
Setelah devina pergi papa langsung bertanya kepada citra " Ra, kenapa kamu tadi menghentikan papa ketika papa sedang memberikan pelajaran kepada axel?".
" Karena, kalau papa teruskan memberikan pelajaran kepada axel, citra takut nanti axel bisa masuk ruang ICU pa" jawab citra.
" Biarkan saja ra, biar dia merasakan apa yang kamu rasakan!" ujar papa.
" Ya jangan dong pa, kasihan axel" jawab citra
" Aku saja tidak mau masuk rumah sakit pa" kata citra.
" Lagipula axel juga tidak bisa ilmu beladiri pa!" lanjut citra.
" Dia tidak bisa ilmu beladiri??" papa terkejut mendengar ucapan citra.
" Iya pa" jawab citra sambil menganggukkan kepala berkali-kali.
" Terus, kamu tahu darimana kalau axel tidak bisa ilmu beladiri ra?" tanya papa penasaran
" Aduh! Aku harus menjawab apa lagi ya" ucap citra dalam hati
" Ra, kenapa kamu diam?" tanya papa
" Kalau dia bisa beladiri, kenapa dia tidak datang ke rumah sendiri dan mengajak papa duel! Dan dia tidak mungkin menyuruh orang lain untuk mengacaukan pesta anniversary papa dan mama" jawab citra bohong.
" Semoga papa percaya dengan jawaban ku" ucap citra dalam hati.
" Benar juga yang kamu katakan ra" kata mama.
" Iya juga ya, kalau axel berani dia bisa langsung datang ke rumah dan mengajak papa untuk duel di arena" kata papa sambil menganggukkan kepalanya.
Mendengar perkataan papa nya citra akhirnya bisa bernapas lega dan tersenyum, karena papa nya percaya dengan jawaban nya.
" Alhamdulillah, papa ternyata percaya dengan jawaban ku" ucap syukur citra dalam hati.
Disisi lain
Setelah pergi meninggalkan rumah sakit, vito langsung pergi ke kantor nya untuk meeting dengan klein.
Kini vito sedang duduk di kursi kebesaran nya sambil memandang tumpukan berkas di atas meja kerja nya.
" Kenapa bisa ada berkas begitu banyak berkas di atas meja sih!" kesal vito.
" Bukan nya kemarin sudah aku tandatangani semua nya, tapi kenapa masih ada begitu banyak berkas di atas meja pagi ini!" ujar vito.
Dengan perasaan kesal vito memeriksa tumpukan berkas di atas meja kerja nya satu persatu.
Saat vito sedang sibuk membaca berkas yang dia pegang, tiba-tiba terlintas di pikiran tentang kejadian tadi pagi saat dia dan devina ( citra) sedang berciuman.
" Kenapa bibir nya terasa lembut sekali" batin vito.
__ADS_1
" Selain lembut, bibir nya juga terasa sangat manis, bahkan rasa manis bibir nya itu masih terasa di bibir ku" ucap vito sambil memegangi bibir nya.
" Ingin rasa nya aku bisa terus mencium bibir nya" ucap vito sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan adegan tadi pagi.
" Sial! Kenapa aku merasa bibir nya itu seperti candu, membuat aku ingin terus mencium nya" imbuh nya.
Vito pun mencoba untuk menghilangkan bayang-bayang tentang dirinya yang sedang berciuman dengan istri nya.
Tetapi, usaha nya gagal karena kini malah terlintas di pikiran tentang kejadian di saat devina (citra) sedang di gendong oleh seorang pria.
" Sebenarnya siapa pria yang menggendong wanita itu, dan kenapa pria itu datang tepat di saat wanita itu akan jatuh?!" ujar vito kesal.
" Sebenarnya apa hubungan antara pria itu dengan devina (citra)!?" tanya vito.
" Apa mungkin pria itu adalah kekasih nya" ucap vito menebak apa hubungan antara axel dan devina (citra).
Di saat vito masih sibuk memikirkan apa hubungan antara axel dan istri nya, tiba-tiba...
Tok.. Tok.. Tok
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu.
" Masuk!" kata vito mempersilahkan seseorang di balik pintu itu untuk masuk kedalam ruangan nya.
Tuk.. Tuk.. Tuk..
Terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan nya.
" Pagi!" jawab vito tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di depan nya.
" Ada apa?" tanya vito masih fokus pada berkas di depan nya.
" Bapak sudah di tunggu oleh klien dari perusahaan B di ruang meeting pak!" jawab sekertaris nya.
" Hem" kata vito.
Tanpa menunggu lama vito pun langsung bergegas menuju ruang meeting untuk menemui klien nya.
Vito terkejut saat melihat klien yang akan dia temui.
" Farel!" ucap vito dalam hati.
Meskipun terkejut dengan kehadiran farel di kantornya, tetapi vito langsung merubah wajah nya menjadi datar kembali.
" Selamat pagi pak farel!" sapa vito sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
" Selamat pagi juga pak vito!" jawab farel sambil menyambut uluran tangan vito.
" Bagaimana kabar anda pak vito?" tanya farel basa-basi.
__ADS_1
" Kabar saya sehat" jawab vito
" Anda kapan pulang dari luar negeri?" tanya vito penasaran.
" Luar negeri? Maaf sebelumnya pak vito tetapi saya tidak pernah pergi ke luar negeri pak!" jawab farel
" Bukan nya tahun lalu anda berniat untuk pergi ke luar negeri?" tanya vito kepo
" Oh, itu hanya candaan yang sering saya lakukan dengan sahabat saya pak" jawab farel baru ingat maksud dari pertanyaan vito.
" Jadi, dia selama ini ada di Indonesia" batin vito.
" Silahkan duduk!" kata vito mempersilahkan farel kembali duduk.
Meeting pun dimulai, tetapi saat vito sedang mendengarkan penjelasan dari pihak klien, tiba-tiba terlintas bayangan devina (citra) yang sedang di rumah sakit.
" Bagaimana kondisi wanita itu sekarang ya? Dia sudah mendapatkan donor darah belum ya?" ucap vito dalam hati.
" Jangan-jangan wanita itu sampai sekarang masih belum mendapatkan donor darah!" pikir vito.
" Kalau dia belum mendapatkan donor darah itu berarti kondisi nya sekarang semakin kritis dong!" pikir vito.
" Apa aku suruh riko saja untuk mencarikan pendonor darah yang cocok untuk wanita itu?!" batin vito.
Vito kembali tersadar dari lamunannya saat mendengar suara dari peserta meeting yang lain.
Setelah meeting selesai vito menjabat tangan farel sebagai tanda bahwa perusahaan mereka telah mencapai kesepakatan untuk bekerjasama.
Selesai meeting vito kembali ke ruangan nya, dia berniat ingin menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat agar dia bisa istirahat.
Tetapi, lagi-lagi bayangan devina(citra) terlintas dipikiran nya, hal itu membuat vito tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan nya.
Dia pun akhirnya mengambil kunci mobil dan langsung pergi meninggalkan kantor.
Disisi lain.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11:30 wib, saat nya bagi citra untuk makan dan setelah itu dia harus minum obat agar dia bisa cepat sembuh.
Sang mama dengan telaten menyuapi citra makan di temani sang suami. Kini citra merasa sangat bahagia.
" Alhamdulillah, akhirnya aku bisa merasakan kehangatan keluarga yang selalu aku inginkan" ucap syukur citra dalam hati.
Tanpa disadari butiran bening mengalir membasahi pipinya, hal itu membuat mama nya bertanya " Kamu kenapa menangis ra?"
Citra hanya menggelengkan kepalanya.
sang papa yang mendengar istri nya berbicara pun langsung berkata" Tangan kamu terasa sakit ra? Biar papa panggilkan dokter biar memeriksa luka kamu ya!"
Dengan ekspresi wajah papa yang terlihat sangat khawatir dengan kondisi citra.
__ADS_1
" Tidak perlu pa! Tangan kanan citra tidak sakit sama sekali pa" kata citra mencegah papa untuk pergi.
" Kamu pasti sedang berbohong kan?!" ujar papa tidak percaya dengan perkataan citra