My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 155 Menguntit


__ADS_3

Arthur baru saja tiba di kantor, ia pun tidak langsung menuju ruangannya. Arthur memilih berdiri di teras kantor sembari menunggu Belinda datang. Ia ingin memastikan bahwa Belinda datang tepat waktu di hari pertamanya bekerja.


Beberapa saat kemudian, Arthur sangat terkejut melihat Belinda datang dengan naik motor matic.


''Se-serius itu Belinda?'' gumam Arthur.


''Sepertinya dia sudah melupakan si kuman dan bakteri.'' Gumamnya lagi. Begitu turun dari motor, Belinda segera menghampiri Arthur.


''Aku tidak telat kan?'' ucap Belinda. Arthur menatap penampilan Belinda dari ujung kepala sampai ujung kaki.


''Tumben pakaianmu seperti itu?''


''Terik sinar matahari terlalu mengerikan untuk kulitku, belum lagi polusi udara. Kulitku bisa kering dan kusam.''


''Hhh ternyata masih sama.'' Batin Arthur.


''Ya sudah aku mau ke toilet, mau merapikan baju dan riasanku.''


''Oh ya selama di kantor panggil aku Tuan Arthur karena kamu adalah bawahanku.'' Jelas Arthur.


''Ap-apa? Tuan?'' Belinda melotot.


''Iya, Tuan. Apa keberatan? Atau aku perlu menelepon Om Keenan?'' Ancam Arthur.


''Wah, kamu sudah mulai berani mengancamku ya?'' Belinda menggigit bibir bawahnya kesal.


''Kenapa tidak? Untuk gadis manja sepertimu. Cepat rapikan pakaianmu dan pergi ke ruanganku.'' Ucap Arthur seraya berlalu.


''Dasar manusia menyebalkan! Kalau bukan karena ketahuan bersalah oleh Papa, aku tidak sudi melakukan ini semua. Kenapa juga Papa memintaku bekerja dengannya sih? Dia pasti sekarang merasa senang karena bisa menindasku.'' Gerutu Belinda dalam hati. Belinda segera pergi ke toilet untuk merapikan pakaian dan riasan.


''Oh Belinda, kamu memang sangat cantik. Tunjukkan pesonamu di hari pertama mu bekerja. Tunjukkan kemampuanmu pada pria arogan itu.'' Gumamnya sambil menatap pantulan wajah cantiknya di dalam cermin. Setelah semua selesai, Belinda kemudian pergi ke ruangan Arthur.


''Kak Arthur, aku sudah selesai.'' Kata Belinda yang masuk begitu saja.


''Ketuk pintu dulu! Dan panggil aku Tuan selama di kantor.'' Tegas Arthur.


Belinda menghela. ''I-iya maaf Tuan.'' Kata Belinda yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


''Mendekatlah!" pinta Arthur. Belinda dengan kesal berjalan mendekat kearah Arthur.


''Duduk!" perintah Arthur. Belinda dengan terpaksa duduk di hadapan Arthur.


''Dengarkan aku, karena kamu adalah sekretaris baru dan masih dalam pantauan ku langsung jadi aku sudah menyiapkan meja untukmu disebelah sana.'' Kata Arthur sambil menunjuk kearah sisi kirinya. Sebuah meja untuk Belinda yang berjarak 4 meter dari meja Arthur. Arthur memberinya sekat kaca untuk memisahkan jarak keduanya namun Arthur tetap dengan mudah memantau Belinda.


''Jadi, kita satu ruangan?'' tanya Belinda.


''Iya. Ini untuk mengawasimu secara langsung. Jadi aku bisa tahu apakah kamu bisa bekerja dengan serius atau hanya bisa main-main saja.''


''Sialan! Dia ternyata bisa bersikap seperti itu juga. Kali ini aku kalah tapi awas saja ya kamu Arthur.'' Belinda merutuk dalam hati.


''Jadi silahkan bekerja! Ini dokumennya, pelajari ini dan masukkan semua datanya dalam laptop yang sudah aku sediakan. Semua kebutuhanmu sudah aku siapkan diatas meja.'' Kata Arthur sambil menyerahkan tumpukan dokumen pada Belinda. Belinda melotot melihat tumpukan dokumen yang tidak pernah dia lihat.


''Aduh, hari pertama kerja sudah sengsara,'' protesnya dalam hati.


''Masa iya lulusan universitas terbaik di London tidak sanggup?'' sindir Arthur.


''Hhh jangan menghinaku! Bagiku ini semua mudah.'' Ucap Belinda.


''Iya TUAN ARTHUR!" Kata Belinda dengan penuh penekanan. Belinda lalu membawa tumpukan dokumen itu ke mejanya. Sedangkan Arthur kembali meneruskan pekerjaannya.


Tiga puluh menit kemudian, Arthur mengajak Belinda ke ruang meeting, sekaligus memperkenalkan Belinda kepada karyawan yang lain. Semua yang ada di ruangan itu terpesona dengan kecantikan Belinda. Arthur tentu saja melihat bahwa karyawannya menatap Belinda penuh dengan perasaan kagum.


''Selamat pagi semuanya. Perkenalkan ini sekretaris baru saya, namanya Belinda. Segala urusan saya, kalian bisa mendiskusikan dengannya. Silahkan perkenalkan diri kamu.'' Ucap Arthur secara formal.


Belinda mengangguk dengan senyum ramahnya. ''Annyeonghaseyo yeoleobun bellindaibnida. Gongbuhago ilhago sip-eun pyeongbeomhan salam-ini hyeobjo butagdeulibnida. Halo semuanya, perkenalkan nama saya Belinda. Saya hanya orang biasa yang ingin belajar dan bekerja jadi mohon kerja samanya.''


Semuanya memberikan tepuk tangan menyambut kedatangan Belinda. Mereka semua juga kagum dengan kefasihan Belinda berbahasa Korea.


''Dasar gadis sombong,'' gumam Arthur dalam hati.


''Baiklah, kalian bisa melanjutkan perkenalan nanti tapi sekarang kita bisa mulai meetingnya.'' Arthur pun memulai meeting pagi ini. Belinda tampak serius mengikuti meeting itu. Namun kali kedua Belinda di buat kagum oleh Arthur.


''Dia bisa se-keren ini juga rupanya. Di sekolah dia sudah sangat hebat dan memimpin perusahaan pun tidak kalah hebat. Eh-eh, kenapa aku memujinya? Aku kan sangat membenci pria menyebalkan ini. Sadar Bel, dia itu musuh bebuyutanmu. Dan ingat ada DAVE!" Gumamnya dalam hati.


Tepat saat jam makan siang, rapat pun selesai. Karyawan pun membaur mengajak Belinda berkenalan. Tentu saja Belinda merasa risih di kerumuni banyak orang dan ia mulai merasa panik.

__ADS_1


''Apa Belinda juga mysophobia seperti Arsen juga? Atau OCD juga?'' gumam Arthur yang mengingat cerita Sheena bahwa Arsen menderita mysophobia. Dan satu-satunya saudara Arsen yang paling merasa jijik dan sok bersih hanya Belinda saja.


''Belinda, ikut keruanganku!" pinta Arthur dengan suara lantangnya. Belinda merasa lega karena akhirnya Arthur secara tidak langsung membebaskannya dari kerumuman karyawan.


''I-iya Tuan. Aku permisi dulu ya.'' Ucap Belinda tergagap. Belinda kemudian mengekor dan mengajak Belinda kembali ke ruangan.


''Oh syukurlah, kamu mengajakku pergi dari sana. Aku tidak bisa berkerumun seperti itu. Apalagi menjabat tangan satu persatu.'' Kata Belinda. Belinda kemudian berlalu menuju toilet yang ada di ruangan Arthur. Ia segera mencuci tangannya sebersih mungkin. Beberapa saat kemudian, Belinda pun keluar dari toilet.


''Maaf, aku belum terbiasa dengan situasi ini.'' Kata Belinda.


''Biasanya handsinitizer selalu ada di kantongmu.''


''Aku lupa membawanya. Oh ya, aku mau pergi makan siang. Boleh kan?''


''Silahkan! Tapi dengan siapa?''


Belinda tersenyum miring. ''Bukan urusan anda, Tuan. Bye!" ucap Belinda seraya berlalu.


''Jangan sampai telat kembali.'' Pesan Arthur.


''Iya." Jawab Belinda dengan entengnya.


''Pasti dengan pria brengsek itu,'' gumam Arthur. Dan benar saja, Dave sudah menunggu Belinda di pelataran kantor Arthur.


''Hai baby,'' sapa Dave sambil merentangkan kedua tangannya siap menerima pelukan dari Belinda. Belinda tersenyum lalu menghambur ke pelukan Dave.


''I miss you baby.'' Ucap Dave.


''I miss you too. Aku lelah sekaki hari ini.''


''Baiklah aku hari ini akan menghilangkan lelahmu. Eh tapi ngomong-ngomong, you are so sexy. Baju kantoran sangat cocok untukmu.''


''Terima kasih baby untuk pujiannya. Sudah ayo kita makan, aku sudah lapar.''


''Oke.'' Jawab Dave. Dari balik pintu, Arthur melihat itu. Entah kenapa ada rasa khawatir dihatinya yang membuatnya memutuskan untuk mengikuti Belinda dan Dave pergi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2