My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 203 Saling Menguatkan


__ADS_3

Keesokan harinya saat Olivia membuka mata, ia melihat Fandi tertidur dengan menelungkupkan kepalanya disisi ranjang brankar Olivia. Olivia membelai kepala pria yang begitu dicintainya itu.


''Fandi, bangun.'' Olivia memanggil lirih Fandi. Fandi pun terbangun, ia mengerjapkan matanya melihat kearah Olivia yang sudah tersadar.


''Oliv, akhirnya kamu sadar juga.''


''Aku ingin pulang, Fan. Aku tidak ingin berlama-lama disini.''


''Iya, biar nanti aku tanya dokter dulu ya.''


''Tapi aku ingin pulang ke rumah Papa dan Mamaku. Sayang kalau dibiarkan kosong. Aku ingin kita memulai semuanya dari nol lagi.''


''Iya Olivia, aku setuju denganmu. Tapi kamu harus sembuh dulu dan segeralah sehat.'' Kata Fandi.


''Aku akan belajar membuka hatiku untukmu, Olivia. Meskipun semuanya terasa sulit. Demi anak yang ada dalam kandunganmu dan juga demi amanah Papa kamu.'' Gumam Fandi dalam hati.


''Aku cuci muka dulu ya. Setelah itu aku akan pergi membeli sarapan untukmu. Kamu mau apa?''


''Bubur ayam saja sudah cukup untuk sarapan pagi.''


''Baiklah, kamu tunggu ya. Aku akan segera kembali.''


''Iya Fan.''


Setelah mencuci muka, Fandi bergegas membeli bubur ayam untuk Olivia. Kebetulan sekali, di depan rumah sakit ada gerobak bubur ayam. Tidak sampai lima belas menit, Fandi segera kembali ke kamar Olivia.


''Aku sudah mendapatkannya, Liv.''


''Cepat sekali, Fan.''


''Kebetulan di depan ada yang jual. Jadi tidak perlu jauh-jauh. Sekarang, kamu makanlah! Aku akan menyuapimu.'' Kata Fandi.


''Terima kasih ya, Fan. Aku tahu dan sangat sadar diri Fan, bahwa apa yang kamu lakukan saat ini hanyalah semata demi anak yang aku kandung dan demi amanah Papa tapi tidak apa, aku tetap bahagia. Sekalipun aku harus mendapat belas kasihan dari kamu, setidaknya aku tidak sendiri.''


''Olivia, sudah ya jangan bicara aneh-aneh lagi. Kita akan mulai semuanya dari nol, seperti apa yang kamu katakan tadi. Sekarang makanlah, supaya ku segera pulih dan kita bisa segera pulang.'' Kata Fandi. Olivia hanya mengangguk dengan senyum tipisnya.


...****************...


''Sayang, sebelum ke kantor, aku mau ke rumah sakit dulu.'' Ucap Arsen pada Sheena, saat keduanya tengah sarapan bersama.


''Siapa yang sakit sayang?'' tanya Sheena.


''Istrinya Tuan Indra. Papa dan Mama kan belum kembali liburan, jadi Papa memintaku untuk mewakili menjenguk istri Tuan Indra.''


''Ya sudah kalau begitu aku ikut ya, sayang. Aku mau ikut kamu ke kantor juga hari ini.''

__ADS_1


''Kamu istirahat saja di rumah. Kamu tidak usah ikut.''


''Kenapa tidak boleh? Tumben-tumbenan kamu melarangku. Apa itu hanya alasan kamu saja ya?''


''Astaga sayang, untuk apa aku beralasan. Kamu jangan buruk sangka deh.''


''Makanya aku ikut. Aku bosan di rumah.''


''Oke baiklah.''


''Soalnya nanti jam makan siang, aku ingin ke mall. Kamu mau kan temani aku belanja ke mall?''


''Siap sayang tapi aku tidak janji ya karena aku harus mempersiapkan launching produk. Mmmm atau kamu ajak Belinda saja, nanti biar Pak Roni yang antar kamu.''


''Baiklah sayang, tidak apa-apa. Yang jelas aku ikut jenguk istri Tuan Indra.''


''Iya-iya. Ya sudah habiskan makanannya.''


''Oke sayang.'' Jawab Sheena penuh semangat.


Setelah selesai sarapan, Arsen dan Sheena segera pergi ke rumah sakit. Dua puluh menit kemudian, keduanya tiba di rumah sakit dan segera pergi menuju kamar Tuan Indra. Disana Arsen dan Sheena di sambut dengan ramah. Setelah basa-basi cukup lama hampir tiga puluh menit, Arsen dan Sheena pun pamit. Disaat Arsen dan Sheena keluar dari kamar rawat istri Tuan Indra, disaat yang bersamaan Fandi keluar dari kamar rawat Olivia. Ternyata kamar keduanya berseberangan.


''Fandi!" gumam Sheena.


"Sheena!" gumam Fandi. Keduanya sama-sama terkejut. Sementara Arsen wajahnya berubah kesal.


''Iya, aku menjenguk klien suami aku. Kamu sendiri? Siapa yang sakit?'' tanya Sheena.


''Olivia, Sheena. Setelah aku pulang dari rumahmu, aku mendapat kabar orang tua Olivia kecelakaan dan mereka meninggal. Jadi Olivia pun drop.''


Arsen dan Sheena pun terkejut mendengar kabar itu. ''Apa? Meninggal? Ya Allah, kasihan Nona Olivia.''


''Sayang, kita jenguk sebentar boleh kan?'' lanjut Sheena.


''Iya sayang.'' Jawab Arsen.


''Fan, aku mau melihat kondisi Nona Olivia.''


''Baiklah, ayo masuk! Olivia pasti senang karena kamu datang.'' Kata Fandi. Fandi kemudian mengajak Arsen dan Sheena masuk. Olivia sangat senang saat melihat Sheena.


''Nona, aku turut berduka cita.'' Sheena kemudian memeluk Olivia.


''Iya Sheena. Apa Fandi yang memberitahumu?''


''Kami tidak sengaja bertemu di depan karena aku dan suamiku juga menjenguk orang sakit. Nona, yang sabar dan kuat ya.''

__ADS_1


''Aku juga turut berduka cita sedalam-dalamnya.'' Sahut Arsen.


''Terima kasih Tuan Arsen.'' Ucap Olivia dengan senyum kecilnya.


''Tuan Arsen, aku ingin bicara denganmu. Ada yang ingin aku katakan.''


''Baiklah.'' Singkat Arsen. Fandi kemudian mengajak Arsen keluar ruangan.


''Sheena, kamu baik-baik saja kan? Bayimu juga baik-baik saja kan?''


''Iya Nona, semuanya baik-baik saja.''


''Sheena, jangan panggil aku Nona. Aku sudah pernah bilang untuk panggil Olivia saja. Sekarang kita adalah teman.''


''Iya Olivia. Olivia, maafkan aku ya.''


''Maaf untuk apa?''


''Maaf karena aku selalu menjadi penghalang kebahagiaanmu. Karena kemarin Fandi sebenarnya datang ke rumahku. Dia bilang kalau sudah ingat semuanya. Tapi aku dan suamiku menyuruhnya untuk pulang dan kembali kepadamu. Sekali lagi maafkan aku.''


''Sheena, aku sudah tahu. Saat ingatannya pulih, pasti kamu lah yang di cari oleh Fandi. Aku sangat paham itu, Sheena.''


Mata Sheena tiba-tiba berkaca-kaca. Ia salut dengan cinta Olivia yang begitu tulus dan besar pada Fandi.


''Olivia, kenapa kamu kuat dan sabar sekali menghadapi Fandi? Aku merasa bersalah padamu Olivia.''


''Jangan katakan itu, Sheena. Kamu tidak salah apapun. Sheena, saat ini aku telah kehilangan orang tuaku tapi disaat yang bersamaan, Tuhan juga memberiku kebahagiaan.'' Kata Olivia sambil mengelus perutnya dan Sheena melihat itu.


''Maksudnya, kamu hamil?''


''Iya Sheena, aku hamil.''


''Olivia, aku sangat senang mendengarnya. Akhirnya Fandi berubah juga.''


''Sheena, kehamilan ini adalah sebuah kecelakaan yang tidak diinginkan Fandi. Sesaat setelah bertemu denganmu di supermarket, Fandi marah dan dia mabuk. Setelah itu dia memaksaku untuk melakukan itu karena dia menganggap, aku adalah dirimu Sheena. Dia memanggilku Sheena saat melakukan itu. Aku minta maaf karena memanfaatkan kondisi Fandi yang sedang mabuk. Seharusnya aku bisa menolaknya tapi aku malah melayaninya. Aku juga menginginkan hal itu, Sheena. Sebauh hal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh pasangan suami istri.'' Kini kedua wanita itupun saling menangis dan berpelukan.


''Aku tidak marah Olivia. Aku justru bahagia. Mungkin dengan semua ini, Fandi akan mulai mencintai kamu. Kamu tidak perlu minta maaf padaku Olivia. Apa yang kamu lakukan, memang sudah seharusnya di lakukan. Kamu kuat sekali menghadapi itu semua, Olivia. Melayani seorang suami yang menyebut nama wanita lain saat bercinta dengan kita, adalah suatu hal yang menyakitkan. Seharusnya aku yang minta maaf. Percayalah padaku Olivia, di hati kecilku rasa untuk Fandi sudah tidak ada lagi. Bagiku semua itu hanya masa lalu. Aku bahkan selalu berdoa supaya kamu dan Fandi segera bersatu, hidup bahagia dan saling mencintai.''


''Aku tahu Sheena. Kamu juga wanita yang tangguh. Kamu merelakan orang yang kamu cintai demi menjaga ketaatan seorang anak pada Ibunya. Kamu juga berkorban banyak hal untukku dan juga Fandi. Dan saat mendengar kamu menikah, apalagi mendengar kamu adalah putri dari seorang yang hebat, aku sangat bahagia mendengarnya Sheena. Karena saat itu juga kebahagiaan menantimu.''


''Disaat kita kehilangan, disaat itu juga Tuhan menggantinya Olivia. Asalkan kita benar-benar ikhlas merelakannya. Aku bahkan sangat bahagia dengan kehidupanku yang sekarang. Mempunya keluarga yang lengkap dan suami yang luar biasa. Aku juga tidak ingin kamu berlarut-larut dalam kesedihan, Olivia. Karena apa? Kamu sedang hamil jadi kamu harus bahagia. Kamu masih punya Om Ifan dan Tante Citra yang sangat menyayangi kamu, terus ada calon baby kamu dan juga ada Fandi yang pasti akan menjagamu. Kamu harus bangkit demi mereka ya. Aku yakin kalau kamu bahagia kedua orang tua kamu juga pasti akan bahagia disana. Apalagi kamu sudah bersama dengan pria yang tepat.''


''Iya Sheena, terima kasih ya. Kedatanganmu setidaknya membuat kesedihanku berkurang. Aku sangat butuh teman untuk bercerita.''


''Sebisa mungkin, aku akan siap saat kamu butuh teman bercerita Olivia.''

__ADS_1


''Pasti Sheena.''


Bersambung.... Yukkk, like, komen dan vote yang banyak ya, makasih 🙏😘


__ADS_2