
Selesailah masalah yang telah menghantui tim Syubban dan pesantren Nurul Qadim di malam yang penuh makna dan akan dikenang selalu oleh anggota Syubban. Wajah-wajah mereka terlihat sangat kelelahan dengan tubuh yang sudah letih berjalan dengan langkah kaki yang pelan. Mereka semua berjalan bersama menuju mobil Kyai dan Ustadz Mustafa.
Beberapa jama'ah sempat memberikan pujian kepada mereka dan ucapan minta maaf berkali-kali terdengar pada telinga seluruh anggota Syubban yang sudah berdiri di dekat mobil Kyai dan Ustadz Mustafa yang bersebelahan bersiap untuk kembali kepesantren.
Tim Syubban hanya bisa tersenyum dan mengangguk kepada jama'ah yang tak henti memberi mereka pujian dan meminta maaf kepada mereka hingga Kyai, Ustadz Mustafa, Hamdi, Hafsah dan Mufti datang menolong mereka dari kerumunan.
" Assalamualaikum, " Kyai mendekati para jama'ah.
" Wa'alaikumsalam, " jawab semuanya.
" Ini kenapa masih belum pulang? Harap semuanya segera pulang karena hari semakin malam dan santri-santri saya juga mau beristirahat," jelas Kyai.
" Kyai, saya mau nanya itu lagunya siapa yang buat, ya? Bagus banget saya suka, saya juga sudah upload di stroy saya, banyak banget yang komentar, mereka semua suka." jama'ah 1.
" Iya, banar. Wah, siap-siap Syubbanul Muslimin jadi terkenal, " jama'ah 2.
Semua jama'ah ikut memuji anggota anggota Syubban. Sementara Hafsah dan Mufti yang berdiri bersebelahan sempat saling pandang tidak bisa berkata-kata melihat anggota Syubban yang kembali dikerumuni warga. Hamdi dan Ustadz Mustafa juga coba menenangkan jama'ah.
" Alhamdulillah, itu semua karena kerja keras mereka. Saya minta kalian beri mereka istirahat, kami mau pulang." jelas tegas Kyai.
Akhirnya semua jama'ah mau minggir memberi jalan agar mereka semua bisa pulang.
...*****...
Sampailah di pesantren yang sangat sepi keadaannya. Semuanya menuju Masjid untuk duduk dan berbincang sebentar.
Wajah mereka memang sudah terlihat kusam karena saking lelahnya melihat jam dinding yang tepat pukul 12 lebih sedikit.
Azmi mengusap-ngusap wajahnya dan terlihat matanya yang sudah memerah dan ia menguap menutup mulutnya dengan tangan kananya. Sungguh Azmi sangat lelah ia menyenderkan kepalanya kepada bahu Aban yang ada disebelahnya.
Aban menerima kepala Azmi yang menyender pada bahunya melihat mata Azmi yang sudah tak kuat melek.
" Alhamdulillah, akhirnya tim kita kembali seperti dulu lagi, " Ahkam.
" Iya, mas. Setelah menerima banyak hinaan, Syubbanul Muslimin kembali jaya," sambung Udin.
" Kita harus banyak terimakasih sama Azmi, kalau gak ada dia, gak akan kaya gini kita malam ini juga, " Ali.
" Eh, enggak, mas. Udah tugas aku menyelesaikan masalah tim hadroh ini. Ini bukan karena aku saja, karena karena kerja keras kita semua, " jelas Azmi mengangkat kepalanya dari bahu Aban membuat semuanya makin kagum dan bangga kepada Azmi.
Kyai dan Ustadz Mustafa datang bersama Mufti, Hafsah dan Hamdi yang membawa air untuk para anggota Syubban. Melihat ada Kyai, seluruh anggota Syubban membenarkan duduk mereka dan menundukkan kepala.
Mufti dan Hafsah sama-sama membagikan air kepada anggota Syubban. Azmi tersenyum ketika Mufti memberikannya air.
" Makasih, mas. " ucap Azmi.
__ADS_1
" Yoi, Mi. " jawab Mufti.
" Saya sangat bangga kepada kalian, masalah ini bisa selesai karena kalian semua tidak pernah menyerah dengan apapun keadaannya yang terjadi. " Kyai.
" Saya juga sangat kagum, apalagi lagu persembahan kalian itu sangat bagus dan itu sangat berbeda dengan yang lain. " Ustadz Mustafa.
" Iya, lo. Saya suka banget sama lagu yang dibawain kalian, siapa yang buat? " tanya Hamdi.
" Mas Ahkam, mas. " jawab Azmi menunjuk Ahkam.
" Wah, hebat kamu, Kam. Itu bagus banget, lanjutkan, ya! Kalian bisa menciptakan banyak lagu seperti itu, " Hamdi.
" Sebenarnya itu cuma kata-kata di buku Diary saya, terus Azmi kepo dan ngambil buku saya gitu aja. Azmi bilang ini bagus buat lagu, dan kita kerja sama buat nadanya karena saya, Azmi dan Aban cukup paham tentang musik dan seluruh tim hadroh sudah mahir main rebananya, " jelas Ahkam.
" Wah, mantap kalian. Gue aja ngeband selalu pakai lagu orang lain gak pernah kepikiran buat lagu kaya kalian, " puji Mufti menggebu-gebu.
" Alhamdulillah, ini semua berkat kerja keras kita, ya gak, mas, " Azmi menoleh ke arah Ahkam.
" Iya, alhamdulillah, " Ahkam.
" Ini pesantrennya sepi banget, ya? Kalian mau tidur disini? Serem banget, lo kelihatannya. " Hafsah memegang lehernya menunjukkan ia sedang merinding melihat suasana pesantren yang memang sangat sepi dan gelap.
" Kalau gitu gue nginap aja disini, Kak kita tidur disini, ya. Sama mereka. " Mufti.
" Emmm, " Ustadz Mustafa masih berpikir.
" Ya sudah kalau gitu nak Mufti dan Ustadz Mustafa boleh nginap disini, saya dan sopir juga akan tidur disini," Kyai.
" Kalau gitu saya sama Hafsah pamit Kyai, semuanya. Ini udah malam banget soalnya, " Hamdi.
" Baik, hati-hati Hamdi, " Kyai.
Hamdi mengangguk dan dengan segera ia menyalam tangan Kyai bersama dengan Hafsah untuk pamit pulang. Tatapan Mufti sangat tajam kepada Hafsah membuat Hafsah terlihat gugup.
" Jaga pandangan mas, ngelihatinnya sampai kaya gitu, " tegur Azmi yang ada disebelahnya.
" Hah? Iya, iya, " Mufti langsung memalingkan wajahnya.
" Hati-hati, mas Hamdi, " ucap Ahkam diikuti beberapa anggota lainnya.
Karena Hamdi sudah berada dalam mobilnya bersama Hafsah ia hanya membalas dengan senyuman dan anggukan juga jempol yang ia acungkan.
Hamdi mulai berjalan keluar pesantren yang sungguh sangat sepi dan sedikit gelap.
" Ya sudah, sekarang kalian istirahat, jangan ada yang ngobrol harus langsung tidur." Kyai.
__ADS_1
" Baik Kyai," jawab anggota Syubban.
" Mustafa dan Mufti mau tidur dimana? Mau temani saya atau dengan mereka?" tanya Kyai.
" Saya sama mereka aja Kyai, biar Kakak saya temani Kyai, ya kan, Kak? " Mufti.
" Tidak apa-apa, terserah kamu saya, Mus. Mau dimana saya juga sudah sama pak sopir, " Kyai.
" Saya diruangan Ustadz Abdullah saja Kyai, ruangan itu juga dekat sama ruangan Kyai, " Ustadz Mustafa.
" Baiklah kalau begitu, mari. Kalian ingat langsung tidur lo, " Kyai.
" Baik Kyai, " jawab anggota Syubban.
" Assalamualaikum, " Kyai diikuti oleh Ustadz Mustafa.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semua anggota Syubban.
" Ayo, kamu sama kita aja. Kita cuma berempat dikamar," ajak Ahkam.
" Oh, oke, ayo, " Mufti.
Mereka semua mulai melangkah menuju kamar mereka menyisiri jalan pesantren yang sangat sepi dan tiba-tiba.
Bruakkk....
Suara itu sangat mengejutkan mereka semua dan seketika langkah mereka terhenti.
" Iku opo, Man? Aku kok merinding, " Udin mendekati Firman ekspresinya sangat ketakutan.
" Ih, aku juga tiba-tiba gak enak gini, ya? Jangan-jangan dipesantren ini ada hantunya, " Firman malah tambah ketakutan.
" Udah-udah, gak usah takut kaya gitu, mana mungkin itu hantu. Kita positif thinking aja." ujar Ali.
" Baca doa aja, biar gak ada hantu. Soalnya aku dengar-dengar ini itu, bekas.. " Muhklis membuat keadaan semakin seram dengan ekspresinya yang datar dan serius.
" Bekas apa, mas? " tanya Aban antusias.
" Hushhh, jangan ngomong kaya gitu. Gue ikutan takut, udah deh kalian jangan percaya sama gituan. " Mufti.
" Jangan takut sama hantu, mas. Kita bisa baca ayat Al-Qur'an lagian di pesantren kita itu terlindungi." Azmi.
" Benar tuh, Azmi. Udah yok, kita ke kamar aja, " Ahkam.
Mereka semua mulai kembali melangkah ke kamar mereka masing-masing dan segera tidur mengingat waktu yang semakin malam.
__ADS_1
Bersambung...