Mendadak Menjadi Istri CEO

Mendadak Menjadi Istri CEO
Eps 71


__ADS_3

" Begini ra, jadi sebenarnya oma kamu menderita kanker darah stadium tiga ra" ucap dokter haikal


" APA!!!" ucap citra terkejut.


JDEERRR!!!!.....


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, citra terkejut dengan ucapan dokter haikal.


" Dokter bohong kan?!" tanya citra sambil menahan air matanya agar tidak jatuh


" Itu semua benar ra, oma memang sakit kanker darah dan sekarang sudah masuk stadium tiga ra" jawab dokter ridwan


Tanpa terasa butiran bening yang sejak tadi dia bendung agar tidak pecah, kini pecah juga.


Sambil terisak citra bertanya " Sejak kapan oma sakit?"


" Oma kamu sakit sudah saat kamu akan lulus sekolah menengah atas ra" jawab dokter ridwan


" Terus siapa saja yang tahu tentang penyakit oma dok?" tanya citra sambil sesenggukan


" Yang tahu tentang penyakit oma kamu itu hanya aku dan dokter raka saja ra" jawab dokter ridwan


" Jadi, ibu panti juga tidak tahu tentang penyakit oma?" tanya citra


" Beliau tahu tentang penyakit oma baru akhir-akhir ini ra, saat oma akan menjalani kemoterapi" jawab dokter ridwan


" Terus kenapa dokter tidak memberitahu aku tentang penyakit oma?" tanya citra sambil mengusap air mata nya yang terus mengalir dengan deras nya


" Itu semua keinginan oma kamu" jawab dokter ridwan


" Seharusnya dokter itu tetap harus bilang sama aku, meskipun oma melarang dokter untuk memberitahu aku!" ucap citra sambil menahan emosi


" Iya ra, abang tahu kalau abang salah karena tidak memberitahu kamu yang sebenarnya tapi, semua itu abang lakukan untuk kebaikan kamu ra" ujar dokter ridwan


" Kebaikan aku yang mana?" tanya citra


" Ya karena kalau abang memberitahu kamu tentang penyakit oma, kamu pasti tidak bisa menjadi seperti sekarang ra!" ujar dokter ridwan


" Apa hubungannya dokter memberitahu aku tentang penyakit oma dengan aku yang sekarang dok?" tanya citra sambil terus menangis


" Kalau waktu itu abang memberitahu kamu tentang penyakit oma, kamu pasti akan membatalkan pertandingan beladiri saat itu kan ra!" ucap dokter ridwan


" Maksud dokter pertandingan beladiri yang kapan?" tanya citra sambil mengusap air matanya


" Waktu kamu tanding untuk kejurnas ra" jawab dokter ridwan


" Kejurnas?!" ucap citra terkejut saat mendengar jawaban dari dokter ridwan


" Iya ra, kejurnas" kata dokter ridwan


" Oma ketahuan sakit kanker darah saat kamu akan ikut kejurnas ra" imbuh nya


" Jadi, maksud nya oma sakit kanker darah saat aku pertama kali akan ikut kejurnas dok?" tanya citra


" Iya ra" jawab dokter ridwan sambil menganggukkan kepala


" Terus, sekarang penyakit apa oma bisa di sembuhkan dok?" tanya citra kepada dokter haikal


" Kemungkinan untuk sembuh itu sangat sedikit ra" jawab dokter haikal


" Dok, aku minta lakukan apa saja untuk bisa menyembuhkan penyakit oma!" ucap citra memohon

__ADS_1


sambil terisak


" Berapa pun biaya nya pasti akan aku bayar dok, yang penting oma bisa sembuh dok!" ucap citra


" Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit oma ra" ucap dokter ridwan


" Terimakasih ya dok" ucap citra sambil mengusap air mata nya dan tersenyum


" Iya sama-sama ra" jawab dokter ridwan dan dokter haikal bersamaan


Setelah merasa puas dengan apa yang ingin dia ketahui tentang penyakit oma yang sebenarnya, citra lalu berkata " Yasudah dok, aku permisi dulu"


" Kamu mau kemana ra?" tanya dokter ridwan khawatir


" Tenang saja, aku tidak akan bunuh diri kok!" ucap citra sambil tertawa


Dokter ridwan merasa lega dengan ucapan citra.


Setelah berpamitan, citra langsung pergi meninggalkan kedua dokter yang sedang mengkhawatirkan keadaan citra saat ini.


Citra berjalan menuju toilet, di dalam toilet citra meluapkan kesedihan dan emosi nya.


" Untuk apa aku menjadi petarung yang hebat kalau orang yang selama ini merawat dan mendukungku tidak ada di samping ku lagi " ucap citra sambil menangis sesenggukan


" Kenapa? Kenapa? ini semua terjadi sama aku?" ucap citra sambil terus menangis


Setelah puas meluapkan kesedihan nya, citra mencuci wajah nya sambil mengatur napas nya, agar saat dia keluar dari toilet dia bisa mengahadapi sang oma dengan wajah yang ceria.


Setelah merasa tenang, citra baru keluar dari toilet, saat dia sedang berjalan menuju ruangan oma nya, dia bertabrakan dengan seseorang.


Bruk!....


Aw...


" Sorry! Sorry i'm not focused!" ucap citra sambil mengambil selembaran kertas yang jatuh ke lantai.


Citra terkejut saat dia melihat nama yang tertulis di selembaran kertas yang jatuh dilantai.


" Ms. Nanda?!" ucap citra pelan


" Kenapa nama nya begitu familiar ya?" ucap citra dalam hati


" It's okay! No problem" ucap seseorang tersebut


Citra pun berdiri sambil membersihkan pakaian nya kotor, setelah itu citra memberikan selembaran kertas yang tadi sempat terjatuh ke lantai, betapa terkejutnya citra saat melihat wajah seseorang yang di tabrak nya.


" Kak Devina!" ucap citra terkejut


Ya, seseorang yang tadi di tabrak oleh citra ialah devina.


" Kakak kok disini?" tanya citra


" Atau jangan-jangan..." ucap citra tidak melanjutkan ucapannya


Citra pun kembali menarik kertas yang tadi sempat ingin dia kembalikan ke orang tersebut.


Citra lalu membuka dan membaca isi kertas itu, yang ternyata itu surat dari dokter kandungan yang menyatakan keberhasilan pasca melakukan aborsi.


Citra terkejut saat membaca isi surat tersebut.


" Ini maksudnya apa ka?" tanya citra sambil menunjukan kertas yang tadi dia baca

__ADS_1


" Jawab kak, jangan diam saja!" bentak citra


Untung saja di lorong rumah sakit tersebut sepi, sehingga dia tidak mengundang perhatian dari orang-orang di sekitarnya.


Bukannya menjawab pertanyaan citra, devina malah melontarkan pertanyaan kepada citra " Kamu sendiri sedang apa disini? Kamu memata-matai kakak kamu!"


" Kakak tidak perlu mengalihkan pembicaraan, lebih baik kakak jelaskan apa maksud dari surat ini!" ucap citra tegas


" Iya kan, aku lebih tua dari kamu seharusnya kamu yang menjawab pertanyaan dari aku dulu!" ujar devina


Karena tidak mau membuang-buang waktu akhirnya citra menjawab pertanyaan dari devina " Aku ke sini bukan untuk memata-matai kakak"


" Heh! Terus kalau bukan untuk memata-matai aku, kamu jauh-jauh datang kesini mau apa?" tanya devina


" Aku jauh-jauh datang kesini untuk mengantarkan oma untuk menjalani pengobatan KANKER!" jawab citra sambil mempertajam kata kanker.


" Tidak percaya aku, pasti ini hanya akal-akalan kamu saja kan!" ucap devina


" Kalau kakak tidak percaya, nanti kakak ikut saja ke ruangan oma!" ucap citra


" Sekarang kakak jelaskan apa maksudnya ini?!" ucap citra sambil menunjukan surat dokter


Saat devina akan mengalihkan pembicaraan kembali, citra langsung berkata " Tidak usah mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan!!"


" Kenapa citra jadi berubah ya?" batin devina


" Oh! surat itu!?" ucap devina


" Bukannya kamu sendiri sudah baca kan isi surat nya, terus kenapa masih tanya ke aku?!" ucap devina


" Karena aku sudah baca, maka nya aku tanya maksud dari isi surat ini apa?!" ucap citra sambil menahan emosi


" Kakak habis melakukan aborsi?" tanya citra menyelidik


" Iya" jawab devina


" Papa, mama tahu kalau kakak melakukan aborsi?" tanya citra


" Tidak!" jawab devina singkat


" Ya ampun kak, aku di sana harus berpura-pura menjadi kakak untuk menikah dengan kak vito, sedangkan kakak disini melakukan zinah sampai harus membunuh bayi yang tidak berdosa" ucap citra kesal


" Sekarang kakak ikut aku!" ajak citra dengan nada tegas


Karena takut kakak nya akan kabur, citra pun memegang tangan kakak nya dan berkata " Kalau sampai kakak teriak, aku tidak akan segan membuat kakak cacat!!"


" Heh! Kamu mau membuat aku cacat?!" ucap devina meremehkan


Saat baru berjalan beberapa langkah, untuk membuktikan kepada kakak nya kalau dia sedang tidak bercanda citra pun memutar tangan devina kebelakang dengan menggunakan sedikit tenaga agar kakak nya percaya.


Aww ....Sakit!....


Teriak devina saat tangannya di putar kebelakang oleh citra.


" Sekarang kakak percaya kalau aku bisa membuat kakak cacat?!!" tanya citra


" Percaya-percaya!" jawab devina


" Sekarang lepaskan tanganku sakit nih!" ucap devina


Citra pun melepaskan tangan devina, karena takut devina pun tidak jadi memberontak dan mengikuti mengikuti kemana citra pergi.

__ADS_1


Untuk berjaga-jaga citra tetap memegang tangan devina.


__ADS_2