
Dua minggu setelah mereka pulang dari liburan yang gagal itu, hari ini diadakanlah acara tujuh bulanan kandungan Naynay. Rumah mewah ini sudah dipenuhi dengan dekorasi berwarna putih, di mana Naynay sendiri yang mengusung tema serba putih itu.
Afif dan Hendrayan hanya mengundang orang-orang yang dulu juga hadir di pernikahan. Mereka tidak ingin Naynay kelelahan nantinya jika terlalu banyak tamu. Rania dan Rosi juga hadir, ada Joan dan Ezriel juga tentunya. Mereka tengah duduk di sofa bersama Naynay yang terlihat begitu cantik dengan baju gamis putih dan selendang berwarna senada menutupi kepalanya.
Ezriel, laki-laki itu mantap sendu ke arah Naynay. Dia masih belum move on dari kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu. Tapi melihat senyum lebar Naynay yang begitu menyejukkan, laki-laki itu ikut tersenyum dan menguatkan hatinya untuk segera melupakan bumil itu.
"Nay, jadi kapan kita beli baju bayi?" tanya Rania berbisik agar tidak didengar Afif yang duduk di samping sahabatnya itu.
"Besok lusa, kamu sama Rosi ke sini sebelum jam makan siang, ya." Naynay juga berbisik dan diangguki oleh Rania.
Rumah yang awalnya tidak terlalu ramai, tiba-tiba heboh saat kedatangan anak-anak panti. Naynay berdiri dan pergi menyambut ibu panti. Bumil itu mencium tangan ibu panti itu sebelum mempersilakan mereka semua masuk. Acara akan dimulai karena anak-anak itu sudah datang.
Karpet besar digelar di lantai, mereka semua duduk di sana. Di sini, tak peduli jabatan dan status mereka setinggi langit, semuanya sama-sama duduk sama rendah dengan semuanya. Walaupun ada beberapa wanita yang tidak nyaman duduk seperti ini, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena para suami sudah memperingati agar tidak macam-macam.
Acara pertama adalah berdoa untuk si Malaikat Kecil di perut Naynay. Afif dengan mata terpejam, mengikuti serta mengaminkan untaian doa yang dibacakan oleh salah satu anak panti itu. Afif berharap kepada Tuhan agar hidup keluarganya selalu aman dan dilimpahi berkah. Serta istri dan anaknya selalu sehat.
Setelah berdoa bersama, maka acara selanjutnya adalah makan bersama. Puluhan pasang mata memandang ke arah Naynay yang mengambilkan makanan untuk Afif. Para suami di sana merasa iri karena istri mereka tidak pernah melayani mereka ketika makan.
Para istri juga tertohok, Naynay yang berstatus tinggi daripada mereka itu mengambilkan makanan untuk Afif. Sedangkan dulu mereka menganggap itu adalah pekerjaan pelayan, tapi tampaknya anggapan mereka itu berubah sekarang ini.
"Silakan, semoga kalian menyukai masakan istri saya!" ucap Afif sambil tersenyum mantap Naynay yang sedang menuangkan air putih untuknya.
Para istri kembali tertampar, bahkan istri seorang Afif saja bisa masak. Dan ketika mereka mencoba sesuap makanan itu, mereka berasa ingin menangis karena masakan Naynay begitu enak. Mereka memang kalah jauh dari Naynay yang umurnya bahkan jauh di bawah mereka.
__ADS_1
Naynay makan sendiri karena malu jika disuapi, padahal ***** makannya langsung menghilang memandang piring di tangannya. Hanya dua sendok yang dia makan, untungnya tadi dia hanya mengambil sedikit makanan.
Afif yang menyadari Naynay tidak ***** makan pun langsung bertindak. Dia berdiri dengan sebelah tangan memegang priringnya dan menarik lembut tangan Naynay menuju ruang makan. Tak lupa dia pamit sebentar pada semua tamu undangannya yang memang seusia Hendrayan itu.
Afif menarik kursi dan menyuruh Naynay duduk di sana, dia ikut duduk di samping istrinya itu. "Buka mulutmu!" titahnya sambil menempatkan sendok tepat di depan bibir istrinya.
Naynay tersenyum lebar dan membuka mulutnya, ***** makannya kembali setelah mendapat suapan dari Afif.
"Sudah masak seharian dan kau malah tidak mau makan jika tidak disuapi," ujar Afif sambil mengusap bibir Naynay yang sedikit berminyak.
Memang Naynay yang memasak kemaren, dibantu oleh para koki pastinya. Bumil itu mengatakan bahwa lebih baik masak sendiri daripada memesan catering. Selain itu Naynay juga memiliki alasan sendiri, dia begitu suka memasak setelah pulang dari liburan singkat itu. Jadi dia meminta pada Afif agar diizinkan untuk memasak. Awalnya Afif ingin menolak karena tamu yang pastinya banyak, tentu juga harus memasak banyak. Tapi mata berbinar Naynay membuatnya tidak bisa menolak.
"Dia yang nggak mau makan kalau nggak Kakak suapin," balas Naynay sambil memegang perutnya yang buncit. Tendangan tidak terima atas tuduhan padanya diberikan sang Malaikat Kecil pada tangan Naynay yang masih bertengger di perutnya.
Mereka kembali ke ruang tamu di mana semuanya masih menikmati makan siang itu. Naynay berjalan menuju Yasmin yang sedang berdiri di depan sofa di bawah tangga. Mamanya itu sedang mengawasi Araa yang sedang berdiri sambil menepuk-nepuk meja kaca.
"Ikut Bubu, yuk." Naynay meraih tangan Araa dan menggiring anaknya itu menuju Afif yang sudah duduk kembali di tempatnya tadi. Araa memang belum bisa berjalan sendiri, tapi jika digandeng, gerakan kakinya begitu cepat.
Araa memukul punggung Afif dengan tangan kecilnya sambil tertawa yang langsung membuat Afif memutar tubuhnya. Dia tertawa dan membawa Araa duduk di pangkuannya. Tawa Afif itu sukses membuat semua orang di sana terkejut sekaligus terpesona. Pasalnya tidak ada dari mereka yang melihat senyum Afif sebelumnya, apalagi tawa renyahnya ketika menciumi pipi Araa.
Acara selesai, tamu yang diundang oleh Afif dan Hendrayan pamit pulang. Para istri sebelumnya sudah berbincang-bincang dengan Naynay setelah makan tadi. Mereka ingin sekali belajar memasak dari Naynay, bukan karena Naynay istri Afif, namun karena Naynay yang begitu ramah dan baik.
Para tamu itu memberikan hadiah yang membuat mulut Naynay menganga lebar. Bukan main-main, mereka masing-masing memberikan 5% saham khusus untuk si Malaikat Kecil ketika sudah lahir nanti. 20% saham di perusahaan mereka memang tidak ada apa-apanya dibanding saham di perusahaan Afif, namun perusahaan rekan-rekan Hendrayan dan alm. Rendra itu juga termasuk perusahaan besar.
__ADS_1
"Nay merinding bacanya," ujar Naynay sambil mendorong puluhan map berisi surat kepemilikan saham itu ke hadapan Afif.
Joan yang juga sedang membaca salah satu surat itupun tiba-tiba bersuara hingga Naynay sedikit terkejut. "Ini, yang ini atas namamu!" ucapnya sambil memberikan surat itu pada Naynay.
Naynay menerimanya dan membaca setiap kata yang tertulis di sana. Ada namanya di sana, bukan sebagai pemilik saham, tapi pemilik perusahaan. "Naecho Jew," gumamnya lirih.
Afif yang mendengar itupun terbelalak, dia mengambil kertas itu dari tangan Naynay. "Itu berarti dia datang," ucap Afif lirih.
"Siapa?" tanya Naynay yang mendengar gumaman Afif tersebut.
"Ibu tiri papaku," jawab Afif berusaha tenang sambil meletakkan surat itu di atas meja.
Naynay hanya mengangguk kecil, nanti saja hal itu dibicarakan berdua. Dan kelihatannya Afif juga tidak senang menyebut ibu tiri almarhum Rendra itu.
.
.
Vote dongggg......
.
.
__ADS_1