
" Lebih baik papa dan mama baca saja sendiri surat yang aku ambil saat aku tanpa sengaja bertabrakan dengan kakak tadi" ucap citra sambil memberikan surat dari rumah sakit
" Devina maksud dari surat ini apa?" tanya papa
Devina hanya bisa menundukkan kepala tanpa berani menatap mata papa nya.
" Sekarang jelaskan kepada papa, apa maksud dari surat ini. Devina!" ucap papa yang berusaha untuk tidak berbicara dengan nada tinggi karena ini masih di rumah sakit
" Kamu jangan hanya diam saja, sekarang lebih baik kamu jelaskan daripada nanti papa marah, kamu tahu kan kalau papa marah bagaimana?!" ucap papa
" Itu surat dari dokter yang sudah membantu aku untuk aborsi pa" ucap devina tanpa berani menatap mata papa nya
" Jadi, yang di katakan citra benar, kalau kamu sudah membunuh bayi yang tidak berdosa, hanya karena kamu tidak tahu siapa ayah dari bayi itu?!" tanya papa
" Iya pa, yang tadi di katakan citra itu semua benar pa" jawab devina
" Devina sudah melakukan aborsi pa, itu semua devina lakukan karena devina di suruh oleh pacar devina pa" ucap devina
" Devina, devina kamu kapan sih akan berubah!" ucap papa
" Maksud papa apa?" tanya devina
" Kamu masih tanya maksud papa apa?!" ucap papa geram dengan sikap devina
" Maksud papa, kamu kapan akan berubah untuk tidak berfoya-foya!" jawab papa
" Contoh citra, dia selalu membantu orang lain yang kurang mampu" kata papa
" Dia juga sering berbagi dengan orang yang kurang mampu, dan papa sangat bangga karena dia melakukan semua itu dengan uang hasil keringat dia sendiri, dan tidak pernah meminta uang kepada papa atau pun mama!" ucap papa
Devina mulai kesal karena papa nya kini mulai sayang kepada citra, tidak seperti dulu yang selalu bersikap dingin kepada citra.
" Citra terus! citra terus! Kenapa sih papa sekarang dekat banget sama citra, apa yang citra katakan papa turuti!" ucap devina kesal
" Memang nya kenapa kalau papa menuruti kata-kata citra, kamu marah?!" ujar papa
" Iya, aku marah karena sekarang papa dan mama tidak sayang lagi sama aku" jawab devina
" Kamu marah karena sekarang papa lebih sayang kepada citra?" tanya papa
" Iya, aku marah!" jawab devina
" Kenapa kamu harus marah, kami kan hanya melakukan apa yang seharusnya kami lakukan sejak dulu kepada citra, yaitu kami memberikan kasih sayang dan perhatian kepada citra" ucap mama
" Andai saja waktu itu kamu tidak egois, mungkin citra juga akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari papa dan mama sejak kecil" ujar papa
" Pa ma sudah ya, ini kan di rumah sakit, malu kalau ada yang datang terus melihat kita semua sedang bertengkar!" ucap citra mencoba untuk menghentikan keributan yang sedang terjadi
" Hei citra! lebih baik kamu diam saja, jangan kira kamu sekarang sudah menang karena papa dan mama sekarang sudah mulai sayang sama kamu!" ucap devina
" Maksud omongan kakak apa?" tanya citra
" Jangan kira aku tidak tahu, apa yang sudah kamu lakukan kepada papa dan mama setelah aku pergi dari rumah" ucap devina
" Memang kakak tahu apa yang sudah aku lakukan setelah kakak pergi dari rumah?" tanya citra
" Kakak tidak tahu kan, setelah kakak pergi dari rumah, aku di paksa oleh papa untuk berpura-pura menjadi kakak dan menikah dengan kak vito" ucap citra
" Supaya papa tidak dilaporkan ke polisi, karena telah menipu kak vito" imbuh nya
" Dan setiap hari juga aku harus berpura-pura menjadi kakak agar mereka tidak curiga kalau aku bukan kak devina yang sebenarnya!" ucap citra
__ADS_1
" Mulai sekarang, aku sudah tidak mau lagi berpura-pura menjadi kakak, karena sekarang aku ingin menjadi diriku sendiri" sambung citra
" Percuma aku membantu orang tapi, orang itu tidak berterimakasih malah menuduh aku berbuat hal yang tidak-tidak untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari papa dan mama" ujar citra kesal
Setelah selesai bicara, citra langsung pergi meninggalkan mereka ( papa, mama dan devina).
Saat di perjalanan menuju ruangan oma nya, citra tanpa sengaja berpapasan dengan dokter raka.
" Citra!" sapa dokter raka
" Dokter raka, ada apa dok?" tanya citra
" Kamu darimana?" tanya dokter raka
" Habis jalan-jalan dok" jawab citra
" Kamu sudah makan belum?" tanya dokter raka
" Belum dok" jawab citra
" Kenapa memang dok?" tanya citra
" Kita makan yuk!" ajak dokter raka
" Maksud aku tadi..." ucap dokter raka
belum selesai dokter raka menjelaskan citra langsung berkata " Ayo dok! lagipula aku juga sudah lapar nih dok"
" Jadi, kamu mau makan bersama aku?" tanya dokter raka
" Iya mau" jawab citra
" Benar? Kamu mau makan bersama aku?" tanya dokter raka tidak percaya dengan jawaban citra
" Yes!!" seru dokter raka seperti orang yang sedang mendapatkan hadiah
Karena bingung dengan apa yang dilakukan oleh dokter raka, citra pun langsung bertanya " Dokter raka kenapa?"
Karena takut di tertawa kan oleh citra, dokter raka pun langsung berkata " hehe aku tidak apa-apa kok, cuman lagi happy saja"
" Yasudah, ayo kita berangkat!" ajak dokter raka untuk mengalihkan pembicaraan
" Atau kamu mau ketemu sama oma kamu dulu ra?" tanya dokter raka
Citra hanya menganggukkan kepalanya
" Yasudah, kita pergi ke ruangan oma kamu dulu yuk!" ajak dokter raka
" Iya dok" ucap citra sambil tersenyum
Mereka berdua langsung pergi ke ruangan oma, sesampainya di depan pintu dokter raka langsung membuka pintu, mereka berdua langsung masuk kedalam.
Betapa terkejutnya citra saat melihat seseorang yang tadi dia bicarakan.
" Manusia kutub!" ucap citra sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya
Mendengar ucapan citra, dokter raka langsung menoleh ke arah citra lalu bertanya " Manusia kutub, maksud nya apa ra?"
Citra hanya menggelengkan kepalanya, sambil berkata " Bukan apa-apa kok dok"
Dokter raka kembali melihat kearah depan, dia terkejut melihat sahabatnya ada di ruangan oma nya citra
__ADS_1
" Vito!" ucap dokter raka saat melihat kearah seseorang yang sedang ngobrol dengan oma nya citra
" Kamu ngapain ada disini?" tanya dokter raka kepada sahabat nya
" Ya aku jenguk oma lah, memang nya mau ngapain lagi" jawab vito dengan nada yang sedikit gugup.
" Kamu ini kenapa sih vit? tidak biasa nya kamu seperti ini?" tanya dokter raka sambil berjalan mendekati vito
" Memang aku kenapa?" tanya vito dengan ekspresi wajah datar
Dokter raka hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
" Dokter raka!" panggil oma
" Iya oma, ada apa?" tanya dokter raka
" Tadi dokter raka datang ke sini nya dengan siapa?" tanya oma
" Dengan citra, oma" jawab dokter raka
" Dimana dia dok?" tanya oma
" Dia masih ada di depan pintu oma" jawab dokter raka
" Eca!" panggil oma
" Iya oma" jawab citra sambil mengusap air matanya
" Ada apa oma?" tanya citra
" Sini!" kata oma sambil memberikan isyarat tangan
Citra pun langsung berjalan ke arah samping oma nya, setelah sampai di samping oma nya citra lalu bertanya " Ada apa oma?"
" Oma cuman mau melihat cucu oma, sebelum oma pergi" ucap oma
" Memang oma mau pergi kemana? oma kan lagi sakit?" tanya citra sambil tertawa
" Eca!" panggil oma
" Iya oma, ada apa oma?" tanya citra
Saat citra sedang bertanya kepada oma nya, tiba-tiba terdengar suara handphone berdering.
" Maaf oma, saya mau angkat telepon dulu" ucap dokter raka
Ternyata suara handphone berdering itu berasal dari handphone nya dokter raka.
" Iya silahkan dok" kata oma
Setelah mendapat ijin dari oma, dokter raka pergi untuk mengangkat telepon.
" Ca, oma minta maaf ya" ucap oma
" Minta maaf untuk apa oma?" tanya citra bingung
" Oma tidak bisa menemani kamu saat kamu pergi tanding bulan depan ra" jawab oma
" Kenapa tidak bisa menemani eca tanding?" tanya citra
" Karena oma mau menyusul kakek kamu ca" jawab oma
__ADS_1
" Oma kenapa bilang seperti itu, oma harus yakin kalau oma itu bisa sembuh" ucap citra dengan mata berkaca-kaca