
Semua tim hadroh ikut maju mengerumuni Akmal yang berlumuran terus mengalir dari telinga, hidung dan juga mulut Akmal.
Semua santri ikut khawatir dan mereka bergerombol melihat Akmal dengan cepat, para Ustadz panik dan Ustadz Abdullah mencoba menghubungi pihak rumah sakit agar membawa ambulance mereka karena tidak ada mobil satupun yang tersedia di pesantren.
Ahkam segera mengambilkan segelas air untuk Akmal berharap tubuh Akmal kembali sehat dan sakitnya akan berkurang.
" Ayo Mal, kamu kuat, ayo minum, " ucap Ahkam dengan suara lirih memberi segelas air kepada Akmal yang terpangku pada Azmi yang terus memegangi kepala dan tubuh Akmal yang lemas tidak berdaya.
" Mas Akmal, bertahan mas, mas pasti kuat, " Azmi ikut menyemangati Akmal.
" Mal, buka mata kamu Mal, Mal, Akmal! " sentak Ali kepada Akmal agar ia mau membuka matanya.
Akmal perlahan membuka matanya dan melihat tim Syubban yang sudah berada di hadapannya mengerumuni dirinya.
" Aku, udah gak kuat, Aku... Minta sama... Kalian... Semangat ya, dalam latihan...Buat nama Syubanul Muslimin dikenal banyak orang pencinta sholawat, dan aku juga minta maaf atas semua kesalahanku, " Akmal suaranya bergetar ia berbicara dengan terbata-bata memandangi satu-persatu teman-temannya.
" Ojo ngono Mal, kamu pasti kuat, berjuang Mal! " Udin tidak tega melihat sahabatnya yang tidak berdaya.
Akmal sudah tidak kuat lagi dadanya semakin sesak seketika ia batuk dan semakin banyak darah yang keluar dari mulutnya. Akmal menggenggam tangan Azmi dengan sangat erat.
" Azmi, buat tim ini sukses, oke, " Akmal suaranya tidak terlalu jelas tapi Azmi yang sedang memeganginya mengerti spontan matanya mulai berkaca-kaca.
" Iya mas, tapi mas Akmal juga harus sembuh, " Azmi menahan tangisnya.
Akmal hanya tersenyum dan tidak menjawab Azmi sehingga suara sirine ambulance berbunyi memasuki pesantren. Dengan cepat dan sigap Ustadz Abdullah dan Ustadz Ridwan berlari untuk mengantarkan kedua Suster yang bergerak cepat dengan menggotong tandu mereka masuk ke dalam Masjid, semua santri minggir memberi jalan untuk mereka.
" Mas Akmal, buka matanya mas, " ucap Azmi terus meminta Akmal membuka matanya tetapi Akmal sudah lemas.
" Azmi, bantu Ustadz, " Ustadz Ridwan meminta bantuan Azmi untuk meletakkan Akmal pada tandu.
Secara perlahan Azmi meletakkan Akmal di tandu yang siap digotong oleh kedua Suster laki-laki.
" Kalian diam disini dulu ya, doakan yang terbaik, " Ustadz Ridwan terburu-buru.
Seluruh santri mengikuti langkah kedua Suster untuk melihat Akmal di bawa masuk ke dalam ambulance.
Seluruh anggota Syubban juga berjalan dengan cepat untuk melihat Akmal dibawa, mereka berlari mengejar mobil ambulance sampai depan gerbang pesantren.
__ADS_1
" Akmal, buka matamu Mal! " teriak Ali kepada mobil ambulance yang sudah menjauh.
Para anggota Syubban tidak menyangka kejadian seperti ini akan terjadi, tubuh mereka bergetar tidak kuat menahan rasa yang sangat sedih dan haru apalagi Ali ia begitu sedih hingga ia terduduk keras di tanah.
Semua tim Syubban ikut menangis, Azmi, Ahkam, Aban, dan Muhklis menutupi wajah mereka menghapus air mata mereka. Firman, dan Udin ikut duduk di tanah menemani Ali yang sudah sangat bersedih mereka semua berharap Akmal tidak apa-apa.
" Anak-anak, kalian berdoa saja untuk Akmal, semoga Akmal tidak apa-apa, " pak satpam tidak tega melihat tim Syubban menangis.
Saat hendak menutup gerbang, datang mobil Kyai dan Ustadz Mustafa secara bersamaan.
" Assalamualaikum anak-anak, tadi Ustadz Abdullah menghubungi saya beberapa kali tapi saya tidak mengetahuinya, karena saya sangat khawatir, maka dari itu saya kesini, " Kyai.
Ustadz Mustafa juga segera turun dari mobilnya.
" Iya Kyai, tadi Ridwan sempat menghubungi saya, " Ustadz Mustafa.
" Maaf sebelumnya Kyai, Ustadz, Akmal di bawa kerumah sakit, " jawab Ahkam dengan nada pelan sembari menunduk tubuhnya masih bergetar dan sedih dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Mendengar itu Ustadz Mustafa dan Kyai menjadi kaget sekaligus khawatir.
" Lebih baik kita masuk dulu anak-anak, kita tunggu kabar dari Ustadz Ridwan dan Ustadz Abdullah, " ucap Kyai kepada semua anggota Syubban yang masih larut dalam kesedihan mereka dengan mata yang berkaca-kaca mulai melangkah dengan langkah kaki pelan dan tubuh pelan.
Mereka mulai masuk ke dalam pesantren untuk melakukan berdoa bersama agar Akmal di beri keselamatan.
...***********...
Langkah para Suster segera membawa Akmal dengan kasur dorong diikuti oleh Ustadz Ridwan dan Ustadz Abdullah yang terus meminta Akmal agar membuka matanya.
" Akmal, ayo buka matamu, kamu kuat Mal!" Ustadz Abdullah memegangi wajah Akmal.
Akmal di bawa masuk ke dalam ruangan bersama Dokter yang siap untuk memeriksanya.
" Mohon maaf pak, tunggu di sini," ucap salah satu suster menghentikan langkah Ustadz Abdullah yang hendak masuk setelah itu ia menutup rapat pintu ruangan Akmal.
" Mas, kita berdoa aja untuk Akmal, " Ustadz Ridwan menenangkan kekhawatiran Ustadz Abdullah, Ustadz Abdullah menoleh dan membalasnya dengan anggukan.
Akmal semakin lemas dadanya yang semakin sesak membuatnya tidak berdaya tangannya terangkat menghentikan Dokter dan Suster yang hendak menyentuhnya untuk menyelamatkan.
__ADS_1
Seketika Dokter terhenti atas permintaan Akmal.
Akmal berusaha mengucapkan dua kalimat syhadat dengan kemikan bibirnya yang bisa dilihat oleh Dokter dan Suster walau suaranya tidak terlalu terdengar.
Titttttttttttttt
Akmal menghembuskan nafas terakhirnya, Dokter dengan cepat memeriksa detak jantung Akmal berkali-kali tapi sayang, nyawa Akmal sudah tidak bisa di selamatkan. Dokter menggelengkan kepalanya pelan dan meminta Suster untuk menutupi jenazah Akmal dengan kain putih.
Dokter keluar dengan ekspresi sedih, melihat Dokter yang keluar, Ustadz Abdullah segera bangun dan menghampiri Doktet diikuti oleh Ustadz Ridwan yang juga segera bangun untuk menghampiri Dokter.
" Bagaimana, Dok? " tanya Ustadz Abdullah antusias.
" Kami sudah berusaha, tapi takdir berkata lain, nyawa pasien tidak bisa di selamatkan, " Dokter dengan nada pelan.
Ustadz Abdullah dan Ustadz Ridwan tidak percaya, air mata jatuh dari mata mereka dan membasahi wajah mereka, kesedihan sangat terasa mengetahui salah satu santrinya sudah pergi untuk selamanya.
" Innalillahi wa inna 'ilaihi roji'un, " Ustadz Abdullah dalam tangisannya ia sangat sedih dan tubuhnya seketika lemas ia memilih untuk duduk di bangku agar bisa menguatkan dirinya atas apa yang sudah terjadi.
" Innalillahi wa inna 'ilaihi roji'un, " Ustadz Ridwan juga duduk di sebelah Ustadz Abdullah sembari menutupi wajahnya yang sedang larut dalam kesedihan.
Dokter tidak bisa berkata apapun lagi, ia juga ikut sedih melihat Ustadz Abdullah dan Ustadz Ridwan yang menangis lalu Dokter pergi dengan langkah pelan untuk memeriksa pasien lain.
" Ya Allah, mengapa Engkau memanggil Akmal di usianya yang masih sangat muda? Akmal," Ustadz Abdullah tidak bisa menghentikan tangisnya.
Dan Ustadz Ridwan merasa sangat kehilangan ia tidak menyangka Akmal akan pergi di usia yang masih muda.
Handphone Ustadz Abdullah berbunyi ketika ia melihat nama Kyai, tangannya bergetar tidak sanggup mengatakan apa yang terjadi. Ustadz Abdullah mencoba tegar dan menghapus air matanya untuk menerima panggilan dari Kyai.
" Assalamualaikum, Abdullah, bagaimana dengan Akmal? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Kyai begitu khawatir ia juga sempat memandang tim Syubban yang tengah menunggu kabar duduk bersama di tangga Masjid.
Ustadz Abdullah menghela nafasnya agar ia bisa mengatakan dengan tegar sesuatu yang berat untuk dikatakan.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabaraktuh, Akmal.... Akmal sudah tiada Kyai, " ucap Ustadz Abdullah suaranya lirih air matanya kembali menetes tidak sanggup menahannya dan terus jatuh membasahi pipinya.
Tangan Kyai bergetar dan ia menjatuhkan teleponnya tidak sanggup memberitahu ini kepada tim Syubban.
" Innalillahi wa innal ilaihi roji'un, " ucap Kyai suaranya yang bergetar sembari menangis merasakan kesedihan yang sangat dalam atas kehilangan Akmal.
__ADS_1
Mendengar Kyai mengucap hal itu membuat Ali dan semua tim Syubban menoleh ke arah Kyai yang terus menangis di depan Masjid sembari menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Bersambung...