
Begitu kagetnya Dimas, setelah melihat jelas wajah Zakir yang terluka dimana bagian bibir sampai dagunya babak belur.
" Ini bibir kamu kenapa, Kir? Kenapa bisa babak belur gini? " tanya Dimas.
Zakir melepaskan tangan Dimas dari wajahnya dan menutupi kembali lukanya lalu ia memalingkan wajah dan juga pandangannya dari Kakak sepupunya yang sedang bertanya padanya.
" Gak papa, ini gak papa kok, " jawab Zakir sekilas ia melirik wajah Dimas lalu kembali menunduk memalingkan wajahnya.
" Gak papa, gimana, Zakir? Itu muka kamu lebam kaya gitu, keluar darah lagi. Kamu punya masalah sama siapa lagi, sih? Kamu kenapa gak ada capeknya nyari masalah sama orang? " ucap Dimas ia bicara dengan keras menunjukkan jika ia marah kepada Zakir yang lagi-lagi bikin ulah.
" Hushhh! Kakak jangan ngomong keras-keras dong! Iya, emang tadi aku dipukulin sama orang yang pernah aku suruh buat celakain Azmi, " jawab Zakir dengan sejujurnya ia mulai memandang Kakaknya yang tengah menunjukkan ekspresi marahnya.
" Apa? Kamu dipukulin sama dia? Nah, kan. Aku udah pernah bilang sama kamu, jangan pernah ber'urusan sama penjahat! Gini, kan akibatnya." Dimas ia masih saja marah-marah kepada Zakir yang tengah memegangi lukanya sembari merintis menahan sakit dan rasa ngilu karena darah yang mulai keluar.
" Kakak bisa, gak? Gak usah marah-marah kaya gini sama aku? Oke, aku tau aku salah. Tapi, Kakak gak perlu ngebentak-bentak dan terus nyalahin aku kaya gini. Seakan-akan aku dimata Kakak, itu cuma anak brengsek yang gak punya adab! " ucap Zakir mungkin ia lelah karena terus dibentak oleh Dimas dengan kondisinya yang sudah luka-luka seperti ini.
Zakir yang kesal langsung pergi dengan sorban yang ada ditangan kanannya dan pergi untuk membersihkan darahnya.
" Zakir, Kir! Aku belum selesai ngomong sama kamu! " teriak Dimas melihat Zakir yang pergi begitu saja.
Zakir meletakkan sorban milik Azmi pada sofa yang ada diruang tamu dengan asal dan pergi sambil masih menutupi lukanya bahkan saat orangtuanya berjalan dan menyapa dirinya ia tidak merespon dan terus melangkah membuat emosi Ayah Zakir.
" Zakir! Berani sekali kamu bersikap seperti itu kepada orangtua kamu. Siapa yang mengajari kamu seperti itu? " tanya Ayah Zakir dengan berteriak meluapkan kemarahannya melihat tingkah putranya itu.
" Sudah, Ayah. Mungkin Zakir lelah tadi, Ibu yakin dia gak akan lama bersikap dingin kepada orangtuanya sendiri." ucap Ibu Zakir menenangkan suaminya yang sudah sangat emosi.
" Tapi anak itu benar-benar sudah kelewatan. Apa itu yang dia dapat dipesantren? " ucap Ayah Zakir dengan nada keras dan sedikit sentakan.
" Sabar, Ayah. Istighfar, kamu harus ingat tujuan kita masukin Zakir kedalam pesantren. Ibu yakin, pelan-pelan Zakir bisa merubah sikapnya yang seperti itu." Ibu Zakir.
Akhirnya setelah ditenangkan oleh istrinya, Ayah Zakir mengangguk ia mulai menangkan dirinya sambil mengucap istigfar.
***
" Dimas, kami mau pergi sebentar, ya. Tolong kamu jaga Zakir, entah ada apa dengan dirinya." Ibu Zakir.
" Baik Tante, siap. Tapi, emangnya om sama tante mau kemana?" tanya Dimas.
__ADS_1
" Kami mau pergi untuk belanja beberapa keperluan. Setelah ini kalian langusung siap-siap buat silaturahmi." Ayan Zakir.
" Jangan lupa ajak Adek kamu, ya Dimas." sambung Ibu Zakir.
Dimas menganggukkan kepalanya.
" Iya, Om, Tante. Nanti aku bilang sama Zakir, " Dimas.
" Ya sudah, terima kasih Dimas, kami pergi dulu. Assalamualaikum, " Ayah Zakir bersama dengan istrinya yang mengucapkan salam kepada Dimas.
Dimas segera mencium tangan Om dan Tantenya dan menjawab salam dari mereka setelahnya.
" Wa'alaikumussalam, hati-hati, Om, Tante." Dimas.
" Iya, " jawab Ayah dan Ibu Zakir.
Dimas duduk di sofa untuk menunggu Zakir yang tengah membersihkan lukanya. Tanpa sengaja ia melihat sorban berwarna hitam putih yang ada pada sofa dihadapannya.
Dimas berdiri dan tangannya mulai menjangkau sorban itu untuk melihatnya.
Zakir telah selesai dari kamar mandi, ia melangkah mengambil es batu yang ada didalam kulkas dan langsung mengompres luka lebammya tanpa perantara apapun. Hanya dengan es batu yang terbungkus plastik dan berukuran sedang ia langsung berjalan sembari mengompres lukanya itu.
Setelah berdiri cukup lama, akhirnya Zakir mau menghampiri Kakak sepupunya dan duduk didekatnya.
" Kakak ngapain? " tanya Zakir.
Dimas yang sedikit terkejut karena Zakir yang riba-tiba muncul dan bertanya duduk didekatnya.
" Huftt, kamu ngangetin aku aja sih, Kir." Dimas menghela nafasnya dan memandang Zakir yang juga tengah menatap dirinya dan tangan yang bergantian memegangi es batu mengompres luka lebamnya.
" Ya elah, gitu aja kaget. Makanya jangan keseringan ngelamun, " Zakir.
" Iya, iya. Terserah kamu, tapi aku mau nanya sama kamu. Ini sorban siapa kamu yang bawa?Tumben kamu pakai sorban. Sorban ini juga baru kali ini aku lihat, " Dimas.
" Itu bukan punya aku, " jawab singkat Zakir melepaskan tangannya yang mengompres saat ia berbicara.
" Bukan punya kamu? Terus, punya siapa, Kir? " tanya Dimas.
__ADS_1
Karena Dimas yang terus bertanya kepada dirinya, akhirnya Zakir meletakkan es batu itu dimeja tepat disebelah camilan yang ada.
" Eh, Kir! Jorok banget sih, kamu. Masa bekas kompres ditaruh di dekatnya makanan." Dimas.
" Ah, biarin aja kenapa sih? Lagian gak aku taruh didalam toples, Kakak aja yang terlalu ribet dan lebay jadi orang." jawab Zakir.
Lagi-lagi Dimas hanya terdiam dan mengalah ia enggan berdebat dengan Adik sepupunya yang keras kepala.
" Ya udah, jawab pertanyaan aku yang tadi aja. Ini sorban punya siapa? " tanya Dimas kembali.
" Itu punya Azmi," Zakir.
" Hah? Punya Azmi? " Dimas wajahnya tampak kaget tatapannya kepada Zakir mulai dalam ia juga memandang sorban itu secara bergantian.
" Iya, kenapa? Kakak mau seudzon lagi sama aku. Iya? " Zakir.
" Enggak, enggak. Tapi kenapa sorbannya Azmi kenapa bisa ada sama kamu? Kalian ketemu dimana? " tanya Dimas dengan tatapan dan ekspresi wajah yang begitu serius kepada Zakir.
Zakir terdiam seakan ia tak sanggup bicara. Ingatannya kembali kepada peristiwa dimana Azmi menyelamatkan dirinya.
Dengan berani, Azmi melawan ketiga pemuda yang jauh lebih besar daripada dirinya.
Zakir juga teringat saat Azmi menghalang kayu yang akan dihantamkan kepada Zakir dengan menopang kayu besar itu menggunakan kedua tangannya hingga ia teriak kencang karena begitu sakit tangannya.
Melihat Zakir yang terdiam dan tidak segera menjawab pertanyaannya, Dimas langsung menegur Zakir.
" Kir, Zakir! Kamu kenapa? Ada masalah lagi sama Azmi?" tanya Dimas kali ini ia berusaha bicara dengan baik tidak ingin melukai lagi hati Adik sepupunya.
Zakir yang sudah bangun dari lamunannya, menoleh ke arah Dimas yang masih menunggu jawaban dari dirinya dengan pandangan yang begitu dalam.
" Azmi.. Azmi.. Dia sudah nyelamatin aku, Kak. Padahal dia sudah tau kalau aku yang ingin mencelakai dia, tapi Azmi masih saja mau menolong aku saat itu sampai ia terluka. Kenapa, Mi? Kenapa kamu mau nolong aku?" Zakir.
Dimas begitu kaget saat mendengar hal itu ia berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab ucapan Zakir.
" Sekarang kamu menyesal, kan Kir? Orang yang kamu celakai justru dia yang menyelamatkan nyawa kamu." Dimas.
Zakir mengangguk memalingkan pandangannya dan memandang fokus kedepan.
__ADS_1
" Iya, aku sadar selama ini aku salah memandang Azmi. Balas dendam untuk hal kecil memang gak ada gunanya. Tapi, aku sekarang harus apa? Azmi pasti udah marah banget sama aku karena dia udah tau yang sebenarnya. Zakir, kenapa kamu jahat banget, sih? " ucap Zakir yang meluapkan marahnya kepada dirinya sendiri.
Bersambung...