
" Alhamdulillah ra, kamu akhirnya bangun juga!" kata dokter ridwan sambil berjalan kearah citra dan vito.
" Bang ridwan!" citra terkejut saat mendengar suara dokter ridwan.
Vito berdiri menutupi pintu masuk jadi, jika ada yang datang citra tidak bisa melihat nya.
" Dokter ridwan? Apa dia sudah datang?" tanya vito datar.
" Tidak tahu, tadi aku seperti mendengar suara nya bang ridwan" jawab citra.
" Minum lagi!" ucap vito menyuruh citra untuk minum air putih.
Citra pun hanya bisa menuruti perintah vito.
Saat citra sedang minum, tiba-tiba...
Uhuk! Uhuk!
Citra tersedak saat melihat dokter ridwan sudah ada di samping vito.
" Maka nya kalau minun itu pelan-pelan ra?" tanya vito khawatir.
" Hem!" jawab citra sambil menganggukkan kepala.
" Bang ridwan?!" kata citra terkejut.
" Pelan-pelan ra" kata dokter ridwan sambil berjalan kearah nya.
" Kamu tidak apa-apa?" tanya dokter ridwan khawatir
Citra hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata " Tidak apa-apa bang"
" Jadi, abang yang merawat aku?" tanya citra.
" Iya ra, abang yang akan merawat kamu sampai kamu sembuh ra" jawab dokter ridwan.
Citra hanya tersenyum.
" Sekarang abang periksa kamu dulu ya!" ujar dokter ridwan.
Citra hanya menganggukkan kepalanya.
Dokter ridwan pun mulai memeriksa kondisi citra, disela-sela memeriksa kondisi citra dokter ridwan bertanya kepada citra " Kamu sudah makan ra?"
" Sudah bang" jawab citra.
" Kamu makan pakai apa?" tanya dokter ridwan dengan tatapan menyelidik.
" Tadi sebelum kejadian aku sudah makan, itu saja saja aku makan kan?!" jawab citra bohong.
" Iya juga sih ra" kata dokter ridwan sambil menganggukkan kepala.
__ADS_1
" Terus, itu tadi siapa yang makan?" tanya dokter ridwan sambil melihat kearah bekas bungkus bubur yang ada di atas meja.
" Tadi pak vito makan bang, dia belum sarapan. Jadi, dia membeli makanan untuk dia sendiri" jawab citra.
" Kenapa dia tidak bilang kepada dokter ridwan jika aku yang sudah membelikan nya bubur untuk dia makan!" ucap vito dalam hati.
" Apa mungkin dia tidak mau jika dokter ridwan marah kepada ku?" tanya vito dalam hati.
Sudut bibir vito sedikit naik saat mendengar ucapan citra.
" Oh iya! Tadi saya belum jadi mengajak anda pergi untuk sarapan ya, maaf ya pak vito" ucap dokter ridwan.
" Iya tidak apa-apa, tadi saya juga sudah makan" jawab vito dingin.
" Bagaimana dok kondisi citra?" tanya vito dingin.
" Kondisi citra sudah membaik, jadi,..." jawab dokter ridwan.
Belum selesai dokter ridwan menjawab pertanyaan vito, citra sudah menyela pembicaraan " Jadi, aku sudah boleh pulang!"
" Siapa bilang kamu sudah pulang?!" tanya dokter ridwan sambil menaik turunkan alis.
" Ya kan! Tadi abang sendiri yang bilang kalau kondisi aku sudah membaik. Jadi ya aku sudah boleh pulang kan?!" jawab citra.
" Jadi menurut kamu, kalau kondisi kamu sudah membaik jadi, kamu sudah boleh pulang? Iya begitu?!" ujar dokter ridwan.
" Ya iyalah! Kan aku sudah membaik itu artinya aku sudah sembuh, kalau aku sudah sembuh untuk apa aku terus berada di rumah sakit!" jawab citra.
Mendengar ucapan citra membuat semua orang yang ada disana terheran-heran dengan jalan pemikiran citra.
" Jadi, kamu lebih peduli dengan biaya yang kamu keluarkan dari pada nyawa kamu sendiri! Iya ra?!" geram dokter ridwan.
" Kata siapa aku tidak peduli dengan nyawa ku? Aku peduli kok. Tapi, kalau aku di sini terus dan biaya rumah sakit semakin membengkak siapa yang akan membayar nya? Abang yang membayar nya?! Tidak mungkin karena sekarang abang sudah menikah jadi, abang tidak mungkin membayar biaya rumah sakit ku!" ujar citra.
" Kamu tidak perlu khawatir soal biaya rumah sakit, karena rumah sakit ini milik ku!" ujar vito.
Citra terkejut mendengar ucapan vito.
" Aku tidak mau!" tolak citra.
" Kenapa? Saya ikhlas kok" kata vito penasaran.
" Karena aku tidak mau berhutang budi kepada anda! Yang ada nanti anda meminta hal yang aneh-aneh kepada ku untuk membayar hutang budi lagi!!" jawab citra.
Vito terkejut dengan jawaban citra, dia teringat kesalahpahaman yang kejadian tadi malam antara citra dan dirinya.
" Jadi, dia takut aku akan melakukan hal seperti tadi malam?!" batin vito.
" Padahal aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi!" batin vito.
" Kamu tenang saja, kamu bisa membayar biaya rumah sakit itu kapan saja kepada ku! Tapi, untuk sekarang kamu dengarkan apa yang di katakan oleh dokter ridwan, itu semua juga untuk kesehatan kamu ra!" ucap vito dengan nada lembut.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat citra kembali berpikir " Apa sebaiknya aku turuti saja perkataan bang ridwan untuk di rawat di sini sampai tangan ku benar-benar sembuh".
" Yasudah lah, lagipula aku kembali ke London nya juga masih lama" ucap citra dalam hati.
" Bagaimana? Kamu mau kan dirawat di sini sampai tangan kamu sembuh?!" tanya vito penasaran.
" Iya aku mau!" jawab citra ketus.
" Alhamdulillah" ucap syukur vito dan dokter ridwan.
" Yasudah! Sekarang kamu istirahat, nanti abang kesini lagi untuk memeriksa kondisi kamu, sekalian mengawasi kamu untuk MINUM OBAT!!" ucap dokter ridwan dengan menekankan kata terakhir.
" Iya-iya! Aku tidak akan melakukan hal seperti dulu lagi!" ucap citra sambil menundukkan kepala.
" Oke! Abang pergi dulu!" ucap dokter ridwan sambil mengusap kepala citra.
" Semangat bang! Ingat nyawa pasien nomor satu!" ucap citra mengingatkan dokter ridwan.
" Siap bu bos citra! Nasehat bu bos citra pasti selalu aku ingat!" ucap dokter ridwan sambil menganggukkan kepala.
Sebelum pergi dokter ridwan berpesan kepada citra " Kamu harus istirahat! Oke!!"
" Oke!!" jawab citra sambil tersenyum.
Dokter ridwan pun pergi dari ruangan itu, saat dokter ridwan baru saja keluar dari pintu citra teringat sesuatu.
" Bang ridwan!" panggil citra.
Tetapi seseorang yang dia panggil sudah pergi.
" Yah! Orang sudah pergi, padahal baru saja aku mau tanya sesuatu" kata citra dengan ekspresi kecewa.
" Memang nya kamu mau tanya dengan dokter ridwan?!" tanya vito dengan ekspresi wajah datar.
" Aku mau tanya apakah keluarga ku mengetahui kalau aku dirawat di rumah sakit tidak" jawab citra.
" Kamu tenang saja, keluarga kamu tidak ada yang mengetahui kalau kamu sedang dirawat di rumah sakit" ujar vito mencoba untuk menenangkan citra.
" Syukur lah, kalau mereka tidak mengetahui nya karena aku tidak mau membuat mereka semua khawatir" ucap citra tersenyum.
" Terimakasih" ucap vito
" Terimakasih untuk apa?!" tanya citra bingung.
" Terimakasih karena kamu tadi tidak memberitahu dokter ridwan kalau aku sudah membelikan kamu bubur untuk sarapan" jawab vito dengan ekspresi datar.
" Iya sama-sama, aku juga mau mengucapkan terimakasih karena anda sudah membawa aku ke rumah sakit " ucap citra sambil tersenyum.
" Iya sama-sama" jawab vito sambil tersenyum.
" Ternyata kamu bisa tersenyum juga, aku kira kamu tidak bisa tersenyum!" ucap citra terkejut melihat vito tersenyum
__ADS_1