Mendadak Menjadi Istri CEO

Mendadak Menjadi Istri CEO
Eps 72


__ADS_3

Untuk berjaga-jaga citra tetap memegang tangan devina.


Selama perjalanan menuju ruangan oma, tidak ada pembicaraan diantara mereka.


Saat sampai di depan pintu kamar, citra berhenti sejenak untuk mengatur napas agar di hadapan oma nya dia tidak terlihat sedih.


Setelah dia merasa cukup tenang dan siap untuk bertemu dengan oma nya, citra dengan perlahan membuka pintu ruangan oma, ternyata disana masih ada papa dan mama.


Mereka berdua pun masuk kedalam.


" Pa, ma!" panggil citra


Papa dan mama nya pun menoleh ke arah belakang.


Beliau pun terkejut dengan seseorang yang ada di samping citra.


" Devina!" ucap papa dan mama bersama


Citra pun berjalan mendekati oma nya, tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Papa dan mama nya yang melihat citra terus menggenggam tangan devina pun merasa citra sedang melarang kakak nya untuk pergi.


" Bagaimana kondisi oma sekarang, sudah sehat?" tanya citra saat sudah sampai di samping oma nya


" Oma sekarang sudah baik-baik saja kok ca" jawab oma


Citra hanya tersenyum mendengar jawaban oma nya, namun di dalam hati nya dia menangis melihat kondisi oma nya yang sedang melawan penyakitnya.


" Oh iya oma, eca tadi ketemu sama kak devina di lorong rumah sakit ini yasudah, eca ajak saja kesini biar kakak ketemu sama oma, papa dan mama " ucap citra


" Devina?!" kata oma


" Iya oma, kak devina" ucap citra


" Ra, kamu bertemu kakak kamu dimana?" tanya mama


" Citra ketemu kak devina saat di lorong rumah sakit ma, tadi citra tidak sengaja menabrak kak devina ma" jawab citra


" Jadi, kamu selama ini ada di negara ini?" tanya papa dengan nada menahan emosi


" Iya pa" jawab devina


Citra yang melihat papa nya mulai emosi, dia pun langsung berkata " Pa ma, kita ngobrol dengan kak devina nya nanti lagi ya pa!"


" Huh, iya ra" kata papa


" Oma sudah makan?" tanya citra


" Oma sudah makan ca" jawab oma


" Ca, oma kemarin sudah mendaftarkan kamu untuk ikut pertandingan beladiri" ucap oma

__ADS_1


" Ikut pertandingan oma?!" ucap citra terkejut


" Iya, oma ingin kamu ikut pertandingan kali ini ca" ujar oma


" Tapi kan, oma sedang di rawat" ujar citra


" Tidak apa-apa, kamu tidak usah memikirkan oma yang sedang sakit ca" kata oma


" Oma, meskipun eca ikut, tetap saja eca tidak bisa konsentrasi oma" ucap citra pelan


" Karena eca masih kepikiran oma yang sedang terbaring di rumah sakit" ucap citra


" Kalau oma pingin eca ikut pertandingan beladiri, oma harus cepat sembuh supaya eca bisa fokus ke pertandingan" ujar citra


" Tapi, kalau menunggu oma sembuh itu hal yang mustahil ca!" ujar oma


" Mustahil bagaimana oma?" tanya citra


" Iya karena oma tidak bisa sembuh ca" jawab om


" Apa maksudnya oma bilang seperti itu?" tanya oma


" Karena penyakit oma sudah tidak bisa di sembuhkan ca" jawab oma


" Oma tidak boleh bicara seperti itu, oma harus yakin kalau oma bisa sembuh" ucap citra sambil berusaha untuk menahan air matanya


" Memang oma sakit nya parah banget apa, sampai-sampai oma tadi bilang kalau penyakit oma tidak bisa di sembuhkan?" tanya citra


" Sebenarnya oma sakit kanker darah ca" jawab oma


" Kanker darah oma?" kata citra pura-pura terkejut


" Kok bisa, sejak kapan oma?" tanya citra


" Iya ca, sejak kamu masih sekolah menengah atas ca, dan sekarang sudah memasuki stadium ketiga ca, maka nya tadi oma bilang kalau penyakit oma tidak bisa di sembuhkan" jawab oma


Citra masih berusaha tegar, meskipun hatinya menjerit karena mendengar pengakuan dari sang oma.


" Terus kenapa oma tidak pernah cerita ke eca kalau oma sakit kanker darah?" tanya citra dengan nada dingin


" Apa karena kak devina sama eca bukan cucu nya oma. Jadi, oma tidak pernah cerita ke kami tentang penyakit nya oma?" kata citra dengan nada dingin


" Siapa yang bilang kalau kalian berdua bukan cucu nya oma?" tanya oma


" Kalau kami memang cucu nya oma, seharusnya oma cerita ke kami tentang penyakit nya oma!" jawab citra dengan ekspresi wajah datar


" Oma hanya tidak ingin membuat kalian khawatir, sudah hanya itu saja tidak ada yang lain" ujar oma


" Yakin tidak ada alasan yang lain?" tanya citra dengan ekspresi wajah datar


Melihat ekspresi wajah citra yang berubah menjadi datar membuat sang oma khawatir jika citra tidak akan mau bertemu dengan dirinya lagi, sehingga membuat beliau mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


" Sebenarnya masih ada alasan lain, kenapa oma tidak pernah cerita ke kamu ca" jawab oma


" Alasan apa itu oma?" tanya citra dengan nada dingin


Sebenarnya citra terpaksa melakukan semua itu, agar dia tetap terlihat tegar dihadapan oma nya, agar oma nya tidak tahu kalau eca sangat sedih dan terpuruk saat mengetahui oma nya menderita kanker darah.


" Alasan nya karena oma tidak ingin membuat kamu sedih ca" jawab oma


" Apa maksudnya?" tanya citra penasaran


" Mungkin karena sejak kecil kamu sering tinggal bersama oma jadi, oma tidak ingin membuat kamu sedih karena tahu penyakit oma ini ca" jawab oma


Huft...


Citra hanya menghela napas panjang sebelum berkata " Iya memang eca akan sedih, tapi kalau dari dulu oma cerita ke eca, kan eca sudah membawa oma ke rumah sakit ini saat penyakit oma belum separah ini"


" Iya oma tahu kalau oma salah, kamu mau kan memaafkan oma ca" ucap oma


Citra hanya berkata " Hem!"


" Yasudah, sekarang oma istirahat, kalau oma tidak mau eca akan pulang ke Indonesia!" ucap citra


" Iya, oma akan istirahat tapi, kamu jangan pulang ya" ujar oma


" Hem!" ucap citra sambil menganggukkan kepalanya


Setelah memastikan oma nya sudah tidur pulas, citra pun langsung mengajak kakak dan orang tua nya untuk keluar.


Citra mencari tempat yang sepi untuk mereka berbicara, setelah menemukan tempat yang menurut nya cocok, citra pun berkata " Kalau ada yang ingin papa dan mama tanyakan sama kak devina silakan!"


Citra pun melepaskan genggaman tangan, tapi sebelum dia melepaskan genggaman tangannya karena takut kakak nya akan kabur lagi, citra pun mengancam jika kakak nya berani kabur dia akan membuat kakak nya cacat.


Plak!....


Satu tamparan keras mendarat di pipi devina.


Karena saking kerasnya tamparan dari papa nya, membuat devina tersungkur di lantai


Citra terkejut dengan apa yang dia lihat, karena citra tidak pernah menyangka kalau papa nya akan menampar kakak nya, karena sejak kecil devina selalu di sayang oleh papa nya.


" Anak durhaka, berani-beraninya kamu membuat papa malu!" kata papa


" Sudah pa! Nanti tensi darah papa naik lagi!" ucap mama mencoba untuk menghentikan suami nya


" Kamu kira, papa tidak tahu apa yang kamu lakukan setelah kamu kabur dari rumah!" ucap papa


" Papa tahu, papa juga tahu kalau kamu hamil di luar nikah!" kata papa


Deg!...


" Darimana papa tahu kalau kak devina hamil, kan aku belum kasih surat ini!" pikir citra

__ADS_1


__ADS_2