My Perfect Husband

My Perfect Husband
BAB 225 Gairah Calon Pengantin


__ADS_3

Setelah makan malam romantis dan menyiapkan kejutan kecil untuk Belinda, Arthur lalu mengantar Belinda pulang namun Belinda enggan untuk pulang.


''Kak, aku menginap disini ya?''


''Tidak boleh.''


''Tapi kenapa kemarin boleh? Aku juga sudah sering menginap kan?''


''Beda Bel. Kemarin kedua orang tua kita tidak tahu, kalau sekarang semuanya tahu.''


''Ayo, aku antar pulang!" paksa Arthur.


''Kak, aku masih kangen.'' Belinda tiba-tiba memeluk Arthur.


''Kak, apa kamu tidak kesepian di rumah sendirian? Aku mau menemanimu malam ini.'' Belinda terus membujuk Arthur.


''Sudah, ayo kita pulang atau aku telepon orang tua kamu.''


''Iya-iya, menyebalkan sekali.'' Kesal Belinda. Arthur tersenyum tipis melihat tingkah konyol Belinda.


''Punya calon istri mesumnya minta ampun,'' gumam Arthur dalam hati.


Kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah. Namun tiba-tiba saja hujan turun begitu derasnya.


''Tuh kan, aku bilang apa? Hujannya deras banget sampai macet begini. Apa kamu tidak tahu kalau tadi sudah mendung?'' protes Belinda.


''Kita kan di dalam mobil. Jadi tidak akan kehujanan Bel.'' Kata Arthur.


''Tapi lihat kan? Jadi macet begini. Mana masih jauh. Aku telepon Mama dulu.'' Ketus Belinda.


''Halo Mah, dirumah hujan tidak?''


''Hujan sayang. Ini hujannya deras disertai dengan angin dan petir. Kamu dimana? Masih dirumah Arthur?''


''Belinda ditengah jalan perjalanan pulang tapi ini macet. Jadi tidak tahu kapan sampainya.''


''Sebaiknya kamu bermalam saja di rumah Arthur, kamu putar balik. Soalnya Papa bilang ada pohon tumbang disana, daripada kamu bermalam di jalanan.''


''Memang tidak apa-apa, Mah?''


''Ya, tidak apa-apa. Kalian tinggal hitungan hari menikah. Daripada kalian di jalan kenapa-kenapa.''


''Baiklah Mah kalau begitu.''


''Iya. Besok biar supir yang jemput kamu. Kalian hati-hati ya.''

__ADS_1


''Iya Mah.'' Panggilan berakhir. Belinda tersenyum lebar kearah Arthur.


''Sudah dengar apa yang di katakan oleh Mama tadi kan Kak? Jadi mending putar balik.'' Belinda senang sekali bisa melewatkan malam bersama Arthur.


''Oke baiklah,'' pasrah Arthur.


''Tuhan, bagaimana kalau dia mengangguku dan membuatku khilaf?'' gumam Arthur dalam hati.


Sesampainya di rumah, Belinda langsung lari menuju lantai atas kamar Arthur.


''Bel, kamu tidur di kamar tamu!" teriak Arthur.


''Aku tidak mau!'' jawab Belinda. Arthur pasrah dan ikut pergi ke kamar.


Begitu sampai di kamar Arthur, Belinda melempar tubuhnya di atas tempat tidur.


''Rasanya nyaman sekali. Hujan-hujan seperti ini memang enak sekali untuk tidur.''


''Kamu tidur disini dan aku tidur di kamar tamu.'' Ucap Arthur seraya berlalu menuju walk in closet untuk berganti baju. Belinda tidak menjawab apa yang Arthur katakan.


''Bagaimana kalau aku mengerjainya?'' munculah ide jahil dalam benak Belinda. Belinda beranjak dari tempat tidur dan menyusul Arthur menuju walk in closet. Dan Belinda di suguhkan dengan pemandangan tubuh indah Arthur. Arthur terkejut melihat Belinda tiba-tiba ada disana.


''Bel, kamu ngapain? Aku mau ganti baju.'' Ucap Arthur dengan tergagap. Belinda kemudian memeluk Arthur yang telanjang dada itu.


''Belinda, lepaskan! Kamu mau apa?''


''Mana ada petir, aku tidak mendengarnya.''


''Kak, tidur disini saja ya. Jangan tinggalkan aku sendiri. Kita kan sebentar lagi menikah jadi tidak masalah kalau kita tidur satu ranjang. Iya kan?"


"Oke tapi kamu jangan aneh-aneh ya. Apalagi menggodaku.''


''Hehehe iya janji.''


''Sekarang lepaskan aku! Biarkan aku gantu baju.''


''Oke. Aku tunggu di tempat tidur ya.'' Kata Belinda sambil mengerlingkan mata genitnya. Arthur hanya bisa menggeleng melihat tingkah Belinda. Sebenarnya Arthur begitu gemas dengan Belinda namun ia berusaha menahan diri saja sampai waktunya tiba. Padahal juniornya sudah tegang di bawah sana. Sebagai pria normal, di goda wanita seperti itu otomatis langsung bereaksi.


Belinda sendiri sudah berbaring di atas tempat tidur sambil menyalakan televisi. Arthur kemudian menyusul merangkak naik keatas tempat tidur.


''Kak, tidak terasa ya kita sebentar lagi akan menikah. Apa yang membuatmu akhirnya setuju menikah denganku?''


''Mmmm aku tidak tahu. Mungkin saat ini aku sedang khilaf.'' Gurau Arthur.


''Ih jahat banget sih jawabannya.'' Kesal Belinda sambil memukul bahu Arthur.

__ADS_1


''Habisnya aku harus menjawab apa? Lagian ya, kamu sudah tahu jawabannya kenapa pakai acara tanya-tanya segala.''


''Ya seharusnya kamu jawab yang menyenangkan hati dong, Kak. Misalnya nih, karena aku sudah mencintaimu atau bagaimana.''


Arthur menghela. ''Terkadang aku heran dengan sikap wanita. Sesuatu yang sudah tahu jawabannya kenapa harus ditanyakan. Padahal baru saja aku melamarmu dan bilang cinta padamu. Tapi sekarang kamu masih juga bertanya.''


''Habisnya aku kehilangan topik pembicaraan.''


''Sebaiknya kita menonton televisi saja. Daripada kita bicara. Supaya kamu cepat tidur dan tidak cerewet lagi.''


''Tuh kan, sekarang ngatain aku cerewet. Habis angkat terus di banting.'' Protes Belinda. Namun Arthur tidak mempedulikan sikap Belinda yang memang begitu. Ia lebih memilih fokus menonton televisi. Belinda menjadi kesal sendiri karena Arthur tidak meresponnya. Belinda juga memilih diam dan fokus menonton televisi. Suasana semakin hening dan memanas, saat ada sebuah drama Korea yang menunjukkan adegan ciuman yang berakhir dengan adegan ranjang. Jantung Arthur berdebar tidak karuan. Satu tempat tidur bersama dengan seorang wanita, lebih tepatnya calon istrinya. Begitu pula dengan Belinda yang berharap Arthur untuk memulai duluan.


''Aku tidur dulu, besok aku masih harus mengurus pekerjaan.'' Ucap Arthur. Arthur kemudian berbaring dan memunggungi Belinda. Sebisa mungkin Arthur menahan diri untuk tidak melakukan hal aneh itu. Sementara Belinda merasa kesal karena Arthur justru memilih untuk tidur.


''Sumpah ya Kak Arthur. Dia sama sekali tidak peka. Kuat banget sih dia. Sebenarnya dia ini suka cewek apa cowok sih? Kalau cowok normal pasti gercep tapi ini, malah tidur.'' Belinda merutuk dalam hati. Belinda akhirnya mematikan televisi dan memilih untuk tidur juga. Ia juga memilih untuk memunggungi Arthur. Sebenarnya Arthur sendiri belum bisa memejamkan matanya, begitu pula dengan Belinda. Sebagai pria normal, Arthur membayangkan adegan tadi. Ia juga terbayang adegan panas yang baru saja ia lakukan bersama Belinda beberapa hari lalu. Arthur semakin terasa sesak dan panas. Hasratnya sebagai seorang pria sulit sekali untuk di tahan. Arthur kemudian berbalik menghadap Belinda dan disaat yang bersamaan, Belinda juga berbalik. Kini keduanya saling berhadapan. Mata keduanya saling menatap penuh cinta. Arthur baru menyadari bahwa wanita dihadapannya itu sangat cantik dan menggoda. Tangan Arthur tergerak untuk membelai wajah Belinda.


''Maaf ya sudah membuatmu kesal.''


''Kamu memang dari dulu selalu membuatku kesal dan selalu saja menggodaku. Kamu belum puas menggodaku sampai aku menangis. Iya kan?''


''Iya aku ingat semua itu. Makanya kamu begitu benci denganku kan? Tapi sekarang benci itu berubah menjadi benar-benar cinta, bukankah begitu Nona Belinda?''


Belinda hanya mengangguk sambil tersenyum. Arthur kemudian meraih tubuh Belinda dan mendekapnya erat. Ia lalu mengecup kening Belinda dan menahannya beberapa saat. Belinda nyaman sekali berada dalam dekapan Arthur.


''Sekarang tidurlah. Peluk aku erat-erat.'' Ucap Arthur. Mendengar aba-aba dari Arthur, Belinda langsung memeluk erat tubuh Arthur.


''Kak, ada yang tertinggal.''


''Apa?''


Belinda mendongak sambil menyodorkan bibirnya. Arthur tersenyum, sudah menduga kalau wanita dihadapannya ini akan meminta sebuah ciuman.


''Tadi kan sudah aku cium keningnya.'' Kata Arthur. Belinda lalu meraih tengkuk Arthur dan mencium bibir Arthur, berusaha menembus benteng pertahanan Arthur. Kecupan lembut Belinda, membuat Arthur membuka bibirnya dan membalas ciuman itu. Dan keduanya pun hanyut dalam ciuman yang semakin panas dan menggairahkan. Nafas keduanya saling memburu, tangan Arthur mulai meraba punggung Belinda. Sementara tangan Belinda sudah menelusup membelai dada hingga perut Arthur. Tentu saja rabaan Belinda membuat juniornya dibawah berdiri tegak. Bahkan Belinda merasakan ada sebuah benda keras mengenai pahanya. Belinda lalu menuntun tangan Arthur untuk masuk ke area bukit kembarnya. Arthur menurut saja, Arthur bahkan membuka pengait bra Belinda.


''Bel, aku berusaha menahan diri.'' Ucap Arthur lirih.


''Tidak usah ditahan, Kak. Pernikahan kita tinggal empat hari saja.'' Jawab Belinda dengan nafas memburunya. Belinda kembali melu...mat bibir Arthur, membuat Arthur kembali terbuai dengan rayuan Belinda. Dan akhirnya tangan Arthur sampai di bukit kembar milik Belinda yang begitu kenyal. Saat tangan Arthur mulai mere...mas, desa...han pun mulai muncul dari bibir Belinda. Dan mendengar desa...han Belinda untuk pertama kalinya, sungguh membangkitkan hasrat Arthur. Namun permainan malam itu, hanya untuk memuaskan setengah dari hasrat keduanya.


''Sepertinya kita bermain seperti ini saja dulu. Aku hanya ingin menjagamu.''


''Iya Kak.'' Jawab Belinda.


''Sebaiknya kamu tidur, aku mau ke kamar mandi.''


''Iya.''

__ADS_1


''Aku tidak akan memaksamu, Kak. Ouh rasanya dada ini saat di pijit.'' Gumam Belinda dalam hati. Arthur pergi ke kamar mandi untuk melepaskan gairah juniornya karena belum saatnya juniornya masuk ke dalam sarang milik Belinda.


Maaf ya baru up, karena ceritanya sebentar lagi menuju END. Jadi upnya mungkin 2 hari sekali ya 😁🙏


__ADS_2