
Semua santri telah selesai sholat isya' mereka juga sudah selesai dzikran dan berdoa yang di pimpin oleh Ustadz Abdullah sebagai imam sholat. Suasana sangat hening, hanya ada suara jangkrik yang membuat suasana sedikit bersuara. Semua santri tidak berani bicara sedikitpun mereka masih menunggu kedatangan Kyai.
Mereka masih sabar menunggu walau waktu terus berjalan dan mengingat tubuh mereka yang masih lelah karena seharian penuh belum sempat beristirahat dengan cukup.
Agar tidak ngantuk, para santri berusaha membuat dirinya sibuk seperti memainkan jari, menghitung detik sambil melihat jarum jam, mengusap wajah mereka bahkan tidak sedikit ada yang berdehem " ehem " membuat suasana yang hening menjadi sedikit ribut.
Azmi merasa bosan tapi ia berusaha menegakkan dirinya sambil mengusap wajahnya yang terlihat jelas bahwa ia sudah sangat lelah.
Ustadz Abdullah dan Ustadz Ridwan merasa kasihan melihat para santri yang sangat lelah dan bosan.
" Kalian harap sabar ya, sebentar lagi pasti Kyai datang, " Ustadz Abdullah.
" Iya, tadi Kyai bilang kalau ada sedikit masalah dan beberapa menit yang lalu beliau baru berangkat, " sambung Ustadz Ridwan.
Para santri memahami keadaan itu mereka masih menunggu walau rasa kantuk semakin berat.
Tidak lama kemudian...
" Assalamualaikum, " ucap Kyai sembari terus melangkah.
" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab semuanya serentak menoleh ke arah Kyai.
Dengan segera Ustadz Ridwan dan Ustadz Abdullah berdiri untuk menyalam tangan Kyai, setelah itu mereka langsung mempersilakan Kyai duduk.
" Sebelumnya saya minta maaf untuk kalian semua, karena sudah menunggu cukup lama, " Kyai.
" Tidak apa-apa Kyai, " jawab beberapa santri dengan santri yang lainnya yang hanya mengangguk.
" Kelihatannya kalian sudah ngantuk semua, ya? " tanya Kyai.
Para santri tidak berani menjawab tapi wajah mereka sudah menjawab semuanya, wajah para santri memang sangat kusam dengan mata mereka yang juga sudah merah dan tidak sedikit santri yang sampai keluar air mata akibat sangat mengantuk dan lelah.
" Baiklah, saya ingin mengumumkan untuk semua santri baik senior maupun pemula untuk besok kalian semua bersiap untuk membaca kitab tafsir. Besok pagi-pagi setelah subuh saya akan menunjuk siapa saja untuk membaca kitab yang sudah saya ajarkan, kalau sampai ada yang tidak bisa nanti ada hukumannya, " Kyai.
Para santri yang tadinya sangat ngantuk menjadi sangat tegang dan kaget.
__ADS_1
" Aduh, kok tiba-tiba gini, sih? " Zakir.
" Mana kitabku ada yang belum diisi, " keluh Rifki.
" Gimana ini? Aku takut kalau gak bisa baca," Helmi.
" Sama Hel, Kyai mendadak banget, " sambung Sihin.
Tidak hanya mereka, santri yang lainnya ikut berisik karena ketakutan, kaget dan panik karena Kyai sangat mendadak mengumumkan hal itu. Sementara Azmi yang juga kaget tidak bisa berkata-kata lagi ia hanya duduk dengan tegap sebentar untuk menerima apa yang ia dengar, Azmi yang lelah hanya bisa pasrah memegang dahinya sambil menunduk.
" Husshhhh... Harap jangan ramai! Ingat ada Kyai disini. Jaga adab kalian! " tegas Ustadz Abdullah.
Dengan sekejap para santri langsung sunyi mereka kembali fokus memandang dan mendengarkan Kyai.
" Kenapa? Apa kalian semua tidak siap? " tanya Kyai.
" Saya gak siap Kyai, kenapa tunjuk'an ( sesi menunjuk siapa saja santri untuk membacakan kitab dari Kyai) mendadak Kyai? " Udin dengan berani ia mengangkat tangannya dan jujur mengatakan isi hatinya.
" Dari dulu emang mendadak, kan? Ahkam, Muhklis dan senior yang lain, kalian pasti sudah tau kalau membaca kitab dari saya selalu mendadak dan tidak ada satupun yang tau, benar? " Kyai menoleh ke arah Ahkam yang duduk tepat di depan Kyai.
Akhirnya semua santri harus menerima tugas dari Kyai. Dalam keadaan lemas mereka turun dari Masjid sampai menguap di sepanjang jalan sambil menutupi mulut mereka dengan tangan kanan mereka.
Sesampainya di kamar Azmi terlihat lemas ia terduduk di kasurnya sembari menunduk dan memegangi dahinya.
" Kenapa Mi? Pusing? " tanya Muhklis duduk kasurnya. Azmi menoleh pelan ke arah Muhklis dengan mata yang sudah merah ia juga sempat memandang Ahkam dan Aban yang juga sedang mengawasi dirinya.
" Gimana gak pusing, bang? Besok kalau aku gak bisa baca kitabnya, gimana? " Azmi kembali menundukkan kepalanya tidak hanya itu, karena sudah saking pusingnya ia sampai melepas pecinya dan mengacak-ngacak rambutnya dengan kedua tangannya lalu ia menunduk dengan telapak tangan kanan yang menyentuh dahinya.
Sementara Ahkam malah tertawa kecil melihat tingkah Azmi.
" Gak usah pusing, Mi. Aku yakin kamu bisa besok, " Ahkam.
" Aku bingung, kenapa Kyai selalu mendadak untuk nyuruh kita baca kitab ajarannya? " tanya Aban yang terlihat bingung.
" Kalian tenang aja, gak semua ditunjuk, kok. Nanti duduk paling belakang aja terus dekatnya tembok atau paling pojok biar gak kena tunjuk. " Muhklis.
__ADS_1
" Emang kalau duduk di sana gak bakal di tunjuk, bang? " tanya Azmi begitu antusias.
Muhklis hanya tertawa kecil tidak menjawab pertanyaan Azmi yang membuat Azmi semakin bingung dan pusing tatapannya sangat tajam kepada Mukhlis.
" Hush, kamu Klis, malah ngasih tau yang gak benar. Azmi, Aban, alasan Kyai tunjuk'annya selalu mendadak agar semua santrinya selalu belajar dan membaca kitab yang sudah beliau berikan. Bukan cuma belajar waktu ujian aja, makanya Kyai selalu mendadak, jadi semua santri sini punya mental yang harus selalu siap. Lihat aja, mas-mas yang sudah berpengalaman mereka selalu muthala'ah (mengulang-ngulang kembali ilmu yang baru saja diberi) agar nanti mereka bisa membaca kitab saat ditunjuk Kyai, " jelas Ahkam kepada Azmi dan Aban yang fokus mendengarkan.
Azmi dan Aban mulai paham mereka tidak bisa melakukan apapun dan harus siap untuk besok bagaimanapun keadaannya.
" Iya mas, aku ngerti, " Azmi.
" Aku juga, " sambung Aban.
" Santai aja Mi, Ban, jangan terlalu di pikirin untuk besok. Aku yakin banget kalau kalian pasti bisa! " Muhklis.
" Aamiin, " Azmi dan Aban bersamaan sembari mengusap wajah mereka.
" Benar tuh, sekarang kalian istirahat, udah merah banget matanya, " Ahkam.
" Iya mas, emang udah gak kuat melek. Eh Ban, " Azmi seketika ia teringat dengan amanah dari Ustadz Abdullah yang belum ia sampaikan kepada Aban.
" Hah? Apa Mi? " tanya Aban yang baru saja hendak merebahkan dirinya terhentikan karena panggilan Azmi yang tiba-tiba.
" Tadi Ustadz Abdullah bilang, besok istirahat sekolah kita di minta ke kantor, " Azmi.
" Ngapain? " Aban.
" Aku juga gak tau, Ustadz Abdullah gak ngasih tau, " jawab Azmi.
" Heh, arek-arek, udah ngomongnya? Aku mau matiin lampu ini lo, " Muhklis.
" Oh iya bang, silakan, " Azmi ia merebahkan dirinya tidak lupa membaca doa sebelumnya baru ia memejamkan matanya begitu juga dengan Aban yang sudah sangat lelah.
Lampu sudah di matikan oleh Muhklis, Azmi, Aban dan Ahkam juga sudah larut dalam tidur mereka. Muhkis berjalan perlahan menuju kasurnya dan mulai tidur.
Bersambung....
__ADS_1