
''Gea, ini uangnya.''
''Uang apa Brian?''
''Uang makan siang tadi. Tadi aku lupa bawa dompet.''
''Ya ampun, tidak usah Brian.''
''Sudahlah tidak apa.'' Ucap Brian seraya menyelipkan uang itu di telapak tangan Brian. Gea melihat dompet Brian yang sudah sangat usang. Ia begitu iba melihatnya.
''Oh ya, bagaimana kalau pulang kantor kita ke pasar malam?''
''Boleh. Memang ingin mencari apa?''
''Ada sesuatu yang ingin aku beli. Mau kan menemani aku?''
''Oke.'' Jawab Brian dengan semangat.
''Maaf ya Pah, rasanya aku tidak sanggup untuk pura-pura menjauhi Gea. Untuk saat ini aku mengabaikan nasihat Papa, hehehe.'' Gumam Brian dalam hati.
-
Sepulang kantor, dengan berboncengan, Gea dan Brian menuju pasar malam.
''Ayo masuk!" ajak Gea sambil menggandeng tangan Brian. Brian menurut saja pada Gea. Gea mengajak Brian berhenti disebuah lapak penjual dompet dan tas.
''Kamu mau beli dompet dan tas ya, Ge?'' tanya Brian.
''Tidak. Aku ingin membelikannya untukmu.''
''Untukku? Kenapa?''
''Tidak apa-apa. Hanya ingin membelikan untukmu saja. Kamu pilih saja mana yang kamu suka.'' Kata Gea.
''Aku tidak biasa memakai barang murah. Meskipun dompetku sudah buluk tapi itu merknya Gucci,'' gumam Brian dalam hati. Namun demi Gea, Brian kemudian memilih dompet itu.
''Yang mana ya, aku bingung. Soalnya banyak. Kamu bantu pilih deh.'' Ucap Brian sambil menggaruk kepalanya.
''Oke, aku bantu milih ya.'' Kata Gea dengan semangat.
''Bagaimana kalau ini?'' tanya Gea.
''Ya sudah itu saja.'' Ucap Brian.
''Yakin mau yang ini?''
''Iya Gea. Itu bagus, aku suka warna hitam. Tidak mudah kotor juga kan?''
''Ya udah, aku beliin yang ini ya.''
''Iya.'' Kata Brian.
__ADS_1
Setelah membayar, Gea mengajak Brian untuk membeli siomay sekaligus makan malam.
''Gea, kenapa kamu membelikan aku dompet? Pasti lihat dompet aku jelek ya?''
''Bukan karena itu kok. Khawatir saja kalau uang kamu tercecer.'' Ucap Gea yang tetap berusaha menjaga perasaan Brian.
''Terima kasih ya. Seharusnya cowok yang beliin cewek.''
''Hei, kamu kan sudah membelikan aku baju dan tas untuk kerja jadi gantian lah. Siomaynya enak tidak?''
''Enak kok. Untuk siomaynya biar aku hang bayar.''
''Oke. Oh ya nanti aku ada tawaran balap lagi.''
''Gea, kamu tidak kapok apa? Kaki kamu Gea. Cowok kemarin saja kabur tidak tanggung jawab, kamu jangan aneh-aneh ya.''
''Please ya Brian, jangan larang aku. Hutang aku terlalu banyak sama kamu.''
''Tidak usah Gea. Aku tidak minta dibayar juga. Kalau ada apa-apa lagi sama kamu bagaimana?''
''Iya juga sih. Yang ada nyusahin kamu lagi.''
''Nah, gitu ngerti. Sebaiknya setelah makan kita pulang dan istirahat.''
''Tapi aku mau jajan lagi. Aku kangen jajanan waktu kecil.'' Kata Gea.
''Memang mau beli apa?''
''Makanan apa itu?'' tanya Brian.
''Halah sok-sokan tidak tahu. Kita sama-sama dari kampung, masa kamu tidak tahu.'' Kata Gea. Brian terdiam sejenak, ia lupa kalau sedang menyamar. Karena Brian masa kecilnya dan remajanya di habiskan di Korea dan London tentu saja Brian tidak mengenal jajanan yang disebut oleh Gea.
''Hehehe iya aku bercanda.'' Ucap Brian sambil menggaruk tengkuknya. Selesai makan siomay, Gea rela antri berdesakan hanya demi telur gulung dan cilor.
''Gea-Gea, kamu ini memang unik. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu. Tapi bagaimana kalau kamu tahu siapa aku yang sebenarnya?'' ucap Brian dalam hati. Hampir setengah jam Gea mengantri dan senyumnya merekah saat ia mendapatkan makanan yang dinginkan.
''Ini untukmu.'' Kata Gea.
''Terima kasih ya.''
''Iya sama-sama. Hati-hati ya, masih panas.'' Ucap Gea. Brian mencermati makanan yang ada di tangannya.
''Rasanya bagaimana? Gea ini ada saja.'' Batin Brian. Brian kemudian mencoba telur gulung itu dan ternyata rasanya sangat enak. Brian memakan dengan begitu lahapnya.
''Rakus juga ya ternyata.'' Gurau Gea.
''Hehehe enak sih,'' jawab Brian dengan senyum lugunya. Namun saat giliran cilor, Brian merasa kepedasan.
''Ini ada bubuk cabainya ya?'' tanya Brian.
''Hehehe iya. Kamu kepedasan ya?''
__ADS_1
''I-iya. Panas sekali tenggorokanku.'' Kata Brian.
''Ya sudah, aku beli air sebentar ya.'' Kata Gea.
''Iya Ge, ini pedes.'' Ucap Brian. Gea segera berlari mencari lapak penjual minuman. Tak lama kemudian Gea kembali. Gea juga membuka tutup botol lalu memberikannya pada Brian. Gea tertawa melihat ekspresi Brian yang kepedasan. Apalagi bibir Brian yang memerah.
''Puas? Sengaja ya?'' kesal Brian.
''Ya ampun, sama sekali tidak, Brian. Lihat kamu sampai keringetan.'' Gea mengambil tisu dalam tasnya lalu menyeka keringat di wajah Brian. Sikap Gea benar-benar membuat Brian tersentuh. Jantung Brian berdegus semakin kencangnya. Wajah Gea begitu dekat dengan wajahnya.
''Gea,''
''Iya, kenapa?''
''Kamu cantik.'' Ucap Brian. Ucapan Brian tiba-tiba membuat Gea menjadi salah tingkah.
''Apaan sih, gombal. Udah ah, aku anti di gombalin ya.'' Ucap Gea sambil menahan salah tingkahnya.
''Serius.'' Kata Brian.
''Oh, jadi kemarin-kemarin jelek ya?'' kata Gea.
''Tidak. Kamu mau bagaimanapun cantik apalagi saat di lihat semakin dekat.''
''Ah sudahlah, jangan membual. Habis ini pulang yuk!" ajak Gea.
''Gea, sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku saat ini?'' tanya Brian dengan tatapan matanya yang begitu dalam.
''Maaf ya Brian, aku belum bisa menjawabnya.''
''Apa karena trauma itu Gea? Aku bukan pria seperti itu? Aku akan menjaga kamu Ge.''
''Tapi aku belum yakin, Brian.''
''Apa yang harus aku lakukan untuk meyakinkan kamu? Please, buka hati kamu sedikit saja. Jujur saja, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini pada seorang wanita dan ini pertama kalinya padamu, Ge.''
''Brian, proses kita berkenalan terlalu singkat jadi menurutku kita jangan terburu-buru. Kita masih sama-sama mengejar karir. Aku tidak mau menjadi penghalang cita-cita mu kedepannya nanti, begitu juga sebaliknya.''
''Aku sama sekali tidak menjadikanmu penghalang, Gea. Justru kamu menjadi penyemangatku. Apa karena aku miskin dan belum punya apa-apa ya?''
''Tidak Brian. Itu bukan alasan utamanya. Aku sama sekali tidak memandang materi. Aku tidak mau terburu-buru. Kita jalani saja semua ini untuk mengenal lebih jauh. Kamu juga belum tahu aku bagaimana dsn keluargaku. Aku tidak mau kamu kecewa nanti.''
Sungguh berat sekali mendengar ucapan Gea. Brian merasa putus asa dan ingin menyerah saja.
''Apa aku harus menyerah? Tapi aku hanya mau Gea, dia yang terbaik. Apa benar kalau aku terlalu terburu-buru? Tapi sampai kapan hati Gea akan luluh? Biasanya tidak ada seorang pun wanita yang menolakku. Bahkan aku tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan mereka tapi kali ini sepertinya aku harus bersusah payah untuk mendapatkan hati Gea.'' Gumam Brian dalam hati.
''Ya sudah jangan dibahas lagi. Sebaiknya kita pulang saja.'' Kata Brian yang sudah kehilangan semangatnya.
''Iya, aku juga sudah lelah.'' Ucap Gea.
''Sepertinya aku harus menggunakan saran dari Papa.'' Gumam Brian dalam hati.
__ADS_1
''Maafkan aku ya Brian. Kamu pria yang baik tapi hatiku masih belum mantap. Aku takut.'' Ucap Gea dalam hati.