Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 140. Bercanda.


__ADS_3

Sembari menunggu waktu maghrib, Azmi, Aban dan Rifki duduk bersama tepat di depan kamar Azmi pada bangku panjang yang sudah tersedia. Azmi yang baru saja selesai mengaji menatap kedua sahabatnya yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Aban terlihat asyik melantunkan sholawat dengan buku sholawat sebagai pedomannya. Sementara Rifki terlihat serius menulis pada bukunya.


" Nulis apa sih, Ki? " tanya Azmi penasaran memandang Rifki. Aban juga menghentikan lantunan sholawatnya pandangannya fokus kepada Rifki.


" Ada lah, " jawab Rifki singkat tanpa menoleh sedikitpun kearah kedua sahabatnya.


" Ya udahlah, terserah Ki, " Azmi.


" Mi, kita mau baca surat apa di acara perpisahan nanti? " tanya Aban.


" Kita baca surat Al-Mujadalah aja, gimana? " Azmi.


" Oke lah, aku ikut kamu, " Aban.


" Kalian ditunjuk buat ngaji di perpisahan nanti? " tanya Rifki ekspresinya mulai serius.


" Iya Ki, " jawab Azmi singkat.


" Wishh, hebat banget kalian, semangat ya!" Rifki.


" Pasti, " Azmi dengan senyuman kecil yang ia tunjukkan kepada dua sahabatnya.


" Tapi aku takut Mi, " keluh Aban membungkukkan tubuhnya sembari menunduk.


" Lah kenapa, Ban?" tanya Azmi.


Aban menegakkan kembali tubuhnya, menghela nafasnya, menoleh ke arah Azmi dengan pandangan dalam.


" Santri disini itu banyak, ratusan, Mi. Dan semuanya menatap kita ngaji nanti, " jawab Aban dengan nada kecil dan tatapan yang sangat fokus kepada Azmi.


Sebelum ia menjawab, Azmi tersenyum dan meletakkan tangannya pada pundak kiri Aban.


" Ban, kamu gak ingat? Selama ini kita sholawatan juga ditonton banyak orang. Tapi kita tetap bisa nunjukin yang terbaik, kamu harus tenang, Ban. Jangan berpikir kalau semua orang sedang menonton kita tapi berpikir kalau semua orang ingin melihat kemampuan kita, ngerti?" Azmi.


" Tapi Mi, kalau sholawatan kan banyak temannya, ada musiknya juga, " keluh Aban kembali.


Rifki juga masih fokus mendengarkan dan belum bisa memberi solusi untuk kecemasan Aban.

__ADS_1


" Terus apa masalahnya, Ban? Gini ya, ngaji sama sholawatan itu gak beda jauh, malah lebih susah sholawatan, kita harus natap ke arah semua orang, kita gak boleh salah lirik, kita juga harus kompak. Kalau ngaji, tatapan kita fokus kepada Al-Qur'an dan kita sendiri yang baca mengatur makhraj yang benar, " jelas Azmi panjang lebar.


Setelah mendengar, mencerna dan memikirkan perkataan Azmi, Aban dapat pencerahan dan mulai mengerti.


" Iya Ban, aku yakin kamu pasti bisa! Bayangin aja kalau kamu lagi ngaji sendirian, " sambung Rifki.


" Anak pintar, benar tuh, kata Iki'. " Azmi memuji Rifki.


" Ya iyalah, Rifki, " jawab Rifki menyombongkan diri.


Aban mulai mengangguk pelan beberapa kali.


" Iya Mi, aku ngerti, makasih udah jelasin semuanya ke aku, " jawab Aban kepada Azmi.


" Sama-sama Ban, tugas seorang sahabat itu membawa sahabatnya ke jalan yang benar dan menumbuhkan rasa semangatnya, benar gak, Ki. " Azmi.


" Benar brother, " jawab Rifki penuh semangat.


" Aku baru tau, ternyata kamu pintar ngomong ya, Mi. Cara ngomong kamu itu adem, tenang, kelihatan banget pintarnya, " puji Aban pada Azmi.


" Alhamdulillah, makasih Ban, tapi ini biasa aja kok, " Azmi merendahkan diri.


" Wah, bahaya Iki'. Masa sahabat sendiri di katain bodo Ban, " Azmi.


" Eh, bukan gitu Mi, tapi, gini lo, " Rifki bingung hendak menjelaskan apa.


" Tapi gimana? Emang tadi bilang aku bodo, kan? Kamu dengar juga kan, Ban? " Azmi.


Aban yang juga bingung dengan terpaksa mengangguk.


" Iya, aku juga dengar, wah gak benar nih, si Iki', " Aban.


" Kalian ini salah paham, gak gitu maksud aku, " Rifki berusaha menjelaskan.


" Terus apa? " Azmi.


Setelah menatap wajah Azmi yang sangat tajam tatapannya kepadanya, Rifki akhirnya pasrah ia menghela nafasnya, menggaruk pelan belakang lehernya dan kembali menatap ke arah Aban dan Azmi.

__ADS_1


" Iya, aku salah ngomong, maaf Mi, " Rifki dengan nada lirih merasa bersalah.


" Jangan diulangin lagi Ki', " Azmi.


" Iya, gak akan. Maaf ya Mi, " Rifki.


Azmi tertawa kecil setelah melihat wajah Rifki yang melas, Azmi sudah tidak tahan lagi ia mengeluarkan semua tawanya sembari menepuk-nepuk pundak Aban yang ada di sampingnya. Melihat Azmi yang terus tertawa Aban juga ikut tertawa kecil.


" Kok malah ketawa sih, Mi. " Rifki wajahnya sangat bingung memandang Azmi dan Aban.


" Mukamu itu lo, Ki'. Melas banget, padahal aku cuma bercanda. " Azmi.


Rifki yang sadar telah dikerjai Azmi tidak bisa berkata-kata lagi, wajahnya begitu polos dan tubuhnya membungkuk lemas.


" Sekarang ketahuan siapa yang bodo, " Aban.


" Iya, iya, terserah. " Rifki yang sudah malas.


" Jangan marah Ki', kita cuma bercanda, " Azmi.


" Iya, jelek kalau marah gitu. Nanti gantengnya hilang, " ledek Aban sambil menunjukkan senyum manisnya.


" Emang mukaku gini-gini aja Ban, " jawab Rifki.


Allahu Akbar... Allahu Akbar....


Suara Ahkam yang sedang adzan mulai terdengar keras hingga keluar pesantren.


" Allahu Akbar, Allahu Akbar. Udah adzan wudhu yok, " ajak Azmi.


" Ayo, " Aban.


Azmi dan Aban bangun sudah bersiap untuk wudhu sedangkan, Rifki masih duduk memasang wajahnya yang ditekuk tidak beranjak bangun.


" Ayo Ki, " ajak Azmi.


Rifki masih terdiam terlihat malas karena sudah di kerjai. Dengan terpaksa, Azmi menarik tangan Rifki agar bangun dan ikut dengannya. Akhirnya Rifki mau berjalan walau dengan paksaan Azmi, Aban mengikuti langkah mereka dari belakang.

__ADS_1


Para santri yang lainnya juga sudah beramai-ramai mengambil air wudhu, langit berwarna merah dan matahari hendak tenggelam membuat suasana semakin indah.


Bersambung....


__ADS_2