Mendadak Menjadi Istri CEO

Mendadak Menjadi Istri CEO
Eps 82


__ADS_3

Citra semakin heran dengan sikap vito, citra teringat dengan ucapan suster tadi


" Tunggu dulu kenapa tadi suster ini bilang kalau suami ku sayang sama aku, tapi kan aku belum menikah atau jangan-jangan....!" ucap citra dalam hati


" Daripada penasaran, mending aku tanya langsung ke suster saja deh" batin citra


" Sus, tadi suster kan bilang kalau aku di antar ke rumah sakit sama suami ku" ucap citra


" Iya bu, yang mengantar ibu memang suami ibu" ucap suster tersebut


" Yang suster bilang suami aku itu laki-laki yang tadi keluar sus?" tanya citra


" Iya bu, laki-laki yang tadi keluar setelah dokter bu" jawab suster tersebut


" Laki-laki itu suami aku sus?" tanya citra tidak percaya


" Iya bu, beliau sendiri yang bilang kalau beliau adalah suami ibu" jawab suster tersebut


" Dia bilang seperti itu sus?" tanya citra tidak percaya


" Iya bu, pingin deh saya punya suami seperti suami nya ibu" jawab suster tersebut


" Mending jangan sus!" ucap citra


" Aku kasih tahu ya sus, kalau punya suami jangan seperti laki-laki itu sus!" sambung citra


" Memang kenapa bu, kan suami nya ibu romantis bu" ucap suster tersebut


" Romantis darimana sus, yang ada dia itu seperti kutub utara. Dingin!" ucap citra


" Selain itu dia juga wajah nya seperti papan. Datar tidak pernah senyum sus orang nya" kata citra


Ehkem!...


Terdengar suara seseorang berdehem


" Saya permisi dulu bu" ucap suster tersebut ketakutan


" Iya sus, terimakasih ya sus" ucap citra


" Iya sama-sama bu" jawab suster tersebut


" Mari pak" ucap suster tersebut


" Hem!" ucap vito


Setelah suster itu pergi citra langsung mencoba untuk turun dari hospital bed, tapi kaki nya masih terasa sakit, hal itu membuat nya jatuh kembali.


Disaat citra sedang berusaha untuk berdiri, vito sibuk dengan handphone nya sehingga, tidak memperhatikan citra sedang apa


" Aku pasti bisa!" ucap citra memberi semangat kepada dirinya sendiri


" Bismillahirrahmanirrahim" ucap citra sambil mencoba berdiri kembali


" Alhamdulillah" ucap citra bersyukur akhirnya dia bisa berdiri


Tapi, saat dia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba kaki nya terasa berat untuk melangkah sehingga membuat citra hampir terjatuh.


Untung ada vito di dekatnya, sehingga vito langsung menangkap tubuh citra agar tidak jatuh ke lantai.


Baru saja citra akan mengucapkan terimakasih kepada vito karena telah menolong diri nya, sehingga dia tidak jatuh ke lantai, vito sudah berkata " Kalau belum bisa sendiri, lebih baik minta tolong! "


" Kaki kamu tuh masih terluka, kalau mau turun lebih baik minta tolong sama orang lain!" ucap vito dengan ekspresi datar


" Aku itu mau jalan bukan mau turun" ketus citra


Bukan nya membantu citra untuk jalan, vito kembali mendudukkan citra di hospital bed.


Setelah mendudukkan citra di hospital bed, vito kembali fokus pada handphone nya, hal itu membuat citra kesal.


" Sudah susah-susah berdiri, ini malah di suruh duduk lagi!" kesal citra


Dengan perasaan kesal citra kembali mencoba untuk berdiri lagi, dia pun bisa berdiri lagi, lalu dia mengambil tas kecil yang ada di meja samping nya.


Saat vito sedang fokus pada handphone nya citra mencoba untuk melangkahkan kakinya perlahan, hingga akhirnya dia bisa sampai di depan pintu.


Tapi sialnya, saat dia akan membuka pintu kaki nya terkena pintu, hal itu membuat kaki nya terasa sakit kembali.


Aw....


Citra mengaduh kesakitan.


Dengan perlahan citra duduk di lantai.


Vito yang mendengar suara citra kesakitan pun segera mengalihkan pandangannya dari handphone dia terkejut saat melihat ke arah hospital bed citra sudah tidak ada disana.


" Loh! Kok tidak ada!" ucap vito


" Kemana orang nya!" kata vito sambil mencari sekeliling


Saat vito melihat kearah pintu dia terkejut melihat citra yang sedang berusaha untuk berdiri, vito pun langsung berlari menghampiri citra.


" Sudah tahu kaki sakit, masih saja keras kepala!" ucap vito sambil membantu citra berdiri


" Minggir! Aku bisa sendiri!" kesal citra sambil menyingkirkan tangan vito


"Sudah tahu aku mau pergi ke acara pemakaman nya oma, bukan nya aku di bantu berdiri, dia malah asik main handphone terus" citra mendengus kesal


" Saat tahu aku jatuh, dia marah-marah!" gumam citra


" Dasar egois!" kesal citra


" Ini lagi kaki pakai terkena pintu segala, jadi sakit lagi kan" gerutu citra


Vito yang masih ada di sampingnya pun mendengar semua yang citra katakan.


" Jadi, dia tadi itu mau pergi tapi kaki nya terkena pintu, maka nya tadi dia teriak kesakitan" batin vito


" Minggir! Aku mau keluar!" ucap citra ketus

__ADS_1


Vito berniat ingin membantu citra berjalan, tapi citra berkata " Jangan pegang-pegang, aku bisa jalan sendiri!"


Vito pun langsung melepaskan tangannya, dan langsung menggendong citra ala bridal style seperti saat dia membawa citra ke rumah sakit.


Citra yang di gendong secara mendadak pun terkejut dan langsung berkata " Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" sambil terus memberontak agar vito menurunkan dirinya


" Kalau kamu masih bergerak dan berontak aku tidak akan


" Diam! Jangan bergerak! Atau saya akan membuat kamu menyesal!" ancam vito


Citra yang mendengar nya pun langsung terdiam, karena dia tahu apa konsekuensinya kalau vito sudah marah.


Vito yang melihat citra tidak memberontak lagi diam-diam dia tersenyum.


Vito melanjutkan perjalanan menuju mobil nya, selama perjalanan menuju mobil semua orang yang mereka lewati berbisik membicarakan tentang keromantisan mereka berdua.


Hal itu membuat citra merasa malu, dia pun menyembunyikan wajahnya di dada bidang vito.


Apa yang dilakukan citra membuat hati vito berdegup kencang, citra pun dapat mendengar suara detak jantung vito.


" Kenapa jantungku berdegup kencang banget ya, apa waktu itu diagnosis raka salah ya" ucap vito dalam hati


Vito pun kembali memasang wajah datar sambil mempercepat langkahnya agar mereka cepat sampai di mobil.


Mereka berdua akhirnya sampai di tempat parkir, vito langsung menyuruh citra untuk mengambil kunci mobil yang ada di saku jas milik nya.


Setelah ketemu citra langsung menekan tombol pada kunci mobil.


" Cepat buka pintu nya!" ucap vito menyuruh citra untuk membuka pintu mobil


" Sudah tahu!" kata citra sambil mencoba membuka pintu mobil


Vito pun terpaksa melakukan nya sendiri, setelah pintu mobil terbuka vito mendudukkan citra di kursi samping kemudi, setelah citra duduk vito langsung menutup pintu mobil, lalu dia berlari ke arah pintu sebelah pengemudi.


Setelah masuk vito langsung tancap gas meninggalkan rumah sakit tersebut.


Selama perjalanan menuju rumah oma tidak ada percakapan diantara mereka, vito fokus menyetir


sedangkan citra fokus melihat kearah luar jendela.


" Kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh dalam diriku saat aku bersama citra ya" ucap vito dalam hati


" Terus, kenapa tadi aku bilang ke dokter kalau aku adalah suami nya citra" batin vito


" Wajar lah kalau dia terkejut dan marah saat dia tahu kalau aku mengaku sebagai suami nya dia, padahal aku hanya kakak ipar dia, itu pun sementara" ucap vito dalam hati


Vito tidak berani menatap mata citra, karena dia merasa seperti ada sesuatu pada mata citra.


Saat citra sedang asik melihat pemandangan, dia terkejut.


" Loh! Kok lewat sini!" batin citra sambil terus melihat kearah jendela


" Inikan bukan arah ke rumah oma" batin nya


" Dia sebenarnya tahu dimana alamat rumah oma atau tidak sih!" gumam citra


Karena tahu terlambat datang ke acara pemakaman oma, citra langsung berkata " BERHENTII!!!!"


Akibat vito menginjak pedal rem secara mendadak membuat kepala citra terbentur bahsboard mobil.


Aw...


" Kalau nyetir mobil yang benar, kepala ku sakit tahu!!" kesal citra sambil mengusap-usap dahi nya


" Kenapa kamu menyalahkan saya, jelas-jelas kamu yang salah!" ucap vito


" Memang aku apa?" tanya citra


" Kamu kan yang menyuruh saya untuk berhenti, maka nya saya langsung menginjak pedal rem" jawab vito


" Iya juga sih" ucap citra pelan sambil garuk-garuk kepala


" Itu kan, kamu saja sudah mengaku kalau kamu yang salah!" kata vito


" Memang ada apa kamu menyuruh saya untuk berhenti?" tanya vito


" Memang bapak tahu dimana alamat rumah oma?" tanya citra


Vito termenung sejenak sebelum menjawab " Tidak!"


" Kalau memang tidak tahu kenapa bilang dari awal pak!" kesal citra


" Terus sekarang ini kita mau pergi kemana?" tanya citra


" Ya mana saya tahu, kita sekarang ini mau kemana!" jawab vito


" Astaghfirullahalazim, sabarkanlah hamba mu ini ya tuhan" ucap citra sambil mengusap dada


" Kamu kenapa?" tanya vito heran


" Tidak apa-apa" jawab citra


" Sekarang lebih baik aku turun disini saja, nanti mau naik ojek saja biar cepat sampai" ucap citra


" Maksud kamu apa bilang seperti itu?" tanya vito


" Kalau sekarang kita harus putar balik ke jalan yang benar itu akan memakan banyak waktu pak sedangkan, oma akan dimakamkan satu jam lagi pak" jawab citra


" Yang ada nanti aku tidak bisa bertemu dengan oma untuk yang terakhir kali nya pak" ucap citra sambil mengusap air mata di pipi


Hiks... Hiks


Vito melihat citra menangis membuat dia tidak tega


" Sekarang bilang alamat rumah oma kamu ada dimana, saya janji kita akan sampai disana sebelum oma kamu di makamkan" ucap vito pelan


Citra tidak menjawab pertanyaan vito, dia hanya memandangi foto oma nya sambil menangis.


Vito menelpon seseorang untuk mencari tahu dimana alamat rumah oma nya citra, setelah dia mengetahui alamat nya dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar mereka bisa sampai di sana tepat waktu.

__ADS_1


" Sudah kamu diam, sebentar lagi kita akan segera sampai" ucap vito pelan


Ternyata yang dikatakan oleh vito benar, mobil mereka kini sudah memasuki kompleks perumahan menuju rumah oma


Vito menghentikan mobilnya tepat di persimpangan jalan sebelum sampai di rumah oma.


" Sudah diam ya, jangan menangis lagi, kita sudah mau sampai" ucap vito sambil mengusap air mata di pipi citra


Citra terkejut dengan ucapan vito, lalu dia mengalihkan pandangannya dari handphone nya dan melihat sekeliling.


" Ini kan persimpangan jalan sebelum sampai ke rumah oma" batin citra


Citra menoleh kearah samping dan....


CUP!....


Tanpa sengaja bibir citra mencium pipi vito, tapi ciuman itu tidak berlangsung lama karena citra langsung memalingkan wajahnya


" Maaf, tidak sengaja" ucap citra


Vito hanya menganggukkan kepala


" Aku turun disini saja" ujar citra


Vito terkejut dengan ucapan citra


" Tidak bisa, kaki kamu masih sakit jangan di paksa untuk jalan terlebih dahulu" ucap vito


" Tidak pak, aku tidak mau nanti kak devina jadi salah paham dengan aku, karena kita datang kesini nya bersama" ucap citra citra menjelaskan alasan kenapa dia ingin turun


" Terimakasih ya pak, karena pak vito sudah menepati janji nya" lanjut citra sambil tersenyum manis


Dag... Dig... Dug...


Jantung vito berdegup kencang saat melihat citra tersenyum manis


" Iya sama-sama ra, jalan nya hati-hati ya!" ucap vito pelan sambil tersenyum


Citra membuka pintu mobil dan keluar, sebelum pergi dia berkata " Terimakasih untuk tumpangannya"


Vito hanya menganggukkan kepalanya


" Kenapa aku merasa senang saat melihat dia tersenyum ya" batin vito


Vito pun langsung membuang jauh pikiran yang aneh-aneh.


Vito kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan sambil terus memperhatikan citra yang sedang berjalan.


" Kalau aku jalan nya pelan seperti ini terus sampai ke rumah oma nya kapan?" tanya citra dalam hati


" Kenapa disaat seperti ini, kaki ku tidak bisa di ajak kerjasama sih" kesal citra


Disaat citra sedang berusaha untuk jalan terlebih cepat, tiba-tiba dia melihat sosok oma di depan nya yang menunggu dirinya dengan senyuman.


Citra langsung berkata" Oma!!"


Dengan menahan rasa sakit di kaki nya hanya untuk bisa menyusul sang oma yang terus berjalan menjauh.


Kini citra sudah tidak peduli dengan rasa sakit di kaki nya, dia memutuskan untuk berlari agar cepat sampai, tapi bayangan sang oma tiba-tiba menghilang tepat di samping jenazah beliau.


" Kaki kamu kenapa ra?" tanya amel


Sebelum sampai di rumah oma nya citra mencari toilet umum untuk melepas celana jeans yang dia pakai.


" Ra! Citra!" panggil amel sambil menepuk bahu citra


" Ha! Apa ?" kata citra terkejut


" Kaki kamu kenapa?" tanya amel


" Jatuh" jawab citra


" Oma mana?" tanya citra kepada amel


" Yang ada di depan kamu sekarang itu oma kamu ra" jawab amel


" Maksud kamu apa?" tanya citra


" Ra, kamu baik-baik saja kan? Jangan membuat aku takut ra!" ucap amel khawatir


" Mending kita kesana dulu yuk!" ajak amel


" Aku mau disini saja, aku mau menemani oma mel" kata citra sambil duduk di samping jenazah sang oma


" Tadi kamu di cari papa kamu, kita temui papa kamu dulu yuk!" ujar amel membujuk citra


" Papa mencari aku? Buat apa?" tanya citra


" Aku juga tidak tahu ra, kita pergi temui papa kamu di yuk!" jawab amel


" Kamu saja mel, aku mau disini saja" kekeuh citra


" Aku harus mencari cara agar citra tidak seperti ini" ucap amel dalam hati


" Ra! " panggil amel


" Kamu pergi saja mel, aku mau kasih tahu ke oma Kalau aku pakai baju yang oma kasih" ucap citra


" Tapi, ra" kata amel


" Sudah kamu pergi saja, aku baik-baik saja kok" ucap citra sambil tersenyum agar amel tidak khawatir lagi


" Huh! Yasudah, aku kesana dulu ya ra" ucap amel


Citra hanya menganggukkan kepalanya.


" Oma, eca sekarang pakai baju yang oma kasih, eca cantik tidak?!" ucap citra sambil tersenyum


" Oma lihat kan, eca tidak menangis, eca memenuhi janji eca ke oma" lanjut citra

__ADS_1


" Oma, do'akan eca ya, semoga eca bisa tetap tersenyum seperti yang oma inginkan" ucap citra sambil tetap berusaha tersenyum walaupun mata nya berkaca-kaca.


Semua orang di sekeliling citra menangis saat mendengar ucapan citra.


__ADS_2