My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 173 Nebeng


__ADS_3

Dering alarm ponsel membangunkan Belinda dari tidur panjangnya.


''Aduh, badan pada sakit semua nih. Kasurnya sempit,'' keluh Belinda sambil mengulat.


''Sarapan apa pagi ini? Aku tidak bisa menyalakan kompor. Kalau di rumah pakai kompor listrik, sedangkan itu selang tabungnya belum terpasang. Di kulkas cuma ada air mineral saja. Aduh, kekurangan gizi dan nutrisi otakku jadi lemot begini. Sebaiknya aku mandi saja dulu.'' Setelah selesai mengeluh, Belinda pergi ke kamar mandi.


''Aduh, lihat kamar mandinya bikin males mandi saja. Nggak ada shower, nggak ada pengatur suhu air hangat, bathup juga nggak ada. Ini bak mandinya juga cuma dari ember dan harus pakai gayung. WCnya juga harus jongkok, aduh bisa kesemutan aku jongkok lama-lama disini. Mama, Belinda tidak sanggup Mah.'' Bukannya mandi, Belinda justru merengek di dalam kamar mandi. Merasa hidupnya menjadi manusia yang paling malang di dunia.


Taraaa!!! Belinda menemukan ide cemerlang. Belinda segera menyiapkan ransel, ia memasukkan pakaian kantornya ke dalam ransel. Dipakaianya jaket, sarung tangan dan masker juga sepatu sneakersnya. Belinda mengambil kunci motor dan helm di meja. Jalan satu-satunya yang ia ingat adalah pergi ke rumah Arthur.


''Mandi nyaman, bersih terus sarapan gratis, dimana lagi kalau di rumah si pria menyebalkan itu.'' Gumam Belinda.


Arthur sendiri baru saja selesai mandi. Selesai mandi dan berpakaian, Arthur lalu menuju dapur. Kali ini roti panggang dengan selai kacang dan segelas susu protein menjadi menu sarapannya. Namun saat sedang sibuk memasak, tiba-tiba bel pintu rumahnya berbunyi.


''Siapa pagi-pagi bertamu,'' gumam Arthur. Arthur lalu berjalan ke depan menuju pintu utama.


''Hai Kak!" sapa Belinda sambio menyunggingkan senyum ramahnya. Arthur menatap Belinda dari ujung kepala sampai ujung kaki. Di lihatnya ransel yang menggantung di punggung Belinda.


''Ada apa kemari?''


''Please aku mau numpang mandi!" ucap Belinda. Belinda menerobos tubuh jangkung Arthur begitu saja dan segera menuju kamar tamu yang ia tempati beberapa waktu lalu.


''Belinda, berhenti!" teriak Arthur. Mendengar suara meninggi Arthur, langkah Belinda pun berhenti. Arthur berkacak pinggang menatap penuh selidik Belinda.


''Jadi kesini menumpang mandi? Memangnya rumahku ini kamar mandi umum apa?''


''Kak, air di kontrakan ku mati. Jadi aku tidak bisa mandi. Jadi aku terpaksa kesini daripada aku telat ke kantor dan tidak mandi. Aku mohon!" ucap Belinda sambil mengatupkan kedua tangannya.


''Jadi ka-kamu sudah pindah ke kontrakan?''


''Iya. Aku pindah kemarin. Sudah jangan banyak tanya, aku kebelet pipis.'' Belinda lalu berlari menuju kamar tamu. Arthur hanya bisa menghela sambil menggeleng dengan sikap Belinda.


''Hehehe maaf Kak Arthur, aku terpaksa berbohong.'' Gumam Belinda dalam hati sambil menahan tawanya. Sesampainya di kamar, Belinda segera mandi. Belinda merasa lega bisa berendam di dalam bath up.


''Oh rasanya lega sekali. Aku dari kemarin sore sampai tidak bisa mandi. Aku benar-benar tidak bisa mandi di tempat seperti itu. Besok aku harus pakai alasan apalagi supaya menumpang mandi dan sarapan disini?''


Setelah selesai dengan ritual paginya, Belinda pun memulaskan make up ke wajah cantiknya itu. Setelah berpakaian rapi dan berdandan cantik, Belinda lalu menuju ruang makan. Di lihatnya Arthur sedang menikmati sarapan.


''Mmmm Kak, aku boleh ikut sarapan?''


''Aku hanya membuat roti panggang saja.''


''Tidak masalah! Roti bakar dengan selai strawberry sepertinya enak.''


''Tapi buat sendiri. Ini milikku.'' Kata Arthur.


Belinda nyengir sambil menggaruk tengkuknya. ''Mmmm bagaimana cara membuatnya Kak?''

__ADS_1


Arthur menghela mendengar pertanyaan Belinda. ''Kamu sungguh tidak bisa membuatnya?''


''Sama sekali tidak bisa.''


''Astaga Bel, kamu ini perempuan tapi tidak bisa apa-apa? Kalau kamu menikah, mau kamu kasih makan apa suamimu? Hah?''


''Ya nanti kan ada pembantu yang masak atau bisa beli.''


''Iya kalau suami kaya tapi kalau sebaliknya bagaimana?'' kesal Arthur.


''Kak, marahmu seperti ibu-ibu saja.''


''Sini aku ajari!" Arthur lalu berjalan menuju dapur, Belinda mengekor di belakangnya.


''Pertama oleskan selai saja kedua sisi roti tawar. Kamu bisa juga menambahkan susu kental manis, keju atau apapun. Setelah itu, panaskan pan atau teflon. Oleskan margarin atau mentega ke teflon. Jangan lupa nyalakan dulu kompornya, setelah ini panggang saja rotinya diatas teflon. Bolak-balik sampai warnanya kecoklatan begini. Kalau warnanya sudah begini, sudah bisa di sajikan. Mudah bukan? Ini sarapan tersimple. Sungguh primitif kamu tidak bisa melakukannya. Ampun deh!"


''Namanya juga tidak bisa, Kak. Kamu selalu meledekku.''


''Makanya belajar, jangan sok manja. Sudah, makan sana!" Kata Arthur.


''Hehehe terima kasih. Oh ya ada susu atau orange jus tidak?''


''Ada di kulkas!" ketus Arthur. Dan keduanya lalu menikmati sarapan berdua.


''Oh, makanan gratis rasanya nikmat sekali. Kalau seperti ini aku bisa mengirit pengeluaran untuk makan. Semoga Kak Arthur tidak mengadu pada Papa dan Mama kalau aku numpang makan dan mandi disini.'' Gumam Belinda dalam hati.


...****************...


''Bagaimana kabar noona ya? Dia bisa masak apa tidak? Dia bahkan tidak meneleponku sama sekali. Sepertinya dia baik-baik saja.'' Gumam Brian sambil menyantap sarapan paginya.


Setelah selesai sarapan, Brian segera bersiap ke kantor. Penampilan sederhananya sama sekali tidak mengurangi ketampanannya. Namun saat hendak menyalakan motornya, motornya tidak bisa menyala.


''Aduh, kenapa ini motorku? Mana aku tidak paham mesin. Bensinnya juga full.'' Gumam Brian. Brian lalu mendengar suara Gea sedang memanaskan motornya. Dari balik pagar tembok, Brian mengintip Gea berpakaian rapi hendak berangkat kerja.


''Apa aku nebeng dia saja ya? Kalau telat, Papa bisa ngamuk, belum lagi Hyung. Mereka pasti tidak mau menerima alasan apapun dariku.'' Gumamnya. Brian akhirnya memberanikan diri ke rumah Gea. Melihat wajah Brian, Gea menjadi malas.


''Pagi Mbak!" sapa Brian.


''Mbak-Mbak, memang gue Mbak-Mbak apa?'' ketusnya.


''Jutek amat sih. Aku mau numpang boleh?''


''Numpang? Gue bukan ojek.''


''Nanti aku bayar. Motorku mogok.''


''Pasti modus kan?''

__ADS_1


''Siapa yang modus? Kamu coba cek saja kalau memang bisa.'' Kesal Brian.


''Oke, gue lihat! Awas kalau bohong. Nih kepalan tangan gue mendarat di muka elo!" ancam Gea sambil menunjukkan kepalan tangannya pada Brian.


''I-iya, terserah deh mau di apain.'' Brian pasrah. Gea lalu mengambil kotak perkakasnya sebelum memeriksa motor Brian. Gea terkejut melihat motor butut Brian.


''Yaelah, wajah doang ganteng. Motornya butut. Ini motor tua nih. Haduh, malang bener nasib elo. Untung ya ketolong sama muka elo itu.'' Ledek Gea.


''Sudahlah Mbak, jangan menghina. Memang itu yang aku punya.'' Kata Brian memelas. Gea lalu memeriksa motor Brian.


''Wah, dia ngerti mesin juga. Hebat juga dia.'' Gumam Brian dalam hati.


''Busi motor elo udah basi, jadi mesti di ganti nih dan gue nggak punya sparepartnya.'' Kata Gea.


''Terus gimana?''


''Ya bawa ke bengkel lah.''


''Aku belum hafal daerah sini. Aku kan dari kampung dan mencoba mengadu nasib disini.'' Kata Brian.


''Aduh, punya tetangga nyusahin banget. Ya udah lah, nanti gue telepon orang bekel buat benerin motor elo. Sekarang, gue antar elo kerja.''


''Terus motorku bagaimana?''


''Ya biar disini saja. Nggak bakal ada yang nyolong. Gini aja, elo taruh motor elo di kontrakan gue aja, nanti biar temen bengkel gue benerin di kontrakan gue aja.''


''Baiklah, terima kasih ya.'' Brian lalu menuntun motornya ke kontrakan Gea.


''Ayo naik!" pinta Gea.


''Kamu yang boncengin?''


''Iyalah.''


''Kamu tidak keberatan membawa motor sport seperti ini?''


''Tidak! Sudah jangan banyak tanya. Cepat naik, terus pegangan.'' Perintah Gea.


''Iya-iya.'' Bria lalu memegang pundak Gea. Dan Brian di buat jantungan karena Gea menaiki motor dengan kecepatan tinggi.


''Eh bisa pesan pelan tidak Mbak?''


''Berhenti panggil gue, Mbak. Panggil gue Gea.''


''Oke, Gea. Dan panggil aku Brian. Kamu suka balap motor ya?''


''Iya. Itu side job gue. Makanya pegangan yang kenceng.'' Kata Gea.

__ADS_1


''Sumpah, jantung ku rasanya mau copot. Nih cewek naik motor ugal-ugalan banget. Mana nyawa cuma satu.'' Gumam Brian dalam hati sambil mencengkeram erat pundak Gea.


Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏❤️


__ADS_2