Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 108. Keramahan Azmi


__ADS_3

Mufti menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk mengecek kembali lokasi yang di kirim Ustadz Mustafa lewat handphone nya.


" Kok berhenti, mas? " tanya Azmi kepada Mufti walaupun ia sudah mengetahui jawabannya ketika melihat Mufti sibuk memainkan handphone nya.


" Ini gue masih ngecek lokasi, ini kayanya udah mau deket deh, " ucap Mufti sedikit cuek tanpa menoleh ke arah Azmi ia sibuk melihat hape nya dan kembali melihat jalannya.


" Kalau gitu, biar aku yang ngecek hape nya mas, nanti mas tinggal jalan kan lebih cepat, " Azmi.


" Ah, enggak-enggak, yang ada nanti lo kepoin hape gue, udah, gue bisa sendiri. " Mufti ketus menolak tawaran Azmi.


" Ya udah, kalau gak mau, aku cuma nawarin aja, " Azmi memalingkan pandangannya.


Mufti kembali menjalankan mobilnya setelah menghafal jalan yang tertera pada handphone nya.


" Mas itu beda berapa jarak sama Ustadz Mustafa? " tanya Azmi basi-basi.


" Gak usah kepo deh, itu sama sekali gak penting, " ucap Mufti yang fokus memandang jalan.


" Ya udah, pertanyaan yang penting sekarang, mas Band, udah berapa lama ngeband?" tanya Azmi kembali.


" Lo bisa diam gak, sih? Gue ini lagi fokus mandang jalan, ganggu aja! " sentak Mufti kepada Azmi.


" Maaf mas, galak amat, " ucap Azmi mengecilkan suara saat mengucapkan kata galak.


" Apa lo bilang? Gue galak? " sentak Mufti kembali.


" Enggak mas, kayanya kuping mas itu harus di bersihin, orang aku bilang mas gaul amat kok, " Azmi ngeles sembari tersenyum kecil ia sangat santai dan berusaha mendekatkan dirinya kepada Mufti yang terlihat sangat kesal.


Mufti hanya bisa diam sembari menggelengkan kepalanya melihat tingkah Azmi, ia mengenghentikan mobilnya di depan rumah yang cukup besar dan mewah.


" Udah nyampe, mas? " tanya Azmi memandang rumah mewah yang ada di depannya di batasi gerbang yang cukup panjang.


" Iya kayanya, ini benar kok lokasinya, " Mufti.


Ada seorang satpam yang melihat mobil berhenti di depan gerbang ia mulai berjalan mendekati mobil itu.


" Ada apa nak? Kalian cari siapa? " tanya pak sopir.

__ADS_1


" Ini benar rumah pak Hasan, ya pak? " tanya Mufti yang sempat melihat nama yang di beritahu oleh Ustadz Mustafa.


" Oh iya benar, ada perlu apa, nak? " tanya pak sopir kembali.


" Alhamdulillah sampai, jadi pak satpam, nama saya Azmi, saya dari Pesantren Nurul Qadim saya di perintahkan Kyai untuk kesini katanya anak dari Pak Hasan meminta saya membawakan lagu yang dia buat, begitu pak, " jelas Azmi kepada pak satpam.


" Oh, iya, iya, Azmi vocal hadroh dari Syubbanul Muslimin, iya saya dengar kamu di pilih untuk membawakan lagu yang dibuat den Hamdi, anak dari pak Hasan, ganteng tenan ternyata kamu, banyak orang yang membicarakan nama kamu dan Syubbanul Muslimin karena bakat mereka... Dan kalian ini...


" Pak, pak, bisa masuk sekarang gak?" tanya Mufti sudah tidak tahan mendengar semua pujian untuk Azmi dan tim hadroh yang sangat ia benci.


" Ooo, iya nak, saya buka pintunya dulu, " Pak satpam yang segera berlari untuk membuka pintu gerbang dan mempersilakan Mufti memasukkan mobilnya ke dalam.


Dengan ekspresi kesal, malas dan terpaksa ia kembali menyetir mobilnya masuk ke dalam.


" Lo aja yang turun, gue nunggu di sini aja, " ucap Mufti setelah berhenti mematikan mesin mobilnya yang telah ia parkir.


" Tidak bisa begitu mas, masuk aja sama aku, ini masih jam 08.00 mas, jam 10.00 itu juga belum tentu selesai kata Ustadz, mas mau di sini sendiri? " Azmi.


Mufti menoleh ke arah Azmi memberkan tatapannya yang tajam dan Azmi hanya membalas senyumnya yang ramah.


" Udahlah, gue nanti bisa jalan-jalan, ngapain juga gue lihatin musuh gue latihan dan masuk youtube, " Mufti.


" Dengar ya, anak kecil! Gue sama sekali gak iri sama lo, gue biasa aja, dan gue tau kalau youtube tidak menjamin kesuksesan orang, cuma orang yang beruntung aja yang bisa terkenal lewat situ, " Mufti.


" Iyo, aku ruh mas Band, hanya Allah yang bisa menentukan takdir orang, kita gak pernah tau lo mas, kadang ada yang gak sekolah tinggi tapi dia bisa sukses lewat chanelnya itu, dan kadang....


" Lo bisa, gak? Gak banyak ngomong kaya gitu, gue gak butuh ceramah-ceramah lo, itu! " Mufti memotong pembicaraan Azmi karena tidak tahan mendengar ucapan Azmi dan merasa sangat kesal.


" Jangan marah-marah mas, nanti gantengnya hilang kalau marah, " Azmi dengan santainya.


" Bodo amat, " jawab Mufti sangat ketus dan penuh amarah.


" Kalau mas gak mau turun ya udah, aku aja yang turun, " Azmi mulai membuka pintu mobilnya tidak langsung melangkah pergi Azmi masih memandang Mufti yang sangat kesal seakan ingin segera pulang.


Azmi mencari solusi agar Mufti mau masuk dengannya.


" Mas, yakin gak mau masuk? Kalau mas masuk pasti nanti di jamu sama makanan enak sama minuman dingin sedangkan kalau mas disini terus, mana dapat apa-apa mas, " ucap Azmi membujuk Mufti agar mau ikut bersamanya.

__ADS_1


" Gak usah sok peduli deh, gue gak masalah kok di sini terus bahkan sampai malam yang penting gak sama lo, lo itu musuh berat gue!" Mufti kembali memandang Azmi dengan tatapan tajam.


" Yaudah, kalau gitu aku masuk dulu mas, assalamualaikum, " Azmi ia melangkah dengan sangat pelan masih menunggu Mufti menghampirinya.


" Benar juga ya kata tuh bocah, kalau disini gue kaya sopir yang nungguin dia tapi, kalau gue ikut masuk bisa di jamu sama makanan enak gue, hmmm...Lumayan juga, " Mufti terus berpikir hingga ia memutuskan akan ikut bersama Azmi.


" Eh tunggu!" Mufti berlari kecil menghampiri Azmi yang berjalan sangat pelan.


Azmi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Mufti yang sudah berada di hadapannya.


" Ya udah, setelah gue pikir-pikir, gue ikut lo aja, " Mufti dengan ekspresi terpaksa.


" Alhamdulillah, udah aku duga kalau mas pasti bakal ikut, untung aku jalannya pelan kalau cepat bisa ketinggalan kereta mas, " Azmi sembari tertawa kecil memandang Mufti yang sudah malas dengannya.


" Gak usah ngelawak deh lo, garing tau gak? " Mufti.


" Emang saya bukan pelawak mas tapi, saya bisa membuat semua orang tertawa," Azmi sangat percaya diri.


" Terserah lo deh, ayo jalan!" Mufti.


Azmi menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kecil ia mulai melangkah bersama Mufti menuju rumah besar tersebut.


Setelah berada di depan pintu Azmi memencet bel rumah besar tersebut dan tidak lama datang seorang wanita berhijab yang cantik membuka pintu lebar rumah itu.


Melihat seorang wanita cantik yang ada di hadapannya Mufti tercengang dan tidak berhenti menatap wanita yang di hadapannya bahkan tanpa berkedip.


" Assalamualaikum mbak, kakak, eh.. " Azmi yang bingung sembari menggaruk lehernya.


Wanita itu tertawa kecil melihat tingkah Azmi.


" Wa'alaikumsalam dek, panggil saya kakak saja, nama saya Hafsah ada keperluan apa, ya?" tanya Hafsah dengan ramah kepada Azmi.


" Saya Azmi kak, saya... "


" Oh Azmi, Masya Allah, saya sampai lupa, kamu yang terkenal di instagram, facebook bahkan banyak orang yang sudah membicarakam tim hadroh Syubbanul Muslimin karena kehebatan mereka dalam memainkan rebana, vocalnya juga pada kece-kece saya ngefans banget sama kalian, " Hafsah tak berhentinya bicara setelah mengetahui bahwa orang yang ada di hadapannya adalah Azmi.


" Rendah banget sih mbak, ngefans sama tim hadroh kampungan kaya gini, di mana-mana orang sukanya sama anak Band kaya aku ini. Dasar kampung banget, rumahnya aja yang gede dan mewah tapi selera orangnya rendah banget! Ngefans nya sama tim hadroh." ucap Mufti begitu saja karena ia sangat iri kepada Azmi yang sedari tadi di puji.

__ADS_1


Hafsah terlihat sangat kesal dan marah mendengar ucapan Mufti kepadanya, begitu juga dengan Azmi yang tidak menyangka bahwa Mufti akan mengatakan hal itu.


Bersambung....


__ADS_2