Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 84. Pesan Azmi


__ADS_3

Adzan ashar berkumandang semua terdiam mendengarkan adzan dan juga menjawabnya dengan suara yang pelan.


" Iki sopo seng adzan?. " bisik Udin kepada Ali.


" Mana aku tau Din, " jawab Ali .


" Hush, jawab adzan Ali. " ucap ustadz Mustafa.


" Baik ustadz, " Ali kembali menjawab adzan.


Sedangkan Udin malah mentertawakan Ali sembari menutup mulutnya. Ali memukul tangan Udin yang ia letakkan di pahanya hingga kembali membuat keributan.


" Ali, jawab adzan, " sentak ustadz Mustafa lagi kepada Ali.


" Iya ustadz," Ali menunduk, Udin kembali tertawa kecil tapi kali ini Ali mencoba sabar agar tidak di marahi ustadz. Melihat tingkah temannya Akmal melukiskan senyuman yang manis walau ia masih menahan rasa sakit didadanya.


Adzan selesai para anggota Syubban membaca doa setelah adzan dan juga berdoa untuk mereka karena doa setelah adzan adalah doa yang paling mustajab Azmi terlihat sangat khusyuk berdoa sembari memejamkan matanya begitu juga semua para anggota Syubban.


" Ya Allah, kuatkanlah hamba dalam melawan rasa sakit ini. " Akmal sembari menarik nafasnya dan mengusap wajahnya.


" Ya sudah kalian silahkan ambil air wudhu untuk melaksanakan sholat jama'ah. " ustadz Mustafa.


" Baik ustadz ." jawab semua amggota.


Satu-persatu dari anggota mulai bangun dan menyalam tangan ustadz Mustafa sembari mengucap salam.


Azmi, Aban, Ahkam, Muhklis, Ali dan Firman berjalan bersama setelah menyalam tangan ustadz Mustafa.Seketika Azmi yang berjalan paling depan menghentikan langkahnya membuat semuanya kaget dan saling tabrak.


" Mi, ada apa sih ?,kok berhenti mendadak." tanya Aban.


" Mas Akmal mana?,kok gak ada. " Azmi memandang satu persatu dari mereka.


" Eh iya, Akmal mana? ,Udin, Firman, Li,mana Akmal?." tanya Ahkam kepada Ali yang memalingkan wajahnya.


Sebelum mereka berjalan bersama.....


Akmal sudah tidak tahan lagi ia merasa darah mulai keluar dari hidungnya.


" Li, aku duluan ya, " Akmal sembari menutup hidungnya.


" Kenapa Mal?, kita bisa wudhu bareng kan." Ali.


" Aku, aku..Udah, kamu sama mereka aja, aku pulang dulu, assalamualaikum. " Akmal berlari meninggalkan Ali dan teman-temannya yang sudah berjalan.


" Mal, " panggil Ali tapi percuma saja karena Akmal sudah jauh.

__ADS_1


Ali kembali berjalan bersama Firman ia mulai khawatir dengan keadaan Akmal.


...********************...


" Ali, hey, kok diam aja, Akmal mana?. " tanya Muhklis melambaikan tangannya tepat di wajahnya yang sedari tadi melamun.


" Hah? ,itu tadi Akmal buru-buru dia pergi duluan ke kamar mandi. " Ali.


" Oooo, yo wes toh, mungkin Akmal kebelet." ucap Udin.


" Ya udah kalau gitu ,ayo kita jalan lagi. " Azmi.


Semuanya mengangguk dan mereka kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat wudhu. Mereka mulai mengambil air wudhu sedangkan, disisi lain Akmal batuk keras dan kembali mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya Akmal terus membersihkannya dengan air dan berwudhu setelahnya. Akmal melangkah dengan sangat perlahan dan lemas sembari memegangi dadanya.


" Gak, aku gak boleh kelihatan lemah, yang ada mereka makin khawatir, aku harus bisa kuat dihadapan mereka semua. " Akmal ia mulai keluar dari kamar mandi pesantren sembari membenarkan pecinya.


" Mas Akmal, " Rifki yang melihat Akmal dan berpapasan dengannya.


" Iya Ki, ada apa?, kok kayak kaget gitu sih, lihat aku." ucap Akmal sembari tersenyum kepada Rifki.


" He, enggak kok mas, aku baru habis wudhu kok, ayo jalan bareng mas, " Rifki.


" Iya, ayo. " Akmal merangkul Rifki dan berjalan bersama menuju kamar mereka.


Setelah wudhu, Azmi sudah bersiap dengan sejadah yang ia selampangkan dipundak kananya sembari merapikan rambutnya dengan tangannya.


" Opo toh mas, kok manggil-manggil aku. " ucap Azmi sembari memasang pecinya.


" Siapa yang manggil?, gak ada, " Ahkam.


" Iya, iya, " Azmi kembali memalingkan wajahnya dan tersenyum kecil.


" Eh Mi, " Aban yang duduk disamping Azmi.


" Apa Ban?, jangan bilang kamu ikut-ikutan mas Ahkam. " Azmi.


" Enggak, aku cuman mau bilang sebenarnya penyakitnya mas Akmal itu parah banget gak sih?." tanya Aban kepapa Azmi yang seketika menoleh ke arahnya.


"Kalau itu aku kurang tau Ban, tapi, aku denger dari Dokter penyakit itu bahaya," Azmi.


" Yang aku lihat nih ya Mi, mas Akmal seha-sehat aja, dia udah gak kumat lagi." Aban.


" Alhamdulillah Ban, semoga mas Akmal cepat sembuh. " Azmi.


"Aamiin.. " ucap Aban, Ahkam dan Muhklis.

__ADS_1


" Ayo, berangkat ." Ahkam yang bangun dari kasurnya.


" Iya mas, ayo Ban, " ajak Azmi kepada Aban.


Aban menganggukkan kepalanya dan berdiri di samping Azmi.Mereka segera melangkah menuju Masjid yang sudah dipenuhi banyak santri yang sudah siap untuk melaksanakan sholat jama'ah. Ketika ustadz Abdullah datang dan menyuruh salah satu santri yang ada didepan untuk qhamat setelah qhamat mulailah sholat ashar berjama'ah dilaksanakan.


Setelah sholat ashar berjama'ah Azmi dan Aban turun bersama dan melangkah bersama entah apa yang mereka bicarakan sembari tertawa dan terus melangkah memang Azmi selalu membuat tingkah lucu yang membuat Aban tertawa.


" Ban, aku laper banget. " ucap Azmi setelah tertawa terpingkal -pingkal.


" Sabar Mi, entar lagi makan. " jawab Aban.


Seketika Zakir, Sihin dam Helmi menghampiri mereka dan berhenti tepat dihadapan mereka.


" Eh Azmi,ketemu lagi kita. " ucap Zakir sembari tersenyum licik.


" Ada apa Kir?. " Azmi sembari menahan emosinya.


" Kita lihat kalian dari tadi ketawa aja,kayak gak ada beban hidup gitu ,ya gak Hin, Hel." Zakir.


" Iya ,iya, bener tuh." Helmi.


" Zakir, kita itu harus selalu hapy biar wajahnya makin ganteng kalau yang ada dalam hati benci dan iri lama-lama kerutan mukanya. " ledek Azmi sembari tertawa kecil begitu juga dengan Aban.


Zakir memegang wajahnya setelah mendengar perkataan Azmi.


" Udah lah Kir, jangan sedih terus bahagia aja kayak aku sama Aban, kita harus banyak-banyak bersyukur, ya kan Ban, " Azmi.


" Bener,bener." Aban.


" Ya udah, kita lanjut jalan, assalamualaikum. " Azmi hendak melangkah tetapi berhasil dihentikan oleh Zakir dengan memegang tangan Azmi.


" Denger ya Mi, aku itu orang yang paling benci sama kamu di pesantren ini, bagaimanapun caranya aku akan buat kamu gak betah dari pesantren ini. " Zakir dengan tatapan tajam memandang Azmi.


" Denger tuh Mi, jangan ketawa mulu." Helmi.


Azmi tertawa kecil dan melepaskan tangannya dari genggaman Zakir.


" Iya ,aku tau kok kamu itu benci sama aku, aku cuman mau bilang aku gak pernah maksa orang buat berteman sama aku dan kalau kamu benci sama aku, its oke, itu gak papa buat aku Kir, ustadz pernah bilang setiap pekerjaan yang kita lakuin pasti aja ada orang yang gak suka tapi kita harus tetap ikhtiar dan sabar ngehadapin orang-orang yang gak suka sama kita... ." Azmi mengehela nafasnya dan memandang Zakir yang dari tadi nenatapnya dengan sinis.


" Udah ya Kir, assalamualaikum. " Azmi menarik tangan Aban dan segera pergi dari hadapan Zakir.


" Wa'alaikumsalam. " hanya Sihin yang menjawab salam Azmi.


" Lihat aja Azmi nanti Aban aja bakal benci sama kamu. " ucap Zakir sembari tersenyum licik.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2