
Setelah selesai sarapan, Arsen bersiap untuk ke kantor.
''Aku berangkat dulu ya.'' Kata Arsen seraya mengecup bibir Sheena. Namun tiba-tiba Sheena memegang lengan Arsen.
''Ada apa Sheena?''
''Mmmm tidak ada.'' Kata Sheena namun tangan Sheena masih tetap memegang tangan Arsen.
''Kenapa masih memegang tanganku?'' kata Arsen. Mendengar ucapan Arsen, Sheena pun melepaskan tangan Arsen.
''Sebenarnya aku tidak tega meninggalkanmu sendiri tapi Belinda sudah bersedia menemanimu. Sebentar lagi dia akan datang.'' Ucap Arsen.
Sheena kemudian memeluk Arsen. Arsen terkejut dengan sikap Sheena.
''Arsen, aku mencintaimu.'' Arsen terkejut mendengar kembali pengakuan cinta Sheena.
''Aku juga mencintaimu Sheena. Kenapa kamu jadi seperti ini?''
''Tidak apa-apa. Hanya ingin mengatakan itu.'' Ucap Sheena seraya melepaskan pelukannya.
''Hati-hati ya.'' Ucap Sheena.
''Iya. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku.''
''Iya.''
Belum sempat keluar pintu, Arsen berbalik, melempar tas kerjanya lalu memeluk Sheena. Sheena pun di buat terkejut dengan sikap Arsen.
''Ada apa Arsen?'' tanya Sheena.
''Aku rasanya tidak sanggup meninggalkankamu.'' Kata Arsen semakin mempererat pelukannya. Arsen lalu menangkupkan kedua tangannya pada wajah Sheena. Ciuman pun mendarat di bibir Sheena. Sheena merasakan nikmatnya sentuhan bibir Arsen, membuatnya mere...mas jas Arsen. Arsen lalu mengangkat tubuh Sheena. Sheena melingkarkan kedua kakinya, menjepit pinggang Arsen. Ciuman semakin dalam dan semakin panas. Arsen membawa Sheena masuk ke kamar tamu yang ada di lantai bawah tanpa melepaskan pagutannya. Entah setan apa kali ini yang membuat Arsen hilang kendali. Arsen kemudian merebahkan pelan tubuh Sheena diatas tempat tidur. Tubuh Arsen sudah berada di atas tubuh Sheena dengan tetap menjaga luka Sheena. Arsen menggenggam kedua tangan Sheena, meletakkannya disisi kepala Sheena. Arsen menghisapnya dan memainkan lidahnya dengan begitu lincah. Arsen merasakan juniornya semakin menegang. Sheena pun merasakan ada sesuatu yang mengeras mengenai pahanya.
Arsen kemudian melepaskan pagutannya. Nafas keduanya terengah dan saling beradu.
''Sheena, bagaimana kalau kita mencoba satu level diatas ciuman?'' tanya Arsen dengan tergagap.
''Apa? Tapi luka ku belum sembuh.'' Jawab Sheena lirih.
''Bukan itu. Kita naik satu level dari sekedar ciuman, apa kamu mau?'' tanya Arsen dengan tatapannya yang dalam pada Sheena. Sheena dengan malu-malu mengangguk pelan. Tubuhnya benar-benar terasa panas. Setelah mendapat persetujuan Sheena, Arsen kembali memagut bibir Sheena. Arsen kemudian menurunkan ciuman pada leher jenjang Sheena.
''Ahhhh...!" Sheena mendesis pelan saat Arsen mengecup lehernya. Arsen terkejut dengan reaksi Sheena.
''Ken-kenapa?'' tanya Arsen.
''Geli Arsen,'' jawab Sheena malu-malu.
__ADS_1
''Baiklah, aku akan mencobanya lagi.'' Kata Arsen sembari mengecup kembali leher Sheena. Sheena menggeliat geli sambil mendesis memegang ujung bantal. Tangan Arsen lalu turun dan tidak sengaja menyenggol sebuah benda kenyal. Mata Sheena membulat saat Arsen menyenggol bukit kembarnya.
''Arsen, kamu harus kerja.'' Sheena benar-benar belum siap dan malu. Baru tersenggol saja Sheena sudah merasa malu. Arsen juga merasa salah tingkah dan segera bangun dari atas tubuh Sheena.
''Ma-maaf. Tadi apa?'' tanya Arsen tergagap.
''Ka-kamu menyenggolnya.'' Kata Sheena sambil melihat kearah dadanya.
''Ma-maaf aku tidak sengaja dan aku tidak bermaksud untuk memegangnya.'' Arsen lalu merapikan kembali jasnya dan segera berangkat ke kantor.
''Arsen, bodoh sekali dirimu ini.'' Gumamnya dalam hati.
''Sheena, seharusnya kamu membiarkan Arsen menyentuhnya. Kenapa kamu malah bilang seperti itu?'' gumam Sheena dalam hati sambil memukul kepalanya.
...****************...
Belinda kini sedang menemani Sheena di dalam kamarnya.
''Eonni, aku akan menelepon eonni Queen. Dia pasti senang sekali bisa melihatmu.''
''Kamu serius Bel?''
''Iya. Aku akan membuat panggilan vidio ya. Eonni Queen pasti sangat senang kalau ternyata istri Oppa adalah eonni. Karena selama ini Mama masih menyembunyikan identitas eonni.''
''Iya Bel, aku mau sekali.''
Queen sendiri baru saja keluar dari kamar mandi. Mendengar ponselnya berdering, Queen segera mengangkatnya.
''Halo Bel, ada apa pagi-pagi sekali menelepon?'' sapa Queen sambil menguap.
''Eonni, disana pagi tapi disini sudah setengah 12 siang. Eonni baru bangun ya?''
''Iya. Ada apa? Aku harus bersiap membuat sarapan untuk anak-anak dan Kakak iparmu.''
''Hehehe sebentar eonni, aku ada sesuatu untuk eonni.'' Belinda lalu mengarahkan ponselnya pada Sheena yang duduk disampingnya.
''Halo Kak Queen, bagaimana kabar Kakak?'' sapa Sheena sambil melambaikan tangannya.
''Halo juga tapi maaf, kamu siapa ya?'' Queen merasa bingung dan benar-benar pangling dengan Sheena.
''Kakak benar-benar lupa denganku? Coba Kakak ingat-ingat lagi.'' Kata Sheena. Queen berusaha mengingatnya tapi sama sekali tidak ingat. Karena sejak kelulusan SD saat itu, mereka tidak pernah berjumpa lagi dan saat itu Sheena di ajak pindah oleh keluarganya.
''Ayolah eonni, ingat-ingat.'' Sahut Belinda.
''Aku gadis kecil yang biasa di panggil si dekil oleh Arsen.'' Ucap Sheena.
__ADS_1
''SHEENA!" Seru Queen dengan rasa tidak percaya.
''Iya Kak, aku Sheena.''
''Sheena, ya ampun sayang, bagaimana kabarmu? Bagaimana kamu bisa bersama dengan Belinda? Maaf ya aku tidak mengenalimu karena kamu cantik sekali.''
''Tidak apa-apa Kak. Aku baik sekali.''
''Eonni Queen, eonni Sheena ini calonnya oppa Arsen lebih tepatnya mereka sudah menikah.'' Sahut Belinda.
''Apa? Kamu serius, Bel?'' Queen terbelalak tidak percaya.
''Iya eonni, panjanglah ceritanya.''
''Sheena, ceritakan padaku bagaimana kamu dengan mister sok bersih itu bersatu? Sedangkan kalian tidak pernah akur sejak kecil. Arsen benar-benar termakan ucapannya sendiri. Ya ampun aku bahagia sekali mendengarnya. Ayo Sheena ceritakan pertemuan kalian kembali.'' Cerocos Queen dengan begitu antusiasnya.
''Ya ampun Kak Queen darimana aku memulainya ya. Mmmm jadi begini Kak.....,'' Sheena pun mulai menceritakan pertemuannya kembali dengan Arsen. Terjebak dalam sebuah pernikahan hingga akhirnya mereka sudah saling mencintai. Queen begitu antusias mendengarkan kisah Sheena dengan Arsen. Sheena juga menceritakan tentang siapa orang tua kandungnya yang sebenarnya. Mendengar kisah pilu Sheena, tak terasa air mata jatuh membasahi pipinya.
''Sheena, kamu kuat sekali. Selama 24 tahun kamu menjalani kehidupan yang menyakitkan dan jauh dari keluarga kandung kamu. Kamu hebat sekali Sheena. Tapi sekarang kamu sudah menemukan kebahagiaanmu. Ini adalah hadiah dari kesabaran kamu selama ini. Aku terharu sekali Sheena. Apalagi mengingatmu saat kelulusan saat itu, orang tuamu sama sekali tidak hadir dan ternyata itu semua ulah Ibu angkat kamu. Kenapa kamu tidak membaginya dengan kami saat itu Sheena? Bahkan kamu begitu tertutup kepada kami?''
''Kakak jangan menangis seperti itu. Aku sudah ikhlas dengan semua jalan hidupku selama ini. Aku anggap itu sebagai bagian pelajaran hidup yang tidak pernah aku lupakan. Dan aku selalu yakin kalau semuanya akan indah pada waktunya.''
''Dua minggu setelah anak-anak selesai ujian, aku dan Kak Raja akan segera ke Indonesia ya. Kami tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku ingin sekali memeluk Sheena. Kenapa Arsen juga jahat sekali? Dia tidak memberitahuku apapun.''
''Kakak kan tahu kalau Arsen tidak pernah suka padaku, bahkan membenciku jadi wajar saja dia menganggap pertemuan kami ini biasa saja.''
''Iya tapi akhirnya hanya kamu kan yang bisa mengerti dan memahami dia, Sheena. Aku syukurin deh kalau dia akhirnya jatuh cinta sama kamu. Ya ampun aku bahagia sekali mendengar berita ini. Dan aku juga akan marah sama Mama karena menyembunyikan semua ini dariku. Tapi Mama hebat juga ya begitu mengenali kamu, Mama langsung gercep jadiin kamu menantunya. Lebih tepatnya saat itu memaksamu bersama Arsen.'' Ucap Queen diiringi tawa kecilnya.
''Ya sudah eonni, tuh matahari sudah terbit. Kasihan Ran dan Rein, mereka harus sekolah. Aku tunggu secepatnya di Indo. Ingat bulan depan eonni dan oppa meresmikan pernikahannya.''
''Iya-iya, dua minggu sebelum mereka menikah, aku akan segera ke Indo. Sheena, save nomor Kakak ya nanti kita ngobrol lagi. Aku penasaran sekali dengan sikap mister sok bersih itu kepadamu.''
''Iya Kak Queen, aku akan menghubungi Kakak. Salam untuk Kak Raja dan anak-anak Kakak ya.''
''Iya Sheena. Bye-bye.'' Queen mengakhiri panggilannya.
''Ternyata eonni Sheena dan eonni Queen punya banyak cerita ya dulu.''
''Iya Belinda. Mereka sangat baik sekali dan aku menyayangi mereka.''
''Dan aku juga menyayangi eonni. Aku berharap eonni segera sehat setelah itu buat keponakan yang banyak ya untuk aku. Kalau bisa kembar juga,'' seloroh Belinda dengan tawanya yang renyah itu.
''Kamu doakan saja ya, Bel.''
''Pasti eonni.''
__ADS_1
Bersambung....