
Naynay keluar dari ruangan setelah menjawab semua pertanyaan yang tertera di lembar soal ujian terakhirnya. Dengan senyum lebar menghiasi wajah imutnya, dia berjalan sambil menenteng tasnya menuju ruangan di mana Rania dan Rosi ujian.
"Yang pinter pasti jawabnya mudah," cibir Rania diangguki Rosi ketika Naynay duduk di samping mereka.
"Pujian, kan? Makasih kalau gitu," balas Naynay dengan guyonan receh dan tertawa. Rania mencubiti lengan Naynay karena kesal hingga si empunya meringis kesakitan.
"Udah, kasihan itu Naynay kesakitan!" Tangan Rosi menarik tangan Rania yang masih mencubiti lengan Naynay.
"Jahat ihhh..." ucap Naynay sambil mengusap-usap lengannya yang tertutupi seragam sekolahnya itu.
"Makanya, jangan sombong!" ujar Rania memeletkan lidahnya ke arah bumil itu.
Naynay mengerucutkan bibirnya sambil mengeluarkan hp dari tasnya. Kirim pesan singkat bahwa dia sudah menyelesaikan ujian terakhirnya dengan baik kepada suaminya dulu. Tak lupa dengan lambang hati merah di ujung pesan sebagai pemanis. Sekaligus sebagai bentuk terima kasih karena sudah diberi izin untuk jalan-jalan bersama kedua sahabatnya hari ini.
"Jadi pergi jalan-jalan, kan?" tanya Naynay semangat.
"Jadi dong, tunggu jemputan dulu tapi." Rosi menjawab sambil menekan tombol dial panggilan dan menempelkan hp di telinganya.
"Udah sampe mana?" tanya Rosi pada orang di seberang telepon.
"Ooo, oke!" Kemudian wanita itu memutuskan sambungan telepon itu.
"Jemputan udah nunggu di depan, yuk!" Rosi berdiri dan menarik tangan Naynay dan Rania menuju gerbang.
Laki-laki yang sudah lebih dari sebulan ini mendekati Naynay keluar dari mobil dengan senyum mengembang. Dia rela menjadi sopir Rosi agar bisa bertemu Naynay setiap harinya.
"Aku duduk di belakang," ucap Naynay sebelum dia disuruh duduk di depan dengan Ezriel lagi. Selama satu bulan ini jika mereka punya rencana, Naynay pasti selalu diminta duduk di depan.
"Halo, Ma...." ucap Naynay berpura-pura menelepon Yasmin dan segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Ezriel pun tidak bisa memaksa Naynay untuk duduk di depan bersamanya. Dia paham kalau Naynay merasa tidak nyaman di dekatnya, tapi dia menyukai gadis SMA itu. Hatinya yang sudah kebal dengan sikap dingin Naynay itu tetap memerintahkan bibirnya untuk tersenyum.
"Aku aja yang duduk di depan!" seru Rania semangat untuk mengusir suasana canggung yang disebabkan oleh Naynay. Dia masuk ke dalam mobil dan sudah duduk anteng di sana. Rania mengacungkan jempolnya ke arah Naynay pertanda dia akan membantu bumil itu menghindari Ezriel.
"Kayaknya kamu harus berjuang lebih keras lagi," ucap Rosi menepuk pundak kanan Ezriel, menyemangati kakak sepupunya itu sebelum masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Naynay.
Ezriel ikut masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobil menuju pusat perbelanjaan, di mana ketiga gadis yang ada di dalam mobil ini sepakat untuk menghabiskan waktu di sana. Sesekali dia akan melirik kaca spion tengah mobil untuk melihat apa yang dilakukan gadis pujaannya.
Setibanya di parkiran mall, Ezriel turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Naynay. Gadis pujaannya itu hanya mengucapkan terima kasih tanpa senyum tipis yang biasanya menghiasi wajah imutnya.
"Kak Ros, mau makan dulu!" ucap Naynay memelas sambil menggengam tangan Rosi seperti anak kecil. Sikapnya yang seperti ini semakin membuat Ezriel menyukainya.
"Makan mulu, pantes kamu gendut sekarang." Rosi menarik tangan Naynay menuju restoran yang biasa mereka kunjungi jika sedang berada di mall ini.
'Padahal kan Naynay gendut karena lagi hamil, ya.' batin Rania sambil mengikuti langkah kedua sahabatnya. Ezriel mengikuti di belakang.
Mereka memilih duduk di meja pojok yang dindingnya terbuat dari kaca. Ezriel yang duduk di seberang Naynay memesan makanan karena masih berjuang mendapatkan hati Naynay.
"Belum tahu, bisa jadi nggak kuliah." Naynay menjawab seperti tidak ada beban sama sekali. Tapi di dalam hatinya, dia merasa sedih karena mungkin akan menunda kuliahnya beberapa waktu.
"Kok nggak kuliah?" giliran Ezriel yang bertanya karena merasa heran.
"Capek belajar terus," jawab Naynay tersenyum paksa sambil meremas tangannya di bawah meja. Berbohong selalu membuat dirinya menjadi tidak tenang. Tapi demi nama baik keluar dan suaminya, tentu dia tidak bisa mengatakan semuanya sekarang.
Rania hanya diam dengan tangan menopang dagu. Sedih juga memikirkan rencana yang pernah Naynay buat dulu tidak terwujud. Sahabatnya itu ingin lulus dengan rentang waktu secepat mungkin agar bisa cepat-cepat memimpin perusahaan Hendrayan.
Makanan mereka datang sehingga percakapan singkat menyedihkan itu terhenti. Naynay memakan makanannya dengan lahap hingga bibirnya belepotan. Ezriel berniat membersihkannya, tapi Naynay lebih dulu menyekanya dengan tisu yang dia ambil dari atas meja. Laki-laki itu menarik kembali tangannya yang menggantung di udara.
'Susah banget, ya, dapetin kamu.' Ezriel tersenyum masam dan melanjutkan makannya kembali.
__ADS_1
Rosi merasa ada yang aneh dengan Naynay, selalu saja menghindar dari laki-laki. Jujur, dia merasa kasihan melihat Ezriel yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi dia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Naynay.
Setelah selesai mengisi perut, mereka bertempat lanjut mengelilingi mall. Satu per satu toko mereka masuki, jika ada yang menarik, maka akan langsung dibeli. Naynay sendiri lebih tertarik pada satu toko yang menjual pakaian bayi.
Dia ingin melangkah ke sana, tapi terhenti karena tangannya ditahan seseorang. Naynay menarik tangannya dengan cepat karena yang menahannya adalah Ezriel. Kedua sahabatnya sudah hilang entah ke mana.
"Mau ke mana?" tanya Ezriel lembut dengan sunyum yang masih menghiasi wajah tampannya.
Naynay menarik napas panjang sebelum menatap manik mata Ezriel. "Nay minta maaf sebelumnya, tapi ini harus Naynay katakan. Tolong jangan berharap apapun pada Nay, apapun itu. Nay tahu kalau Kakak mencoba mendekati Nay, tapi Nay minta lebih baik Kakak berhenti."
Senyum Ezriel perlahan luntur mendengar ucapan Naynay. Gadis pujaannya itu sudah menutup hatinya darinya. Apakah harapannya untuk memiliki gadis itu pupus? Jawabannya tidak, dia tetap akan mencoba menakhlukkan hati gadis itu.
"Boleh aku tahu, apa alasanmu menutup hatimu?" tanya Ezriel dengan senyum penuh keteguhan yang susah payah dia tampilkan.
"Maaf, Nay nggak bisa menjawab. Tapi lebih baik Kakak berhenti, demi Kakak sendiri." Naynay memberikan senyum tipis sebelum melangkah meninggalkan Ezriel yang bahunya perlahan merendah.
"Sakit juga, ya, ditolak sebelum nembak." Laki-laki itu mengusap wajahnya kasar.
"Sebelum aku mendapatkan alasan dari perkataanmu hari ini, aku akan tetap berjuang, Nay" ucap Ezriel menyemangati dirinya sendiri dengan kembali mengulas senyum dan meremas jaketnya. Kemudian dia berjalan menuju ke arah Naynay pergi.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Naynay masih belum bisa jujur nih, hatinya babang Ezriel jadi gundah gulana dibuatnya.