
Akhirnya Belinda kembali ke kantor dengan wajah kusutnya. Ia lalu berjalan menuju ke ruangannya. Saat kembali, Arthur belum tampak berada di ruangannya.
''Bagaimana kalau aku pinjam uang pada Kak Arthur ya? Eh tapi dia pasti mengadu pada Papa.'' Gumam Belinda. Tak lama kemudian, Arthur pun kembali ke ruangannya.
Belinda sesekali melirik kearah Arthur yang tampak sibuk. Kali ini Arthur berbeda dari biasanya. Arthur yang biasanya menyebalkan, kini berubah menjadi serius.
''Ada apa? Kenapa mencuri pandang denganku? Awas nanti jatuh cinta,'' celetuk Arthur.
''Ihh ge-er, siapa juga yang lihatin. Jatuh cinta? Sorry ya, aku ini tipe setia.''
''Yakin setia? Lebih baik putus saja deh daripada makan hati punya pacar tukang selingkuh.''
''Eh jangan fitnah ya. Dave pria baik-baik.''
''Ya terserah lah. Awas saja kalau sampai nangis-nangis.''
''Ihh nyebelin banget sih. Nggak akan ya nangis-nangis. Yang ada aku akan tertawa bahagia.''
''Kita lihat saja nanti.''
''Nyebelin!" kesal Belinda.
Sepulang dari kantor, Dave sudah menunggu Belinda di pelataran kantor. Dave melambaikan tangannya pada Belinda. Belinda tersenyum bahagia, tidak menyangka kalau Dave akan menjemputnya.
''Dave, kamu menjemputku?''
''Iya Bel. Aku tidak bisa jauh dari kamu. Aku mau mengajak kamu ke kontrakan kecil aku. Apa kamu mau?''
''Iya aku mau.''
''Kalau begitu, silahkan masuk Tuan putri.'' Ucap Dave seraya membuka pintu untuk Belinda. Tanpa pikir panjang, Belinda langsung masuk begitu saja.
''Thank you.'' Jawab Belinda dengan senyum sumringahnya.
''Aku harus menjadikan Belinda milikku sutuhnya. Ini satu-satunya cara supaya dia bisa aku miliki dan aku bisa kaya dengan menikahinya. Kalau aku menghamilinya, aku yakin orang tuanya mau tidak mau akan menyetujui hubunganku dengannya. Jadi malam ini Belinda harus bisa aku miliki.'' Gumam Dave dama hati.
Sesampainya di rumah kontrakan, Belinda sangat terkejut melihat rumah kecil Dave.
''Dave, kamu tinggal disini?''
''Iya Bel. Memang kenapa? Kamu pasti jijik ya?''
''Ummmm bukan seperti itu Dave tapi ini sepi sekali. Tetangganya juga jauh-jauh.''
''Namanya juga kontrakan murah. Tapi tenanng saja, aku sudah membersihkannya kok. Jadi kamu tidak usah takut kotor.'' Jelas Dave. Dave kemudian mengajak Belinda masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
''Ayo silahkan duduk. Aku ambilkan kamu minum dulu.''
''Iya Dave terima kasih.'' Tak lama kemudian Dave kembali dengan dua gelas air putih.
''Bel, ada yang ingin aku katakan padamu.''
''Apa itu Dave?'' tanya Belinda. Dave kemudian menggenggam tangan Belinda.
''Bel, apa kamu mencintaiku?''
''Iya Dave, tentu saja aku mencintaimu.''
''Bel, aku ingin sekali kita bersatu dan menikah.''
''Begitu pula denganku, Dave. Hanya kamu yang ada di hatiku. Aku mencintai kamu apa adanya Dave.''
''Belinda, ada satu cara supaya kita bisa bersatu.''
''Apa itu?''
''Bagaimana kalau kita melakukannya?''
''Mak-maksud kamu mel-melakukan apa?'' tanya Belinda tergagap.
''Apa? Are you crazy?'' Belinda melotot tajam mendengar ucpan Dave.
''Jangan salah paham dulu, Bel. Dengan cara ini kita bersatu dan kita pasti akan di nikahkan. Daripada kita harus kawin lari, itu tidak mungkin.''
Belinda menelan ludahnya, tidak menyangka Dave akan mengatakan hal itu. Ia terdiam dan berpikir sejenak mencerna semua ucapan Dave.
''Dave, aku tidak mungkin melakukan itu.''
''Ayolah Bel, bukankah hal seperti itu di luar sudah biasa.''
''Aku takut Dave. Aku benar-benar belum pernah melakukannya.''
Dave lalu membelai wajah cantik Belinda. ''Kenapa takut Bel? Ada aku. Aku akan membuatmu nyaman dan membuat kamu merasakan nikmat. Ayo Bel! Ini demi hubungan kita supaya kita bisa bersatu.'' Dave terus berusaha membujuk Belinda untuk melakukannya. Belinda mere...mas tangannya sendiri, merasa bingung tidak tahu harus menolak atau menurut pada Dave.
''Kita coba french kiss? Kita sudah lama sekali tidak berciuman. Apa aku boleh mencium bibirmu?'' tanya Dave dengan lembut. Belinda menatap Dave dan mengangguk pelan.
''Close your ayes, Bel.'' Ucap Dave. Belinda menurut dan ia pun memejamkan matanya. Dave perlahan mendaratkan bibirnya pada bibir Belinda. Ya, Belinda memang terlalu polos bahkan bucin pada Dave. Tentu saja ciuman pertamanya sudah ia berikan pada Dave sejak di London. Dave sangat pintar dan pandai merayu Belinda yang polos. Hal itulah yang membuat Dave menyukai Belinda karena sangat mudah di rayu dan di manfaatkan. Sedangkan Belinda begitu tulus mencintai Dave. Dave lah yang mengajarinya berciuman.
Ciuman yang diberikan oleh Dave semakin dalam dan menuntut. Hingga perlahan, Dave merebahkan tubuh Belinda di atas sofa. Tangan Dave kemudian turun untuk membuka kancing kemeja milik Belinda namun Belinda buru-buru mencegahnya dan melepaskan pagutannya.
''Why?'' tanya Dave lirih.
__ADS_1
''I'am so sorry Dave. Aku tidak bisa melakukan lebih dari ciuman.'' Belinda kemudian bangun dari sofa dan kembali merapikan pakaiannya. Dave menghela nafas kasar mendapat penolakan dari Belinda. Disaat yang bersamaan, ponsel Belinda berdering, ada nama Arthur disana. Belinda pun segera mengangkatnya.
''Halo Kak? Ada apa?''
''Bel, Papamu meneleponku untuk menanyakan kamu sudah pulang apa belum? Sedangkan aku melihat motormu masih di kantor.'' Ucap Arthur.
''I-iya Kak. Aku sedang keluar sebentar. Habis ini aku pulang, tolong ya bujuk Papa supaya tidak marah padaku.''
''Pertolonganku tidak gratis.''
''Iya-iya aku akan membayarmu. Sudah ya, bye.'' Belinda mengakhiri panggilannya. Padahal sebenarnya Arthur berada tidak jauh dari kontrakan Dave. Diam-diam Arthur mengikuti Belinda. Perintah Tuan Keenan dan juga fakta siapa Dave sebenarnya, membuat Arthur tidak bisa tinggal diam membiarkan Belinda bersama Dave.
''Siapa? Tunangan kamu itu?'' tanya Dave sinis.
''Aku tidak menganggapnya tunangan. Dia meneleponku karena dia tahu motorku masih di kantor. Jadi Papa menghubungi Kak Arthur.''
''Kantor? Maksud kamu?''
''Iya, aku bekerja di kantor Kak Arthur atas perintah Papa.''
''Apa? Itu justru membuat kamu semakin dekat dengannya. Pasti Papa kamu sengaja supaya kamu dan dia semakin dekat. Itu menyakitkan untukku Bel.''
''Kamu percaya sama aku kalau cintaku hanya untuk kamu.''
''Bagaimana aku bisa percaya kamu cinta sama aku, sedangkan kamu menolak diriku.''
''Dave, cinta tidak melulu soal ****, kamu mengerti kan? Mungkin aku terbiasa hidup di luar tapi aku tetap berusaha menjaganya sampai aku menikah nanti. Kalau sampai aku melakukannya, bisa-bisa aku dicoret dari KK. Kamu tahu sendiri sekarang semua fasilitasku di cabut oleh Papa. Apalagi Papa tahu kamu membawa uangku segitu banyaknya. Aku menurut untuk meredam amarah Papa, aku mohon kamu mengerti. Sekarang aku harus kembali ke kantor.''
''Aku antar ya? Aku akan mengantarmu dari kejauhan, supaya tunanganmu tidak melihatmu.''
''Okay.''
''Oh ya Bel, aku harap kamu benar-benar mau melakukannya untukku. Aku pasti akan tanggung jawab, Bel. Aku bisa gila hidup tanpa kamu atau aku mati saja kalau tanpa kamu.''
Belinda menempelkan jari telunjuknya pada Dave. ''Ssstttt jangan bicara seperti itu, Dave. Sudah ayo antar aku.'' Kata Belinda.
Akhirnya Dave mengantarkan Belinda kembali ke kantor. Arthur lega karena akhirnya Belinda kembali ke kantor dengan selamat. Arthur meminta salah satu anak buahnya untuk mengikuti Belinda dari belakang. Memastikan Belinda pulang dengan selamat. Sementara dirinya memilih mengikuti kemana arah mobil Dave berjalan.
''Sial! Sulit sekali membujuk Belinda. Jual mahal banget! Apalagi sekarang dia bekerja di kantor tunangannya. Aku harus bergerak cepat sebelum hati Belinda berubah haluan. Dan sekarang aku harus menuntaskan hasratku dengan wanitaku.'' Gumam Dave yang terus melaju menuju hotel untuk menemui wanitanya yang lain.
Arthur terkejut kenapa Dave pergi ke hotel. Arthur sangat terkejut saat ada seorang wanita menunggu Dave disana. Mereka saling sapa dengan berciuman bibir. Lalu keduanya masuk ke dalam.
''Belinda, kamu bodoh sekali kenapa bisa bertemu pria brengsek seperti dia,'' ucap Arthur dengan kesal.
Bersambung...
__ADS_1