Kami Santri Bukan Artis

Kami Santri Bukan Artis
Episode 232 Karya Baru


__ADS_3

Perjalanan Azmi memang panjang, Azmi baru sampai menjelang maghrib. Azmi mengajak Pak sopir untuk sholat di Masjid yang sudah dan hampir sampai pada pesantrennya sebentar lagi.


Azmi tidak ingin meninggalkan sholatnya, setelah semua selesai barulah perlajalanan kembali di mulai.


Perjalanan sekarang tidak cukup jauh karena sudah ada didesa tempat pesantren Azmi berada.


Sementara itu, tim Syubban juga sudah berkumpul di pesantren setelah sholat maghrib, mereka langsung melangkah bersama ke tempat latihan.


Ahkam dan Ali yang bertugas menyiapkan makanan dan minuman untuk Kyai, Ustadz Mustafa, Hamdi, Syafiq dan juga teman-teman Syubban dengan cepat menyelesaikan tugasnya dengan inisiatifnya teman-teman yang lain juga membantu.


Di saat yang lain sibuk, Udin dan Firman malah asyik berbincang sambil tertawa ria membuat Ali yang mengawasi mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedua temannya itu.


" Kalian daritadi ngomong thok, bukannya bantuin." tegur Ali setelah pekerjaannya selesai lalu ia duduk disebelah Firman dan Udin.


" Maaf, Li. Aku ke asyikan ngobrol nih, sama si jawir." ucap Firman yang malah menyalahkan balik Udin yang terlihat santai mengambil makanan yang disediakan Ahkam.


" Heh, kok, aku'e. Koe juga daritadi dengerin aku sambil ketawa-tawa gitu, " Udin.


" Udah-udah, gak usah ribut." Ali yang lelah mendengarkan kedua temannya yang selalu berdebat.


" Heh, Din. Malah makan, udah gak nolongin juga." tegur Firman ketika melihat Udin dengan nikmatnya terus-menerus mengambil makanan yang beripa kue yang ada di hadapannya.


" Enak iki lo, coba aja gak papa, ini juga untuk dimakan," Udin.


" Masa, sih, enak? " ucap Firman dengan tangannya yang menggapai kue dan mencobanya.


" Hmmmm, iya wueenakk tenan." Firman ia malah ikut-ikutan makan sama halnya dengan yang dilakukan Udin.


" Hadeh, gak Udin gak Firman sama aja." Ali menghela nafas sembari geleng-geleng kepala.


" Eh, Mas. Azmi kok lama banget, ya? " tanya Aban kepada Ahkam yang tengah duduk santai dihadapannya.


" Sebentar lagi sampai, Ban. Kamu tenang aja, " Ahkam.


Tit.. Tit...


Suara klakson mobil terdengar keras dan membuat kaget para anggota Syubban. Pandangan mereka semua tertuju kepada mobil yang semakin mendekat dan terparkir didepan tempat latihan.


Karena mereka tau kalau itu bukan mobil milik Kyai ataupun Ustadz Mustafa dan mobil itu terlihat asing bagi tim Syubban, mereka hanya diam duduk dan menunggu siapa yang keluar dari mobil itu.


Dan...

__ADS_1


Dibantu dengan pak sopir yang mengambilkan barang Azmi, Azmi keluar dari mobil dan membuat kaget semua teman-temannya.


" Heh! Kok bengong, Azmi itu. Ayo, bantuin, " Ahkam kepada teman-temannya yang masih bengong memandangi Azmi.


Setelah ditegur Ahkam, semua tim Syubban terutama Aban, segera bergegas menghampiri Azmi dan membantunya membawa barang-barang Azmi yang tentunya sangat banyak daripada yang lain karena Azmi akan langsung balik pondok.


Azmi terlihat senang saat melihat semua teman-temannya dengan sigap menghampiri dan membantu dirinya. Senyuman manis terlukis diwajah tampan Azmi yang saat itu terlihat sangat lelah sambil membawa barangnya ke dalam tempat latihan.


" Matur suwun sangat, Pak. Menurut saya, sebaiknya Bapak istirahat dulu disini, Pak." ajak Azmi.


" Iya, Pak. Tidur dipesantren saja dulu, besok baru berangkat, " tambah Muhklis.


" Aduh, bagaimana ya, le?" ucap Pak sopir yang masih ragu dan bingung harus langsung balik atau berdiam dulu.


" Disini aja dulu, Pak. Bapak bisa tidur dikamar saya sama teman-teman yang lain. Nanti Bapak juga bisa makan disini, daripada nanti Bapak kecepek'an dijalan, kan bisa bahaya bagi keselamatan Bapak." jelas Azmi.


Setelah berpikir cukup, akhirnya Bapak yang sudah mengantarkan Azmi dengan selamat, mengangguk dan mau menerima permintaan Azmi yang mau ia untuk tinggal dipesantren sampai besok pagi.


Bapak itu tersenyum dan mengangguk.


" Baiklah, Bapak mau nginap disini. Bapak juga sudah capek sekali'e. " Pak Sopir.


" Ayo, Pak. Saya antar, ada pak Satpam juga disini. Jadi, nanti Bapak tidak sendiri saat kami latihan." Ahkam.


Azmi tersenyum akan ucapan Bapak itu dan semuanya ikut tersipu malu dengan senyuman kecil akan pujian dari Bapak sopir.


Sangat tepat waktu, saat barang Azmi sudah diangkat menuju kamarnya. Pak sopir juga sudah ada dikamar ditemani Satpam pesantren yang ada disana.


Semua anggota Syubban kembali berjalan keluar dan saat sudah sampai, Kyai, Ustadz Mustafa bersama dengan Hamdi dan Syafiq datang secara bergantian.


Serentak semua anggota Syubban berdiri ketika Kyai datang dengan berbaris rapi, kepala yang tertunduk, dan bentuk tangan yang sopan.


Semuanya sudah ada disana, sudah duduk rapi dengan Kyai yang terdahulu duduk didepan dan diikuti dengan Ustadz Mustafa, Hamdi, dan Syafiq barulah para anggota Syubban yang duduk.


" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, " ucap Kyai dengan tatapan mata yang tajam kepada semua orang yang ada disana.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab serentak semuanya.


" Puji syukur, Alhamdulillah. Berkat rahmat Allah kita semua kembali dipertemukan ditempat latihan ini dengan kondisi yang sehat dan begitu bahagia. Bagaimana liburannya, puas?" tanya Kyai.


" Alhamdulillah, Kyai," jawab semuanya, mereka sempat saling lirik dan tak langsung menjawab dengan suara pelan barulah mereka menjawab dengan suara yang tidak kompak.

__ADS_1


" Yo, aku sih jujur aja, kurang'e." bisik Udin kepada Firman dan Ali yang ada disebelah kanan dan kirinya.


" Udin belum puas, masih pengen dirumah? " tanya Kyai yang mendengar ucapan Udin disaat semuanya tidak mendengar terkecuali Firman dan Ali.


Mereka bertiga kaget atas pertanyaan Kyai, apalagi Udin yang langsung duduk tegap dan mulai gugup tak berani melilit Kyai.


" Alhamdulillah, Kyai. Sudah puas, kok. Heheh. " ucap Udin dengan suara yang terbata dan sesekali mengangkat kepalanya untuk bicara.


Kyai tertawa kecil mendengar jawaban Udin.


" Gak papa, kok. Lebih baik jujur, betul, Udin? " Kyai.


" Nggih Kyai," jawab Udin spontan yang membuat semuanya kaget dan mengarahkan pandangan mereka kepada Udin.


" Opo, kok ngawasi aku kabeh? Kan benar lebih baik jujur, iya memang Kyai, saya belum puas liburannya tapi saya juga harus siap kembali ke pesantren." Udin.


Semuanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala akan jawab Udin yang mengundang gelak tawa melihat ekspresinya yang lucu dan logat jawa Udin. Kyai juga mengangguk pelan dan mengiyakan saja apa kata Udin.


Allahu Akbar... Allahu Akbar...


Adzan berkumandang dengan serentak mereka semua terdiam untuk menjawab adzan.


Setelah adzan, Kyai memerintahkan kepada semua santrinya untuk ambil wudhu dan segera melaksanakan sholat isya' berjamaah di Masjid.


Pak sopir dan juga pak satpam juga ikut sholat bersama di Masjid pesantren.


Sholat isya' sudah dilaksanakan, barulah semua anggota Syubban kembali ke tempat latihan untuk membicarakan tentang karya baru mereka yang akan mereka bawakan besok.


" Azmi, Ahkam, Aban. Silakan maju," perintah Ustadz Mustafa dengan nada yang begitu serius.


Ketiga vocal itu langsung berdiri dan maju duduk disamping Ustadz.


" Ketiga vocal ini yang telah berhasil menciptakan sebuah karya baru yang menurut saya sangat bagus. Dibantu dengan Syafiq dan Hamdi yang mengerti soal lirik musik, nada dan irama. Kita semua disini akan membuat karya yang akan menggentarkan semua pecinta sholawat, " Ustadz Mustafa.


Tatapan semua orang mengarah kepada ketiga vocal yang tentu memilikibbakat dalam bersholawat dan mengajak semua orang untuk cinta dengan sholawat dengan cara mereka.


Malam itu juga mereka semua mulai latihan membentuk sebuah karya baru dan tentu dengan kekompakkan anggota Syubban yang makin membara.


Semuanya dipersiapkan malam itu juga, lelah harus ditahan demi kesuksesan anggota Syubban dan demi karya mereka yang satu ini.


Hamdi dan Syafiq membantu dalam nada dan pembenaran lirik. Sementara Ustadz Mustafa melatih para tim hadroh membentuk irama yang merdu.

__ADS_1


Kyai melukis senyuman diwajahnya. Walau ia terlihat lesu, tapi ia sangat bahagia dan bangga melihat semangat para santrinya.


Bersambung....


__ADS_2