Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 98. Ketika Semua Tidak Mempercayai Azmi.


__ADS_3

Ali sangat terkejut dan ia segera membuka lebar lemari yang sudah jelas bertuliskan nama Azmi. Ali mengambil benda-benda itu dan memeriksanya.


" Jadi maling itu, Azmi! Aku sama sekali gak nyangka kalau Azmi bisa melakukan hal ini. Aku biarin aja barang-barangnya ada di sini, aku akan bilang yang sebenarnya sama semua orang! " ucap Ali ia segera berlari untuk menghampiri yang lain.


Melihat Ali sangat tergesa-gesa membuat semuanya bingung dan bertanya-tanya.


" Ada apa, Ali? Kamu nemuin pencurinya?" tanya Ahkam dengan sangat antusias.


" Iyo Li, sopo maling neng pesantren iki? " tambah Udin.


Ali memandang semua teman-temannya sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali.


" Iya, aku udah nemu siapa pelakunya!" ucap Ali.


" Siapa, Li? " Firman.


" Kamu serius Li, jadi di pesantren ini bener ada pencuri." Nur ikut menyambung.


" Kalau gitu siapa, Li? " tanya Ahkam kembali.


" Aku gak akan ngomong di sini, ayo kita langsung ke Masjid buat ngasih tau semuanya!" ajak Ali kepada semuanya.


" Ya udah, kalau gitu biar aku yang ngasih tau ke ustadz Ridwan kalau pencurinya udah ditemuin. " Firman.


Ali hanya membalas dengan anggukan pelan.


Mereka semua mulai pergi ke Masjid untuk memberi tahu semuanya.


" Assalamualaikum, " ucap Ali, Ahkam, Udin dan yang lainnya.


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. " jawab semuanya.


" Bagaimana Ali?, kamu sudah menemukan barang-barang yang hilang? " tanya ustadz Abdullah yang sedari tadi merasa sangat khawatir.


Ali melangkah maju menghampiri ustadz Abdullah yang masih berada di tempat imam. Ali memandang Azmi yang juga sedang menunggu jawaban Ali.


" Iya ustadz, pelakunya Azmi! " jawab Ali menatap Azmi dengan tatapan yang sangat tajam.


Serentak semua santri dan semua ustadz menoleh ke arah Azmi yang tidak tahu apapun, Azmi menegakkan tubuhnya dan ia merasa canggung ketika semua orang memandang dirinya Azmi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan hendak mengatakan bahwa bukan dia pelakunya.


" Ali! Kamu ngomong apa? Mana mungkin Azmi ngelakuin hal itu, aku gak percaya semua itu, ustadz! Itu pasti tidak benar!" ucap Ahkam yang juga berara di antara Ali dan ustadz Abdullah.


" Tampangnya aja lugu, nyatanya dia maling." ucap salah satu santri.

__ADS_1


" Uuuuuu, maling..." teriak semua santri ikut menyoraki Azmi, Azmi terus menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk berbicara.


Azmi berdiri tegak dan memandang ustadz Abdullah.


" Ustadz, itu semua tidak benar! Saya bukan maling dan saya tidak akan melakukan hal itu! " ucap Azmi membela dirinya.


Aban yang juga tidak terima ikut berdiri dan ikut membela Azmi.


" Iya ustadz, Azmi bukan pencuri! Saya adalah sahabat Azmi, ustadz! Saya tahu apapun yang dilakukan Azmi." ucap Aban yang ada di pihak Azmi.


Ali yang sudah tidak memiliki kepercayaan kepada Azmi menunduk dan menggelengkan kepalanya.


" Alah, ustadz! Mana ada maling ngaku! " teriak Zakir yang membuat Azmi menatap tajam ke arahnya.


Ustadz Abdullah menjadi bingung ia juga sangat percaya dengan Azmi yang tidak mungkin baginya untuk melakukan hal itu.


" Zakir benar ustadz! Saya lihat sendiri kalau semua barang-barang itu ada di lemari Azmi!, Kamar Azmi juga yang paling dekat dengan santri yang kehilangan barang-barang mereka. " Ali.


Rifki juga menjadi bingung ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan apakah ia harus membela Azmi atau tidak. Azmi semakin tersudutkan ia sesekali menunduk dan menggenggam erat tangannya hingga berbunyi.


" Begini saja, untuk mengetahui lebih jelas, santri yang kehilangan barang-barang mereka, para ustadz dan senior yang tadi ikut memeriksa kamar santri ikut ke kamar Azmi dan melihat lemari Azmi dan untuk santri yang lain bisa istirahat di kamar kalian masing-masing. " ustadz Abdullah.


" Baik ustadz, " ucap semua santri.


" Udah Mi, kamu tenang aja. Gak akan terjadi apa-apa sama kamu! Aku selalu ada buat kamu Mi, " ucap Aban menenangkan Azmi.


Azmi menoleh dan memandang Aban ia memberikan senyumnya kepada Aban.


Santri yang lain sudah turun dari Masjid hanya tersisa para ustadz, santri yang kehilangan barang-barang mereka dan senior yang ikut membantu.


" Ayo, kita ke kamar Azmi! " ucap ustadz Abdullah kepada semuanya.


Semua menganggukkan kepala mereka dan mulai melangkah menuju kamar Azmi. Azmi terlihat tenang dan biasa saja ia terus berjalan mengikuti langkah yang lain.


Sampailah di kamar Azmi yang sudah terbuka lebar semuanya ikut masuk untuk mengetahui kebenaran.


" Biar saya buka, " ustadz Abdullah.


Ustadz Abdullah mulai melangkah dan mendekati kamar Azmi tanpa pikir panjang, ustadz Abdullah langsung membuka lebar lemari Azmi yang terlihat rapi dengan pakaian koko Azmi. Tetapi betapa kagetnya semua yang ada di sana ketika melihat semua barang-barang yang hilang dan terletak di atas baju koko putih Azmi.


" Benar kan, ustadz! Kalau Azmi pencurinya!" ucap Ali menunjuk Azmi yang sangat kaget dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Azmi terus menggelengkan kepalanya dan merasa sangat bingung.


Rifki pergi mendekat dan mengambil jam tangan dan celengannya.

__ADS_1


" Ini jam tangan sama celengan ku, Azmi, aku gak nyangka kalau kamu ternyata pencuri! " Rifki yang berdiri tepat dihadapan Azmi.


Azmi menggelengkan kepalanya.


" Gak Rifki, aku bukan pencuri! Aku juga gak tau kenapa semua ini bisa ada di lemari ku." Azmi yang berusaha menjelaskan.


Udin, Ali dan Firman juga mulai mengambil barang milik mereka. Sementara Zakir dan Helmi saling pandang dan tersenyum mereka sangat senang melihat Azmi disudutkan seperti itu.


" Aku gak nyangka sama kamu Mi, kalau kamu itu pencuri! " Firman.


" Mas, percaya sama aku, bukan aku yang ngambil semua barang-barang kalian. " ucap Azmi lirih dan berusaha membuat semua orang percaya kepada dirinya.


" Heh Azmi! Kamu itu udah kebukti kalau semua barang-barang yang hilang ada di lemari kamu, ya berarti kamu pencuri itu! " Zakir.


Azmi menoleh dan memandang tajam Zakir.


Semua ustadz yang ada di sana juga tidak percaya mereka menggelengkan kepala mereka dan memandang Azmi.


Azmi sangat bingung dan sekarang tidak ada yang membela dirinya ketika melihat semua itu. Azmi memandang ke arah Aban dan Aban hanya diam kembali menundukkan kepalanya, Aban juga merasa sangat bingung. Azmi menoleh ke arah Ahkam tetapi Ahkam juga hanya diam dan tidak bisa melakukan apapun.


" Azmi, ustadz tidak percaya kalau kamu bisa melakukan semua ini! " ustadz Ridwan.


" Iya Azmi, selama ini kita sangat bangga dengan prestasi kamu dan sekarang kamu telah membuat kita semua kecewa. " ustadz Fathur.


" Tidak ustadz!, percaya sama Azmi kalau Azmi...


" Cukup Azmi! " sentak ustadz Abdullah memotong pembicaraan Azmi.


Ustadz Abdullah memegang dahinya dan menghampiri Azmi.


" Kamu jangan berbohong lagi, semua ini sudah jelas! Apa mungkin mereka sengaja meletakkan barang-barang mereka di lemari kamu? tidak, kan! Atas perilaku mu ini, kamu harus dihukum!" ustadz Abdullah.


" Tapi, ustadz..." Azmi.


" Seharusnya saya laporkan ini kepada orangtua kamu, apa kamu mau? " ustadz Abdullah.


Setelah mendengar itu, Azmi mulai pasrah dan menundukkan kepalanya.


" Ayo, ikut ustadz! dan kamu harus melaksanakan hukuman itu! " ustadz Abdullah.


Di saat semua teman Azmi tidak ada yang mempercayai dirinya dan percuma saja untuk terus membela diri setelah apa yang mereka lihat yang sebenarnya Azmi tidak melakukannya. Setelah berpikir panjang Azmi mau menerima hukuman atas perbuatan yang sama sekali tidak ia lakukan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2