Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 116. Hari Yang Melelahkan.


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan untuk tim Syubband karena mereka harus menghadiri 2 acara, apalagi masalah Azmi juga baru selesai. Acara yang ada di daerah jember dan di daerah kampung di probolinggo yang sudah dari sore tadi mereka berangkat membuat mereka kewalahan.


Tepat pukul 12.00 malam, tim Syubban baru selesai dari acara mereka yang ada di suatu perkampungan probolinggo.


Kyai dan Ustadz Mustafa masih membicarakan sesuatu bersama dengan pemilik acara dan juga keluarganya. Tim Syubban dengan wajah yang terlihat sangat lelah asyik berdiskusi di depan mobil Kyai dan Ustadz Mustafa.


Seketika Akmal merasa sangat lemas, dadanya juga sakit ia melihat semua teman-teman yang asyik berbicara untuk menghilangkan rasa kantuk mereka.


" Li, aku ke kamar mandi dulu ya," Akmal berbohong.


" Perlu aku anterin?" Ali.


" Gak usah, dah ya, aku kebelet, " Akmal berlari meninggalkan teman-temannya.


Akmal pergi ke warung kecil yang ada di sana untuk membeli air dengan keadaan lemah, Akmal berusaha untuk berbicara kepada pemilik warung.


" Pak, tolong airnya satu, " Akmal duduk di kursi yang ada di depan warung.


" Ini nak, " ucap pemilik warung memberikan sebotol air.


Akmal memberikan uangnya setelah menerima air dari pemilik warung. Akmal mulai meminum obatnya dan ia mengatur nafasnya yang sesak.


Hafsah yang sedang jalan sendiri melihat Akmal yang lemas duduk menunduk di depan warung. Tanpa pikir panjang, Hafsah segera datang menghampiri Akmal.


" Assalamualaikum, hai Akmal! " Hafsah berdiri di hadapan Akmal.


Perlahan Akmal yang sudah sangat lelah dan merasakan kesakitan mengangkat kepalanya dan melihat Hafsah sudah tersenyum manis di hadapannya.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Akmal.


" Itu hidung kamu keluar darah, " Hafsah kaget dan mendekati Akmal untuk membersihkan darah di hidungnya.


Akmal menghindari sentuhan Hafsah dengan memundurkan sedikit kepalanya dan memegangi hidungnya yang berdarah.


" Maaf, maaf, aku resplek tadi, ini! Kamu bersihin darah dari hidung kamu pakai ini, " Hafsah memberikan tisu yang ia bawa kepada Akmal.


Akmal menerima tisu dari Hafsah dan segera membersihkan darah dari hidungnya.


Hafsah merasa kasihan dengan keadaan Akmal saat ini, ia terus menatap Akmal dalam. Melihat Hafsah yang terus menatap dirinya, Akmal melambaikan tangannya tepat di wajah Hafsah membuat Hafsah kaget dan memalingkan wajahnya.


" Jangan bengong gitu, entar kesambet, " Akmal tersenyum kecil kepada Hafsah yang tertunduk malu dan mulai memerah pipinya.


Akmal hanya tersenyum kecil melihat Hafsah.


Mufti dan teman-temannya datang kebut-kebutan di sekitaran parkiran dan Mufti menghentikan motornya ketika ia melihat ada Hafsah yang asyik berbicang kepada Akmal.


" Bro! Kenapa berhenti? " tanya salah satu teman Mufti.


"Kalian diam di sini aja! Tunggu gue! " Mufti terus menjalankan motornya menghampiri Hafsah dan Akmal.


" Emm, penyakit kamu itu parah banget, tapi kenapa yang aku lihat sekarang, kamu kelihatan kuat seolah-olah kamu gak sakit?" Hafsah.


" Aku kuat karena selalu ada teman-teman ku, mereka membuat aku selalu kuat, dan apa gunanya aku menunjukkan kondisi ku yang lemah ketika aku masih bisa terlihat kuat? Lagi pula aku gak ingin di sisa hidupku ini, aku cuma bisa ngerepotin orang, aku gak mau bikin mereka semua khawatir, " ucap Akmal dengan pandangan ke depan tanpa memandang Hafsah.


Mendengar ucapan Akmal yang sangat menggerakkan hatinya, Hafsah menjadi semakin kagum pada sosok Akmal yang tangguh.


Suara bising dari klakson dan mesin motor Akmal, membuat Hafsah dan Akmal menoleh ke arah Mufti.

__ADS_1


...******...


Ketika Kyai dan Ustadz Mustafa datang semua tim Syubban yang jongkok karena lelah langsung berdiri dan menunduk, mereka semua membentuk seperti barisan menunjukkan adab mereka kepada Kyai.


" Lho, ini si Akmal, mana? " tanya Ustadz Mustafa yang sedari tadi memandang mereka satu-persatu.


" Tadi Akmal bilang ke saya kalau dia mau ke kamar mandi, tapi dari tadi belum datang juga, Ustadz. " jawab Ali.


" Kalau gitu, tolong cepat kamu cari Akmal, saya takut terjadi apa-apa dengan Akmal, " Kyai.


" Baik Kyai, saya akan cari, " Ali hendak pergi untuk mencari Akmal.


" Li, aku melu! ( aku ikut!) " Udin menghentikan langkah Ali.


" Iya, ayo! " Ali.


" Permisi Kyai, assalamualaikum, " Udin.


" Assalamualaikum, " Ali.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.


Ali dan Udin melangkah bersama untuk mencari Akmal.


" Semoga mas Akmal gak kenapa-napa, " Azmi.


" Aamiin, aku juga khawatir sama Akmal, " jawab Ahkam yang berada di samping Azmi.


...*******...


" Jangan ribut di sini! " teriak Akmal menghentikan Mufti yang terus kebut-kebutan walau hanya berputar-putar.


" Hai bro! Ngapain lo berduaan di warung kecil ini, sama nih cewek?" Mufti menatap sinis Akmal dan Hafsah bergantian.


" Aku yang hampirin dia, kenapa? " Hafsah maju karena kesal dengan tingkah Mufti.


" Heh! Kamu jangan-jangan macam-macam! Aku sama dia cuma gak sengaja ketemu, " Akmal.


" Ooo, gue baru tau kalau santri kaya lo, bisa berduaan juga sama cewek, mantap!" Mufti memberikan tepukan tangannya.


" Kamu jangan asal ngomong ya, aku emang gak ada hubungan apa-apa sama dia! " jawab Akmal dengan suara nafas yang berdesah kencang karena sakit dadanya mulai kumat.


" Akmal, kamu gak papa, itu muka kamu mulai pucat lo, ayo kita pulang aja! " Hafsah.


" Gak, aku gak papa kok, " Akmal menunduk memegangi hidung dan mulutnya dengan tangan kirinya.


" Ah, gak usah pura-pura sakit deh lo, jadi orang lemah banget, " Mufti yang tidak suka melihat kondisi Akmal yang menurutnya Akmal sedang bersandiwara.


Hafsah merasa sangat kesal ia menegakkan dirinya dan menatap Mufti tajam, Akmal yang mengetahui kemarahan Hafsah segera menengahinya dan berusaha bersikap tegar dan kuat.


" Udah-udah, gak ada gunanya ngomong sama orang kaya dia, kita pergi aja dari sini, " Akmal meyakinkan Hafsah dengan menganggukkan kepalanya pelan.


" Iya, ayo! " Hafsah.


Akmal dan Hafsah tidak menghiraukan kemarahan dan ocehan Mufti, mereka terus melangkah bersama.


" Lihat aja, gue akan laporin kalian ke Kyai, dan lo, santri yang munafik, siapa nama lo? Ah udahlah," Mufti menyerah dan duduk dengan wajah kesal dibangku itu.

__ADS_1


" Mau apa nak? " tanya pemilik warung


" Mau duduk aja..Kenapa? Duduk di sini juga harus bayar?" Mufti bangun dan pergi dari warung itu.


Pemilik warung hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Ali dan Udin yang terus mencari keberadaan Akmal akhirnya melihat Akmal dan Hafsah yang sedang berjalan bersama.


" Din! Itu Akmal, " Ali menunjuk ke arah Akmal yang melangkah dengan sangat pelan.


" Oo, iyo, ayo Li! " Udin.


" Ali, Udin, " Akmal memandang kedua temannya itu bergantian.


" Kamu dari mana sih, Mal? Kita semua khawatir sama kamu, tapi kamu malah jalan berduaan sama nih cewek, kalau Kyai tau, dia pasti udah hukum kamu, Mal! " Ali terus memarahi Akmal yang sudah lelah dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Heh! Kamu tenang dulu dong, aku tadi cuma gak sengaja ketemu sama dia," Hafsah.


" Wes-wes, ojo tukaran neng kene( udah-udah, jangan bertengkar di sini), ayo Mal, kita langsung ke Kyai sama yang lain, ini udah semakin malam, " Udin.


" Iya, Udin benar, ayo, " Akmal.


" Ya udah, kamu istirahat Mal, " Hafsah.


" Sok kenal, " Ali.


" Apaan sih? Orang aku ngomong sama dia bukan kamu, " Hafsah.


" Tapi dia teman aku, " Ali.


" Emang kalau teman, harus gitu jawab omongan buat dia, " Hafsah.


Ali semakin kesal karena Hafsah selalu menjawabnya.


" Udah-udah, Hafsah, kita pulang dulu, assalamualaikum, ayo Li, Din," Akmal.


" Assalamualaikum, " Udin dan Ali yang sangat malas dengan Hafsah.


" Wa'alaikumsalam, rese banget sih, tuh cowok, " Hafsah yang kesal kepada sikap Ali.


......******......


" Assalamualaikum, " Akmal, Ali dan Udin.


" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.


" Mas Akmal gak papa kan, mas? " Azmi khawatir.


" Iya Mal, apa ada yang sakit, Mal? " tambah Ahkam yang juga khawatir dengan keadaan Akmal.


" Aku gak papa kok, Kyai, Ustadz, maaf, karena saya sudah buat kalian khawatir." Akmal.


" Tidak apa-apa Akmal, Alhamdulillah kamu baik-baik saja, " Kyai.


" Kalau gitu, kita langsung pulang aja, hari sudah semakin malam, " Ustadz Mustafa.


Mereka masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju pesantren di suasana malam yang semakin larut.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2