Mendadak Menjadi Istri CEO

Mendadak Menjadi Istri CEO
Eps 116


__ADS_3

Citra yang melihat kakak nya akan melemparkannya menggunakan bantal dia pun berdiri dan..


" KABUR!!!" kata citra sambil berlari menjauh dari kakak nya.


Melihat kelakuan adik nya yang sedang meledek dirinya membuat devina semakin kesal dan marah.


" CITRAAA!!!!" teriak devina sambil melempar bantal kearah citra.


Kedua orang tua mereka pun langsung tertawa melihat tingkah kedua anak mereka yang jarang terjadi bahkan sejak mereka masih kecil.


Citra tidak memperdulikan teriakan dari kakak nya, dia tetap saja pergi ke kamar nya untuk mengambil sesuatu.


Sesampainya di dalam kamar dia mencoba untuk mengingat-ingat dimana dia menyimpan benda itu.


" Aku taruh dimana ya waktu itu?!" ucap citra sambil mencari di laci meja.


" Seingat aku, aku menyimpan nya didalam kotak obat terus aku simpan di sini!" ujar citra sambil mengingat kembali dimana dia menyimpan kotak obat nya.


" Oh iya! Aku ingat sekarang!" kata citra saat sudah mengingat dimana dia menyimpan kotak obat nya.


Citra pun langsung naik ke kamar nya yang di lantai dua melalui pintu rahasia.


Sesampainya di kamar citra langsung pergi mengambil kotak obat nya yang dia simpan di meja samping tempat tidur nya.


" Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga" ucap citra sambil memegang kotak obat tersebut.


Setelah itu dia pun langsung keluar kamar dan berjalan menuju tangga, tapi saat dia akan melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga dia teringat sesuatu.


" Oh iya! Kak devina tadi kan sedang marah dengan ku gara-gara aku kerjain dia" ucap citra langsung menghentikan langkahnya.


" Bagaimana cara nya agar kak devina tidak marah lagi dengan aku ya!" kata citra sambil mencari cara agar kakaknya tidak marah lagi.


" Aha! Aku ada ide!" kata citra saat mendapat sebuah ide.


Citra langsung kembali lagi ke kamar nya dan mengambil sesuatu.


Setelah itu dia langsung berjalan menuruni tangga, devina yang melihat citra sedang menuruni tangga dia langsung mengambil bantal yang tadi sempat dia lempar.


Citra yang melihat kakak nya mengambil bantal, citra pun langsung mengibarkan bendera putih tanda perdamaian.


" Aku menyerah kak, please dong kak bantal nya jangan di lempar!" ucap citra sambil mengibarkan bendera.


Devina yang melihat citra langsung berkata " Oke! Aku tidak akan melempar bantal ini ke kamu dan aku akan memaafkan kamu, tapi kamu harus memberitahu aku apa yang akan kamu lakukan untuk membuat tangan ku terlihat seperti benar-benar terluka!".


" Oke! Sepakat!" seru citra.


Setelah mencapai kesepakatan dengan kakak nya dia langsung menuruni tangga dan langsung berjalan menuju kakak nya.


" Ayo kak duduk!" ajak citra.


Devina pun menuruti keinginan citra.

__ADS_1


" Mana? Kata nya kamu bisa membuat tangan ku terlihat seperti benar-benar terluka" tanya devina setelah duduk.


"Sabar dong kak!" ucap citra.


" Taraa! Ini dia yang akan membuat tangan kakak seperti benar-benar terluka!" kata citra sambil menunjukkan kotak obat yang dia bawa.


" Apa itu?" tanya devina dengan wajah penasaran.


" Sudahlah kak! Nanti saja aku jelaskan apa ini, sekarang aku akan membuat tangan kakak seperti benar-benar terluka dengan sesuatu yang ada di dalam kotak obat ini" ujar citra.


" Yasudah, oke!" kata devina.


Citra pun langsung membuka kotak obat tersebut dan mengambil sesuatu yang akan dia tempelkan pada lengan kakak nya.


Tapi dia kesulitan untuk mengerjakan nya menggunakan satu tangan nya, axel yang melihat citra sedang kesulitan pun berinisiatif untuk membantu.


" Apa boleh aku membantu kamu?" tanya axel


" Boleh banget, kebetulan aku sedang membutuhkan bantuan untuk memasangkan ini" jawab citra sambil tersenyum.


" Tolong ini di tempelkan di sebelah sini, terus nanti langsung di beri ini supaya tidak mudah terlepas" ucap citra memberikan arahan kepada axel.


Axel mengikuti arahan dari citra, setelah axel selesai menempelkan nya kini citra melakukan finishing agar terlihat seperti luka sayatan pisau sungguhan.


" Perfect!" kata citra setelah selesai.


" Pa! Ma! Coba lihat deh, ini sudah mirip seperti luka sungguhan belum?!" ucap citra.


Papa dan mama nya terkejut melihat lengan devina seperti benar-benar terluka.


" Citra sayang, ini benar-benar sama persis seperti luka di lengan kamu!" ucap mama.


" Iya benar ra, ini memang benar-benar mirip seperti luka asli!" kata papa sambil tersenyum puas dengan apa yang dilakukan oleh citra.


" Alhamdulillah, jika itu benar-benar seperti luka asli pa, ma" ucap citra lega.


" Berarti sekarang kita tinggal perban lengan kakak agar lebih terlihat mirip seperti lengan ku" lanjut citra.


" Boleh minta tolong sekali lagi tidak?!" ujar citra dengan ekspresi wajah berharap.


Axel menganggukkan kepalanya sambil bertanya " Apa yang bisa aku bantu?"


" Lengan kak devina tolong di perban ya" jawab citra.


" Hanya itu saja?" tanya axel.


Citra menganggukkan kepalanya sambil berkata " Iya itu saja"


" Oke!" kata axel.


Axel langsung membalut lengan devina dengan perban agar terlihat lebih mirip dengan lengan citra.

__ADS_1


Di saat axel sedang membalut lengan nya, devina memanggil nama citra.


" Ra!"


" Iya kak, ada apa?" tanya citra sambil menatap wajah kakak nya.


" Kamu sudah memberikan surat perjanjian kontrak nikah yang aku berikan kepada kamu kemarin kepada vito belum?" tanya devina penasaran.


" Sudah aku berikan kepada vito kak" jawab citra sambil mengangguk.


" Terus dia bilang apa?" tanya devina penasaran.


" Dia tidak bicara apapun kak" jawab citra.


" Oh iya kak, nanti kalau kakak bertemu dengan orang itu kakak bilang saja kalau kakak ingin segera bercerai dengan dia kak!" ujar citra.


" Tapi, kenapa wajah orang itu seperti marah ya, saat aku bilang kalau aku ingin menikah dengan pria lain!" batin citra.


" Tadi pasti aku yang salah melihat" batin citra.


" Mana mungkin orang itu akan marah, kan waktu itu dia sendiri yang melempar kontrak nikah itu kepada aku tepat setelah kita resmi menjadi suami istri" ucap citra.


Melihat citra sedang melamun, devina pun memanggil nama citra.


" Citra!"


" Hah! Ada apa kak?" citra terkejut.


" Kamu kenapa?" tanya devina


" Aku tidak apa-apa kok kak" jawab citra sambil tersenyum.


" Sudah selesai belum?" tanya citra kepada axel.


" Iya sudah selesai" jawab axel.


" Terimakasih ya" ucap citra sambil tersenyum.


" Iya sama-sama " jawab axel.


" Yasudah, pa! Ma citra mau istirahat dulu ya, soalnya tadi kan sebelum pulang citra minum obat dulu" ucap citra.


" Iya sayang, selamat istirahat ya" ucap mama.


" Iya ma" jawab citra sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah berpamitan citra langsung pergi ke kamar nya, tapi baru saja akan masuk kamar dia teringat sesuatu.


" Oh iya kak! Di laci meja dekat televisi ada vitamin, kakak minum itu saat ada orang itu, supaya orang itu tidak curiga dengan kakak" kata citra sambil menoleh ke devina.


" Oke ra!" ucap devina sambil mengacungkan jempol.

__ADS_1


Setelah memberitahu kakak nya, citra kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


__ADS_2