
Aura bahagia terpancar sempurna dari salah satu ruangan di rumah sakit ini. Hari ini Naynay dan Gamaliel sudah diperbolehkan pulang, setelah sebelumnya tertahan di sana selama empat hari. Afif ingin Naynay benar-benar sehat dulu, baru boleh pulang.
Naynay sedang berdiri sambil menggendong Gamaliel di depan jendela kaca, sedangkan Afif baru saja masuk setelah menemui Nathan tadi. Dia berjalan mendekat dan memeluk Naynay dari samping, dia mencium kening Gamaliel.
"Ayo pulang," ucap Naynay menatap Afif penuh harap. Empat hari di sini benar-benar membuatnya bosan, beruntung ada Gamaliel yang mengalihkan perhatiannya.
"Ayo, Ryan sudah menunggu di bawah." Afif mengambil alih Gamaliel dari Naynay agar istrinya itu tidak kelelahan. Mereka segera keluar dan turun menggunakan lift. Mereka juga keluar melalui pintu khusus agar tidak dilihat oleh orang-orang yang ada di sana.
Ryan membukakan pintu, Afif dan Naynay segera masuk. Setelah Ryan duduk di belakang kemudi, mobil segera melaju menuju jalan pulang.
"Jangan diganggu terus, ihh..." ujar Naynay pada Afif yang sejak tadi menciumi kedua pipi Gamaliel. Kulit yang tadinya putih bersih, sekarang memerah akibat ulah sang papa.
"Mama cemburu, dia juga mau dicium." Afif berbicara pada Gamaliel yang menggeliat kecil dan membuka mulutnya.
Naynay memukul lengan Afif gemas, selalu saja suaminya itu berkata seperti itu. Dia sudah puas dicium dan dipeluk setiap malam, tidak akan cemburu juga lah pada anaknya sendiri.
"Kenapa dipukul sih, Nay?" tanya Afif sambil tertawa menatap Naynay yang menatap tajam.
"Kalau Gama nangis, susuin sendiri!" ucap Naynay ketus. Dan benar saja, Gamaliel langsung menangis sedetik setelah Naynay mengatakan itu karena Afif yang tidak henti-hentinya menciumi pipi gembulnya.
Afif menatap Naynay dan tersenyum sok imut. Dia mendekatkan Gamaliel yang menangis ke arah Naynay.
"Tuh, 'kan!! Kakak ihh.." Naynay meraih Gamaliel dan bersiap menyusui.
"Ryan, spionmu!" ucap Afif sambil menahan tangan Naynay yang ingin membuka kancing dressnya.
Naynay segera menyusui Gamaliel setelah Ryan memutar spion tengah ke arah wajahnya sendiri. Naynay tersenyum saat merasakan bibir kecil anaknya itu mulai mengemut. Rambut lebat Gama dia elus dengan begitu lembut.
__ADS_1
Mobil memasuki gerbang dan berhenti di pelataran rumah. Afif kembali menggendong Gamaliel dan mereka segera masuk.
"Selamat datang!!"
Naynay mengelus dadanya karena terkejut, lain dengan Afif dan Gamaliel yang anteng-anteng saja tidur. Mungkin terlalu lelah karena tadi tidurnya sempat diganggu Afif.
Mereka disambut oleh semua orang di rumah ini. Hendrayan, Yasmin, Araa, Joan, Rosi, Rania, dan Ezriel pun ada. Rumah juga sedikit dihias dengan dekorasi warna biru, ada juga nama Gamaliel yang besar terpasang.
"Akhirnya pulang!!" pekik Qiara dan Silla yang segera mendekat ke arah Afif. Mereka mengusap pipi Gamaliel sambil menahan gemas agar tidak mencubit pipi itu.
Rosi dan Rania berjalan menuju Naynay dan berpelukan. Mereka memang belum menjenguk Naynay ke rumah sakit karena diberitahu oleh Yasmin untuk membuat kejutan menyambut Naynay pulang saja.
"Yahh... Nggak bisa lihat kamu jalan dengan perut besar lagi dong, Nay!" ujar Rania setelah mereka melepas pelukan.
"Ini ada gantinya." Naynay menunjuk perut Rosi yang mulai membesar karena sudah berusia empat bulan. Dan lagi, ternyata Rosi hamil kembar.
"Nggak sabar juga lihat Kak Ros jalan dengan perut super besarnya," ucap Rania tertawa yang dibalas toyoran di kepalanya oleh Rosi.
Araa yang digandeng oleh Yasmin berjalan dengan cepat menuju Naynay. Dia memegang lutut Naynay dan menatap Naynay dengan mata berbinar.
"Anak Bubu kenapa?" tanya Naynay sambil mengusap pipi Araa. Dia meminta Yasmin untuk mendudukkan Araa di pangkuannya.
Tapi tiba-tiba saja Araa menangis, Naynay jadi bingung. Dia memeluk anaknya itu dan meraih tisu untuk menghapus air matanya.
"Ma, Araa kenapa?" tanya Naynay yang mulai resah melihat anaknya menangis.
"Pulang dari jenguk kamu waktu itu, Araa demam. Dia juga nangis kayak gini, mungkin karena kangen sama kamu," ucap Yasmin.
__ADS_1
Afif yang melihat Araa menangis pun memberikan Gamaliel pada Hendrayan yang sejak tadi ingin menggedongnya. Tapi yang namanya Afif kan memang usil sama Hendrayan, jadi dia kerjai dulu tadi.
"Sama Ayah, sini!" Afif mengangkat tubuh Araa dan menggendongnya.
"Aku bawa dia main dulu," ucap Afif dan mencium kening Naynay sebelum pergi menuju pintu keluar.
Sedangkan tak jauh dari Naynay, ada dua laki-laki yang sedang duduk di sofa lainnya. Ezriel benar-benar shock melihat wajah Gamaliel, jadi Joan mengajaknya berbicara di sini agar tidak didengar yang lain.
"Jadi Afif adalah laki-laki yang memperkosa Naynay?" tanya Ezriel setelah terdiam sejak tadi.
"Bukan memperkosa, tapi laki-laki yang dijebak bersama Naynay!" revisi Joan yang bawaannya selalu santai.
"Kenapa bukan aku saja yang dijebak bersama Naynay?" Pertanyaan bodoh itu sukses membuat Joan kesal hingga memukul kepala belakang Ezriel.
"Menjengkelkan," ucapnya menatap Ezriel tajam.
"Sudahlah, jangan pernah mengharapkan Naynay lagi! Dia sudah bahagia dengan keluarga kecilnya," ujar Joan sambil berdiri dan pergi menuju Rosi yang sedang duduk bersama Naynay.
"Sayang, tolong belikan bakso yang biasa!"
Baru saja ingin duduk, Rosi sudah menyuruhnya membelikan bakso. Tanpa protes, dia menarik Ezriel untuk menemaninya membeli bakso di gerbang masuk kompleks ini.
.
.
Aku nggak tahu mau tamatin cerita ini gimana ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
.
.