Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 218 Luka Lebam


__ADS_3

Setelah terus melangkah sambil menahan sakit, akhirnya Azmi bersama dengan Adiknya sampai dirumah. Dan diwaktu itu juya sudah ada sanak saudara Azmi yang bertamu kerumahnya.


" Assalamualaikum, " ucap Naufal dan Azmi bersamaan saat masuk ke dalam rumahnya.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya yang ada disana.


" Nah, ini dia jagoan-jagoan Ummi udah datang, " Ummi segera bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Azmi dan juga Naufal.


" Ummi, Mas Azmi, " Naufal dengan wajah paniknya.


Azmi masih terdiam dengan wajahnya yang sudah mulai pucat karena sedaritadi menahan rasa sakitnya.


" Azmi, kenapa? Azmi, kamu kenapa, Nak? " tanya Ummi Azmi yang juga ikut khatwatir memandang Azmi dan terus bertanya-tanya.


" Tangannya Mas Azmi habis dipukul pakai kayu, gede banget lagi, Mmi kayunya." jawab Naufal mewakilkan Azmi.


" Astagfirullah, sini, sayang. Kenapa bisa seperti ini? Coba, Ummi lihat, Mas Azmi," Ummi ia langsung memegang tangan Azmi untuk memeriksa apa yang terjadi pada tangan putranya.


" Aduh!!" teriak Azmi ia terlihat sangat kesakitan ketika Umminya menyentuh tangannya.


"Pelan-pelan, Ummi. Tangan Azmi sakit banget, " jawab Azmi dengan suara yang lirih menahan rasa sakitnya.


Melihat Azmi yang sedang kesakitan tentu saja keluarga Azmi yang ada disana semuanya merasa khawatir dan ikut melangkah untuk menghampiri Azmi.


" Aduh, Azmi. Itu tangannya kok bisa sampai memar gitu? " ucap salah seorang perempuan yang tidak lain adalah sepupu Azmi dengan logat jawanya yang begitu khas.


" Coba dikompres dulu, Mbak. Kasihan Azmi, kayanya dia kesakitan banget." sambung seorang wanita yang seumuran dengan Ummi Azmi.


" Iya, ayo, Mas. Dikompres dulu, Rara, Naufal, tolong camilannya dibuka, Ummi mau obatin Masnya dulu." Ummi.


" Iya, Ummi. " jawab Rara dan Naufal dengan kompak dan juga secara bersamaan.


" Kalau luka lebam kaya gini, kompres pakai air apa yang baik? Air dingin ya? " tanya Ummi Azmi kepada saudara-saudaranya.


" Aku ruh, Bude. Iya, pakai air dingin, es batu. Itu biar memarnya cepat sembuh, " jawab sepupu perempuan Azmi yang berwajah cantik dan manis.


" Ojo ngawur kamu, Ca. Nanti salah lagi, " jawab Azmi ia masih saja sempat meledek sepupunya itu dalam keadaannya yang sakit walau ia tau kalau jawaban sepupunya benar.


" Yeeee. Ngeremehin aku, kamu, Mi. Itu bener kok, emang pakai air dingin yang bagus. Bude percaya sama aku, kan? " tanya sepupu Azmi.


" Iya, Bude percaya. Makasih ya, Aca cantik. Ayo, Mi." Ummi Azmi.

__ADS_1


" Sama-sama, Bude. " jawab sepupu Asmi yang tidak lain namanya adalah Aca.


Azmi mulai melangkah bersama Umminya untuk mengobati luka lebamnya dan juga darah yang mulai keluar dari tangan putra sulungnya.


" Mbak Aca, Bulik. Ayo, makan camilannya." Naufal.


" Oh, iya ganteng. Baik sekali kalian, Rara juga," ucap Bulik sambil mengusap pundak Naufal dan juga Rara sambil mengucapkan terimakasih.


Ummi mulai mengobati Azmi dan sesuai dengan apa kata Aca, tangan Azmi dikompres dengan air dingin. Ummi Azmi telah menyiapkan air dingin dan baru saja menyentuh tangan Azmi, Azmi sudah meringis menahan sakitnya.


" Sakit banget, tho Mas? Ini kenapa bisa kaya gini?" tanya Ummi Azmi sekilas ia memandang wajah Azmi lalu kembali fokus mengompres tangan Azmi.


" Gak papa, Mmi." jawab singkat Azmi.


" Gak papa, gak papa. Ini sampai lebam gini tangan kamu." Ummi Azmi.


Abah Azmi yang hendak menemui saudaranya yang bersilaturahmi tidak sengaja meliha istrinya yang tengah serius mengobati luka lebam pada tangan Azmi dengan begitu lembut. Sementara Azmi terus menahan rasa sakitnya dengan menampilkan ekspresi meringisnya.


" Ini ada apa tho? " tanya Abah Azmi yang mendekat untuk melihat keadaan Azmi.


" Ini lho, Bah. Lihat, tangan Azmi sampai lebam kaya gini." ucap Ummi Azmi menoleh ke arah suaminya sementara Azmi hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.


" Gak papa, Abah. " jawab Azmi tanpa berani menoleh ke arah Ayahnya.


" Gak papa, gimana, Mas? Tangannya sampai lebam kaya gini. Kamu berantem? Atau... Ayo, bicara sama Ummi apa yang sebenarnya terjadi. Ummi sama Abah gak bakal marah sama kamu, " Ummi.


" Iya, Le. Abah sama Ummi khawatir kalau kamu gak mau bilang. Itu lukanya awas infeksi." Abah Azmi.


" Eeee... " Azmi bingung ia memalingkan wajahnya bukan apa, Azmi hanya takut kalau kedua orangtuanya khawatir dengan apa yang baru saja terjadi padanya.


" Abah, Ummi. Bulik mau pamit pulang, " ucap Naufal yang datang dan menghampiri Umminya.


" Ya Allah, sampai lupa. Ya sudah, ayo. Salim dulu sama Bulik kalian, " Ummi.


Azmi mengangguk dan mereka melangkah bersama untuk menghampiri keluarga mereka yang telah hadir bersilaturahmi kerumah mereka.


" Mbak, pamit dulu, nggih." Bulik.


" Udah mau pulang aja, cepat banget." Ummi Azmi.


" Iya, kami buru-buru. Masih ada yang harus dikerjakan." jawab Bulik.

__ADS_1


" Mending Bude sama Pakde juga mampir kerumah, kami punya uaakehhh makanan." sambung Aca.


Membuat Abah dan Ummi Azmi tersenyum dan tertawa kecil akan ucapannya.


" Nah, benar. Main kerumah kami, Mbak." Bulik.


" Ya sudah, Insya Allah. Nanti kami kesana." Ummi.


" Baik, ditunggu ya, Mbak." Bulik.


Azmi mulai menyalam tangan Buliknya dan mengucapkan selamat hari raya juga meminta maaf.


"Iya, Bulik juga minta maaf ya, Azmi. Makin ganteng aja lho, kamu. Tangannya gimana, masih sakit? " tanya Bulik ia sempat mencium kepala Azmi dengan penuh kasih sayang.


" Gak papa, Bulik, " jawab Azmi sembari menunduk dan kembali memandang Buliknya sambil tersenyum manis.


Naufal dan Rara juga ikut menyalam tangan Buliknya. Begitu juga dengan Aca yang menyalam tangan Ummi dan Abah Azmi, secara sembunyi Ummi Azmi memberikan sejumlah uang kepada Aca yang membuat Aca kaget.


" Terima kasih, Bude. " Aca.


" Iya, sama-sama. Jadi anak pintar kamu, sholeha, sukses kalau udah gede ya, sayang." Ummi Azmi ia memeluk tubuh Aca.


Mereka akhirnya berpamit pulang, memang mereka hanya berdua dan ada salah seorang supir yang bertugas untuk mengantarkan mereka.


Sekarang tidak ada alasan lagi untuk Azmi bicara dengan apa yang terjadi. Satu keluarga kecil yang harmonis itu duduk bersama di sofa untuk membicarakan hal ini.


" Ayo, Mas. Jelaskan apa yang terjadi? Kenapa tangannya bisa seperti ini? " tanya Ummi kembali.


Naufal yang tau jelas akan kejadian itu juga takut untuk bicara ia hanya melirik Azmi dengan pandangan matanya yang tajam.


***


Zakir pulang dengan keadaan lemas sambil memegangi bagian bibirnya sampai dagunya yang babak belur. Tangannya juga seperti sedang memegang sesuatu.


Ia mengendap-ngendap masuk ke kamarnya disaat keadaan rumah yang sepi. Tapi Dimas yang tengah melangkah dan melihat Zakir segera memanggilnya dan menghampirinya.


" Zakir, " panggil Dimas yang membuat Zakir terhenti langkahnya dan wajahnya mulai terlihat panik.


Dimas mulai mendekat dan menghadap ke arab Zakir, Zakir mencoba memalingkan wajahnya. Tapi, Dimas langsung memegang wajah Zakir untuk melihat apa yang terjadi kepada sepupunya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2