Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 182 Perhatian Untuk Mufti


__ADS_3

" Hmm, iya, sih. Tapi gimana, ya? Ya udah, deh. Saya nginap dulu dirumah sakit, nanti Saya kesini, " Hafsah.


" Ya sudah, silakan, " Ustadz Mustafa.


" Permisi Ustadz, assalamualaikum, " Hafsah hendak pergi.


" Sama gue? Lo gak mau pamit? " Mufti.


" Tadi kan udah. Sama ajalah, daa." Hafsah tanpa basa-basi ia langsung pergi menginap dirumah sakit tepatnya diruangan khusus karyawan rumah sakit/suster yang ada disana.


Suara orang yang membangunkan sahur sudah berbunyi, Hafsah sudah bangun sedari tadi ia segera membeli makanan dan minuman untuk Ustadz dan Mufti pada warung yang sudah buka jaraknya juga tidak jauh dirumah sakit.


Waktu menunjukkan masih terlalu pagi, tapi sudah ada saja orang yang membuka warung dekat rumah sakit. Bisa dilihat banyak orang yang membeli makanan dirumah sakit itu.


Hafsah melangkah dengan langkah yang cepat sampai pada kamar Mufti, sungguh ia datang sangat tepat waktu yaitu disaat dimana Mufti sudah sangat haus tapi Ustadz Mustafa masih tertidur sangat lelap.


" Assalamualaikum, " Hafsah segera mendekati Mufti yang tengah batuk sedang berusaha untuk bangun.


" Wa'alaikumsalam, " jawab Mufti dengan suaranya yang serak.


" Ya Allah, Mufti. Kamu haus, ya? Sini aku bantu, pelan-pelan." Hafsah dengan lemah lembut ia membantu Mufti bangun dan memberikannya air dengan penuh kasih sayang memang sosok seorang Suster sangat melekat pada diri Hafsah hal itu terlihat jelas saat ia membantu Mufti.


" Aku bangunin Ustadz dulu, waktunya sahur, nih." Hafsah.


Tanpa kata-kata, Mufti hanya bisa membalas dengan anggukan pelannya.


" Kak, Kak. Bangun, sudah waktunya sahur," Hafsah terus membangunkan Ustadz Mustafa dengan menepuk-nepuk lengan Ustadz Mustafa berulang kali.


Tidak butuh waktu yang lama, mendengar suara Hafsah, Ustadz Mustafa langsung bangun dan terduduk mengusap-ngusap matanya.


" Ayo sahur, Kak. Hafsah sudah beli nasi buat Kakak dan Mufti, ini." Hafsah.


" Ya Allah, untung saja kamu bangunin, Hafsah. Kenapa kamu sampai repot-repot seperti ini? Saya bisa beli sendiri, " Ustadz.


" Gak ngerepotin kok, Kak. Dimakan, Kak. keburu subuh, " Hafsah.

__ADS_1


" Baik, terima kasih, Hafsah." Ustadz Mustafa sambil menerima nasi bungkus yang diberikan Hafsah.


" Sama-sama, " jawab Hafsah sambil tersenyum.


" Gue juga mau sahur, tapi gimana? Tangan gue, semuanya masih diperban, mana masih nyeri lagi, " Mufti membuat pandangan Ustadz dan Hafsah menuju padanya sambil berpikir.


" Oh iya, hampir aja aku lupa. Kamu bisa minum obat yang kasih dari Dokter habis sahur, biar sakitnya hilang. Sini aku bantuin kamu makan, " Hafsah ia sudah duduk di samping Mufti seakan sudah siap menyuapi Mufti.


" Eits. Bilang aja, lo modus, kan? Lo suka, ya sama gue, " Mufti.


Mendengar ucapan Mufti membuat Hafsah kesal dan memukul keras tangan Mufti yang diperban.


" Kamu gak usah kepedean, ya. Aku sering lagi nyuapin pasien sini dan kamu juga pasien, kan? " Hafsah begitu kesalnya.


" Aw, aduh, sakit banget. Lo mukul gue keras banget, " Mufti merengek kesakitan sambil memegangi tangannya yang diperban.


" Kalian ini, ayo segera sahur. Keburu subuh nanti, " tegur Ustadz Mustafa.


" Kalau Hafsah sih lagi gak puasa, terserah nih orang aja, mau aku bantu atau enggak, " Hafsah.


Ustadz Mustafa hanya bisa tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya melihat hal itu. Hafsah yang merasa tidak tega kembali menyendokkan nasi dan menyuapi Mufti dengan penuh perhatian.


" Duh, kok gue deg-degan gini, sih." Mufti menatap dalam Hafsah yang sedang memberikan suapan nasi kepadanya.


Sementara itu, Ustadz Mustafa terus tertawa kecil melihat ekspresi Adiknya yang kaku sekaligus agak canggung kepada Hafsah.


" Bentar-bentar, kamu kalau makan kaya anak kecil aja, sih. Udah disuapin masih aja ada nasi dibibir kamu, " Hafsah ia sekakin mendekatkan wajahnya dan membersihkan nasi yang ada di pinggir bibir Mufti.


Hafsah mengangkat kepalanya dan ia mulai menyadari bahwa wajahnya sudah terlalu dekat oleh wajah Mufti. Tatapan Mufti yang sangat dalam dan tajam membuat jantung Hafsah berdetak kencang.


Ustadz Mustafa yang baru saja meminum airnya juga melihat mereka yang masih saling tatap dalam.


" Astagfirullah, ehem! Zina mata, jangan pandang-pandangan kaya gitu, " tegur Ustadz.


Teguran Ustadz Mustafa membuat Hafsah dan Mufti kaget dan segera memalingkan pamdangan mereka.

__ADS_1


" Astagfirullah, Ya Allah, ampuni hamba udah natap orang gak jelas kaya dia." ucap Hafsah menutup matanya sambil memohon ampun pada Allah hal itu membuat Ustadz Mustafa tertawa sementara wajah Mufti berubah sinis pada Mufti.


" Enak aja lo, ngomong kaya gitu. Bilang aja lo modus sama gue, hayo ngaku aja, deh. Secara gue itu ganteng, karen, baik hati pula." Mufti begitu percaya dirinya.


" Maaf ya, bapak seharusnya harus menurunkan rasa pede bapak itu. Masih banyak yang lebih ganteng daripada kamu, contohnya Azmi." Hafsah.


Mufti tertawa kecil mendengar ucapan Hafsah.


" Lo suka sama Azmi? Dia masih bocah, gue juga gak kalah kali, sama Azmi. Lihat aja followers gue juga banyak, " Mufti.


" Aku tau kalau Azmi itu masih kecil, masih imut, bersih, gak kaya kamu yang sok kegantengan padahal biasa aja, " Hafsah dengan ekspresi kesalnya.


" Terus aja lo ngelak kaya gitu, awas entar jatuh cinta lo, " Mufti.


Seketika Hafsah terdiam mendengar perkataan Mufti yang begitu yakin dan percaya diri sambil tersenyum manis kepada Hafsah.


" Ish, gak mungkin. Nih, minum sendiri, " Hafsah menyodongkan air botol yang telah dibuka pada Mufti.


" Ya elah, tega lo, tangan gue kaya gini masa lo nyuruh gue minum sendiri?" Mufti.


" Siapa suruh, jadi orang pedenya tingkat dewa? " Hafsah.


" Ya udah, sini biar Kakak yang bantuin kamu minum, mana Hafsah airnya?" Ustadz Mustafa ia berdiri meminta sebotol air itu pada Hafsah.


Hafsah berdiri dari kursinya dan memberikan air yang dipegangnya pada Ustadz Mustafa yang hendak membantu Adiknya untuk minum.


" Kakak gue ganggu aja, sih. Padahal hati gue senang kalau Hafsah yang kasih gue minum," dalam hati kecil Mufti sambil tersenyum memandangi Hafsah.


Melihat Adiknya yang nyengir sendiri tanpa berkedip memandang Hafsah yang tengah memalingkan wajahnya membuat Ustadz Mustafa melambaikan tangannya pada wajah Mufti.


" Heh, malah senyam-senyum, nih minum." Ustadz Mustafa.


Mufti mengangguk dan tersenyum ia mulai minum tapi matanya sempat melirik ke arah Hafsah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2