
Orang-orang pengguna media sosial terutama fans-fans Syubbanul Muslimin melihat video yang ada di chanel milik Syubban. Mereka semua mengangguk paham dengan yang dikatakan Azmi.
" Emang ya, orang sholeh ada aja yang gak suka," ucap seorang gadis yang setelah melihat video Azmi.
" Kasihan Azmi, siapa sih, yang sudah sebarin berita ini? Iri bilang bos, ya, gak? " sambung temannya yang ikut geram.
...•••...
Zakir yang baru saja selesai mandi ia langsung merapikan rambutnya dan wajahnya sudah tidak sabar melihat berita yang telah ia buat. Begitu kagetnya Zakir, ketika banyak orang yang lebih membela Azmi. Beberapa menit kemudian, Zakir dapat notifikasi dan segera melihatnya. Sungguh ia semakin kaget dan kesal ketika melihat Azmi yang bicara dengan tegas dan tenang layaknya seorang yang cerdas.
Wajah kesal dan marah tampak jelas pada wajahnya, apalagi ketika Zakir melihat komentar-komentar pendukung Azmi yang membuat hatinya semakin panas.
Zakir langsung menghapus postingan yang ia sebar di berbagai media sosialnya dan meletakkan hapenya dengan keras.
Zakir berdiri dan mengepal kedua tangannya, rasa benci terhadap Azmi semakin besar dalam diri Zakir.
" Arghhhh!!!" Zakir yang sangat marah mendekat ke arah meja dan memukul meja itu dengan sangat keras hingga menimbulkan suara keras sampai kepada Dimas dan kedua orangtua Zakir yang duduk dibawah.
" Itu suara dari kamar Zakir. Ya Allah, kenapa dia?" Ibu Zakir yang terlihat cemas memandang ke arah kamar Zakir yang berada diatas.
" Sudah, tenang. Dimas coba kamu hampiri Zakir, lihat apa yang terjadi." Ayah Zakir yang coba menenangkan istrinya.
" Baik, Om." Dimas mengangguk dan ia segera naik ke atas untuk menghampiri Zakir.
" Azmi, Azmi, Azmi aja terus! Dari awal aku ketemu sama dia, aku udah gak suka sama itu anak yang selalu caper ke para Ustadz, selalu bikin aku dihukum, sok suci, sok ganteng, masih gantengan aku jauh dari dia. Tapi kenapa, kenapa dia harus jadi orang terkenal? Orang yang aku benci gak akan aku biarin tertawa lepas diatas aku!" ucap Zakir dengan penuh amarahnya sambil memandang dirinya di cermin.
Dimas langsung membuka pintu kamar Zakir, karena sudah sangat khawatir ia sampai tidak mengucapkan salam.
" Zakir, kamu gak papa? " tanya Dimas dengan wajah panik dan cemas.
" Kakak lihat aja, apa yang udah terjadi sama Azmi? Kenapa dia yang selalu dibela? Dasar munafik! " Zakir.
" Astagfirullah, Zakir! " Dimas ia sangat kecewa dengan perkataan Zakir yang sungguh tidak baik.
Zakir membalikkan tubuhnya dan duduk diatas kasurnya dan Dimas melangkahkan kakinya untuk duduk disamping Zakir berusaha untuk menasihati Adik sepupunya.
__ADS_1
" Sadar, Kir! Istighfar, ini bulan Ramadhan dan sebentar lagi mau lebaran. Yang kamu lakukan ini salah, kamu hanya menanamkan rasa iri, dengki dan benci kepada Azmi yang bahkan tidak pernah buat kesalahan sama kamu, " ucap Dimas yang membuat Zakir yang masih kesal menatap tajam kearahnya.
" Gak pernah buat salah? Dimata aku, Azmi adalah orang yang berusaha ingin dipuji semua orang, sok baik, sok alim. Dia selalu cari muka sama semua Ustadz. Cuma Azmi yang dipuji dikelas padahal aku juga jago, gak cuma itu aja, Azmi pernah ngerusak hubungan aku sama teman-teman aku. Juga hubungan aku sama Kakak. Apa Kakak gak ingat semua itu, hah? Bela aja terus Azmi yang udah jadi artis itu, terus dipuji-puji, dalam hatinya pasti senang banget, dia udah jadi orang sombong, " Zakir bicara dengan meluapkan rasa kebencian dan tatapan mata yang memandang kedepan dan terakhir menatap tajam Dimas.
" Zakir, kamu udah salah kaprah tentang Azmi. Coba kamu sering berdoa, ngaji, supaya hati kamu tenang dan gak gampang benci sama orang, gak gampang iri melihat kebaikan orang, " jelas Dimas.
Tapi Zakir hanya terdiam dengan wajahnya yang malas untuk mendengarkan. Zakir bangun dan melangkah untuk mengambil benda yang sudah jatuh dilemparnya.
Dimas juga ikut bangun ia tidak lelah untuk menasihati Zakir.
" Zakir, kamu harus dengarin aku! Kalau enggak, sampai kapanpun hidup kamu gak akan bahagia karena yang ada dihati kamu selalu gak suka melihat kebaikan orang dan menganggap dia itu carimuka dan sok alim, coba berpikir positif, Kir!" Zakir.
" Aku gak butuh ceramah Kakak, lebih baik Kakak pergi dari kamar aku karena Kakak buat aku semakin kesal!" ucap Zakir dengan nada bicara yang cukup keras kepada Dimas dan orangtua Zakir kembali mendengar itu.
Dimas terdiam sejenak untuk meresapi semua ucapan Zakir yang begitu keras kepada dirinya sebelum ia mulai bicara dengan tatapan yang begitu dalam kepada Zakir.
" Kalau itu mau kamu, aku pergi. Aku cuma pengen kamu berubah, Kir. Ingat, orangtua kamu masukin ke pesantren karena berharap kamu menjadi orang baik." Dimas.
Zakir hanya tetap diam membelakangi Dimas yang bicara dengannya.
" Assalamualaikum, " ucap Dimas ia pergi sesuai keinginan Zakir dengan segera.
" Dimas, ada apa? Kenapa Zakir? Dia bentak kamu?" tanya ibu Zakir kepada Dimas yang kembali duduk di sofa dengan wajah kecewa.
Tidak segera menjawab karena Dimas masih sedih dengan perilaku Zakir.
" Dimas, ayo bicara. Biar nanti om yang bicara dengan Zakir. Dari dulu dia selalu seperti, " ucap Ayah Zakir.
" Eh, gak usah om. Zakir cuma capek aja, dia gak ngomong apa-apa kok, sama aku." Dimas.
Kedua orangtua Zakir saling toleh dan masih belum percaya dengan ucapan Dimas tapi mereka hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Dimas dan kembali mengalihkan pembicaraan kepada Dimas.
**
Suasana teriknya matahari membuat keadaan sangat panas. Semua anggota Syubban masih berkumpul sembari berdiskusi sebelum mereka tampil.
__ADS_1
Mereka semua terlihat kepanasan walau sudah ditempat yang tidak ada panas, Azmi terus mengepai-ngepai tubuhnya dengan pecinya begitu juga yang dilakukan oleh yang lainnya mereka sangat tidak tahan dengan suhu yang sangat panas apalagi mereka sedang berpuasa.
" Ini kita tampil disini? Kenapa gak ditempat yang ada ac nya? Panas-panas kaya gini lho," keluh Udin yang terlihat keringat yang membasahi wajahnya berusaha ia hapus dengan tisu.
" Aku juga udah haus banget, kalau nanti gak kuat gimana?" tambah Firman.
Tidak ada yang bisa menjawab karena memang mereka semua sangat kepanasan dan lelah.
Azmi juga sangat terlihat mulai lemas ia saking lelahnya ia sampai terduduk dengan wajahnya yang mulai pucat sembari terus mengepai wajahnya dan mengelap keringatnya yang membasahi dahi dan pipinya dengan tisu
" Mi, kamu gak papa, Mi? " tanya Aban yang melihat Azmi menunjukkan ekspresi khawatirnya.
Azmi seketika menoleh ke arah Aban dengan wajah yang pucat.
" Azmi, muka kamu pucat banget itu." Muhklis.
" Istirahat aja, Mi. Biar nanti aku bilang sama Ustadz Mustafa." Ahkam.
" Enggak, mas. Aku gak papa kok, biasa kalau lagi puasa mukanya kan emang pucat," jawab Azmi ia masih saja bisa tersenyum walau tubuhnya sudah sangat lemas.
" Tapi, Mi. Kamu kaya lagi sakit, " Ali.
Baru saja Azmi ingin menjawab, Hamdi berteriak memanggil anggota Syubban untuk segera bersiap karena mereka akan tampil naik ke atas panggung.
" Anggota Syubban, ayo kumpul! " teriak Hamdi.
" Oke, mas." jawab Ahkam.
" Ayo, rek." Udin.
Azmi mulai berdiri dengan perlahan dan memasang pecinya.
" Benar gak papa, Mi? " tanya Aban.
" Iya, ayo," ucap Azmi menepuk pundak Aban dan meyakinkan Aban kalau dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
Tapi Aban tetap saja khawatir dengan keadaan Azmi apalagi dia baru saja menyelesaikan masalahnya dan juga baru saja mendapat hujatan dari para netizen terutama orang-orang yang membenci Azmi.
Bersambung...