
Suara kekehan khas bayi mengusik tidur Naynay. Membuka matanya, dia disuguhi pemandangan menakjubkan. Di depannya, Araa yang memakai piyama bayi sedang duduk di atas perut Afif yang terbuka karena laki-laki itu membuka bajunya sebelum tidur.
Wajah tampan Afif mendapat cubitan dari jari-jari kecil Araa yang membuatnya menggeleng, reaksi itulah yang membuat Araa tertawa. Afif sendiri tidak bisa membalasnya karena kedua tangannya memegangi tubuh bayi itu agar tidak jatuh.
"Bubu udah bangun," ucap Afif kepada Araa ketika melihat istrinya itu sudah bangun dan sedang memperhatikan mereka.
Naynay tersenyum dan meringsut mendekat ke arah dua manusia beda generasi itu. "Udah cuci muka, belom?" tanyanya sambil memencet hidung kecil Araa.
"Baru aja bangun," balas Afif dan merebahkan tubuh Araa di atas perutnya.
"Cuci muka dulu, yuk. Nay pengen ke rumah mama." Bumil itu duduk dan mengikat rambutnya asal-asalan.
"Aku saja yang menggendongnya," ucap Afif ketika Naynay hendak meraih tubuh mungil Araa yang sibuk menepuk-nepuk dada Afif.
Mereka bertiga masuk ke kamar mandi. Dengan masih digendong oleh Afif, Naynay membasahi wajah Araa dengan sedikit air.
"Mandinya di rumah nenek aja, ya!" ucap Naynay kepada Araa setelah mengelap wajah bayi itu.
Setelah selesai dengan acara cuci muka singkat, mereka mengganti pakaian dan turun untuk pamit kepada ibu panti. Araa juga akan dibawa, jadi Naynay meminta untuk dibuatkan susu agar bayi itu tidak kelaparan.
"Semalam Kak Iyan tidur di mana?" tanya Naynay ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Hendrayan.
"Di mobil, Nona."
"Kenapa nggak di dalam aja? Ada kamar khusus buat tamu kok."
Ryan tak membalas, dia hanya mengulas senyum tampan sambil sedikit melirik Naynay lewat spion tengah mobil.
"Dia tidak bisa tidur di sembarangan tempat, di hotel pun dia tidak akan tidur." Afif yang menjawab.
"Kenapa bisa gitu?" Naynay masih heran.
Afif tidak lagi menjawab, dia hanya mengedikkan bahunya. Naynay mengerucutkan bibirnya dan bermain lagi dengan Araa yang sibuk menggigit mainan bebek di tangannya.
Sesampainya di rumah Hendrayan, Afif menyuruh Ryan untuk pulang. Dengan alasan di rumah ini dia akan dilayani oleh istrinya sendiri. Elehh, padahal di rumah dia pun tetap Naynay yang melayani dia.
"Mama!" teriak Naynay ketika tidak mendapati Yasmin di lantai satu rumah ini.
"Mama pergi beli macaron katanya," ucap Hendrayan yang muncul dari dapur sambil memakan pisang.
__ADS_1
"Papa nggak kerja?" tanya Naynay dan mencium tangan paparnya itu.
"Nggak, Papa punya feeling kalau kamu bakalan datang hari ini." Tangannya mencubit pelan pipi gembul Araa dan mencium keningnya juga. Dia dan Yasmin memang sudah tahu semuanya tentang Araa, bahkan mereka berniat untuk mengadopsi bayi kecil itu untuk menjadi adiknya Naynay.
"Ya udah, Nay ke atas dulu." Naynay berjalan menaiki tangga sambil menciumi pipi Araa. Meninggalkan suaminya dengan papanya di ruang keluarga.
"Kita mandi, ya. Bubu buka dulu bajunya Araa." Naynay membuka baju Araa setelah meminta izin sebelumnya, ini penting lho.
Setelah membuka baju bayi itu, Naynay membuka bajunya juga dan mereka berendam di dalam bathtub yang sudah diisi air hangat dan sabun yang pastinya aman untuk bayi. Araa sudah sering dibawa ke sini, jadi tidak heran kalau sabun bayi pun tersedia di sini.
Di luar sana, Afif baru saja memasuki kamar dan tidak melihat Naynay berada di sana. Tapi indera pendengarannya menangkap suara tawa istrinya dan Araa dari arah kamar mandi. Afif mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup sempurna.
"Coba pegang perut Bubu, di sini ada dedek bayi juga." Naynay mengarahkan tangan mungil Araa ke perutnya yang buncit. Bayi itu tertawa hingga menampilkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi.
Afif tersenyum melihat adegan di depannya. Dia melangkah masuk ke dalam hingga membuat Naynay terkejut.
"Jangan masuk, Nay nggak pakai baju!!" pekik bumil itu panik dan menempelkan tubuh Araa yang sebelumnya duduk di kursi kecil ke tubuhnya.
"Aku juga mau berendam," ucap Afif santai dan membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya di depan Naynay.
Naynay menutup matanya panik. Tubuhnya bergetar saat merasakan kulitnya bergesekan dengan kulit Afif di dalam air.
"Bubu malu, sini sama Ayah." Afif mengambil Araa dari pangkuan Naynay yang masih memejamkan matanya. Bayi lima bulan itu tertawa senang, kakinya menendang-nendang saat tubuh polosnya yang montok diangkat oleh Afif.
"Nggak perlu tutup mata, aku suamimu." Sebelah tangan Afif menjipratkan air ke wajah Naynay.
"Nay malu," cicit bumil itu dengan suara kecil nan imutnya.
"Makanya biasakan, kita itu suami istri." Afif berbisik di telinga Naynay hingga istrinya itu merinding dibuatnya.
Naynay membuka matanya perlahan dan menghela napas lega karena busa sabun bisa menutupi sedikit tubuh polosnya. Kemudian menatap Afif dengan bibir mengerucut.
"Kenapa? Kau mau dicium?" tanya Afif dan mendekatkan wajahnya hingga hidung mancung mereka bersentuhan.
"Nay malu kalau kayak gini," ujar Naynay pelan dan mengalihkan pandangannya dari mata tajam memabukkan suaminya.
Afif mencium pipi Naynay sebelum meraih tangan istrinya itu dan meletakkannya di dadanya, di mana tubuh Araa juga sedang didekap di sana.
"Biasakan!" ucap Afif singkat tanpa memedulikan Naynay yang terkejut.
__ADS_1
'Mama juga bilang gitu, aku harus membiasakan diri.'
Tubuh Naynay ditarik mendekat hingga benar-benar menempel dengan tubuh Afif. Sedangkan Araa sedang duduk di paha Afif dan dipegangi dengan sebelah tangan. Bayi itu sibuk menepuk-nepuk air hingga muncrat membasahi wajahnya.
"Kita akan sering melakukan ini kedepannya." Afif langsung meraup bibir Naynay dan menyesapnya bergantai atas dan bawah.
Jangan ditiru! Apalagi ada anak kecil tuh yang nyaksiin dengan mata bulatnya.
'Apa? Sering?'
Naynay membalas ciuman itu dengan gerakan kakunya. Walaupun sering diserang seperti ini, tapi dia tetap belum bisa mencium lebih baik.
Suara cecapan yang dihasilkan dari pertemuan dua bibir itu membuat Araa oleng seketika. Bayi itu memiringkan kepalanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya bingung.
Apa yang mereka lakukan? Mungkin itu yang ada di pikiran bayi itu sekarang.
Bibir Afif sekarang beralih ke leher Naynay, mencium lembut tanpa meninggalkan jejak kemerahan di sana. Dia paham kalau istrinya itu masih terjebak dalam traumanya. Sekarang beralih lagi ke bahu putih mulus itu.
Tanpa sadar, Naynay mengerang pelan karena sensasi geli yang dia dapat dari aksi bibir sexy suaminya itu. Tangannya mengepal di samping tubuh Afif, menahan desahan selanjutnya yang akan keluar dari bibirnya.
"Bubuuuu...." celoteh Araa yang berhasil membuat Afif tersadar sebelum lanjut ke benda kenyal yang menggugah selera itu.
.
.
.
.
.
Selama bulan Ramadhan, aku UP malam, ya...
Dosa kalau kita baca yang kayak gini siang hari, batal puasa nanti.
Akan ada cerita baru nih, rilis tanggal 15 April nanti. Judulnya : The Story of Azora Habelino.
Mohon dukungannya, yaaaa...
__ADS_1
Banyakin like sama komennya 😚