
Azmi bersama keluarganya sudah cukup lama bertamu dirumah Aisyah dan kini hari sudah semakin siang masih banyak orang yang belum mereka kunjungi dan masih banyak juga pekerjaan yang belum dilakukan. Saatnya Azmi bersama dengan keluarganya pamit pulang.
" Terima kasih, sudah berkunjung kesini, Mbak." Ibu Aisyah.
" Gak perlu bilang makasih, ini memang sudah kewajiban dihari raya." jawab Ummi Azmi.
" Benar, seharusnya kita yang berterimakasih karena makanannya wuenak-wuenak tenan'e. " sambung Abah Azmi.
Lantas saja semuanya tertawa kecil setelah mendengar ucapan Abah Azmi yang sekaligus membuat senang kedua orangtua Aisyah.
" Alhamdulillah, syukurlah kalau kalian semua suka dengan masakan saya dan juga Aisyah, " Ibu Aisyah.
" Ya sudah, kami pamit pulang dulu. Jangan lupa nanti mampir ke rumah. Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian, " Ummi Azmi.
" Iya, Mbak. Insya Allah, nanti saya kesana." jawab Ibu Aisyah.
Mereka semua saling bersalam, Azmi bersama dengan kedua Adiknya menyalam tangan kedua orangtua Aisyah segera bergantian.
" Aisyah, sayang! Sini, Nak. Salim dulu sama Ummi sama Abahnya Azmi! " teriak Ibu Aisyah.
" Iya, Ummi! " jawab Aisyah juga dengan sedikit teriakan sembari melangkah dan Fitri juga mengikutinya dari belakang
Aisyah bersama dengan Fitri mulai satu-persatu mencium tangan Abah dan juga Ummi Azmi.
" Aisyah makin cantik aja, jadi anak yang sholeha ya, Nak." Ummi Azmi.
" Aamiin, terima kasih Ummi." ucap Aisyah dengan suara lembutnya.
" Ummi, Aisyah aja yang cantik? Aku?" ucap Fitri dengan wajah cemberut.
Membuat semua orang tertawa kecil termasuk juga Azmi yang berdiri bersama dengan kedua Adiknya.
" Iya, Fitri juga cantik banget. Ini ada sedikit buat kalian, " Ummi Azmi ia langsung memberikan sejumlah uang yang tidak bisa dilihat karena tangannya langsung menggenggam tangan Fitri dan Aisyah.
Aisyah menoleh ke arah Ibunya dan Ibunya mengangguk kecil sambil tersenyum kepada dirinya.
" Terima kasih, Ummi." ucap Aisyah.
" Ummi, makasih banyak. Tau aja kalau aku belum dapat THR," sambung Fitri sambil tertawa kecil diakhir kalimatnya ia terlihat sangat senang setelah menerima uang dari Ummi Azmi.
" Iya, sama-sama. Kami pamit dulu, assalamualaikum, " Ummi Azmi bersama dengan Abah, Azmi, Rara dan Naufal yang mengucap salam.
Fitri terus saja memberi kode kepada Aisyah tapi Aisyah tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Fitri. Dan saat Azmi melintas dihadapan mereka dengan kepala yang tetap tertunduk Fitri langsung mengambil kesempatan dalam hal itu.
" Azmi, " panggil Fitri dengan suara yang pelan seperti berbisik membuat Azmi berhenti melangkah dan menoleh ke arah mereka berdua.
__ADS_1
Aisyah begitu kaget dan ia malah menarik tangan Fitri untuk menghentikan apa yang ingin dia lakukan. Tapi Fitri malah tertawa berusaha tetap bicara dengan Azmi.
" Ada apa? " tanya Azmi yang masih berdiri di hadapan Aisyah dan Fitri.
" Aisyah mau ngomong, Syah, ayo ngomong!" perintah Fitri yang membuat Aisyah kaget dengan ucapannya itu.
" Ishhh, kamu ngomong apa, sih? Enggak, Mi. Kamu pulang aja, jangan dengerin dia!" ucap Aisyah ia sedikit terburu-buru dan ngegas ketika bicara.
" Aisyah, ngomong aja kenapa, sih? Ini hari raya kamu harus bersihin hati kamu dan minta maaf sama Azmi. Ayo, cepat!" paksa Fitri.
" Gak mau, kamu aja sana. Masa aku yang minta maaf, " jawab Aisyah.
" Kalian bisikin apa, sih? Mau ngomong apa nanti aku ditinggal lagi sama keluarga aku." Azmi.
" Aisyah mau minta maaf katanya, Mi.. " Fitri bicara dengan spontan yang membuat Aisyah kaget juga spontan menginjak kakinya dan menutup mulut sahabatnya itu agar berhenti bicara.
Azmi bingung, ia menaikkan alisnya dan tersenyum kecil, sekilas memalingkan wajahnya.
" Azmi, kamu pulang aja cepat. Entar ditinggal lagi," ucap Aisyah.
" Emmmmmm, " Fitri berusaha bicara dan tangannya memberikan kode agar Azmi tetap disini.
Hal itu membuat Azmi semakin bingung dengan apa yang dilakukan Fitri.
" Udah, jangan dengarin dia, " Aisyah.
" Wa'alaikumussalam, " jawab Aisyah yang masih menutup rapat mulut Fitri.
Ketika Azmi sudah pergi dan tidak lagi terlihat barulah Aisyah melepaskan tangannya dari mulut Fitri.
" Aisyah, kamu kenapa nutup mulut aku?" tanya Fitri dengan wajahnya yang kesal.
" Salah kamu, tadi mau ngomong apaan coba sama Azmi?" jawab Aisyah.
" Memang kenapa, sih? Syah, ini itu hari raya jadi kamu harus bersihkan pikiran kebencian kamu itu sama Azmi. Dia itu baik, tau. Ganteng lagi, apa susahnya sih, maafin dia?" ucap Fitri.
" Gak semudah yang kamu pikir, Fitri. Lagian dia yang harus minta maaf, bukan aku." Aisyah.
" Tapi kamu yang salah, Syah. Kamu udah berpikiran negatif sama dia." Fitri.
" Azmi yang udah ngecewain aku." tegas Aisyah.
" Iya, tapi, Aisyah, " Fitri belum saja ia selesai bicara tapi Aisyah sudah pergi begitu saja meninggalkan dirinya sendirian.
" Eh, Aisyah! Kebiasaan nih, selalu pergi gitu aja padahal aku belum selesai ngomong. Gak sopan banget, Aisyah! Syah, aku belum selesai ngomong! " teriak Fitri ia segera melangkah untuk mengejar langkah Aisyah.
__ADS_1
...***...
Pada hari raya ini, dirumah mewah dan megah milik Ustadz Mustafa dan Mufti malah terlihat begitu sepi hanya ada mereka berdua yang asyik dengan kesibukan mereka masing-masing.
Pakaian yang masih dengan koko berwarna putih bersih dengan motif keren yang seragam Ustadz Mustafa terlihat sibuk membereskan rumah mereka tepatnya diruang tamu.
Mufti yang baru keluar dari kamarnya dengan memakai pakaian yang sama seperti Kakaknya tapi tanpa peci seketika terdiam dan memandang sudut rumahnya tanpa ada yang terlewat sedikitpun lalu pandangannya yang tajam memandang kepada Kakaknya yang baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya.
Mufti tersenyum kecil dan segera menghampiri Kakaknya.
" Wishhh, jago juga Kakak bersih-bersih sama nyiapin semua makanan ini. " puji Mufti kepada Kakaknya yang tersenyum ketika melihat Mufti menghampiri dirinya.
" Bisa aja kamu, udah daritadi gak bantuin Kakak, " ucap Ustadz Mustafa.
" Maaf, biasa aku banyak urusan. Anak muda," jawab Mufti mengambil camilan yang baru saja disiapkan dan duduk di sofa dengan santainya.
Ustadz Mustafa kembali melukis senyuman manisnya dan melangkah untuk ikut duduk disamping Adiknya.
" Emang Kakak gak muda, apa? " Ustadz Mustafa.
Pertanyaan Kakaknya itu membuat Mufti terdiam menoleh ke arah Kakaknya lalu tertawa dengan hal itu.
" Malah ketawa, emang ada yang lucu?" tanya Ustadz Mustafa.
" Masih muda, sih. Tapi sayang, Kakak itu terlalu fokus sama kerjaan sampai-sampai gak pernah mikirin soal cinta. Jadi kelihatan. udah agak tua gitu, " ucap Mufti.
" Apaan sih, kamu? Kalau jodoh gak akan kemana, sekarang Kakak lebih fokus sama sekolah kamu. Yang terpenting itu kamu, kamu harus jadi orang sukses melebihi Kakak, " jawab Ustadz Mustafa dimana jawabannya itu membuat Mufti terdiam, tatapannya begitu dalam dan ekspresi wajahnya juga seketika sedih.
" Makasih, ya, Kak. Selama ini Kakak udah jadi Kakak sekaligus orangtua yang baik sama Aku." Mufti.
Ustadz Mustafa segera merangkul Adiknya sambil tersenyum.
" Sama-sama, ini sudah tugas Kakak untuk jagain kamu." Ustadz Mustafa.
Mufti yang tertunduk menahan kesedihan yang ia bendung sendiri tidak mau menunjukkan kesedihannya kepada Kakaknya yang selalu ada untuknya hanya bisa mengangguk kecil beberapa kali.
" Oh iya, gak ada ketupat nih, sekarang. Yah, Kakak gimana, sih? Masa lebaran gak ada ketupat sama opor ayam." Mufti ia segera mengalihkan pembicaraan agar tidak larut dalam kesedihannya itu.
" Gampanglah beli aja, nanti." jawab singkat Ustadz Mustafa sambil melepaskan rangkulannya perlahan.
" Tapi kan, jadi beda rasa dan konsepnya. Makanya Kakak cepat nikah biar ada yang bikinin ketupat." Mufti.
" Kamu apaan, sih? Pengen banget Kakak nikah cuma buatin ketupat. Minta ketupat sama Hafsah, tuh." ledek Ustadz Mustafa ia berdiri mengambil camilan yang sudah terbuka toplesnya itu dan langsung melangkah pelan meninggalkan Mufti yang masih asyik duduk di sofa.
Mufti seketika terdiam dengan ucapannya Kakaknya itu dan hanya bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya ia juga langsung membuka handphonenya.
__ADS_1
Bersambung....