My Perfect Husband

My Perfect Husband
Belanja keperluan bayi


__ADS_3

Sesuai janji Naynay dengan kedua sahabatnya kemaren lusa pas acara tujuh bulanan, hari ini mereka pergi berbelanja kebutuhan bayi. Dua bulan lagi dedek bayi akan lahir, dan semuanya harus disiapkan dari sekarang.


Araa juga ikut, dia dengan rok pendek dan baju tanpa lengan tampak begitu menggemaskan. Araa digandeng oleh Rosi berjalan menyusuri rak yang dipenuhi semua perlengkapan bayi. Sedangkan Naynay dan Rania berjalan di belakang mereka sambil mengecek list apa yang akan dibeli hari ini.


"Nay, kamu 'kan nggak pernah tuh cek jenis kelamin dedeknya. Aku bingung mau beli warna apa," keluh Rania sambil memegang baju bayi yang terlipat rapi di rak.


"Pilih yang warna netral aja, Ran," balas Naynay dan mengambil salah satu baju yang berwarna biru muda. "Ini misalnya."


Rania mengangguk dan mulai memilih baju yang menurutnya cocok untuk bayi laki-laki dan perempuan. Dan Naynay berjalan menuju ujung toko di mana tempat tidur bayi dipajang.


"Yang bisa disatuin sama tempat tidur biasa ada nggak, ya?" tanya Naynay pada dirinya sendiri sambil terus berjalan melihat-lihat model tempat tidur bayi di sana. Karena terlalu fokus melihat-lihat, Naynay tidak sengaja menabrak seorang wanita.


"Ah, maaf, saya tidak sengaja." Naynay memegang lengan wanita yang tadi sempat oleng.


Wanita itu membuka kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Dengan gaya angkuh, dia memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. Dia menatap Naynay dan terkejut, terlihat dari matanya yang membelalak dan mulut terbuka.


"Nona Nay!" pekiknya terlihat begitu girang, bahkan sampai meloncat kecil.


Naynay tersenyum paksa sambil sedikit menjauh dari wanita yang mungkin seumuran dengan Yasmin itu. Dia tidak tahu wanita itu siapa, tapi wajahnya tidak terasa asing.


"Saya Mira, apa Anda lupa?" tanya wanita yang bernama Mira itu.


"Ohhh, hahahah... Maaf, Nay lupa." Naynay tertawa sambil mendekat kembali ke wanita itu. Dia ingat bahwa Mira ini adalah istri dari kolega Afif yang juga diundang di acara kemaren lusa. Wanita ini juga yang pertama kali mengajaknya bicara saat itu.


"Apa Anda sedang belanja keperluan bayi?" tanya Mira sambil menyimpan kacamatanya ke dalam tasnya yang bermotif sisik ular berwarna abu-abu.


"Iya, kalau Anda?" tanya Naynay yang ikut-ikutan formal.


"Ahh, saya ingin membeli mainan untuk keponakan saya," ucap Mira. "Apa Anda sendiri?"


"Nay bareng temen, Araa juga ikut."


"Bagaimana kalau kita belanja bersama, saya juga bersama yang lainnya!" usul Mira yang langsung membuat Naynay berfirasat tidak enak.


"Sepertinya tida...."


Belum selesai Naynay berbicara, rombongan ibu-ibu sosialita tiba-tiba datang dengan membawa begitu banyak paper bag di kedua tangan mereka.


"Mampus aku," lirih Naynay sambil mengelus perutnya. Walaupun hanya kenal dalam sehari, tapi Naynay sudah tahu semua watak dan kepribadian ibu-ibu paruhbaya yang semuanya heboh itu.


"Nah, kebetulan mereka datang." Mira tersenyum lebar sambil bertepuk tangan kecil.

__ADS_1


"Astaga, kita bertemu lagi, Nona Nay!" pekik mereka heboh yang membuat suasana mendadak hening. Mereka langsung jadi pusat perhatian. Di komplotan ibu-ibu itu, Mira lah yang paling muda.


"Hehe, iya." Naynay mengangguk kecil sambil mengulas senyum paksa.


Rania dan Rosi yang mendengar keributan tadi pun segera pergi ke sumber suara. Mereka melihat Naynay dikerubungi ibu-ibu muda dengan dandanan yang begitu glamour.


"Nay, ada apa?" tanya Rosi yang sedang menggendong Araa.


Naynay menoleh. "Ohh, ketemu sama mereka di sini."


Rania dan Rosi memperhatikan wajah ibu-ibu itu satu per satu, dan mereka ingat mereka semua.


"Ada list belanjanya?" tanya Mira semangat.


Naynay tidak punya pilihan lain selain memberikan list belanja itu pada Mira. Terlihat wanita itu begitu semangat untuk belanja bersama.


"Baiklah, ayo kita belanja!" pekik Mira sambil memberi kode pada komplotannya untuk bergerak.


Mereka memberikan semua paper bag ke asisten mereka, kemudian dengan semangatnya menyerbu toko khusus peralatan bayi itu. List sudah Mira kirim ke grup chat mereka agar lebih mudah untuk belanja.


"Ayo, Nona-Nona!" ajak Mira sambil menarik tangan Naynay mengikuti langkahnya yang kecil.


"Sahabat kita memang beruntung, ya," ucap Rosi sambil tersenyum kepada Rania.


"Iya, aku ikut seneng lihatnya." Rania ikut tersenyum di sela-sela aktivitasnya yang sedang memilih kain bedong.


Hp Naynay berbunyi, bumil itu pamit ke Mira untuk mengangkatnya. Naynay pergi ke sudut toko agar tidak terlalu heboh.


"Iya, Kak."


"Sudah selesai belanja?" tanya Afif di seberang sana.


"Belum, Kak. Mungkin lebih lama dari perkiraan," jawab Naynay.


"Kenapa? Dan juga, kenapa berisik sekali?" tanya Afif lagi.


Naynay mengubah ke panggilan video, dan Afif langsung mengangkatnya.


"Lihat, itu yang bikin heboh," ucap Naynay sambil mengarahkan kamera ke arah ibu-ibu yang masih sibuk memilih perlengkapan bayi.


Afif tertawa di seberang sana. Dia tidak menyangka kalau para istri koleganya itu bertemu Naynay di sana.

__ADS_1


"Bagus jika seperti itu, lebih baik kau duduk saja!" ujar Afif setelah tertawa.


Naynay mengubah ke kamera depan agar Afif bisa melihat wajahnya.


"Kakak nggak lembur, 'kan?" tanya Naynay.


"Tidak, aku akan pulang sore. Kau harus sudah di rumah sebelum aku pulang!" ucap Afif dengan nada mengancam.


"Iya... Ya udah, lanjut lagi kerjanya." Naynay melambaikan tangannya sebelum memutuskan panggilan video tersebut.


Naynay kembali menuju Mira yang sedang berdiri di samping Araa. Wanita itu mencolek-colek pipi gembul Araa hingga bayi sepuluh bulan itu tertawa renyah.


Naynay kemudian meminta komplotan ibu-ibu itu untuk menyudahi acara belanja itu. Naynay bahkan sudah sesak napas melihat troli yang menggunung, hasil hunting ibu-ibu itu.


"Kami saja yang bayar, Nona. Anggap ini sebagai hadiah untuk baby dari kami, oma-oma muda ini." Mira menyerahkan black cardnya pada kasir yang telah selesai mengurus belanjaan mereka. Wanita itu mengusap perut Naynay sambil tersenyum sendu. Dia divonis tidak bisa mempunyai anak. Dan beruntungnya, sang suami tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Mereka bahkan sudah mengadopsi anak dari panti asuhan, sekarang anak itu berumur sepuluh tahun.


"Terima kasih banyak, Oma-oma Muda semuanya. Nanti sering-sering main ke rumah, ya!" ujar Naynay tersenyum sambil bercipika-cipiki dengan ibu-ibu itu satu per satu.


Setelah itu mereka semua pulang, semua belanjaan tadi diurus oleh pelayan toko yang akan mengantar ke rumah utama nantinya.


"Rempong banget, ya," ucap Rania yang duduk di samping sopir. Dia masih mengingat bagaimana hebohnya oma-oma muda tadi ketika berbelanja.


"Hu'um, aku aja terkejut lihatnya!" balas Naynay tertawa kecil.


"Nay, kok perutku nggak nyaman, ya?" tanya Rosi dengan wajah yang terlihat tidak nyaman.


Naynay yang sedang mengusap kepala Araa yang sedang tertidur pun menoleh. "Mau muntah?" tanyanya.


Rosi hanya mengangguk pelan, dia menyander sambil menutup matanya. Berharap agar rasa mualnya hilang. Rosi memang kadang suka mabuk jika perutnya terlalu kenyang. Mungkin sebelum pergi tadi, dia makan terlalu banyak.


"Tiduran dulu aja, ya." Naynay mengelus pundak sahabatnya itu.


.


.


Vote, toloongggg


.


.

__ADS_1


__ADS_2