki menghampiri Azmi yang tengah asyik memainkan kembang api ditangannya sambil terus tertawa.


" Assalamualaikum, " ucap Zakir, Rifki dan Dimas.


" Wa'alaikumussalam, " jawab anggota Syubband.


" Kalian ada disini juga?" Ali.


" Iya, Mas. Ini Zakir mau ngomong," Dimas.


" Ngomong apa? " tanya Azmi penasaran dan melangkah mendekati Zakir.


Zakir mengambil sorban Azmi dari tasnya dan memberikan itu kepada Azmi sambil mengucapkan kata maaf yang paling tulus dari hatinya.


" Azmi, aku mau minta maaf sama kamu. Sekarang aku mau jadi orang yang lebih baik, Aban aku juga minta. Aku sadar kalau aku salah. Kalian mau, kan maafin aku?" Zakir.


Azmi memberikan kembang apinya pada Aban, kedua tangannya menerima sorban miliknya yang ada di tangan Zakir.


Azmi sempat terdiam menatap Zakir hingga akhirnya ia mengangguk dan tersenyum kepada Zakir.


" Aku maafin kamu, Kir. " Azmi ia menepuk pelan pundak Zakir beberapa kali membuat Zakir senang dengan jawaban Azmi.


Aban berjalan dan berhenti disamping Azmi.


" Kir, aku juga maafin kamu." Aban.

__ADS_1


" Alhamdulillah, makasih. Kalian memang orang baik, kita sekarang temenan, kan? " Zakir.


" Iya, Kir." jawab Azmi dan tiba-tiba...


Duarrrrrr!!!


Petasan berbunyi keras dan Mufti dengan sahabat-sahabatnya terlihat sangat senang melihat petasan yang berhasil mereka hidupkan.


" Allahu Akbar! Muf, mbok ya, bilang-bilang kalau mau idupin petasan. Untung aku gak jantungan, " Mukhlis yang sangat kaget ketika petasan berbunyi sangat keras.


Ekspresinya yang marah kepada Mufti dan teman-temannya yang seketika berhenti karena mendengar perkataan Muhklis membuat semuanya tertawa kecil.


" Maaf, bang! Gak sengaja!" teriak Mufti sambil tertawa kecil.


Mereka kembali menghidupkan petasan ditambah sumbangan dari Syafiq dan Hamdi yang memberikan cukup banyak petasan kepada tiga sahabat itu.


Petasan-petasan itu berwarna warni di langit pesantren yang terlihat sangat indah dan terus meramaikan wilayah pesantren.


Azmi, Aban dan Ahkam yang duduk bersama terlihat sangat bahagia sambil terus menyaksikan petasan-petsan indah itu.


" Lelah dan ujian itulah yang harus kita hadapi untuk mencapai semua ini." Ahkam.


" Rasa rindu para santri akan membuahkan hasil yang sangat berharga saat mereka melepas rindu dan bertemu dengan orang yang mereka rindui." Aban.


Azmi yang duduk ditengah merasa tidak mau kalah karena semuanya mengeluarkan kata-kata mutiara hingga ia menemukan ide sebuah kata-kata.


" Jangan pernah berhenti ditengah jalan." Azmi belum selesai ia bicara masih diam sesaat Aban sudah bertanya...


" Kenapa, Mi? " tanya Aban.


" Iyalah, Ban. Selain bisa membuat anda tidak sampai-sampai ketempat tujuan anda juga bisa ditabrak." jawab Azmi dengan begitu santainya.


Jawabannya itu membuat Aban dan Ahkam tertawa dan geleng-geleng kepala.


" Sa' ae, Azmi, Azmi." Ahkam.


Aisyah dan Fitri juga sangat senang mereka duduk bersama dengan Ustadzah Lily melihat petasan yang terus menyala dilangit membuat terang malam ini.


Sementara Hafsah yang habis tertawa dan berbincang dengan Kakaknya melihat kedua orangtua Mufti, ia langsung menghampirinya dan berbicara kepada kedua orangtua Mufti.


Melihat Hafsah yang bisa membuat kedua orangtuanya tertawa, membuat Mufti senang dan ikut menghampirinya.


" Ibu, Ayah. Hafsah cocok, kan sama aku?" tanya Mufti.


" Apaan, sih kamu, Muf?" Hafsah yang kaget karena tiba-tiba saja Mufti datang dan bicara seperti itu.


" Gue nanya orangtua gue, bukan lo, " Mufti.


" Hmmmm... Ibu ngelihat kalian cocok, " Ibu.


" Iya, cocok sekali. Tapi, nak Hafsah mau sama Mufti?" tanya Ayah Mufti.


Hafsah tersipu malu membuat Mufti tertawa kecil dan mereka mulai saling tatap dan saling tersenyum.


" Saya permisi dulu, assalamualaikum." Hafsah ia sudah tidak bisa menahan rasa malunya dan memilih pergi darisana.


" Hafsah, kok pergi, sih! Gue serius sama lo, besok kita ta'aruf, ya? Atau nikah aja sekalian!" teriak Mufti yang didengar oleh semua orang membuat pipi Hafsah semakin memerah dan hanya bisa tersenyum atas ucapannya itu.


" Mufti, Mufti," Ibu Mufti merangkul anaknya itu sambil tertawa.


Semua orang sangat bahagia mereka semua melepas tawa dimalam ini.


Anggota Syubband yang berkumpul bersama dengan Mufti dan sahabat-sahabatnya untuk kembali bermain kembang api dengan penuh tawa.


Sementara Hafsah, Aisyah, Fitri, Ustadzah Lily menyaksikan mereka bersama.


...TAMAT...


Alhamdulillah


...Akhirnya novel ini tamat juga 😌☺. Maaf jika ada kesalahan penulisan dan kalau ada yang belum puas sama ceritanya bisa komentar dibawah, ya😉 ...





Jangan lupa share kalau cerita ini bagus ❤


...Saya juga udah kepikiran mau buat novel apa lagi. Tapi, udah mau balik ke pesantren walau ditunda dulu karena PPKM ...


Stay tune, ya gess 🌹🌹

__ADS_1


...**Suport aku selalu 😘, makasih ...


||||||||||||||||||||||||||| 🌹🌹** |||||||||||||||||||||


__ADS_2