
Mendapat tatapan maut dari farel, citra pun tidak bisa lagi berkutik.
" Oke! Aku akan jawab jujur tadi aku jatuh saat naik motor mau kesini" ucap citra sambil mengangkat kedua tangannya di atas kepala
" Kenapa bisa jatuh? Pasti kamu kebut-kebutan lagi?!" tanya farel dengan nada mengintimidasi
" Aku tidak kebut-kebutan kok" jawab citra sambil memalingkan wajahnya
" Kalau kamu tidak kebut-kebutan kenapa bisa jatuh dan kaki kamu terluka!?" ujar farel
" Kamu pasti bohong kan ca!" lanjut farel
Citra hanya diam tidak berani menatap mata farel
Huft..
Farel menghela napas berat sebelum berkata " Ca, kan aku sudah pernah bilang kalau naik motor jangan kebut-kebutan, itu sangat berbahaya. Mengerti!"
Citra hanya menganggukkan kepalanya sambil berkata " Maaf, tadi khilaf"
" Sebenarnya tadi dari bandara aku santai saja kok naik motor nya tapi, di perjalanan menuju rumah oma terjebak macet jadi nya aku ketinggalan mobil ambulans yang membawa jenazah oma" ujar citra
" Terus saat di jalan yang sepi aku menambah kecepatan motor ku, supaya aku bisa cepat sampai di sini, terus...." lanjut citra tidak meneruskan ucapannya
" Terus kamu jatuh!" tebak farel
Citra hanya menganggukkan kepala
" Kaki kamu kenapa bisa bengkak seperti itu, apa jangan-jangan kaki kamu patah?!" tanya farel
" Enak saja bilang kalau kaki ku patah!" protes citra
" Kalau kaki kamu tidak patah, kenapa kaki kamu seperti itu?" tanya farel
" Kaki ku cuma keseleo, dokter sama perawat nya saja yang lebai, kaki ku pakai di bungkus seperti itu" jawab citra
" Kalau untuk masalah kaki ku yang bengkak itu karena tadi di persimpangan jalan menuju rumah aku lari, jadi bengkak deh kaki ku" ucap citra
Farel geleng-geleng kepala mendengar ucapan citra
" Sudah tahu kaki nya sakit, malah pakai acara lari-lari jadi bengkak kan kaki kamu ca!" kata farel
" Sekarang ambil motor kamu!" perintah farel
" Buat apa?" tanya citra bingung
" Kata nya tadi mau ketemu sama bang ridwan ca!" jawab farel
" Motor ku hilang rel!" ucap citra
" Hilang ca! Kok bisa?!" ucap farel terkejut mendengar ucapan citra
" Iya bisa lah rel" kata citra
" Bagaimana ceritanya ca, kok bisa hilang?" tanya farel
" Setelah aku menabrak sesuatu, terus aku pingsan dan saat aku sadar sudah di rumah sakit" jawab citra
__ADS_1
Baru saja farel akan bertanya lagi, citra langsung berkata " STOP!!"
" Sudah cukup! Kalau kamu tanya terus, kapan aku pergi menemui bang ridwan nya farel!" Kata citra
" Bye!! " Ucap citra sambil pergi
Farel hanya tersenyum melihat citra pergi.
Farel berjalan menuju vito dan yang lain nya, sesampainya di depan vito dia langsung bertanya " Kamu kapan menikah vit?"
" Sudah hampir satu bulan " jawab vito
" Kenapa kamu tidak memberitahu aku vit?" tanya farel
Belum sempat vito menjawab, papa nya citra datang dan bertanya " Farel, citra nya mana?".
" Eca pergi menemui dokter ridwan om" jawab farel
" Menemui dokter ridwan?!" kata papa bingung
" Iya om, karena dokter ridwan bilang ada sesuatu yang mau beliau jelaskan" jawab amel
" Mungkin beliau mau menjelaskan alasan mengapa beliau tidak memberitahu citra tentang penyakit oma " lanjut amel
" Mereka mau bertemu dimana mel?" tanya papa
" Kata nya sih tempat biasa om" jawab amel
" Heh! Tempat biasa?" sinis devina
" Kenapa harus pergi ke tempat lain, kenapa tidak disini saja, atau jangan-jangan citra dan dokter ridwan ada hubungan spesial lagi!" lanjut devina
Semua orang yang ada di sana terkejut dengan suara farel.
Mereka semua pun masuk kedalam rumah, agar tidak ada yang melihat kejadian tersebut.
" Kamu itu keterlaluan! Dari dulu ternyata kamu tidak pernah berubah" geram farel
" Tega-teganya kamu memfitnah adik kamu sendiri" kata farel
" Maksud kamu apa? Bicara seperti itu?" tanya devina
" Jangan kira aku tidak tahu siapa orang yang sudah mencuri kalung nya tante veronica!" ujar farel sambil tersenyum sinis
" Tante, dulu tante pernah kehilangan sebuah kalung kan?" tanya farel
" Iya benar" jawab mama
" Tante mau tahu siapa orang yang sudah mencuri kalung itu?" tanya farel
" Tante sudah tahu siapa yang sudah mengambil kalung tante rel" jawab mama
" Tante yakin sudah menemukan pelaku yang sebenarnya?" tanya farel
" Memang kamu tahu siapa pelakunya rel?" tanya papa
" Tentu saja aku tahu om, kalau om dan tante mau tahu pelaku sebenarnya, om dan tante lihat saja sendiri" jawab farel sambil memberikan handphone nya kepada papa dan mama
__ADS_1
" Devina! Kamu benar-benar keterlaluan!" geram papa
" Maaf vit, karena aku bicara kasar kepada istri kamu" ucap farel meminta maaf kepada vito
" Santai saja rek, aku sudah kenal kamu dari dulu jadi, aku tahu sifat kamu" kata vito
" Kalau om dan tante mau tahu apa yang sedang citra dan dokter ridwan lakukan saat ini, farel akan tunjukkan dimana mereka saat ini berada" ujar farel
" Memang kamu tahu dimana mereka berada?" tanya devina
" Tahu, karena tempat itu dekat dari sini" jawab farel
" Oke! Ayo kita kesana!" kata devina
" Kalian pergi saja menyusul citra, om dan tante di sini saja!" ujar papa
" Kalau begitu kita permisi dulu" pamit farel
Di jawab oleh anggukan kepala dari papa nya citra
Mereka kini sudah bersiap untuk pergi ke tempat citra dan dokter ridwan berada tapi, saat mereka akan berangkat terdengar suara papa menghentikan langkah mereka.
" Tunggu dulu!" ucap papa
" Ada apa om?" tanya farel sambil menoleh ke arah belakang
" Devina! Kamu tetap disini, karena ada yang ingin papa bicarakan dengan kamu!" ujar papa
" Memang ada apa pa?" tanya devina
" Ada hal penting yang ingin papa bicarakan dengan kamu vin" jawab papa
" Tapi pa!" ucap devina
" Tidak ada kata tapi vina!" bentak papa
Devina terkejut mendengar suara papa nya
" Maaf ya om tadi bicara dengan nada tinggi" ucap papa
" Iya tidak apa-apa om" jawab farel
" Yasudah, kami pamit dulu" pamit farel
" Iya, kalian hati-hati di jalan" ucap papa
Farel dan yang lain nya pergi menyusul citra dan dokter ridwan
Disisi lain
Kini citra sudah sampai di tempat janjian mereka
" Maaf, aku terlambat" ucap citra saat di samping dokter ridwan
" Citra!" ucap dokter ridwan saat mendengar suara citra
" Tidak apa-apa, kamu mau datang saja aku sudah senang banget ra" ucap dokter ridwan
__ADS_1
" Sini duduk ra!" ucap dokter ridwan mempersilahkan citra duduk di sebelah nya
Citra yang merasa kaki nya seperti mati rasa pun langsung duduk di samping dokter ridwan