
Malam ini baru saja selesai taraweh, Mufti melangkah bersama bersama tiga teman sekaligus rekan Bandnya tapi ia berhenti melangkah saat melihat Hafsah yang tengah duduk bersantai berbincang bersama 2 wanita mungkin mereka adalah teman Hafsah.
" Emmm, kalian duluan aja, ya. Gue ada urusan bentar, " Mufti.
" Urusan? Urusan apaan? " tanya Doni.
" Ah, kalian gak perlu tau. Pulang sana, gih." Mufti kembali meminta untuk teman-temannya pulang terlebih dahulu.
" Ceileh, si Mufti. Kaya mau ketemuan sama cewek aja lo, buru-buru nyuruh kita pulang. Jangan-jangan pikiran gue benar," ucap teman Band Mufti.
Mata Doni juga mengarah pada Hafsah yang tengah asyik berbincang sambil sesekali tertawa ia akhirnya paham atas tingkah Mufti yang seperti ini sambil tersenyum dan mengangguk kembali mengarahkan pandangannya kepada Mufti.
" Guys, mendingan kita ikutin aja kemauan dia, yuk, pergi. Gue mau ntraktir kalian jajan." Doni.
" Nah, sana gih ikut Doni jajan." Mufti.
" Ya udahlah, mending kita ikut Doni aja, ayo." teman Band lainnya.
" Muf, pergi dulu. Bye, " Doni ia merangkul kedua temannya untuk pergi dari hadapan Mufti segera sambil tersenyum kecil menatap Mufti.
" Assalamualaikum harusnya!" teriak Mufti kepada teman-temannya yang sudah melangkah.
" Wa'alaikumussalam, " ucap ketiga teman Mufti dengan kompak setelah berbalik arah kembali memandang ke arah Mufti.
" Daa, Muf." teman Band Mufti memberikan lambaian tangannya pada Mufti.
" Iya, " jawab Mufti tanpa membalas dengan lambaian tangan.
Akhirnya ketiga teman Mufti sudah pergi dan meninggalkan Mufti sendiri, tanpa pikir panjang Mufti langsung melangkahkan kakinya sampai kepada Hafsah yang baru saja selesai berbincang dan kedua teman Hafsah juga hendak pergi.
" Kita duluan, ya, Hafsah. Assalamualaikum," wanita 1 bersama dengan wanita 2 yang mengucapkan salam.
Hafsah juga ikut berdiri ketika kedua temannya berdiri.
" Oh, iya, iya. Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " Hafsah.
__ADS_1
" Daaa, mari, mas." wanita 2 ia juga berpamit kepada Mufti yang berdiri di belakang Hafsah yang membuat Hafsah juga menoleh ke arahnya seketika ekspresi Hafsah kaget dan tercengang ketika melihat wajah Mufti yang tersenyum manis kepadanya.
" Ciee, Hafsah. Udah punya cowok aja, gak bilang-bilang sama kita, " wanita 1.
" Iya, nih. Mungkin karena cowoknya ganteng, ya. " wanita 2.
" Bisa jadi, Hafsah takut kita ambil. Ya elah, kita gak gitu kali, Haf." sambung wanita 1.
" Hushhh! Kalian ngomong apa, sih? Dia bukan pacar aku, cuma teman. Lagian pacaran itu haram, dosa. Gimana, sih? " Hafsah ia sungguh kesal dengan semua ucapan kedua temannya.
" Ya udah, maaf. Kalau gitu kita pulang, assalamualaikum, " wanita 1 juga wanita 2 yang mengucap salam setelahnya.
" Wa'alaikumussalam, " Hafsah.
" Duluan, ya." wanita 2 yang kembali melambaikan tangannya pada Mufti.
Mufti hanya tersenyum dan mengangguk menjawab salam dengan nada kecil kepada teman-teman Hafsah sampai mereka pergi meninggalkan Hafsah dan Mufti berdua.
" Ishh! Kamu mau ngapain nemuin aku tiba-tiba kaya gini?" Hafsah membalikkan tubuhnya agar bisa bicara memandang Mufti.
" Assalamualaikum, " Mufti.
" Wa'alaikumussalam, iya, ada apa Mufti?" Hafsah sambil menahan amarahnya.
" Gue kesini gara-gara lo... Gara lo... " Mufti gugup dan bicara dengan terbata-bata ia juga memalingkan wajahnya sembari menggaruk pelan belakang lehernya.
" Gara-gara aku kenapa? Udah, ngomong aja cepetan! Gak baik berdua-duaan kaya gini apalagi malam-malam gini, " Hafsah sedikit nada tinggi karena kesal dengan Mufti yang tak kunjung bicara.
" Kok jadi lo yang marah, sih? Harusnya gue yang marah sama lo, gara-gara lo gak balas chat gue," jelas Mufti dengan tatapan dalamnya pada Hafsah.
" Apa? Bentar-bentar, jadi cuma gara-gara itu kamu datang terus marah-marah kaya gini?" Hafsah bertanya dengan ekspresinya yang kaget dan sedikit tertawa kepada Mufti.
" Ya... Ya, iyalah, emang kenapa? Salah, gak boleh? Asal lo tau, ya. Banyak cewek yang ngantri buat gue balas chatnya dan asal lo tau cuma lo cewek yang gue chat duluan." Mufti.
Hafsah malah tertawa setelah mendengar semua ungkapan Mufti yang begitu menggebu penuh emosi dengan serius dan tatapan tajamnya pada Hafsah.
__ADS_1
" Heh! Kok malah ketawa, sih? " Mufti bingung.
" Haduh, Ya Allah. Kamu jadi orang tuh, percaya diri banget, sih. Emang seberapa banyak cewek yang punya cita-cita dibalas chatannya sama kamu? " Hafsah ia bicara sambil tertawa seakan meledek Mufti sambil menutup mulutnya ketika ia sangat asyik mentertawai Mufti.
" Ya, banyaklah. Gue ini idola sekolah dulu dan lo harus tau itu, " Mufti.
" Iya, iya, udah. Kalau gitu aku minta maaf ya, idola sekolah yang ganteng dan percaya dirinya selangit. Asal kamu tau, ya. Aku itu dari pagi sampai sore sibuk ngurus pasien, aku sibuk kerja. Emang kamu ngechat apa, sih? Bentar, ya." Hafsah ia sempat tersenyum memandang Mufti hingga ia mengambil handphonenya untuk melihat apa pesan yang dikirim Mufti.
Hafsah makin tersenyum setelah melihat dan membaca sendiri pesan yang dikirim oleh Mufti lalu Hafsah kembali mengarahkan pandangannya kepada Mufti yang sekilas memalingkan pandangannya dan kembali menatap Hafsah.
" Kalau gitu aku jawab langsung aja, wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Mufti." Hafsah.
Mufti tersenyum atas jawaban itu yang keluar langsung dari mulut Hafsah.
" Udah, kan. Sekarang aku mau pulang," Hafsah.
" Eh, tunggu dulu!" Mufti membuat Hafsah kembali mengarahkan pandangannya pada Mufti.
" Apa lagi? " Hafsah.
" Eeeee... Emang lo istirahatnya kapan, sih? Masa lo terus-terusan kerja? Masa lo sama sekali gak ada waktu buat santai-santai, atau duduk gitu?" tanya Mufti.
" Emmmm, ya tergantung, sih. Tapi waktu istirahat aku itu, duhur. Kalau waktu sholat ya pasti aku juga sholat dulu karena sesibuk-sibuknya manusia jika dia umat muslim hendaklah ia melaksanakan sholat 5 waktu sebagaimana itu adalah kewajiban umat muslim, tapi.... Kalau pasiennya banyak ditambah susternya pada absen, aku harus kerja terus tuh, cuma break buat sholat terus kerja lagi. Emang kenapa, sih nanya kaya gitu? " Hafsah.
" Gak papa, sih. Cuma nanya aja, ya udah deh, kalau gitu." Mufti.
Hafsah mengangguk pelan beberapa kali tanda paham.
" Oke, aku pulang ya, assalamualaikum." Hafsah.
" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " Mufti ia memandang langkah Hafsah yang semakin jauh sampai pada motornya.
Hafsah yang tau kalau Mufti sedari tadi mengawasi dirinya memberikan lambaian tangannya pada Mufti.
Mufti tidak langsung membalas ia seakan canggung dan akhirnya ia mulai mengangkat tangannya dan membalas lambaian tangan Hafsah dengan perlahan.
__ADS_1
Hafsah sudah pulang dan Mufti menurunkan tangannya ia tersenyum sendiri denagn wajahnya yang berseri dalam dinginnya hari yang semakin larut malam.
Bersambung...