My Perfect Husband

My Perfect Husband
Extra Part 3


__ADS_3

Ini beneran yang terakhir, ya. Cerita Gamaliel mungkin ada, tapi mungkin publis beberapa bulan ke depan. Belum pasti.


Aku akan fokus ke cerita baruku, jadi selamat membaca.....


……………………………………………………………


Rumah utama dihebohkan dengan berita kehamilan Silla setelah tiga bulan lalu menikah. Sebelumnya perilaku Silla memang sedikit aneh, suka ngemil yang aneh-aneh dan hoby meminta sesuatu yang tak kalah aneh.


Afif memang meminta agar Silla tinggal di rumah ini saja, daripada tinggal di rumah Ryan yang pastinya sepi. Orang tua Silla juga sudah setuju dan sekarang dalam perjalanan menuju rumah utama karena berita kehamilan Silla sudah diberitahukan setelah bumil itu melakukan pemeriksaan tadi siang.


Dan Naynay, ibu muda itu disibukkan dengan mengurus putranya yang begitu aktif dan kadang bandel itu. Gamaliel sekarang begitu suka berlari-larian keliling rumah, bahkan pernah nyemplung ke kolam renang karena berlari sambil menoleh ke belakang. Untungnya anak itu pintar berenang, jadi tidak terjadi apa-apa padanya.


"Kak, nanti cepat pulang ya!" pinta Naynay pada Afif yang berada di seberang sana. Perutnya terasa sakit, jadi dia menelepon Afif yang sekarang sedang di kantor.


"Aku sibuk," balas Afif singkat yang membuat Naynay sedih. Sudah dua hari ini Afif bersikap cuek padanya dan pulang larut malam.


"Ya udah, nggak apa-apa." Baru saja Naynay selesai mengatakan itu, Afif langsung mematikan sambungan telepon itu.


Naynay menatap hpnya yang menampilkan nama Afif di kontaknya, "Suami♥️". Dia meletakkan hp itu di atas nakas dan berjalan pelan menuju meja rias. Duduk di kursi, Naynay melihat wajahnya yang pucat di pantulan cermin besar itu.


Menundukkan kepalanya, Naynay memegang kepalanya yang terasa begitu pusing. Dia sudah meminum obat pereda sakit kepala tadi, namun sama sekali tidak ada perubahan. Ditambah dengan sikap Afif yang sekarang cuek, membuat kepalanya semakin sakit.


"Mama."


Terdengar suara Gamaliel dari arah belakangnya, Naynay segera menghapus air matanya yang entah sejak kapan mengalir. Setelah itu dia memutar tubuhnya pelan menghadap putranya, tak lupa senyumnya yang manis.


"Ya, Gama butuh sesuatu?" tanyanya sambil mengelus rambut Gamaliel yang sama dengan gaya potongan rambut Afif.


Pria kecil itu menangkup pipi Naynay dan memandang mata Naynay. "Mama nangis? Siapa yang jahat sama Mama?" tanyanya dengan raut wajah marah.


"Mama nggak nangis, kok. Ini karena kepala Mama pusing, Sayang." Naynay tersenyum dan memegang kedua tangan Gamaliel yang memegang wajahnya.


"Gama minta maaf, ini gara-gara Gama bandel. Janji nggak bandel lagi!" ucap Gamaliel yang langsung memeluk Naynay begitu erat.


"Lho, kok Gama bilang kayak gitu? Mana mungkin Mama sakit gara-gara Gama." Naynay mengelus punggung kecil itu sambil menahan sakit kepala dan perutnya.


"Gama mau tidur siang. Nanti kalau Gama bangun, Mama udah harus sehat, ya!" ujar Gamaliel setelah melepas pelukannya.


"Iya," balas Naynay sambil mengangguk. Kemudian Gamaliel keluar dari kamar dan menutup pintu kembali dengan tangannya yang mungil.


Naynay mengatur napasnya agar sakit yang dia rasakan berkurang. Dia berjalan begitu pelan menuju ranjang, dia kembali mengambil hp dan menghubungi Qiara.


"Halo..." ucap Qiara setelah panggilan tersambung.


"Qiara, bisakah kau ke kamarku sekarang? Perutku sangat sakit," ucap Naynay dengan lirih karena sakit yang dia rasakan semakin bertambah.


"Baiklah, aku akan ke sana." Qiara langsung berlari menuju tangga.

__ADS_1


Panggilan berakhir. Naynay berdiri karena merasa ranjang yang dia duduki basah, namun kepalanya semakin terasa sakit. Pandangannya mulai kabur dan kemudian menggelap. Tubuh lemah itu ambruk ke lantai dan membuat jidatnya berdarah karena terbentur pinggiran nakas.


Pintu kamar dibuka kasar, Qiara yang panik mendengar Naynay sakit tadi semakin panik setelah melihat tubuh Naynay tergeletak di lantai. Dia berlari mendekat dan begitu terkejut mendapati baju bagian pinggul Naynay berdarah.


Qiara berteriak minta tolong. Pak Hen yang kebetulan dari arah ruang kerja Afif mendengar teriakan Qiara. Dia berlari dan masuk ke kamar yang pintunya terbuka itu. Pria tua itu langsung panik melihat keadaan Naynay yang kepalanya sedang dipangku Qiara.


Pak Hen langsung memanggil bodyguard wanita untuk membawa Naynay ke bawah. Mereka segera membawa Naynay ke rumah sakit. Di dalam mobil, Qiara mengelap darah di jidat Naynay dengan tisu. Dia bisa melihat wajah Naynay yang begitu pucat, seperti tidak dialiri darah sedikitpun.


Di kantor, Afif yang sudah menerima telepon dari Pak Hen, langsung membanting hpnya dan keluar dari ruangannya. Ryan ternyata sudah menunggunya di depan lift, maka mereka langsung turun menuju basement.


Afif mengusap wajahnya yang tak kalah panik, dia memukul kepalanya beberapa kali. Otaknya kembali memutar ucapan Pak Hen tentang Naynay yang mengalami pendarahan. Sungguh, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika istrinya itu kenapa-kenapa.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama karena sedikit macet, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Afif langsung keluar dan berlari masuk, dia sudah mendapat kabar bahwa Naynay sudah dipindahkan ke ruangan di lantai teratas.


Afif membuka pintu ruangan dengan kasar, di dalam sana dia melihat Qiara yang sedang menangis duduk di samping brankar. Di sana terbaring tubuh Naynay yang bisa dilihat masih pucat.


Nathan yang juga berada di sana, dia menghampiri Afif yang mematung di pintu. Dia membawa laki-laki itu untuk bicara di luar, Ryan juga.


"Apa istriku baik-baik saja? Jawab!" bentak Afif sambil menepis tangan Nathan yang bertengger di bahunya. Matanya menatap tajam laki-laki berjas putih itu.


"Keadaan Naynay tidak baik-baik saja. Dia kelelahan dan hampir keguguran, untung saja orang rumah cepat membawanya ke sini hingga janinnya bisa diselamatkan!" jawab Nathan jujur yang langsung membuat Afif memukul tembok dengan keras. Setelah itu dia masuk kembali ke dalam ruangan dan mendekati brankar. Qiara memutuskan untuk keluar dan menunggu di sana.


Afif terduduk di kursi yang tadi diduduki Qiara, matanya yang berkaca-kaca itu menatap Naynay dengan perasaan bersalah yang besar. Dia menggenggam tangan Naynay yang tidak ditusuk infus, menciuminya sebelum menangis tanpa suara.


Naynay adalah kelemahan terbesar Afif. Melihat istrinya terbaring di sini benar-benar membuatnya merasa hancur. Jika saja dia menyadari perubahan suara Naynay saat meneleponnya tadi, suara lemah yang meminta agar pulang cepat.


Afif menciumi tangan Naynay yang terasa sedikit dingin, dia menatap jidat istrinya yang sekarang dibalut perban. Ternyata luka di jidat Naynay cukup panjang.


Sebelah tangan Afif bergerak ke arah perut Naynay, diusapnya lembut dengan tangan bergetar. Ada janin kecil di dalam sana, adik dari Gamaliel Cavin.


"Maaf," lirih Afif mendekatkan wajahnya ke wajah Naynay yang pucat. Dia mencium pipi yang sudah dua hari ini tidak dia kecup.


*****


Keesokan harinya, masih di rumah sakit, Naynay masih belum sadarkan diri. Afif sama sekali tidak beranjak dari kursi yang dia duduki semalaman. Afif sekarang masih tertidur, dia sama sekali tidak bisa tidur tadi malam. Laki-laki itu baru bisa memejamkan matanya saat dini hari. Dan tidur pun di posisi duduk dengan kepala di pinggiran brankar.


Semalam, Afif mendapat telepon dari Pak Hen kalau Gamaliel terus menangis karena tidak mendapati Naynay di seluruh rumah. Semua orang rumah berusaha menenangkan, namun Gamaliel tetap menangis dan memanggil Naynay. Bahkan ketika tertidur setelah lelah menangis, dia terus memanggil Naynay.


Perlahan, mata Naynay terbuka. Menyesuaikan penglihatannya yang sedikit kabur dan menampilkan langit-langit berwarna putih. Matanya beralih menatap tiang infus dan menyusuri selang infus yang berakhir di punggung tangannya.


Naynay beralih menatap ke arah berlawanan, ke punggung lebar yang sekarang dalam posisi menunduk. Naynay ingin sekali mengelus kepala laki-laki yang dicintainya itu, namun dia urungkan. Kembali merasa sedih, Naynay tidak tahu di mana letak kesalahannya hingga Afif mengabaikannya.


Tangan yang tertusuk infus itu terangkat menghapus air matanya, Naynay memang secengeng itu jika diabaikan oleh Afif. Dia yang biasa dihadiahi cinta begitu besar oleh laki-laki itu, namun tiba-tiba diabaikan.


Isakan kecil membangunkan Afif, dia mengangkat kepalanya dengan cepat dan melihat istrinya yang menangis.


"Maaf..." isak Naynay dengan mata tertutup. Dia tidak berani menatap Afif karena takut.

__ADS_1


Afif berdiri dan menutup wajahnya dengan sebelah tangan. Rasa bersalahnya semakin besar, dia kembali membuat kehamilan istrinya menjadi salah satu kenangan buruk. Afif kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Naynay dan mengusap air mata yang mengalir dari mata yang tertutup itu.


"Nay minta maaf," ucap Naynay lagi dengan suara yang hampir tak terdengar.


"Hei.. Nanti anak kita di sini juga nangis," ujar Afif lembut sambil mengusap perut Naynay.


Isakan Naynay melemah dan dia membuka matanya. Masih tidak mau menatap Afif, Naynay bengong menatap tangan Afif yang masih berada di atas perutnya.


Afif menekan tombol agar Nathan segera datang untuk memeriksa kondisi Naynay. Dia sadar bahwa Naynay masih belum mau berbicara dengannya, jadi lebih baik jika istrinya itu diperiksa terlebih dahulu.


Nathan dan satu orang dokter wanita masuk. Mereka memeriksa keadaan Naynay yang masih saja bengong menatap perutnya. Setelah memeriksa dan mengatakan kalau keadaan Naynay sudah membaik, mereka keluar. Naynay masih belum diperbolehkan pulang dan infus masih harus dipasang.


Afif duduk kembali dan menggenggam tangan Naynay. Sebelah tangannya mengarahkan kepala Naynay agar menatap padanya. Namun Naynay malah memilih menatap ke arah tangannya yang digenggam.


"Nay nggak salah apa-apa, Nay nggak aneh-aneh, Nay juga nggak lagi makan makan pedas. Jangan cuekin Nay lagi," ujar Naynay yang kembali menjadi sosok paling Overthinking.


"Maaf, ya, udah bikin istri cantikku ini nangis sampai sakit." Afif menciumi tangan Naynay yang tidak mau menatapnya.


"Selamat ulang tahun, Istriku Tercinta!" ucap Afif yang langsung membuat Naynay menatapnya. "Seharusnya ada kejutan untukmu, namun kita tunda dulu."


Naynay sama sekali tidak mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 23 tahun. Kesibukannya membuatnya tidak sadar waktu berjalan begitu cepat.


"Aku tidak akan percaya pada Internet lagi. Gara-gara mengikuti saran mereka, aku hampir kehilangan calon adik Gamaliel." Afif kesal setengah mati karena mengikuti saran memberikan kejutan dari internet. Hampir saja dia kehilangan calon buah hatinya karena itu. Itulah mengapa dia langsung membanting hpnya kemaren.


"Kakak jahat," ucap Naynay kembali menangis. Dia langsung mendapat dan kecupan di pipinya dari Afif. Hingga terdengar pintu terbuka dan teriakan pria kecil menggema.


"Mama ninggalin Gama sendiri di rumah!" rengek Gamaliel sambil berusaha naik ke atas brankar Naynay. Afif membantu putranya itu naik.


"Gama ke sini sama siapa?" tanya Naynay.


"Onty Qia," jawabnya cepat dan mengelus tangan Naynay yang diinfus. "Sakit, ya, Ma?"


Naynay mengangguk. "Iya, makanya Gama nggak boleh sakit biar nggak ditusuk kayak gini."


"Hu'um.... Gama ngantuk!"


"Sini, tidur sama Mama." Naynay memiringkan tubuhnya dan memberi ruang untuk Gamaliel tidur. Tangannya yang terinfus itu berada di atas pinggang Gamaliel yang tidur memeluknya.


"Pa, sini tidur bareng!" ajak Gamaliel menolehkan kepalanya.


"Gama tidur bareng mama aja, ya. Jagain mama, oke!" Afif tersenyum dan mengusap rambut Gamaliel.


"Oke," balas pria kecil itu dan kembali memeluk Naynay. Tak butuh waktu lama, dia sudah tertidur. Gamaliel yang begitu tidak bisa dipisahkan dari Naynay.


Afif menciumi pipi istri dan anaknya itu sebelum keluar dari ruangan. Dia harus menemui Nathan untuk menyiapkan segala alat kesehatan yang diperlukan Naynay di rumah. Afif sangat tahu kalau Naynay tidak suka berlama-kama di sini, jadi dia akan menyiapkan segala kebutuhannya di rumah.


......... SELESAI.........

__ADS_1


Terima kasih banyak untuk ribuan orang yang menjadikan cerita ini novel favoritnya. Sampai jumpa di cerita selanjutnya.....


__ADS_2