
Masih di kantor Afif, suasana sudah kembali normal karena wawancara calon karyawan baru telah selesai. Waktu wawancara hanya sampai sebelum jam makan siang saja, akan dilanjutkan esok harinya jika masih ada yang akan wawancara. Perusahaan pastinya tidak sembarangan memilih karyawan, mereka haruslah orang-orang yang serius dan jujur dalam bekerja. Tak perlu tampan atau cantik, kalau mereka mumpuni, maka akan diterima. Wawancara akan dilakukan secara bertahap dan dibatasi hanya 100 orang perhari.
Di lantai teratas di mana ruangan CEO berada, bumil yang begitu menggemaskan sedang tidur di dalam kamar khusus Afif. Sempat merajuk sebelumnya karena Afif melakukan meeting begitu lama dan meninggalkannya sendiri. Sebenarnya Afif mau membawanya, tapi dia sendiri yang menolak. Jadi, jangan salahkan Afif tentang hal itu.
Afif memasuki kamar itu tanpa suara dan mendekati ranjang. Dia tersenyum melihat istrinya yang tidur dengan posisi miring tersebut. Afif kemudian naik ke atas tempat tidur dan berbaring di belakang Naynay, diusapnya perut buncit istrinya itu sambil menciumi tengkuk Naynay.
Merasa tidurnya terusik karena geli di tengkuknya, Naynay terbangun dan melihat ada tangan kekar yang sedang mengusap perutnya. Naynay memegang tangan Afif hingga usapan itu terhenti.
"Kau sudah bangun?" tanya Afif sambil berpindah ke depan Naynay.
"Hmm, Kakak yang ganggu." Mata bumil itu terlihat sipit pertanda dia masih mengantuk.
Tangan Afif terangkat mengusap pipi Naynay, diiringi dengan senyumannya. Rasanya dia begitu beruntung memiliki istri seperti Naynay. Wanita yang mandiri tapi sangat manja padanya.
"Mau makan apa?" tanya Afif dengan sebelah tangannya membuka kancing kemejanya.
"Apa aja, tapi nanti Kakak suapin." Naynay mulai memejamkan matanya kembali karena masih merasa ngantuk.
Afif mengeluarkan hp dari saku celananya dan meminta Ryan untuk mengantarkan makanan ke ruangannya. Setelah itu melempar hpnya ke kepala ranjang dan membuka kemeja maroon yang dia pakai.
Afif menatap intens pada Naynay yang kembali tertidur, mungkin istrinya itu lelah karena semalam dia gempur sampai dini hari. Diciumnya kening Naynay sebelum ia turun dari tempat tidur. Afif memutuskan untuk keluar dari kamar itu tanpa memakai bajunya.
Afif berdiri di kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dengan gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang terlihat kecil dipenuhi kendaraan. Suara ketukan pintu terdengar sebelum Ryan masuk sambil membawa makan siang Afif dan Naynay.
Ryan sedikit terkejut melihat punggung Afif yang dipenuhi bekas cakaran, itu berarti Tuan Muda itu sudah berhasil membuat Naynay menjadi istri seutuhnya. Ryan meletakkan makanan itu di atas meja.
"Apa perlu saya mengobati punggung Anda, Tuan Muda?" tanya Ryan yang berdiri di samping sofa.
Afif berbalik dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya. "Tidak perlu, aku menyukainya."
Kemudian Afif berjalan menuju mejanya dan duduk di kursi kebesarannya. Ryan ikut duduk di seberangnya.
"Apa nona Nay sudah tahu tentang nama itu?"
"Aku rasa dia sudah tahu, mengingat dia menguasai banyak bahasa, termasuk bahasa Rusia."
Ryan mengangguk, dia juga merasa begitu karena Naynay yang menguasai banyak bahasa. Nama di antara sayap besar yang terbentang itu adalah nama Naynay yang ditulis dengan menggunakan alfabet Rusia yang semuanya huruf besar.
Setelah itu Ryan keluar dan Afif kembali masuk ke dalam kamarnya yang ada di sana. Naynay masih tidur dengan jempol yang berada di depan bibirnya. Afif mendekat dan berjongkok di depan istrinya itu.
"Nay," panggil Afif sambil menciumi pipi Naynay. Istrinya itu tidak akan bangun kalau tidak diusili terlebih dahulu.
"Ughh..." Lenguhan Naynay yang mulai membuka matanya membuat tubuh Afif tiba-tiba memanas, apalagi ketika mata teduh itu mengerjap-ngerjap sebelum terbuka sempurna.
__ADS_1
Afif menarik napas panjang dan menghela dengan pelan untuk meredam hasratnya. Kalau sudah merasakan kenikmatan, maka akan timbul rasa ketagihan. Dan itulah yang dirasakan Afif sekarang, bawaannya pengen nidurin Naynay mulu.
"Ayo makan," ujar Afif membantu Naynay duduk. Setelah itu dia keluar lebih dulu, meninggalkan Naynay yang dahinya berkerut bingung.
Naynay segera turun dari tempat tidur dan menyusul Afif. Suaminya itu sudah duduk di sofa sambil menyiapkan makanan yang dibawakan Ryan tadi. Naynay mendudukkan tubuhnya di samping Afif dan memandang polos suaminya yang telanjang dada itu.
"Kenapa?" tanya Afif sambil menghindari menatap Naynay. Mendadak gugup dan semakin panas melihat tatapan polos istrinya.
"Nggak ada, Kakak udah janji suapin Nay." Naynay mengambil botol air mineral dan meneguk sedikit isinya. Kepalanya yang terangkat membuat lehernya terlihat begitu menggoda di mata Afif.
'Sial! Aku tidak bisa menahannya.'
Afif kembali mencoba kembali meredam nafsunya, setidaknya biarkan istrinya makan dulu. Dia juga tidak mau istri dan anaknya kekurangan asupan hanya karena nafsunya. Afif segera menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulut Naynay yang sudah terbuka. Bergantian menyuapi dirinya sendiri hingga makanan itu habis.
"Kakak kenapa? Sakit?" tanya Naynay yang melihat wajah Afif memerah dan tatapannya sayu. Sayangnya Naynay belum menyadari kalau tatapan itu dipenuhi kabut gairah yang semakin bertambah.
"Aku ingin melakukannya," balas Afif dengan suara serak dan terlihat gelisah.
Naynay akhirnya sadar apa yang membuat Afif uring-uringan. Bumil itu beralih duduk di pangkuan Afif dan menangkup rahang tegas suaminya itu.
"Nay, aku tidak bisa menahannya." Afif memeluk Naynay sambil meracau tak jelas. Baru sekali ini dia tidak bisa menahan dirinya hanya karena melihat Naynay bangun tidur.
Naynay mendorong pelan kepala Afif yang tenggelam di ceruk lehernya, dia bisa melihat bagaimana Afif begitu menginginkannya. Dengan ragu, Naynay memajukan wajahnya dan menyatukan bibirnya dengan bibir Afif. Perlahan kedua tangannya turun membuka ikat pinggang Afif dan membuangnya ke lantai.
"Nay nggak mau di sini," ujar Naynay setelah melepas ciumannya. Dia tidak mau bermain di sofa yang pastinya sering menerima tamu itu.
Tanpa bicara apa pun, Afif menggendong Naynay dan membawanya kembali ke kamar. Direbahkannya tubuh istrinya itu dan diuciumnya dengan liar. Tangannya bergerak nakal membuka baju Naynay yang ber-resleting di bagian depannya.
Naynay mengalungkan tangannya di leher Afif, lidah mereka saling membelit membuat suasana semakin panas. Tangan Afif semakin liar setelah membuat tubuh Naynay polos tanpa penghalang sedikit pun.
"Boleh?" tanya Afif yang meminta persetujuan Naynay, yang dibalas anggukan kecil oleh Naynay.
Afif membuka celananya dan membuka lebar kaki Naynay. Perlahan dia mulai memasuki bagian inti Naynay hingga istrinya itu mulai mengeluarkan suara indahnya.
Afif kembali mencium Naynay dengan sebelah tangan yang bermain di dada istrinya itu. Erangan dan desahan Naynay membuatnya semakin bersemangat.
Naynay mendesah hebat ketika Afif mempercepat gerakan tubuhnya. Suaminya itu sudah mencapai puncaknya, terlihat dari erangan panjang dan tubuhnya yang mulai lunglai.
Afif mengangkat wajahnya menatap Naynay yang terlihat ngos-ngosan. Dia kembali menggerakkan pinggulnya secara perlahan sambil mencium kening istrinya itu. Afif merasa masih belum cukup, dia kembali melakukannya. Tapi kali ini lebih santai karena tidak mau anaknya kenapa-napa.
Naynay hanya pasrah, menikmati setiap perlakuan Afif yang memberikan kenikmatan padanya. Dia menyukai semuanya, bagaimana Afif memperlakukannya di atas ranjang. Dan juga ketika Afif meracau sambil menyebut namanya di sela aktivitas panas mereka.
"Terima kasih, Sayang!" bisik Afif setelah melepas penyatuan mereka. Dia memeluk Naynay yang terlihat kelelahan karena ulahnya.
__ADS_1
"Capek," cicit Naynay yang kepalanya berada di depan dada bidang Afif.
"Maaf, aku tidak bisa menahannya." Mencium puncak kepala Naynay bertubi-tubi. Sedikit menyesal karena membuat istrinya kelelahan.
Tangan Naynay bergerak membalas pelukan Afif, dia mengusap punggung suaminya yang sering dia cakar itu. "Kakak bikin tato ini kapan? Lalu alasannya?" tanyanya lembut.
"Sebulan setelah orang tuaku meninggal, aku membuat tato sayap itu untuk mengurangi rasa tertekanku. Aku berharap beban yang menghimpit pundakku dibawa terbang oleh sayap itu," jelas Afif sambil mempererat pelukannya. Dia menikmati sensasi kulit mereka yang bergesekan tanpa penghalang itu.
"Dan namamu di sana, aku membuatnya ketika akan menikahimu."
"Alasannya?" Naynay mendongak menatap Afif. Dia memang sudah tahu kalau itu adalah namanya.
"Ya karena kau istriku lah," jawab Afif santai, menyembunyikan alasan sebenarnya nama Naynay ada di sana.
Bibir Naynay mengerucut dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada Afif. Rasa lelah membuat kantuk kembali mendera hingga dia kembali tertidur dengan tubuh yang belum ditutupi apa pun.
Afif tersenyum melihat Naynay kembali tertidur, dia menarik selimut dengan kakinya dan menutupi tubuh polos mereka.
Ingatan Afif menerawang ke beberapa bulan lalu, di mana dia sedang berbaring telungkup di sebuah ruangan. Tubuhnya setengah telanjang dan ada seorang laki-laki yang sedang melukis dengan tinta khusus di punggungnya.
Itu adalah di mana dia membuat nama Naynay di antara sayap besar itu. Lebih tepatnya setelah dia melakukan lamaran tidak wajar hari itu. Dia langsung pergi menuju tempat di mana dia membuat tato sayap itu pertama kali.
"Hanaya, wanita yang beruntung!" ucap tato artis itu di sela-sela melukis punggung Afif. Pria paruhbaya itu sudah mengenal Afif sejak lama, sempat ditolong ketika usahanya hampir gulung tikar.
"Dia sangat imut, Paman." Afif tersenyum tipis membalas ucapan tato artis itu.
Afif membuat tato itu entah karena apa, dia sendiri tidak tahu kenapa, tapi hatinya ingin membuat nama wanita itu selalu ada pada dirinya. Maka Afif memutuskan untuk mengukir nama Naynay di punggungnya.
Jawabannya adalah karena Afif sudah mencintai Naynay sejak hari sialan itu, di mana dia terpaksa menggagahi Naynay karena obat. Tapi Afif sama sekali belum menyadari perasaannya, ditambah dia juga belum pernah menyukai seseorang sebelumnya. Afif itu tidak suka keramaian, dia lebih suka menyendiri di dalam kamar dan membaca tumpukan buku. Sampai sebelum dia bertemu Naynay, dia sama sekali tidak tertarik dengan satu wanita pun.
"Aku membuatnya karena aku mencintaimu, Sayang." Afif mengusap punggung Naynay dan memeluk istrinya itu seperti guling.
.
.
.
.
.
Kalo udah ada adegan dewasa sekali, maka akan sering juga munculnya.
__ADS_1
Otakku sampe gak waras nulis bab yang isinya adegan enak-enak kek gini ðŸ¤