My Perfect Husband

My Perfect Husband
Extra Part 1


__ADS_3

Seorang wanita tampak sibuk mondar-mandir keluar-masuk kamar. Di tangannya ada tuxedo putih mungil dan sepatu berwarna senada.


"Gama, jangan lari-lari!" pekik Naynay yang mengejar langkah kecil Gamaliel yang berlari mengelilingi kamarnya. Pria kecil itu baru selesai mandi dan belum memakai pakaian.


"Ayo pasang bajunya, onty Silla udah nungguin Gama, lho." Naynay menggendong putranya itu dan membawanya ke karpet bulu yang ada di sana.


"Onty Cilla sama uncle Iyan?" tanya Gamaliel sambil memegangi kedua bahu Naynay ketika Naynay memasangkan celananya.


"Iya, Sayang." Naynay menghadiahi kecupan di pipi kanan Gamaliel sebelum memasangkan jas putih itu. Tak lupa juga dasi kupu-kupu hitam kecil di leher Gamaliel.


"Ayo lihat papa, udah siap apa belum." Naynay menggandeng tangan mungil Gamaliel menuju kamar utama. Mereka membuka pintu dan mendapati Afif sedang duduk di sofa dengan gaya lemas.


Melihat Naynay masuk sambil menggandeng Gamaliel, Afif mendengus dan mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan. Gamaliel mencuri waktunya dengan Naynay, makanya dia kesal.


"Kenapa belum siap? Ayo, Nay bantuin!" Naynay menarik tangan Afif menuju ke ruang ganti. Suaminya itu masih memakai handuk di pinggangnya. Gamaliel dibiarkan main di sana karena anak itu termasuk anak yang kalem, namun juga bisa hyperaktiv.


Naynay segera membantu Afif berpakaian, memasangkan stelan jas berwarna senada dengan yang Gamaliel pakai. Naynay sendiri juga belum berpakaian, dia harus mengurus dua bayi beda generasi terlebih dahulu agar bisa berdandan dengan tenang.


"Oke, udah!" ucap Naynay setelah memasangkan dasi kupu-kupu di bagian leher kemeja sang suami.


Setelah itu Naynay berjalan menuju lemari kaca yang berisi puluhan gaun mewah yang beberapa hari lalu Afif belikan. Dia mengambil gaun panjang berwarna putih gading dengan ribuan payet kristal bertaburan menghiasi. Ini yang paling sederhana, jadi dia akan memakai itu.


"Mundur!" Naynay menatap tajam Afif yang berjalan mendekatinya yang baru saja membuka bathrobe yang dia pakai.


"Sebentar saja," ujar Afif sambil memegang pinggang Naynay dan menciumi leher dan pundak yang begitu menggodanya.


Sebelum Afif berbuat lebih jauh, Naynay segera mendorong suaminya itu. "Temenin Gama main sana!"


Afif mengangguk dan tersenyum aneh. Dia meremas sesuatu sebelum berlari keluar dari ruang ganti. Naynay memandang area dadanya yang memerah karena ulah Afif. Kulitnya yang putih membuatnya begitu jelas.


"Sabar, Nay." Mengusap dadanya dan segera memakai gaun yang berada di tangannya.


Naynay keluar dan segera berdandan di meja riasnya. Dia mulai melukis wajahnya dengan riasan natural nan elegan dan juga menata rambutnya. Afif tidak memperbolehkan Naynay menyanggul rambutnya, dengan alasan kalau dia tidak mau leher putih itu dilihat oleh orang lain. Oleh karena itu Naynay mengepang rambutnya dari bagian depan ke belakang atas, setengah rambutnya terurai.


Dari arah sofa, Afif dan Gamaliel duduk berdampingan memperhatikan Naynay dari belakang. Mereka begitu terpukau melihat betapa cantiknya wanita tercinta mereka itu dari pantulan cermin.

__ADS_1


"Ayo!" ucap Naynay setelah selesai berdandan. Dia meraih tas yang sudah dia siapkan di atas nakas. Naynay berjalan menuju sofa sambil memperbaiki gaun di bagian dadanya yang terasa sedikit sesak. Afif mana mau jika tubuh Naynay dilihat orang lain, jadi dia menyiapkan dress dan gaun yang panjang dan tetutup.


Afif segera menggengam tangan kanan Naynay dan sebelah lagi menggandeng tangan kiri Gamaliel. Mereka turun ke lantai dasar dan segera masuk ke dalam mobil yang disupiri oleh Ryan.


"Kenapa Uncle di sini?" tanya Gamaliel bingung.


Ryan tersenyum. "Saya harus memastikan Anda selamat sampai tujuan, Tuan Muda."


Afif menarik tubuh Gamaliel dan mendudukkannya di pangkuannya. Jika seperti ini, maka pria kecil itu terlihat seperti Afif ketika kecil. Mata tajam dengan alis melengkung bak pedang, serta bibir seksi yang menggoda tante-tante untuk menyodomi Gamaliel.


Mobil masuk ke dalam kawasan hotel mewah dan menuju basement. Mereka semua keluar dan menaiki lift menuju lantai di mana ballroom hotel berada. Naynay tersenyum ketika pintu terbuka dan menampilkan ruangan dengan dekorasi yang begitu memukau.


Ruangan yang tadinya sedikit bising langsung sunyi ketika Afif melangkah dengan menggendong Gamaliel dan menggandeng tangan Naynay. Ini begitu langka bagi mereka yang tidak terlalu dekat dengan keluarga Afif, mereka tidak mempunyai kesempatan seperti oma-oma muda yang beruntung itu. Termasuk juga begitu jarang melihat wajah Gamaliel dan Naynay.


Ryan segera duduk di kursi yang sudah disiapkan. Dadanya berdebar keras kala melihat pria paruhbaya yang sudah dia kenal sejak lama sedang duduk dihadapannya.


"Nay mau lihat Silla," bisik Naynay pada Afif.


"Tidak usah, di sini saja!"


"Bibirmu membuat aku bernafsu," ujar Afif tersenyum mesum yang membuat Naynay menoleh dengan wajah kesal.


"Mama, onty Silla mana?" tanya Gamaliel sambil berlari menuju Naynay.


"Bentar lagi datang, kok. Sini duduk sama Mama!" Naynay mendudukan Gamaliel di kursi kecil yang sudah disiapkan khusus di sampingnya.


Dari pintu masuk, Naynay melihat kedua orang tuanya masuk bersama Araa yang begitu cantik dengan gaun yang kembang berwarna senada dengan gaun yang dia pakai. Gadis kecil itu langsung berlari menuju Naynay ketika mata besarnya melihat Naynay. Dia baru saja pulang tadi malam dari liburan bersama Hendrayan dan Yasmin ke luar negeri.


"Aya kangen!" ujar Araa memeluk Naynay begitu erat. Araa sekarang sudah berumur empat tahun, tua satu tahun daripada Gamaliel yang sekarang berumur tiga tahun. Dia lebih senang dipanggil Aya, katanya lebih imut kayak Naynay.


Ya, tiga tahun sudah berlalu. Kalian tentu tahu apa yang akan terjadi hari ini. Ya, Ryan dan Silla akan menikah. Setelah tertunda sekitar dua bulan karena orang tua Silla yang ada keperluan di luar negeri, akhirnya hari ini tiba juga.


Pintu kembali terbuka dan pengantin perempuan berjalan masuk, diapit oleh Qiara dan Lucy yang merupakan mamanya. Silla terlihat begitu cantik dan memukau dengan balutan gaun pengantin putih mewah yang membalut tubuhnya.


Ryan bahkan sampai menganga melihat gadis yang sebentar lagi menjadi istrinya itu. Dia baru sadar saat Silla sudah duduk di sampingnya dan memberikan senyum manisnya.

__ADS_1


"Kau gugup?" tanya Riko yang merupakan papa Silla. Dia tertawa kecil melihat calon menantunya itu terlihat gugup dan gelisah.


Ryan jadi salah tingkah dan menggaruk tengkuknya. Mengingat sebentar lagi dia akan menjadi seorang suami, membuatnya kembali gugup. Rasanya baru kemaren Silla menanyakan kapan mereka akan menikah.


Semua tamu sudah duduk kembali di kursi mereka setelah sebelumnya saling menyapa satu sama lain. MC meminta agar kedua wali bisa menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai pembukaan acara. Karena kedua orang tua Ryan sudah meninggal, maka Afif lah yang menjadi walinya. Dia yang pertama maju ke depan.


"Terima kasih untuk para tamu undangan yang hadir di acara spesial ini. Di mana dua orang yang begitu berarti untuk saya akan merealisasikan harapan mereka untuk menikah. Di hari yang baik ini, semoga semuanya berjalan dengan lancar!" ujar Afif dengan aura kepemimpinannya. Setelah itu dia memberikan mic pada Riko.


Setelah acara penyambutan, maka acara inti pun dimulai. Ryan menjabat tangan Riko setelah mengatur napasnya. Kegugupan juga melanda Silla, tangannya berkeringat. Dia menutup matanya ketika ijab kabul dimulai.


"SAH...."


Hingga sahutan itu terdengar dan Silla membuka matanya. Saat itu juga statusnya sudah berubah menjadi seorang istri, dan saat ini dia saling tatap dengan Ryan yang nampak lega setelah ikrarnya terucap lancar.


Saling memasangkan cincin, Silla mencium tangan Ryan, dan Ryan mengecup kening Silla. Beberapa tetes air mata tampak jatuh dari mata indah gadis itu ketika Ryan mengecup keningnya. Lanjut ke sesi sungkeman. Ryan dan Silla dipeluk erat oleh Riko dan Lucy, begitupun dengan Afif dan Naynay.


"Onty Silla nangis?" tanya Gamaliel polos sambil mengusap air mata Silla yang sedang berlutut di depan Naynay.


"Ughh... Sayangnya Onty!" Silla tertawa dan menciumi pipi Gamaliel. Araa pun tak luput dari kecupannya, dua keponakan inilah yang membuat hari-harinya semakin berwarna.


"Jaga adikku, aku tidak akan memaafkanmu jika kau buat dia menangis!" ujar Afif serius sambil menepuk pundak Ryan beberapa kali. Sekaligus peringatan keras pada sekretarisnya itu.


"Iya, Tuan Besar!" balas Ryan tersenyum lebar.


Ya, Afif tidak lagi dipanggil Tuan Muda semenjak Gamaliel lahir. Begitupun dengan Naynay, Nyonya besar sudah menjadi gelarnya. Naynay sering tertawa sendiri jika orang rumah memanggilnya demikian, dia merasa sudah tua dengan panggilan itu. Padahal dia masih berumur 22 tahun.


"Sekarang udah jadi istri, jangan bandel lagi, ya!" ucap Naynay pada Silla yang yang mengerucutkan bibirnya. Tapi kemudian dia tersenyum seraya mengangguk.


Araa dan Gamaliel memeluk Silla bersamaan. Lalu berlanjut ke Ryan yang sedikit terkejut.


.


.


Nanti lagi,ya......

__ADS_1


__ADS_2